LOVE FOR AMOR

LOVE FOR AMOR
SETUJU ATAU ENGGAK



Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.


JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA



"Waktu itu kan kita akan nikah itu kan liburan Bang. Dipilih liburan agar semua bisa hadir. Tentu akan merepotkan orang kalau enggak libur, jadi kita liburan berikut baru bikin kalau Abang setuju."



"Abang setuju kok," kata Dava cepat.



"Jadi kita bikinnya liburan karena sesuai dengan libur sekolahan dan kampus. Kan katanya yang ngantor ikut jadwal anak sekolah."



"Jadi enam bulan lagi?" tanya Dava.



"Ya itu kalau Abang mau." Ujar Moya.



"Gimana kalau kita akad nikah dulu aja?"



Dava mengambil jalan pintas, siapa tahu Moya setuju.



"Kenapa? Abang takut ada apa apa lagi?"



"Enggak juga Yank, cuma kan kalau bisa disegerakan kenapa ditunda." jawab Dava.



"Maksud Abang gimana?"



"Ya kita minggu depan atau dua minggu lagi akad aja, antar keluarga. Lalu resepsinya yang dibikin enam bulan ke depan sesuai dengan liburan. Toh kamu juga bilang akan hamil satu tahun setelah nikah."



"Jadi kan nggak masalah soal resepsinya," Dava mencoba menjabarkan apa yang ada dalam pikirannya.



Amora diam,  memang tidak baik terlalu lama menunda. Akan makin banyak gangguan.



"Nanti aku bilang dulu sama mommy deh," Amora tak bisa menjawab permintaan Dava.



"Enggak usah ngomong mommy dulu, mommy begitu kamu ngomong kasih tau mau nikah, dia akan setuju. Yang Abang tunggu keputusanmu dulu. Setuju atau enggak?"



"Abang cuma tanya itu aja, kamu setuju atau nggak kalau kita akad nikah duluan.  Kalau soal mommy,  kapan aja dia pasti setuju."



"Jawabannya aku setuju kita akan akad dulu." Tanpa ragu Moya menjawab pertanyaan Dava.



"Itu poinnya yang Abang tunggu," Dava plong Amora setuju dengan wacana yang dia gulirkan.



"Malam ini aku akan tanya Mommy sama Bunda kapan waktu yang mereka sanggupi deh," Moya memutuskan akan bertindak.



"Gitu dong."



"Ya udah sekarang kita makan dulu," Moya membuka box yang dia bawa.



"Padahal tadi aku kesini bukan mau ngomong itu lho.  Kenapa jadi aku ketangkap begini ya Bang?" Amora jadi bingung malah dapat keputusan diluar ekspektasinya.


\*\*\*



"Kamu serius?" 



"Serius Mom," jawab Moya tanpa ragu. Dini setuju, hanya Dini harus tahu apa alasan pasangan muda ini ingin menikah minggu depan atau dua minggu lagi.



"Kenapa? Kamu takut kebablasan?"



"Enggak," jawab Amora cepat.



"Abang biar kayak gitu belum pernah cium aku. Abang bukan laki-laki seperti itu Mom. Setiap jalan atau apa dia selalu mencium kening atau jemariku aja nggak pernah lebih.  Mommy  jangan berpikir buruk atau berpikir kotor tentang Abang."



"Mommy hanya berpikir takut terjadi hal yang nggak diinginkan," jawab Dini.



"Waktu seumur aku, mommy bahkan sudah hamil dengan segala problem rumah tangga yamg ruwet," Moya membuka fakta.



"Tapi kehamilan mommy bukan direncanakan," kata Dini.



"Iya aku tahu, maksud aku, mommy saat seumur aku, malah sudah memikirkan keluarga sudah mikir hamil sudah mikir ekonomi dan segala macamnya.  Memikirkan tanggung jawab berat dengan terpaksa.  Kalau aku kan nggak."




"Kalau saat itu mommy nikah sama daddy,  pasti bisa beda hasilnya.  Karena kalian memang selalu terduka pikiran.  Kalau sama ayah kan enggak."



"Aku sama abang kan bertukar pikiran,  jadi aku rasa kami siap koq nikah minggu depan."



"Enggak problem sih kalau memang kalian mau seperti itu.  Kami dukung daripada kebablasan juga."



"Mommy dengerin aku, aku nggak bakal kebablasan," protes Moya.



"Ya kan kita nggak tahu namanya manusia walau sepintar-pintarnya kamu karate tapi kalau saat sudah terbius hasrat, siapa yang bisa tahu apa yang akan terjadi?"



"Iya sih," jawab Moya.



"Kamu maunya kapan?"



"Terserah mommy dan bunda aja. Minggu depan atau dua minggu lagi." Moya memberi alternatif dua pilihan.



"Kalau minggu depan kecepetan nggak ya?"  kata Dini.



"Emang mau ngapain sih Mom? Kan cuma akad,  tinggal urus surat-surat, yang datang hanya keluarga udahkan. Urus makanan buat segitu mah pesan catering kecil juga bisa kalau mommy malas masak," Amora merasa tak ada yang ribet.



"Kita harus mikirin yang  pada pesan tiket ke sini," ungkap Dini.



"Siapa aja?



"Yang pasti ayahmu kan? Yang lain paling eyang kamu mommy Kirana dan bude Sashi."



"Mereka pasti bisa kalau kita bilang minggu depan," jawab Moya.



"Jadi kapan maunya?"



"Ih mommy sih kok nanya aku lagi. Aku bilang minggu depan,mommy bilang kecepetan. Sekarang nanya maunya kapan."



"Ya udah dua minggu lagi." Dini memberi keputusan.



"Ya udah aku bilang sama Abang. Mommy bilang sama Bunda."



"Loh kok Mommy yang bilang sama Bunda. Ya   biar abang yang bilang sama bundanya."



"Oke aku telepon Abang dulu,"  kata Moya, dia pun keluar dari ruang kerja mommynya. Anto masih sibuk dengan tiga jagoannya. Mereka memang sering diskusi dan bicara soal pelajaran dengan Anto di ruang belajar.


\*\*\*



"Serius Yank?"  tanya Dava.



"Masa aku bohong?"



"Alhamdulillah," kata Dava.



"Ya udah sekarang Abang hubungi bunda, karena tadi aku udah bilang ke mommy suruh hubungi bunda. Eh  mommy bilang itu urusan Abang."



"Ya udah aku akan hubungi bunda. Bud Sashi dan eyang gimana?"



"Itu urusan mommy,  soal kedatangan mereka juga semua urusan mommy."



"Sekarang aku mau hubungi ayah biar dia siap jadi waliku," Moya memberitahu soal bicara dengan Harry.



"Oke."



"Soal baju akad kita gimana Yank?"



"Ih Abang gimana sih?"



"Ya udah besok kita ngobrol jam makan siang ngomongin baju dengan  rias MUA dan data buat ke KUA."


Sambil nunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel yanktie yang lain dengan judul ENGAGED TO HIS SON, MARRIED TO HIS DADDY