LOVE FOR AMOR

LOVE FOR AMOR
PINDAH DOMISILI



Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.


JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA



"Bismillah," Moya membaca doa saat dia masuk halaman rumah yang akan dia tinggali untuk seterusnya. Dia masuk dengan kaki kanan. Itu ajaran yang dia tahu. Begitu pun ketika masuk ke dalam rumah dia mengucapkan salam dan dengan kaki kanan lagi. 



Kalau tadi kaki kanan ketika masuk di halaman sekarang kaki kanan saat masuk ke dalam rumah. 



"Assalamu'alaykum,"  katanya.



"Wa'alaykumsalam," jawab Hermien, mertua perempuannya.



"Lho anak Bunda udah ke sini?" Hermien kaget. Dia kira Dava belum akan pulang hari ini mengingat Harry dan para eyang Moya masih menginap di rumah Dini. 



"Iya lah Bun, masa di rumah mommy terus?"



"Emang enggak capek? Lagian kan masih pada nginep disana."



"Enggak capek Bun, biasa aja. Soal para tamu, aku sudah pamit pada ayah dan eyang koq," sahut Moya.



"Sudah kewajibanku ikut suami kan Bun?"



Lalu Moya menyalami semua yang ada di sana. Ada para uwak, kakak dari Hermien. Kalau pakde dan bude dari ayah Rustam tak ada yang menginap di rumah Dava. Ada juga para sepupu Dava.



Dava masuk membawa koper dan tas ransel berisi peralatannya Moya, sedang tas laptop dan dompet serta ponsel ada di tas punggung kecil yang Moya bawa.



"Masih ada yang mau diturunin?" kata seorang sepupu Dava.



"Enggak usah, tinggal dus isi sepatu dan tas aja serta buku, nanti aku bisa bawa sendiri," kata Moya. Tak enak merepotkan para sepupu yang baru dia kenal.



"Biar Abang aja yang angkat dus tadi Yank, enggak perlu kamu." Dava tentu tak mau istrinya angkat dus buku uang cukup berat itu.




Moya merasa di kamar ini suasananya adem dan membuat tenang tinggal dilamar ini. Dia tak komplain dengan warna sendu seperti ini buatnya sama aja.



"Abang sudah tambah satu lemari untuk baju kamu Yank."



"Abang nggak singkirin bajumu aja? Kan bisa  bajuku dimasukin ke lemarimu," Moya masih tetap merasa tak enak.



"Enggak lah aku tahu baju kamu nggak mungkin cukup dengan berbagi lemari denganku. Walau lemariku juga nggak penuh sih. Cuma aku tahu kamu butuh space lebih besar, jadi nanti kamu satu setengah lemari aku setengah aja,"  jawab Dava. 



Moya melihat masih ada lemari yang tergantung kuncinya artinya memang belum dipakai sama sekali.



"Itu ada rak sepatu Yank. Kalau kurang nanti kita tambah."



"Cukuplah aku bukan penggila sepatu dan tas seeprti sosialita lain. Aku beli hanya yang aku butuhkan  bukan beli karena gelap mata," Amora memberi tahu prinsipnya.



"Aku harap besok-besok rak sepatu kita taruh luar aja ya Bang. Biar udara kamar sehat," Amora memberi saran pada Dava.



"Baik Nyonya," goda Dava.



"Abang, maaf aku belum bongkar barang ya." Moya berkata lirih.



"Kenapa? Maksudku kamu minta maaf buat apa?" kata Dava.



"Aku bukan males bongkar barang, tapi aku lebih baik keluar nemuin Bunda dan semua saudara dulu. Aku enggak enak kan kalau aku malah di kamar ngurusin barangku. Kayak enggak ada waktu lain aja."



"Oh maksudmu itu. Iya enggak apa apa,"  kata Dava.



"Ya udah ayo kita keluar," kata Dava dengan bijak dia tahu Moya tidak mau dinilai buruk oleh kerabatnya.


Sambil nunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel yanktie yang lain dengan judul THE BLESSING OF PICKPOCKETING