LOVE FOR AMOR

LOVE FOR AMOR
PERKENALAN SESAMA DOSEN



Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.


JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA




"Hai Ya," kata seorang lelaki menyapa Amora.



"Eh kak Bayu," sapa Amora.



"Kamu kenapa sudah di sini?" tanya lelaki yang tadi dipanggil Bayu oleh Amora.



"Iya Bu Niken hanya memberi waktu kami satu setengah jam tidak dua setengah jam seperti biasa karena memang praktikum tadi hanya simple aja," jawab Amora.



"Kenapa Kak?" kata Amora.



"Kakak baru mau jemput kamu di lab," jawab Bayu tanpa ragu. 



"Oh ada apa ya Kak?" Amora tak tahu alasan Bayu hendak menjemputnya di lab.



"Enggak cuma mau temenin kamu pulang aja," jawab lelaki ganteng itu.



"Kak Bayu, kenalin Kak. Ini Pak Dava dia dosen di Fakultas Ekonomi." Amora memperkenalkan Bayu dengan Dava.



"Hai," Dava mengulurkan tangan dengan ramah.



"Bayu Pak," jawab Bayu tanpa ragu.



"Apa kalian satu fakultas atau malah satu jurusan?" Selidik Dava.



"Saya di Fakultas Hukum,"  Jawab Bayu.



"Oh saya kira kamu temannya. Maksud saya kamu teman satu jurusan dengan Amora," Dava menegaskan.



"Enggak Pak." 



"Saya duluan ya Moya," Bayu pamit karena Amora sedang bersama kenalannya. 



"Iya Kak Bayu," balas Amora tanpa merasa bersalah.



'*Rupanya aku punya kompetitor*,' ucap Dava dalam hatinya.



Kalau soal harta atau wajah Dava nggak takut bersaing. Dia hanya berpikir Amora atau orang tuanya akan  berpatokan pada perbedaan usia mereka.



"Apa biasanya kamu pulang dengan dia?" Selidik Dava.



"Kan Abang enggak enak  jadi ganggu kalian," ungkap Dava.



"Enggak kok. Aku nggak pernah pulang bareng dia.  Maksudnya diantar dia. Karena biasanya aku bawa motor sendiri,"  jawab Amora.



"Biasanya? Apa hari ini enggak biasa jadi kamu bawa mobil?" Dava menangkap kata BIASANYA.



"Enggak juga."



"Kamu enggak bawa mobil?" Dava tak percaya orang tua Amora tak mampu memberikan mobil untuk putrinya.



"Daddy belum kasih aku buat bawa mobil sendirian, walau pun ada mobilku tapi biasanya boleh dibawa kalau pergi sama daddy atau sama mommy aja." Amora menjelaskan alasan mengapa dia naik motor.



"Berarti hari ini Abang nggak bisa anterin kamu pulang?"



"Hari ini aku nggak bawa motor karena tadi pagi hujan. Jadi aku ikut mobil yang antar adik-adik sekolah. Mungkin itu yang bikin Kak Bayu mau antar aku. Karena dia lihat waktu Aku diantar mobil tadi pagi!"



'*Lelaki itu sebegitu perhatiannya. Lelaki itu bahkan tahu jadwal kuliahnya Amora. Dia tidak satu fakultas atau satu jurusan. Jelas apa tujuan dia mendekati Amora*,' Dava bicara terus dalam hatinya.



"Mengapa saat hujan tidak ada dispensasi dari Daddy mu untuk bawa mobil?" Dava penasaran.



"Daddy itu gimana mommy  sih. Kalau mommy kasih izin ya daddy iyakan. Sebaliknya kalau mommy larang, ya itu suara daddy. Mereka.selalu satu pendapat."



"Daddy itu cinta mati banget sama mommy. Mereka saling suka sejak kelas 1 SMP tapi nggak saling mengakuinya," jelas Amora.



"Kelas 1 SMP yang bener aja."



"Iya, aku tahu bukan hanya dari cerita mommy dan daddy. Tapi mommy Kiran dan eyang uti juga tahu semua ceritanya itu," jawab Amora.



"Kesalahan daddy yaitu dia tidak menyatakan cintanya. Kesalahan mommy adalah dia menunggu pernyataan cinta secara verbal, padahal sudah jelas secara implisit sejak mereka kenalan daddy mencintai mommy."



"Lalu masuklah Ayah di tengah mereka, jadi lah aku ada. Walau akhirnya kekuatan takdir menyatukan kembali cinta mommy dan daddy."



Amora tentu tak menceritakan terjadinya dirinya karena perkosaan sang ayah pada sang mommy.



"Ayo pulang, nanti keburu hujan. Abang bisa ditegur Aldo. Bahaya 'kan?" ajak Dava.



Memang sore itu sudah mulai mendung. Dava membayar makanan yang dia makan lalu segera mengajak Amora untuk pulang.



"Rumahmu di mana?" tanya  Dava.



"Bumijo. Utara Stasiun Tugu," jawab Amora.



"Aku tahu daerah situ." Dava pun melajukan mobilnya ke arah daerah Bumijo dekat Stasiun Tugu. Dekat jalan Mangkubumi.



"Ayo turun dulu. Ayo Om turun dulu," ajak Amora.




"Turun dulu kalau mau kenalan. Kalau nggak ya udah terima kasih sudah diantar," Amora menepis tangan Dava lalu dia langsung turun dari mobil.



Amora melihat mobil mommynya sudah ada di rumah, mobil sang arjuna yang belum ada.



Dava melihat ada tiga mobil di carport. Satu mobil di paling ujung dia lihat mobil sport hitam yang dia duga milik Amora. Lalu ada satu mobil fan keluarga dan satu buah sedan merah.


\*\*\*



"Mom itu ada tetangganya kak Aldo. Dia kenal dekat dengan mommy Kiran dan daddy Amir. Barusan bawain Mbak buku dari kak Aldo," Amora menghampiri ibunya yang sedang berkebun.



"Oh ya?" Dini bereaksi terhadap perkataan putrinya.



Dini sedang berkebun sore itu. Dia segera mencuci tangan dan menuju ke ruang tamu.



"Assalamu'alaykum Tante," sapa Dava sopan.



"Wa'alaykum salam." jawab Dini. Dia perhatikan anak muda di depannya.



"Katanya rumahmu depan rumahnya tante Kiran dan Om Amir?"



"Benar Tante," Dave membenarkan perkataan Dini.



"Yang cat hijau?" Dini mengingat lokasi rumah kakaknya di daerah Duren Sawit Jakarta Timur.



"Bukan Tante yang sebelahnya yang cat biru," balas Dava.



"Oh berarti nggak persis depan ya agak miring sedikit ke kiri," Dini tahu rumah cat biru depan runah mbak Kiran.



"Iya Tante betul," Dava membenarkan pendapat Dini.



"Ini buku dari kak Aldo Mom. Kak Aldo biasanya juga dikirim,  ini pakai dititipin." kata Amora sambil memperlihatkan dua buah buku yang sudah dia buka bungkus kadonya.



Amora letakkan di meja.



"Akhirnya kamu dapat juga buku yang kamu pesan di Kak Aldo," Dini tahu putrinya memang memesan banyak buku setiap saudaranya ke luar negeri. Bahkan kemarin oleh-oleh Anto hanya buku dan buku. Untuk ke empat anak mereka.



"Iya Mom, seperti biasa dia nggak mau dibayar." Keluh Amora.



"Sejak dulu Kakakmu seperti itu. Enggak usah sedih,"  kata Dini.



"Tiap mau titip jadi mikir ulang Mom. Enggak nitip nyesal, nitip jadi enggak enak karena dibayarin," Amora menyampaikan apa yang selama ini dia rasakan.



"Jadi merepotkan kamu ya nak Dava. Karena jadi harus antar ke Moya," kata Dini.



"Nggak kok Tante saya kan juga ngajar di UGM," balas Dava.



"Oh ya?" Seru Dini takjub pada sosok dosen muda dihadapannya. 



"Nah mulai deh sesama dosen pasti aja di obrolannya nanti lain deh," Amora mulai meledek keduanya.



"Tante juga dosen?" tanya Dava memastikan apa yang dia dengar.



"Yups benar," jawab Dini.



"Nah kan mulai kan," ejek Amora lagi. Membuat Dini dan Dava langsung tertawa.



"Wah seru nih Daddy enggak diajak ketawa,"  tiba-tiba Anto masuk. Dia langsung mengecup kening istrinya dan kening Amora.



"Assalamu'alaykum Om," Dava mengulurkan tangan memberi salim pada Anto.



"Kamu disini rupanya," Anto menyambut uluran tangan Dava.



"Dia dosen di UGM Dadd. Lalu Moya mengejek kami, jadi kami tertawa," kata Dini.



"Wooow," Anto bereaksi seperti itu mendengar anak muda didepannya dosen. Karena setahu dia ketika di Jakarta anak muda ini pergi kerja.



"Hanya dosen terbang saja Om. Cuma satu kali aja seminggu saya ngajar. Untuk menuntaskan rasa puas sebagai dosen." Jelas Dava.



"Wah kuli yang satu ini memang hebat ya," kata Anto.



"Kok kuli Dad?" tanya Dini



"Dia waktu itu ngaku ke Daddy mau berangkat nguli dulu. Daddy bilang kuli nya aja pakai mobil sport gimana mandornya. Ternyata kuli itu juga dosen juga momm," kata Anto.



"Wah merangkap-merangkap nih," kata Dini.



Akhirnya mereka ngobrol rame. 



"Kamu jangan pulang dulu. Makan malam di sini aja," Dini menahan Dava agar tak pamit menjelang maghrib. 



"Ayok kita salat magrib dulu," ajak Anto.



Mereka pun salat magrib bersama.



'*Keluarga yang hangat*,' kata Dava dalam hatinya.



***Ditunggu komen manisnya ya***.


***Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya***.


***Salam manis dari Sedayu ~ Yogyakarta***.