
Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA
Untuk resepsi pernikahan Dava dan Amora tentu tak ingin ikut-ikutan. Dan tak boleh ikut-ikutan oleh kedua pihak keluarga besar.
Dava hanya menggelontorkan dana. Ini pun sebenarnya tak boleh oleh Anto. Dia ingin resepsi putrinya dia yang tanggung. Rustam pun sama. Dia ingin membiayai resepsi putra tunggalnya.
Akhirnya semua panitia bergerak diam-diam. Gedung dan cattering dibayar berdua oleh Dini dan Hermien.
Dava hanya dibiarkan urus souvenir serta perias pengantin yang menggunakan pakaian adat Jawa. Dan yang lainnya adalah undangan.
Selebihnya semua ditanggung Dini dan Hermien tanpa bicara pada kedua anak mereka.
Kedua belah pihak memang sudah sepakat tak ingin pakai adat Palembang dan akan pakai adat perempuan yaitu Jawa.
Souvenir memang diserahkan pada kedua mempelai. Dava dan Amora sepakat mereka yang buat sendiri bukan beli yang sudah jadi.
Sama seperti program pet shop-nya, souvenir Moya tidak beli tapi dia mengarahkan para pegawainya untuk membuat souvenir sendiri sesuai yang dia mau.
Souvenir yang Moya bikin tentu sudah izin dengan Dava dan suaminya setujui yaitu sebuah pembatas buku.
Barang sepele tapi sangat penting buat penyuka buku.
Pembatas buku yang dibuat tentu dengan kreatifitas anak muda. Moya mengerahkan teman-teman yang kerja di pet shop untuk mendesain dan mereka langsung buat pembatas buku itu.
Selain itu dalam paket souvenir juga diberikan voucher diskon 5% untuk membeli apa pun di Pet Shop milik Moya, baik itu makanan hewan, kandang atau hewannya sendiri. Tak berlaku untuk biaya periksa ke dokter hewan.
Itu memang salah satu cara untuk menjaring pelanggan baru. Benar-benar promosi yang hebat dari pikiran bocah kecil yang baru memulai usaha.
\*\*\*
Dava dan Moya juga bertanggung jawab penuh pada kartu undangan mereka. Dalam design kartu undangan, di photo prewedding ada foto saat Dava dan Moya sama-sama menggunakan baju karate. Juga ada foto saat mereka memegang buku nikah saat mereka akad nikah biar undangan pada tahu kalau mereka sudah melaksanakan akad 5 bulan lalu.
\*\*\*
"Yank, minggu depan kita jadwalnya suntik KB loh." Dava mengingatkan Moya jadwal melakukan kontrasepsi mandiri mereka yang ke tiga.
"Kalau aku pergi sendiri boleh nggak?" tanya Moya.
"Kenapa?" Dava merasa ada yang disembunyikan oleh istri kecilnya.
"Cuma suntik doang kan nggak perlu Abang antar aku," ucap Moya.
"Sebagai suami yang baik dan bertanggung jawab ya tetap harus Abang antar," kata Dava.
'*Susah kalau memang abang tetap mau antar. Bakal gagal sudah kejutan yang ingin aku berikan*,' kata Moya dalam hatinya.
'*Gimana ya caranya supaya Abang enggak ikut antar aku suntik*?' Alesa terus berpikir keras. Dia bicara dalam hatinya bagaimana cara membuat kejutan bagi suaminya. Kalau Dava ikut tentu kejutan nggak bisa berhasil. Amora berpikir cara tipu-tipu untuk Dava.
'*Tapi kalau aku bohong gitu, kalau aku tipu-tipu gitu berarti aku bohong dong*?' Alesha menyadari itu hal yang paling dia benci dan harus dihindari!
'*Tapi kan aku pengen bikin kejutan sama seperti yang Abang lakukan dengan kebohongannya dulu*.' perang batin terus berkecamuk dalam diri Alesha.
Akhirnya Moya berpikir dia tidak akan bohong pada suaminya. Dia akan bicara jujur aja. Itu lebih baik walau jadi tak ada kejutan.
"Abang boleh nggak aku ngomong?" Akhirnya Moya memutuskan sesuai dengan prinsipnya. Tak boleh ada kebohongan dalam rumah tangga mereka.
"Kenapa?" tanya Dava dengan lembut.
"Aku enggak kepengen suntik KB lagi." Moya bicara dengan yakin.
"Kan kita baru setengah tahun loh Yank. Kamu bilang mau ditunda satu tahun."
"Enggak apa apa Bang. Aku siap tanpa kontrasepsi. Kalau memang cepat dapat ya udah kita terima dengan senang hati. Kalau nggak cepat dapat, dinikmati aja," ujar Moya dengan kedewasaan sikap yang tak akan disangka siapa pun.
"Alhamdulillah jadi kamu udah enggak mau menunda lagi?" Tanya Dava mencari keseriusan Moya.
"Ya Bang, cukuplah enam bulan kita pacaran." Sekali lagi Moya meyakinkan suaminya.
"Penundaaan atau penggunaan kontrasepsi itu dulu kan kamu yang mau. Sekarang kalau kamu mau menyudahinya ya alhamdulillah," kata Dava lagi.
"Tetap kontrol Yank. Kita bilang aja ke dokter kita mau menyudahinya dan kita mau program hamil."
"Jadi nanti dokter akan sarankan vitamin apa yang buat penguat rahimmu. Juga suusu apa yang buat mempersiapkan kehamilan."
"Kan ada suusu sebelum kehamilan dan suusu saat ibu hamil beda." Dava seakan paling tahu soal itu.
"Beda lagi nanti suusu ibu menyusui," lanjut Dava.
"Oh jadi kita tetap kontrol?"
"Iya Yank. Kita tetap kontrol cuma kita nggak suntik," jawab Dava. Dava sangat bersyukur Moya sudah memantapkan hati melakukan penghentian kontrasepsi.
"Tapi kita nggak usah bilang sama mommy dan daddy juga ke ibu dan ayah ya Abang?"
"Ya," jawab Dava setuju dengan program kejutan yang Moya akan lakukan. Yaitu tidak bilang pada kedua orang tua mereka kalau mereka akan menghentikan alat kontrasepsi atau pencegah kehamilan.
"Tentu saja Abang akan menunjang rencanamu Yank." karena dia juga suka kalau kedua orang tuanya dan kedua orang tua Moya mendapat kejutan.
\*\*\*
"Sudah mantap?" Tanya dokter.
"Sudah Dok. Cukup enam bukan kami pacaran legal. Dua minggu lagi juga resepsi pernikahan kami akan digelar. Jadi saya pikir tak masalah bila saya hamil."
"Saya juga akan libur menjadi pelatih kontingen nasional bila hamil nanti." Moya tak ingin dia mengorbankan anaknya bila dia hamil nanti.
"Melatih enggak apa apa Yank. Abang yakin aman kalau kamu hanya mengawasi gerak, tidak ikut melatih gerak dan tak ikut pemanasan," Dava lebih tahu soal melatih.
"Baiklah. Aku harap anak dari dojo kita bisa ada yang berangkat ke tingkat nasional." Moya menaruh harapan dojonya sukses mendidik bibit-bibit karateka handal.
"Baik. Sekarang kita persiapkan rahim Ibu untuk menerima bibit ya. Saya berikan obat penyubur \*\*\*\*\*\* buat Bapak dan saya persiapkan lahannya yaitu rahim Ibu buat menerima bibit dan membuatnya tumbuh subur."
"Selain obat yang saya berikan untuk Bapak dan Ibu, saya sarankan Ibu dan Bapak makan makanan bergizi. Jangan makan asal kenyang."
"Selain itu ada vitamin tambahan untuk Ibu juga susuu khusus ibu yang sedang persiapan hamil. Semoga dengan persiapan semuanya Ibu cepat hamil." Dokter memberi resep untuk Dava dan Amora.
\*\*\*
"Untung kita kontrol ya Bang. Jadi kita tahu semua persiapan kehamilan," Moya merasakan manfaat kontrol kali ini.
Tadi dokter juga memberitahu kapan sebaiknya mereka making love agar bisa berhasil jadi baby. Dokter sudah memberitahu tak ada gunanya melakukan tiap hari karena tak ada ovum yang siap dibuahi.
Melakukan tiap hari hanya berguna untuk kepuasan.
Dokter juga menerangkan waktu yang bisa diprediksi menentukan jenis kelamin bayi yang akan Moya dapat.
Buat Moya hal itu tentu sudah dia tahu karena dia juga dapat mata kuliah itu di kampusnya.
\*\*\*
"Abang mau ambil schedulle buat program anak perempuan atau anak lelaki?" Tanya Moya saat mereka sudah jalan pulang dari rumah sakit.
"Buat kita lelaki dan perempuan sama aja kan? Tapi kalau boleh memilih Abang ingin anak pertama kita lelaki Yank," jawab Dava tanpa ragu.
"Aku sependapat Bang. Aku juga ingin anak pertama kita laki-laki." Jawab Moya.
"Berarti kita atur jadwal ya Bang. Tiga hari sebelum ovulasi jangan sampai Abang tebar benih."
"Iya Yank, kita harus berikhtiar. Kalau mau berhasil ya harus ikuti jadwal," ujar Dava ringan.
"Sepertinya itu lebih tepat buat Abang, bukan KITA. Aku bisa tahan, Abang yang enggak kan?" Goda Ebby.
"Kamu koq malah godain Abang?"
"Kenyataannya seperti itu kan?"
"Iya sih." Dava akhirnya mengakui hal itu.
Sambil nunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel yanktie yang lain dengan judul ENGAGED TO HIS SON, MARRIED TO HIS DADDY