LOVE FOR AMOR

LOVE FOR AMOR
ENGGAK GENTLE



Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.


JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA




"Halo Moya," sapa Bayu ramah.



'*Apa ini yang bang Dava dibilang pacarku ya*?' batin Amora.



"Hai Kak, nunggu siapa?" tanya Amora dengan ramah.



"Pastinya nungguin kamu lah,"  jawab seorang teman Bayu tanpa ragu.



"Loh kenapa nungguin aku?"  tanya Amora santai.



"Ya nungguin siapa lagi dia di sini kalau bukan nungguin pujaan hatinya," goda teman Bayu yang lain.



Bayu disana dengan dua temannya. Seorang laki-laki dan seorang perempuan.



"Salah tuh, saya bukan pujaan hati kak Bayu jangan bikin rumors nanti bahaya Kak," kata Amora.



"Kalau Bayu nya memang beneran senang sama kamu gimana?" tanya teman Bayu yang perempuan, entah namanya siapa.



"Saya sih senang aja kalau ada yang suka sama saya,"  kata Amora dengan sikap dewasa.



"Tapi sejak posma kemarin aja saya sudah dapat banyak ancaman lewat pesan gara-gara penggemarnya Kak Bayu,"  Amora menjeda kalimatnya.



"Andai mereka ngancam langsung ke muka saya. Atau saya bisa ngejawab pesannya sih mending. Akan saya jabanin. Lah pesan aja enggak bisa di reply. Buat apa coba?" Intonasi Amora mulai tinggi.



"Kalau mereka berani bicara depan saya, lebih baik saya ladeni dengan tangan kosong," jawab Amora sengit!



"Tolong bilangin ya ke penggemarnya Kak Bayu saya bukan saingan mereka. Saya tidak punya hubungan apa pun dengan Kak Bayu. Tapi kalau mau ribut saya jabanin," kata  Amora kesal.



Bayu dan kedua temannya tahu siapa Amora karena kebetulan Bayu cerita kalau Amora dia kenal karena satu Dojo.



Dan level Amora satu tingkat diatas Bayu.



"Saya dan Kak Bayu hanya sama-sama berlatih karate di tempat yang sama," Amora sengaja dia mengencangkan suaranya agar beberapa teman yang ada di situ mendengar. Karena Amora tahu ada seorang temannya yang sangat mengidolakan Bayu.



"Kamu pulang bareng yuk,"  ajak Bayu untuk meredam amarah Amora. Sejak tadi Bayu mencari motor Amora tak ada di parkiran. Jadi Bayu menyimpulkan dia bisa mengantar pulang Amora pertama kali.



"Maaf Kak saya sudah dijemput pak Dava. Selamat siang,"  lalu Amora langsung pergi menuju mobilnya Dava.



Bayu kembali kecewa karena tak bisa mengantar pulang gadis kecil yang sejak lama dia sukai.



Bayu mengenal Amora dua tahun lalu saat dia pindah ke Jogja karena kuliah disini. Dia mendaftar ke Dojo tempat Amora latihan.



Saat itu Amora baru masuk kelas sebelas atau kelas dua SMA.


\*\*\*



"Kenapa wajahnya jutek kayak gitu?" Tanya  Dava saat melihat Amora masuk mobil dengan membanting tubuhnya.



"Keqi aja ada orang bilang aku ditungguin pacarku," jawab Amora. Padahal dia kesal karena tahu secara tak langsung kalau Bayu nembak dia.



'*Enggak gentle banget. Cerita ke temannya tapi enggak ngomong ke aku langsung. Dia ngomong langsung aja aku enggak bakal nerima. Apa lagi cara dia "ngasih tau" kaya barusan. Tambah ilfil*,' batin Amora kesal.



"Kenyataannya gitu kan?" Dava membuat Amora makin kesal.



"Kenyataannya apa? Jangan suka bikin heboh deh," jawab Amora lagi.



"Kayaknya perut lapar mu itu bikin cepet marah ya. Kita makan yuk," Dava mengajak Amora makan siang dulu.



Dava tak bertanya Amora mau makan apa. Dia melajukan mobilnya ke sebuah rumah makan spesial pasta.



"Kamu mau pesan apa?" Sampai sini baru Dava bertanya.



"Aku mau lasagna," kata Amora.



Dava pun menulis pesanan Amora dan dirinya.



"Habis ini mau kemana?" Tanya Dava.



"Mau pulanglah capek," jawab Amora. Sebenarnya bukan capek badan. Hanya sedang bad mood saja jadi malas buat kemana-mana.



"Gimana kalau kita ke toko buku?" Dava menawarkan destinasi yang tak mungkin ditolak Amora.



"Mau, mau, mau, kata Amora berulang. Kalau sudah ke toko buku dia pasti lupa segalanya. Sama juga semua adiknya. Buku adalah benda yang disuka oleh Anto dan keluarganya. Barang berharga buat seisi rumah mereka.  Sejak anak-anak kecil mereka memang dikenalkan dengan isi buku. Bukan dengan mainan tak berguna.



Sehabis makan Dava mengajak Amora ke mall yang ada toko buku besarnya.



"Moya,"  sapa seorang ibu yang membawa anak balita.



"Mama Yai," pekik Amora sambil memeluk adik kandung daddynya.




"Biasa belanja sussunya adik-adik,"  jawab Sari adiknya Anto.



"Pacarmu? Koq enggak dikenalin ke Mama?"  tanya Yai atau Sari.



"Mama kenalin ini temannya Kak Aldo." lalu Sari diperkenalkan dengan Dava.



"Ini adiknya daddyku." Ujar Amora.



"Dia rumahnya persis depannya mommy Kiran Ma,"  kata Amora.



"Kemarin dia dititipi buku sama Kak Aldo,"



"Oh gitu," kata Yai.



"Tapi jadi pacar juga nggak apa-apa kok. Mama setuju aja," jawab Sari menggoda Amora.



"Mama nih, aku bilangin papa Steve," rajuk Amora.



"Biarin aja papamu pasti setuju lah tenang aja,"  kata Sari.



"Lebih-lebih Mama Risye. Mama Risye pasti setuju," ledek Sari.



Risye  adalah iparnya Harry -ayahnya Amora-  jadi Risye itu tantenya Amora dari pihak ayah.



"Mama sama mama Risye dan  mommy itu memang tiga sekawan yang tidak bisa lepas. Pasti semuanya sama aja pendapatnya," keluh Amora.



"Berarti mommymu juga setuju kan?" 



Dava hanya senyum-senyum mendengar perkataan tantenya Amora.



"Udah ah aku mau masuk aja nggak selesai-selesai ngomong sama Mama," Amora tahu mama Yai pasti pergi bersama papa  Steve. Bisa bahaya kalau ada papanya. Amora langsung menarik Dava ke dalam toko buku.



Amora mencium sekilas pipi adik sepupunya lalu memeluk Mama Sari dengan lembut. Dan bergegas meninggalkan mama Yai.


\*\*\*



"Mborong buku apa Ya?" Didalam toko buku Amora malah bertemu dengan papa Steve yang sedang mencari tabloid iklan mobil.



"Papa," desis Amora. Untung dia bisa sadar sedang berada di toko buku. Amora memeluk papa kesayangannya itu. Steve mencium kening gadis kecilnya.



"Anak Papa lagi cari apa? Kesini sama siapa?" Steve tentu menanyakan hal itu.



"Lagi liat buku buat tugas kuliah aja Pa. Ini sama teman kak Aldo. Rumahnya depan rumah mommy Kiran," Amora memperkenalkan Dava pada Steve.



"Aku tadi ketemu mama Yai didepan Pa." Amora memberitahu papanya.



"Adikmu menarik-narik buku, jadi dibawa keluar sama mama. Padahal Papa bilang biar aja, eh mama Yai enggak sabaran," jawab Steve.



"Oh ini yang mommy mu bilang kemarin," kata Steve.



"Mommy bilang apa Pa?" Tanya Amora penasaran.



"Sudah, santai aja. Papa duluan ya. Dava, Papa tunggu kamu di rumah!" Steve mengundang Dava main ke rumah.



"Insya Allah Pa," jawab Dava. Dia mau manggil Om takut salah. Sehingga akhirnya dia mengikuti sebutan Steve saja.



'*Mommy cerita apa ya? Pantas mama Yai tadi godain aku*,' Amora jadi kepikiran ucapan papanya. 



"Ini sudah ada Mor?" Tanya Dava memperlihatkan buku anatomi hewan yang sepertinya baru masuk ke toko buku ini.



"Kayaknya baru masuk deh ini buku. Sebelum aku ke Jakarta, aku kesini dengan mommy belum ada buku ini," Amora melihat halaman belakang sampul buku itu. Karena buku tertutup plastik rapat tak bisa dilihat isinya.



"Ya sudah ambil saja," saran Dava.



"Pasti lah. Nanti bisa jadi karena enggak laku lalu ditarik dari display," jawab Amora. 



Buku yang tak cepat laku kadang langsung ditarik dari display dan baru bisa kita temukan bila tanya ke petugas dan nanti dicarikan di gudang.



'*Dia dan keluarganya sangat cocok dengan ayah yang penggila buku*,' Dava membatin sendiri mengingat ayahnya yang juga sangat suka akan buku.



"Eh, enggak jadi deh," Amora mengembalikan semua buku. Dia akan kembali besok aja buat membeli semua buku itu. Kalau dia beli sekarang tentu akan dibayari oleh Dava. 



"Aku tahu alasanmu. Aku akan lapor Aldo biar menolak setiap kamu titip buku bila sekarang tak mau aku beliin buku," ancam Dava.



'*Saat perempuan lain kepengen aku traktir. Gadis kecil ini malah menolak*,' Dava hanya tersenyum saat melihat Amora cemberut sambil memasukkan buku-buku yang tadi dia pilih kedalam tas transparan toko buku itu. 



***Ditunggu komen manisnya ya***.


***Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya***.


***Salam manis dari Sedayu ~ Yogyakarta***.