
Keesokan harinya, sepulang sekolah, Donghae cepat-cepat membereskan semua buku-bukunya ke dalam tas. Setelah itu dia memperhatikan Yuri yang juga sudah bersiap-siap pulang.
Donghae pun menatap meja disampingnya, dimana pemiliknya lagi-lagi tidak masuk sekolah. Pria itu sampai berpikir apa sebenarnya Yoona memiliki penyakit yang cukup serius sehingga sering tidak masuk sekolah akhir-akhir ini.
Padahal Yoona sudah merencanakan semua kemarin agar dia segera menyatakan perasaannya pada Yuri. Sekarang justru Yoona tidak ada, membuat Donghae harus berpikir ulang.
Apa dia tetap melanjutkan rencana seperti semula dan jujur pada Yuri atau menunggu sampai Yoona kembali masuk sekolah? Dia bingung. Tapi kesempatan sudah ada didepan mata. Lagi pula janji temu dengan Kangin pun dilakukan hari ini. Tidak mungkin untuk menghindar lagi.
“hah… baiklah”, ujar Donghae. Dia pun langsung beranjak mengejar Yuri yang ternyata sudah keluar bersama dengan Sooyoung dan Taeyeon.
“Yuri”, panggil Donghae ketika jaraknya sudah dekat dengan ketiga gadis itu. Yuri pun menoleh diikuti oleh Sooyoung dan juga Taeyeon. Donghae berhenti dihadapan ketiganya lalu menatap satu persatu.
“mmm… sebenarnya ada yang ingin ku katakan padamu”, ucap Donghae sedikit ragu dan juga malu karena ketiga gadis itu terus memperhatikannya.
“kau ingin mengatakan apa?”
“mmm… itu…”, Donghae ragu.
“kau ingin berbicara disini atau ingin ke suatu tempat?”, ujar Yuri yang mengerti dengan kegelisahan Donghae. Pria itu pun langsung tersenyum dan mengangguk.
“baiklah. Kalian duluan saja pulang”, ucap Yuri pada Sooyoung dan Taeyeon.
“ohho… sepertinya ada yang ingin berkencan disini”, goda Sooyoung.
“ck… pulanglah”, ucap Yuri sambil mendorong bahu Sooyoung dan Taeyeon.
“ayo”, ajak Yuri pada Donghae.
Keduanya pun berjalan berdampingan dalam diam. Donghae sedang memikirkan apa yang harus dikatakannya pada Yuri untuk menghilangkan kecanggungan mereka.
“bagaimana kalau kita ke Rainbow café dekat taman kota?”, usul Yuri. Donghae langsung terlonjak kaget. Karena Yuri menyarankan mereka ke café tempat yang sudah direncanakan Yoona sebelumnya.
Merasa ini adalah kesempatan yang bagus, Donghae langsung menyetujuinya. Mereka pun menuju halte untuk menaiki busway.
)))))(((((
Disinilah mereka sekarang. Sebuah café pinggir jalan yang rame akan pengunjung. Keduanya duduk di meja di sudut café itu.
“sebenarnya… Yoona menyuruhku untuk datang ke café ini”, ucap Donghae. Dia merasa tidak enak harus berbohong pada Yuri. Gadis itu pun mengerutkan keningnya.
“jinjja[30]?”
“mmm… maafkan aku karena berbohong sebelumnya. Tapi Yoona juga memintamu untuk datang ke café ini kan?”, ujar Donghae. Yuri mengangguk.
“sebenarnya Yoona yang sudah mengatur semua ini agar aku bisa berbicara dengan mu di sini”
“memangnya apa yang ingin kau bicarakan?”
“Yuri-ya”
“mmm”
“sebenarnya selama ini… aku… aku sudah memperhatikanmu. Kau… kau gadis yang baik dan juga penyabar”, ucap Donghae dengan malu-malu. Yuri tersenyum tipis dengan ucapan manis pria didepannya. Sebenernya dia sudah mengerti dengan maksud Donghae, tapi dia ingin mendengar semua yang ingin Donghae katakan.
“maksudnya kau menyukaiku?”, ujar Yuri terang-terangan, Donghae terlalu lama mengulur waktu. Donghae pun langsung kaget. Wajahnya bahkan memerah karena malu.
“i-iya”, setelah mengatakan itu yang terdengar adalah tawa Yuri. Kening Donghae mengerut karena tidak mengerti
mengapa Yuri tertawa.
Donghae pun mulai berpikir jangan-jangan Yuri mentertawakan maksud dan tujuannya ingin bertemu. Mungkin bagi Yuri dirinya terlihat bodoh. Donghae tahu Yuri adalah gadis populer tidak hanya di SMA Kirin tapi juga diluar sekolah terutama kaum namja.
Layaknya seperti artis yang dipuja-puja banyak orang. Banyak pria yang menyatakan cinta pada gadis itu bahkan dari luar sekolah SMA Kirin pun berani datang ke sekolah untuk menyatakan cinta. Donghae sudah tahu fakta itu. Memang suatu pemikiran yang bodoh bagi Donghae memilih Yuri menjadi kekasihnya untuk menghadapi Kangin.
“aku tahu ini terdengar konyol dan bodoh bagi mu. Aku hanya…”
“tidak. Tidak. Bukan seperti itu maksudku”, ucap Yuri masih sambil menahan tawanya. Pasalnya orang-orang mulai
melihat ke arah meja mereka, karena terganggu dengan tawanya.
“aku tidak menganggap mu seperti itu. Hanya saja kau sangat polos dan menggemaskan”, ujar Yuri. Donghae pun langsung tersenyum malu.
“gomawo karena sudah menyukai ku”, tambah Yuri.
“apa kau gugup?”, tanya Yuri.
“ya, sedikit”
“apakah jantungmu berdebar cepat?”
Donghae menyentuh dadanya, mulai memperkirakan kecepatan denyut jantungnya.
“ku rasa tidak”, ucap Donghae dengan polosnya. Lagi-lagi Yuri tertawa.
Tidak ada balasan lagi dari Yuri. Gadis itu kini sudah asyik dengan cake-nya. Donghae mengamati gadis itu. Yuri belum memberi jawaban apa pun, membuat Donghae bingung antara Yuri menerimanya atau tidak.
“bagaimana kalau kita berjalan-jalan ditaman. Disini terlalu rame, aku tidak suka”, ujar Yuri setelah cake-nya habis. Donghae pun mengangguk dan langsung menghabiskan minumannya.
Keduanya pun keluar dari café itu menyusuri trotoar jalan menuju taman. Donghae pikir dirinya akan terus merasa canggung. Namun pada kenyataannya Yuri orang yang menyenangkan dan banyak bicara.
Kini mereka pun duduk disebuah kursi taman sambil memakan cemilan yang mereka beli dipinggir jalan tadi.
“jadi keluargamu memiliki kedai jjajangmyeon?”, ujar Yuri setelah mendengar cerita Donghae tentang keluarganya.
“ne”
“wah… lain kali kau harus mengajakku ke kedai keluargamu. Kebetulan sekali aku dan Yoona sangat suka dengan makanan itu”
“pantas saja ketika Yoona datang ke kedai keluargaku, dia memesan jjajangmyeon dalam ukuran besar”, ujar Donghae, Yuri pun langsung tertawa.
“kau pasti kaget dengan porsi makan Yoona. Dia memang sangat suka makan namun tubuhnya tetap saja kurus”, komentar Yuri.
“berbicara soal Yoona, kau pasti kesulitan menghadapinya”, ucap Yuri tiba-tiba. Donghae langsung menoleh pada
Yuri yang duduk disampingnya.
“hahaha… tidak terlalu”, balas Donghae terkekeh sambil menyembunyikan kebohongannya. Yuri tidak tahu saja sebenarnya Donghae ingin sekali memaki Yoona. Namun sialnya dia tidak pernah melakukan hal itu.
“kau tidak pintar berbohong Donghae”, ujar Yuri dengan terkekeh. Donghae pun langsung menunduk malu. Yuri ternyata tahu dirinya berbohong.
“Yoona memang gadis yang keras kepala, sombong dan tidak suka diatur. Tapi percayalah, dia hanya ingin menutupi sifat aslinya”
“sifat asli?”
“dia hanya gadis yang kesepian”
“Yoona kesepian?”
“sejak kecil Yoona selalu ditinggal sendirian oleh orangtuanya yang sibuk bekerja bahkan hingga sekarang. Aku,
Sooyoung dan Taeyeon sudah mengenal Yoona sejak sekolah dasar. Awalnya sama seperti yang kau rasakan sekarang. Keras kepala, sombong, angkuh dan kemauannya harus dituruti. Jika tidak dia akan marah. Kami pun mengalami itu. Tapi seiring berjalannya waktu, dia mulai bisa menerima kami bertiga dan sikapnya mulai sedikit melunak. Ya walaupun sifat menyebalkannya itu akhir-akhir ini sering kumat”, cerita Yuri dengan diakhir kalimatnya dia tertawa. Donghae pun tersenyum seolah membenarkan kata-kata gadis disampingnya itu.
“jadi… bersabarlah. Suatu saat diakan menerima kehadirian mu di hidupnya”
Donghae terdiam. Dia menatap Yuri dengan kening mengerut. Dia tidak mengerti mengapa Yoona harus menerima
dirinya. Bukankah Yoona menganggap dirinya adalah musuh gadis itu?
“aku buang sampah dulu”, ujar Yuri beranjak dari duduknya menuju tong sampah tidak jauh dari mereka duduk.
Donghae hanya mengangguk sambil kembali memikirkan kata-kata Yuri. Hingga tiba-tiba seseorang menepuk bahunya. Donghae pun mendongak dan menemukan pria dengan bobot tubuh cukup berisi menatapnya dengan sangat menyebalkan seperti bisa.
“disini kau ternyata. Dimana penjahat kecil itu?”, ujar Kangin dengan nada marah, sambil mengedarkan padangannya mencari keberadaan Yoona.
“dia tidak ada. Tolong jangan mengganggunya lagi”, pinta Donghae kini sudah berdiri menghadap Kangin.
“wea? Kau berani padaku?”, tantang Kangin sambil menarik kerah Donghae.
“ada apa ini?”, ujar suara seorang yeoja. Kedua pria itu pun langsung menoleh. Donghae pun sedikit merasa lega. Sedangkan Kangin terlihat syok hingga cengkramannya di kerah Donghae mulai melonggar. Donghae pun mengambil kesempatan untuk lepas dari jeratan brandalan itu.
“Yu-Yuri”, ucap Kangin terbata.
“apa yang kau lakukan disini Kangin? Dan kenapa kau mengganggu Donghae?”, ucap Yuri dengan nada suara sedikit marah.
“i-itu. Aku ada janji dengan Donghae dan Yoona disini. Aku sudah menunggu mereka dari tadi”, jelas Kangin.
“benarkah itu Donghae?”
“ne”
“apa yang ingin kalian bicarakan? Aku merasa ada yang tidak beres diantara kalian”, curiga Yuri. Kangin dan Donghae pun terlihat gelisah. Tidak ada diantara mereka yang ingin menjelaskan pada Yuri.
“Donghae”, panggil Yuri untuk meminta pria itu yang menjelaskan kepadanya.
“itu… Yoona dan Kangin, maksudku kami… membuat perjanjian akan mempertemukanmu dengan Kangin dalam status kau adalah kekasihku”
Hening sesaat dimana mereka terdiam setelah pengakuan dari Donghae.
“maafkan aku Yuri”, sesal Donghae ambil menunduk.
Yuri masih menatap Donghae dan Kangin secara bergantian. Dia sedang mempertimbangkan apa yang harus dikatakannya. Jika tidak, situasi mereka akan semakin kacau.
“Donghae”
“tolong belikan air mineral. Aku sangat haus”, ujar Yuri dengan senyum. Donghae pun bingung dengan permintaan Yuri itu. Bukan tidak mengerti dengan permintaan itu. Dia hanya tidak pengerti mengapa Yuri tiba-tiba mengalihkan topik pembicaraan?
“ba-baiklah”, ucap Donghae dengan sedikit ragu meninggalkan Yuri bersama Kangin.
Setelah memastikan Donghae pergi, Yuri pun mendekati Kangin.
“memangnya ada perlu apa kau dengan ku?”, tanya Yuri dengan nada yang berbeda ketika berbicara dengan Donghae. Gadis itu tidak memperlihatkan sedikitpun senyum pada Kangin.
“kata Yoona, kau adalah kekasih Donghae. Apakah itu benar?”
“memangnya apa urusannya denganmu jika aku kekasih Donghae atau tidak. Kau tidak suka?”, ujar Yuri dengan nada suara semakin tidak bersahabat. Kangin bisa merasakan jika Yuri marah padanya.
Yuri semakin mendekati Kangin. Gadis itu menepuk lengan pria itu dengan sedikit keras hingga membuat Kangin
terlonjak kaget.
“dibandingkan kau mengurusi urusan asmara orang lain, bukanlah lebih baik kau mengurus diri sendiri. Setidaknya
ingatlah ibunya yang selalu jatuh sakit memikirkan ulahmu yang tidak berguna selama ini”, nasehat Yuri. Namun bukannya merasa seperti dinasehati, Kangin justru merasa Yuri sedang memarahinya. Kangin bisa merasakan aura sekitarnya menjadi mencekam. Dan entah mengapa sekitarnya menjadi sepi seketika. Kangin bisa merasakan seperti ada yang mencekiknya. Namun pada kenyataannya tidak ada. Yuri hanya menatapnya dengan tajam.
Ketakutan pun melanda Kangin. Berlahan dia mundur, kemudian dia langsung pergi menjauh. Bahkan Kangin langsung berlari seperti orang ketakutan.
Bertepatan dengan itu, Kangin bertemu dengan Donghae yang membawa botol minuman digenggamannya.
“urusan kita sudah selesai”, ujar Kangin ketika dia melihat Donghae. Setelah itu Kangin kembali berlari menuju
mobilnya yang terparkir.
Donghae menatap kepergian Kangin dengan kening mengerut. Dia tidak mengerti dengan tingkah Kangin yang seperti ketakutan.
Donghae pun menghampiri Yuri yang masih menunggunya di bangku taman.
“Yuri”, ujar Donghae. Yuri pun langsung mendongak dan memberi senyum lembut pada Donghae. Pria itu pun memberi botol minuman itu pada Yuri. Gadis itu langsung membuka botol itu dan meneguk isi botol itu hingga habis.
Donghae melihat Yuri dengan senyum kikuk. Dia tidak menyangka jika Yuri begitu kehausan. Seharusnya dia bisa lebih cepat membeli minuman tadi jika tahu Yuri sehaus itu.
“hah… maaf, aku sangat haus tadi”, ucap Yuri ketika melihat Donghae yang menatapnya dengan dengan senyum kikuk. Donghae pun hanya mengangguk.
“sebaiknya kita pulang, hari sudah semakin sore. Nenek ku pasti sudah menunggu ku”, ujar Yuri. Donghae mengangguk lagi.
Mereka pun kembali menuju halte untuk menaiki busway. Namun kali ini mereka menggunakan busway dengan tujuan yang berbeda-beda karena rumah mereka tidak searah.
“aku duluan. Senang bisa bersama mu hari ini”, ujar Yuri sebelum menaiki busway yang baru tiba di halte.
“ne… gomawo”, balas Donghae. Setelah itu Yuri pun menaiki busway itu. Tinggallah Donghae di halte itu seorang diri. Tiba-tiba Donghae teringat perkataan Kangin tadi.
“apa Yuri sudah mengatakan sesuatu? Tapi apa yang Yuri katakan sampai Kangin terlihat ketakutan seperti itu?”
“jadi Kangin tidak akan mengganggu ku lagi atau juga Yoona. Jadi ini semua sudah selesai?”
“tapi apa Yuri benar-benar mengatakan dirinya adalah kekasihku?”
Donghae menggarut kepalanya karena bingung. Dia bingung dengan status dirinya dengan Yuri. Karena Yuri tidak
memberi jawaban apa pun sedari tadi. Tapi jika Kangin sudah mengatakan urusan mereka sudah selesai, Donghae pikir Yuri mengaku sebagai kekasih pria itu.
)))))(((((
Hari ini SMA Kirin melakukan OSPEK untuk murid baru – kelas 1. Tentunya yang paling sibuk adalah OSIS dan panitia. Namun karena kurangnya anggota, OSIS pun meminta khusus kelas A untuk membantu mereka mengawasi masa orientasi murid-murid baru.
Jonghyun pun memanfaatkan hal tersebut untuk bisa berkomunikasi dengan Yoona. Ditambah dia juga khawatir terhadap kekasihnya itu karena beberapa hari ini tidak masuk sekolah dan tidak ada kabar.
“kau baik-baik saja?”, tanya Jonghyun yang memiliki sedikit waktu luang ditengah kesibukannya sebagai ketua OSIS.
“oh… ya. Aku baik-baik saja”, jawab Yoona. Kebetulan saat ini dia sedang bersama teman sekelasnya yang lain memantau murid-murid baru yang sedang membersihkan sampah di taman.
Melihat kedatangan Jonghyun, otomatis teman-teman Yoona satu persatu menjauh, seolah memberi Yoona dan Jonghyun untuk berduaan.
‘aish… kenapa mereka pergi’, pikir Yoona.
“sebenarnya kau sakit apa? Aku mencoba bertanya pada teman-temanmu, tidak ada yang tahu. Aku pun datang ke rumahmu, tapi tidak ada yang menjawab”, ujar Jonghyun.
“kau datang ke rumah ku?”, kaget Yoona. Jonghyun pun mengangguk. Yoona pun bingung. Mengapa dia tidak tahu jika Jonghyun datang ke rumahnya. Dan bagaimana mungkin bisa tidak ada yang menjawab Jonghyun. Setidaknya pelayan dirumahnya bisa membukakan gerbang. Ini benar-benar aneh.
“Yoona”
“aku hanya tidak enak badan dan sedikit demam”, balas Yoona cepat.
“tapi sekarang sudah baik-baik saja”, tambah Yoona ketika dia melihat Jonghyun ingin kembali bertanya.
“Jonghyun”, panggil Minki – wakil ketua OSIS. Pria itu pun menoleh menatap Minki.
“ada apa?”
“kepala sekolah memanggil mu”, ujar Minki.
“ck…”, decak Jonghyun tidak suka. Padahal dia sudah mendapat waktu luang untuk bersama Yoona. Tapi selalu saja ada yang mengganggu.
“maaf”
“tidak apa-apa. Pergilah”, balas Yoona. Jonghyun pun dengan terpaksa meninggalkan Yoona.
Sedangkan Yoona langsung menghela napas. Bukan karena dia sedih ditinggal Jonghyun. Justru dia senang kerena Jonghyun tidak mengganggunya. Tapi sekarang dia menjadi merasa bosan.
Yoona pun memutuskan untuk ke atap gedung saja. Namun beberapa langkah dia langsung berhenti. Dari jarak yang cukup jauh dia bisa melihat Donghae dan Yuri sedang bersama, dengan Donghae yang menggenggam tangan Yuri.
Yoona hampir melupakan jika dua hari yang lalu dia tidak masuk sekolah, bertepatan dengan rencana Donghae akan menyatakan perasaannya pada Yuri. Melihat apa yang terjadi sekarang, Yoona bisa simpulkan bahwa Donghae berhasil.
Yoona bisa melihat Donghae yang membantu Yuri melompati solokan air besar dekat gudang sekolah. Walaupun sudah tidak perlu melompat lagi, kedua tangan mereka masih saling bergenggaman.
Seharusnya Yoona senang rencananya berhasil. Seharusnya dia senang Donghae akhirnya memiliki kekasih. Beruntungnya pria itu memiliki kekasih seperti Yuri. Selain cantik, tentu Yuri adalah primadona SMA Kirin, dimana semua pria mendambakan menjadi kekasih sahabatnya itu. Beruntungnya pria seperti Donghae yang cupu, kampungan dan tidak peka bisa mendapat seorang gadis seperti Yuri.
Yoona seharusnya senang karena akhirnya dia tidak perlu berurusan lagi dengan Kangin si brandalan. Dan Yoona
juga tidak perlu berurusan dengan Donghae lagi. Dia hanya akan fokus untuk belajar dan merebut posisi peringkat pertama dari Donghae. Ya, seharusnya seperti itu.
Tapi entah mengapa ada perasaan yang berbeda yang dirasakannya melihat kedekatan Donghae dan Yuri. Tapi apa? Yoona tidak mengerti.
Yoona hanya merasa tidak suka saja dan dia tidak ingin melihat mereka lama-lama.
Dengan kaki yang dihentak-hentakkan, Yoona melangkah menuju gedung laboratorium. Dia tidak peduli dengan murid-murid baru yang memperhatikan tingkah anehnya. Dia tidak peduli.
Tidak ada yang menyadari jika sepasang mata sedang menatap tingkah Yoona dengan senyum miring. Bukan senyum jahat, tapi lebih dari senyum bahagia, merasa gemas dengan tingkah kekanak-kanakan
Yoona.
“hei… kau sedang apa disitu”, tegur seseorang membuat gadis yang tersenyum itu langsung pergi. Namun senyumnya masih belum hilang
“apa yang membuatmu tersenyum seperti itu”
“aku gemas pada Yoona”
“ck… sudahlah. Kenapa kau sangat suka mengganggunya?”
“seperti kau tidak saja”
“aku hanya sedang memberinya pelajaran. Lagi pula ini semua bukan salahku. Kau yang salah menggunakannya
saat itu”
“ya ya ya. Salahkan saja aku terus”
“sudahlah kita masih memiliki tugas yang lain”
Kemudian kedua gadis itu pun pergi menuju kelas mereka.
)))))(((((
Yoona berada diatap sambil menikmati angin yang berhembus menerpa wajahnya. Dia berbaring dilantai atap itu tanpa alas. Dia tidak peduli jika seragamnya kotor atau kulitnya terbakar karena sinar matahari yang sangat terik.
Yoona sedang mencari cara agar nama Donghae bisa hilang dari pikirannya. Tapi sayang sekali dia justru semakin
berpikir yang tidak-tidak.
Pikiran Yoona sedang merencanakan berbagai cara agar Jonghyun menjauh darinya. Lalu setelah itu dia akan mencari kesempatan untuk membuat Donghae berlama-lama didekatnya.
Semua ide-ide gila justru semakin bermunculan ketika dia memejamkan matanya. Padahal dia sudah mensugesti dirinya untuk tenang dan santai agar pikirannya kembali normal, tidak selalu pada Donghae. Namun sayangnya Donghae sudah terlalu banyak mempengaruhi pikirannya.
“baiklah”, seru Yoona langsung bangkit dari berbaringnya. Dia sudah bertekat akan melakukan rencana-rencana gilanya itu.
Yoona berharap jika semuanya ini arena dia penasaran saja pada perasaan Donghae yang sebenarnya. Ya tentu
saja.Semuanya karena penasaran. Bukan karena Yoona tertarik pada Donghae. Tidak
mungkin.
)))))(((((
[30] Benarkah?
bersambung...