Loco

Loco
Loco 104



Makan malam yang begitu menyenangkan membuat perut mereka semua kenyang.


" Arkhh aku tidak sanggup lagi, jangan kasih ke Abang Dit, sama suami itu!!" tolak Johan saat Dita menyuapinya lagi dengan makanan padahal perutnya sudah penuh.


Dita menatap suaminya dan putra kecilnya," Kalian berdua sudah kenyang juga hmm?" Tanyanya dengan lembut sembari menatap kedua lelaki yang telah terkapar di atas kursi dengan perut kenyang itu.


Asher dan Regard mengangkat jempol mereka bersamaan sambil mengangguk dengan wajah kekenyangan.


Dita terkekeh, hidupnya sangat bahagia. Meski lelah bekerja, melihat tingkah jenaka keluarganya berhasil membuatnya merasa bahagia.


Dita menyelesaikan pembayaran, setelah puas makan malam, mereka pulang ke kediaman Asher dan Dita.


"Dek, Abang numpang tidur ya di rumah kalian, kalau di rumah sakit Abang sama sekali gak bisa tidur," pinta Johan yang duduk di dalam kursi penumpang mobil Asher.


"Sher numpang semalam aja ya, ngantuk berat nih," ucap Johan sambil mengucek kedua matanya seperti anak kecil.


"Baiklah, boleh boleh saja," balas Asher sambil mengacungkan jempolnya.


Dita tertawa melihat mereka. Si kecil Regard malah sudah terlelap di samping Johan. Malam ini, wanita itu yang mengemudi membawa tiga pria yang sudah terlelap karena kekenyangan.


Dita menatap pemandangan di luar, sungguh tenang. Senyuman terbersit di wajahnya, seketika dia teringat dengan gadis kecil di rumah sakit tadi.


Hah...


"Mama rindu kamu sayang, putri kecil Mama," gumam Dita sambil menghela nafas. Tak sehari pun dia tak merindukan Lili, putri kecilnya yang telah meninggal.


Dia selalu mengingat senyuman indah gadis kecil itu, pakaian Lili masih tersusun rapi di kamarnya, dan tak pernah dipindahkan. Semua kenangan bersama Lili dia simpan dalam rumahnya.


Dita melaju membelah jalanan kota bersama ketiga pria itu. Tanpa dia sadari Asher tahu kalau Dita hampir saja menangis. Tetapi Asher memilih diam, tak ingin membuat suasana hati istrinya semakin buruk.


Asher menyimpan kejadian siang tadi, apapun yang terjadi dia harus menemukan gadis itu. Wajah yang sangat mirip dengan Dita, membuat Asher dasar kalau dia dan gadis kecil itu memiliki hubungan.


Malam yang panjang itu mereka lewati dengan tenang. Keluarga kecil Dita beristirahat dengan nyenyak. Sama halnya dengan Johan, pria itu selalu punya satu kamar khusus untuknya di rumah sang adik,sebab kerap kali dia berkunjung dan menginap di sana apalagi sejak kematian Lili.


Keesokan harinya, kegiatan seperti biasa dimulai kembali. Si kecil Regard bersiap untuk berangkat ke sekolahnya. Dita, Asher dan Johan sudah memakai pakaian kerja mereka dan siap berangkat ke kantor masing-masing.


Makan pagi disiapkan oleh Asher sendiri, tepat sebelum istrinya bangun. Dia sudah terbiasa membantu Dita menyelesaikan pekerjaan rumah, dan kerap melatih Regard melakukan hal yang sama.


Setelah makan pagi, mereka berangkat.


"Bye Mama, uncle, sampai jumpa siang nanti!!" seru si kecil Regard sambil melambai dari atas sepeda motor yang dia tumpangi dengan ayahnya..


Dita dan Johan melambai, kedua dokter hebat itu berangkat bersama dengan mobil Dita.


"bye honey, by son, sampai nanti!!" seru Dita.


"Bye honeeeyy.. By baby, sampai nanteeheh Hahahahaha..." Celetuk Johan dengan gaya centilnya.


"Hahahaha... Dasar ipar gila!" ejek Asher yang tergelak dengan kelakuan Johan mode absurd.


Mereka berangkat ke arah yang berlawanan. Asher mengantar putranya ke sekolah, Dita dan Johan berangkat ke rumah sakit bersama.


Asher segera membawa Putranya. Setelah itu dia berangkat menuju kantornya setelah menghubungi Jack.


Tak butuh waktu lama dia tiba di kantor grup Roth. Presdir tampan mempesona yang disukai banyak orang itu tentu selalu menjadi pusat perhatian.


"Apa sudah menemukan orang nya?" tanya Asher pada Jack yang menghampirinya.


" Sudah tuan, kami sudah melacak lokasi, dan tentang anak perempuan itu, dia tidak memiliki hubungan apapun dengan perempuan bernama Tiara itu!" jelas Jack.


"Segera kepung lokasi itu!" ucap Asher.


"Kecurigaan mu benar, yang dimakamkan di makam itu bukan putrimu Asher!!" ucap Sam yang telah mendapatkan hasil autopsi dari sisa belulang yang mereka temukan di dalam kubur.


Asher terdiam membisu, bisa dipastikan, gadis kecil yang dia lihat waktu itu adalah putri kecilnya.


"Siaaalaannn!!!" pekik Asher tak kuasa menahan amarahnya.


Jack dan semua orang di kantor terkejut bukan main. Untuk pertama kali mereka kembali melihat Asher yang dingin dan menyeramkan.


"Tu.. Tuan muda.." panggil Jack.


Asher tampak tersengal-sengal, nafasnya naik turun, dia marah sekali setelah tahu kalau putrinya memang masih hidup.


"Jack hancurkan seluruh bisnis yang melibatkan si kera sialan itu!!! Aku ingin melihat mereka semua mati hari ini!!" ucap Asher sambil memutar haluannya dan keluar dari gedung perusahaan.


Jack mengikuti langkah Asher. Segera mereka berangkat menuju lokasi di mana Tiara menjaga gadis kecil yang mereka beri nama Cindy itu.


Mobil mereka melesat menuju lokasi di mana Tiara berada. Asher berdebar, amarahnya membuncah.


Teringat kembali dalam pikirannya, tatapan gadis kecil yang terus menerus melihat wajahnya itu.


"Lili, putri Papa... Kamu masih hidup sayang, tunggu Papa..." Batin Asher.


Lokasinya cukup jauh, tentu memakan waktu yang cukup lama agar tiba di sana. Tapi semua itu bukanlah hal berat bagi Asher selama dua bisa menyelamatkan putrinya.


Mereka melaju dengan kecepatan tinggi, sambil menyusun rencana untuk menghancurkan nyonya Vera selamanya.


Semua yang terlibat dengan kejadian itu telah ditandai, dalam waktu singkat Jack dan Samuel di seberang sana telah berhasil menyelidiki seluruh seluk beluk kasus janggal kematian Lili Maureer.


Manipulasi, tipu daya, janji yang mengikat dan hubungan sebab akibat menjadikan seluruh rencana itu berhasil dijalankan dengan baik oleh nyonya Vera.


Siapa sangka orang-orang di sekitar Asher yang dia gunakan untuk mengacaukan kehidupan mereka hanya untuk tujuannya yang jahat.


Sementara itu, Dita tengah bekerja di rumah sakit. Cukup banyak jadwal operasi yang harus dia selesaikan hari ini.


"Mey, di mana bang Johan?" Tanya Dita pada kepala perawat di rumah sakit itu.


"Loh, dokter Johan tadi keluar rumah sakit, buru-buru katanya, hari ini dokter Johan mengambil cuti!" terang Mey.


"Saya pikir nona sudah tahu," ucap perawat itu lagi.


Dita mengerutkan keningnya," Loh tumben dia gak bilang apa-apa," gumam Dita.


Perempuan itu melanjutkan pekerjaannya. Tanpa dia sadari, rumah sakit kini telah dikelilingi oleh anak buah Asher dan tim gabungan dari anak buah kakak laki-lakinya.


Amira dan suaminya mengunjungi rumah sakit bersama Nyonya Kiara dan tuan Luther, serta teman-teman mereka yang lain. Entah apa yang sedang terjadi, tetapi Asher meminta mereka datang ke rumah sakit dan menjaga Dita sebelum dia kembali.


Kembali ke perjalanan Asher, tampak jelas pria itu menahan kemarahan besar setelah menerima panggilan telepon dari kakak iparnya.


Anak buah Nyonya Vera melancarkan aksinya untuk menculik si kecil Regard. Dan rencana itu ketahuan oleh Regard sendiri. Karena Regard tidak tahu ayahnya sedang menyelidiki kematian adiknya, dia lebih dahulu menghubungi pamannya.


Siapa sangka aksi Asher hari ini berhubungan dengan rencana si kecil Regard untuk menemukan Lili.


"Aku akan menjaganya sampai tiba di rumah itu, kalian berhati-hatilah, Perempuan itu tidak bisa dianggap remeh!" ucap Johan.


"Baik, tolong jaga putraku, kumohon padamu!" ucap Asher penuh harap.


Rencana mereka berjalan dengan sempurna. Nyonya Vera sama sekali tidak tahu, kalau anak buah yang dia kirim menculik Regard telah dihajar sampai babak belur oleh Johan dan diganti oleh pria itu dan anak buahnya sendiri.