
Nick bermain game di komputernya sedangkan Regard duduk tenang di sana sambil mengamati situasi dan mempelajari sifat Nick dengan menganalisis kamar Nick yang di penhi dnegan berbagai stiker game.
“ kakak ini pasti senang bermain game, lihatlah semua stiker game edisi terbatas itu, “ batin Regard seraya menatap ke sana ke mari.
Nick menyadari Regard tak mengatakan apa pun sejak tadi. Anak laki laki yang menurutnya aneh itu, hanya diam saja dan menatap ke sana kemari seperti orang dewasa yang sedang mengawasi.
Beberapa kali Nick melirik bocah itu, tetapi tampaknya Regard tidak peduli.
" mau apa kau ke sini? kalau hanya ingin mengamati kamarku lebih baik kau segera pergi!" ketus Nick sambil menatap layar komputernya dengan wajah datar.
Regard melirik anak laki laki yang lebih tua dua tahun dari dirinya itu, dia tersenyum menyeringai lalu berdiri dari kursi itu dan berjalan menuju tempat tidur.
"Kau memainkan game class of hero dengan cara yang salah, sebaiknya kau perkuat penyerangnya, jika tidak kau akan di habisi oleh lawanmu, perbanyak latihan hero agar lebih paham dengan fungsi dan kekuatan hero yang kau pilih!" ucap Regard sambil berbaring di atas ranjang anak laki laki itu.
Nick berdecak kesal," jangan sok tahu, dasar tukang pamer, memangnya sudah sampai sejauh mana kemampuanmu!" ketus Nick.
" Setidaknya aku sudah beradadi level legend I, tinggal selangkah lagi menuju Mythic!" Balas Regard sambil tersenyum sedikit angkuh.
" Legend I!?" Nick berbalik dengan wajah terkejut. Dia menatap Regard dengan wajah tak percaya. Dalam game yang mereka sebutkan, untuk mencapai level itu harus sudah setara kemampuan pemain profesional.
"Penasaran? Mau ku ajari kak?" Celetuk Regard yang dengan sengaja sedikit pamer untuk meruntuhkan arogansi seorang Nick yang sulit didekati.
Nick terhenyak, dia pikir dirinya yang terhebat untuk anak seusianya, tapi ada yang lebih gila lagi dibandingkan dirinya.
"Aku memperoleh level itu hanya dalam dua bulan, itu pun mainnya tiga kali seminggu sebagai pengisi waktu luang, mau kuberitahu triknya?" Ucap Regard dengan senyuman licik di wajahnya.
" Cihh dasar tukang pamer, memangnya kenapa kalau sudah sampai level itu, dasar sombong!" Ketus Nick sambil berbalik dan kembali menatap layar komputernya untuk melanjutkan gamenya itu.
Regard menahan tawanya di atas kasur Nick. Anak lelaki yang cerdas itu berbaring di atas kasur sambil menahan tawa melihat wajah kesal Nick saat ini.
Jelas sekali Nick butuh bantuan, tetapi dia malah gengsi untuk menanyakan pada ahlinya.
" Kalau ada apa-apa panggil aku saja kak, akan ku bantu!" Ucap Regard sambil mengambil sebuah buku tentang alam semesta dan mulai membacanya dengan santai.
Nick mendengus kesal, dia melirik Regard yang sedang membaca buku dengan santai," tukang pamer, apa hebatnya dirimu, dasar sok jagoan, paling kau minta bantuan orang lain!!" Ketus Nick.
" Bagaimana mungkin kau memperolehnya dalam dua bulan? Dasar pembual besar!" Batin anak laki laki itu.
Nick menekan semua tombol navigasi, mengendalikan karakter game yang sedang digunakan. Tetapi sepertinya kali ini dia salah memilih jagoan yang tidak dia kuasai.
Tukk... Tak... Tak... Tak!!
Suara benturan jari jari Nick dengan papan keyboard terdengar begitu keras sampai membuat Regard senyum senyum sendiri di atas kasur.
" Hihihi sebentar lagi dia Pasti akan meminta bantuan!" Batin Regard dengan senyuman jahil di wajahnya.
Bocah itu duduk di atas kasur lalu mengeluarkan ponselnya. Sembari menunggu Nick meminta bantuannya, dia melakukan pekerjaan yang harus dia selesaikan.
"Kita lacak di mana nenek sihir itu berada, berani juga dia datang ke kota ini, aku akan mencari adikku, aku yakin Lili masih hidup!" Batin Regard.
Anak yang cerdas itu mulai mengutak atik ponselnya, meretas sistem jaringan dan melacak keberadaan nyonya Vera. Wajah nyonya Vera adalah sosok nenek jahat dalam mimpi Regard yang membawa adiknya.
Karena dihampiri mimpi buruk itu setiap malam, Regard memiliki spekulasi bahwa adiknya masih hidup dan kecelakaan Lili berhubungan dengan nyonya Vera.
Bocah itu sibuk dengan dunianya sendiri, di telah menemukan lokasi nyonya Vera serta segala informasi tentang wanita itu.
Jika sebelumnya dia ragu perempuan dalam mimpinya itu hanya lah ilusi, maka hari ini ketika dia melihat wajah Nyonya Vera lebih jelas lagi, dia semakin yakin bahwa kematian adiknya berhubungan dengan perempuan dalam mimpi buruk ya itu.
Anak laki-laki itu mengirim semua informasi yang dia dapatkan kepada pamannya, satu-satunya yang bisa dia ajak diskusi ketika membicarakan masalah mendiang adiknya.
Begitu dia mengirim data data itu, ponselnya berdering begitu keras.
" Halo Paman Johan!" Jawab anak itu.
" Darimana kau mendapatkan semua informasi itu!? Apa kau bertemu dengan wanita itu Regard!? Dia menyakitimu!? Dia mendekatimu!?' Johan segera mencerca keponakannya dengan rentetan pertanyaan.
Jelas sekali dari suaranya kalau dia sedang khawatir dengan keadaan Regard.
" Calm down uncle, hari ini Regard memastikan bahwa mobil aneh yang sering mengawasi di depan sekolah adalah mobil nenek lampir itu, dan dia adalah orang yang sering muncul dalam mimpi Regard!" Jelas anak itu dengan tenang.
Kecerdasan Regard ini sangat di luar akal, hal ini justru membuat kedua orangtuanya bahkan keluarga nya khawatir. Namun Regard tak pernah menujukkan gejala lain.
"Apa maksudmu, dia berhubungan dengan kematian Lili!?" Tanya Johan penasaran.
" Regard ingin mencaritahu hal itu paman, bisakah paman membantu Regard? Meski Regard pintar, tapi Regard maish punya keterbatasan fisik , Regard butuh orang dewasa untuk mencari tahu semua ini," jelas anak itu.
" Lagipula perempuan itu ibu kalian, paman pasti lebih paham cara menghadapinya!" Ucap Regard.
"Dia bukan Ibuku Regard, hanya menumpang rahim saja!" Ketus Johan.
" Kalau begitu bantu Regard, Regard ada rencana!" Ucap bocah itu seraya melirik Nick yang tampaknya mencuri dengar pembicaraan mereka.
" Baiklah, paman akan bantu, tapi apa papa dan Mama tahu ini?" Tanya Johan.
Regard terdiam sejenak," belum psman, jangan sampai mereka tahu, paman pasti paham maksud Regard," ucap bocah itu.
"Paman nanti kita lanjutkan, ada tikus besar yang mencuri dengar pembicaraan kita!" Ucap Regard.
" Baiklah, sampai jumpa di tempat paman!" Ucap Johan.
Regard memutus sambungan teleponnya lalu menatap Nick serta bersedekap dada.
Belum puas mendengar pembicaraan kami kak Nick?" Celetuk bocah itu.
" Tcihh! Kau berbicara begitu keras, aku bukannya sengaja, salah siapa berbicara begitu lantang di kamar orang lain! Ketus Nick.
Regard terkekeh sambil bangkit berdiri.
" Kau membosankan kak, lihat Hero mu sudah berkali kali mati, kalau aku jadi kau, aku akan banyak latihan sebelum masuk arena tempur!" Ucap Regard sambil berjalan menuju pintu.
Nick menggenggam tetikus komputernya dengan keras, dia menatap layar komputer itu, rasanya dia ingin memenangkan pertandingan itu sekali saja.
" Aku keluar dulu kak, lapar!" Ucap Regard.
"Kau!!" Nick melirik Regard.
.
.
.
like, vote dan komen 🤗