
Asher berbaring di atas kasur tanpa mengenakan kaos. Tampak Bianca memakai stetoskop nya untuk memeriksa keadaan Asher yang tiba-tiba drop saat bekerja di kantor tadi.
Pria itu tiba-tiba pingsan ketika menyelesaikan pekerjaannya bersama tim. Ternyata Asher belum benar benar pulih sejak jatuh sakit beberapa hari lalu.
Karena hotel lebih aman dan juga dekat, Asher memilih memanggil Bianca ke hotel daripada harus kembali ke rumah dan mengganggu orang lain.
Pria itu diperiksa oleh Bianca. Keadaannya tidak baik, demamnya cukup tinggi dan tekanan darahnya sangat rendah.
Asher tidak teratur makan, istirahatnya juga terganggu hingga menyebabkan kesehatan nya memburuk secara drastis.
"Bagaimana ?" tanya Jack yang berdiri di dekat mereka.
Bianca hanya menghela nafas," Dia sakit parah, sudah berkali kali dikatakan agar memperhatikan pola makan, tapi tidak pernah di dengar!!" ucap Bianca dengan wajah kesal sambil menatap Asher.
"Berikan saja obat padaku," ucap Asher.
"Baiklah, akan ku minta Ryan datang!" ucap Jack yang dibalas anggukan kepala oleh mereka berdua.
Jack berjalan menuju jendela hotel itu dan memandang ke arah bawah .
Hujan ringan tapi tak menghalangi kedua matanya yang menangkap perkelahian di bawah sana.
Sembari menghubungi Ryan dia menatap ke bawah hingga dia dikejutkan ketika melihat motor Dita ada di sana.
"Dita!?" ucap Jack terkejut.
Asher dan Bianca yang mendengarnya juga turut terkejut.
"Apa maksudmu!?" Asher bangkit dari kasurnya sambil berjalan sempoyongan ke arah Jack.
"Asher, itu motor Dita, gadis di bawah sana, dia Dita!!' ucap Jack terkejut sambil menunjuk ke arah bawah.
Asher menatap ke bawah, betapa terkejutnya dia melihat Dita sedang dipukuli oleh seorang pria bermasker di depan hitam.
"Dita, tidak!! ada apa ini!!" Sontak pria itu berlari keluar dari kamar hotel setelah menyambar kaosnya.
Berlari cepat tanpa peduli kalau tubuhnya sudah sangat sakit.
"Dita, tidak bisa begini!!!"
Wajah Asher mengatakan segalanya, dia berlari begitu kencang menuju ke lantai bawah.
Hingga matanya menangkap pria bermasker itu sedang mengayunkan tongkatnya ke arah kepala Dita.
Asher menerjang hujan dan menendang kepala pria itu, Jack juga turut mengejar pria itu.
"KEPARAT APA YANG KAU LAKUKAN!!!" pekik Asher yang langsung menghampiri Dita yang terkapar di atas jalan dengan wajah terluka.
Benny panik, dia melihat selain banyak orang yang datang.
"Sialan, keparat BAJINGAN!!!" pekik Benny sambil mengayunkan tongkatnya ke arah Asher dan...
Baghhh..
Tongkat itu berhasil memukul punggung Jack yang melindungi Asher dan Dita.
" Sialan!!!"
Benny berlari dengan cepat dan kabur dari tempat itu dengan mobilnya.
"Arrkhh, aku hampir membawa Dita, beraninya kau mengacaukan rencanaku bajingan!!!" Benny berteriak marah, dia melakukan mobilnya begitu kencang.
Jack dan Bianca segera menolong Asher dan Dita.
Siapa sangka kejadian ini terjadi di saat Asher sedang sakit.
"Dita, Dita bangun Dit!!!!" teriak Asher panik.
Dia melihat darah Dita, tremornya kambuh.
Pria itu gemetar ketakutan, bayang bayang hadiah menyeramkan yang dia terima dari pembunuh ayahnya memenuhi kepalanya saat ini.
" Tidak... Tidak... arrkhhh!!!!! Ditaaaa!!!" pekik Asher dengan tubuh gemetaran.
Dadanya terasa sesak, dia benar benar syok saat ini. Kepalanya pusing, air matanya tak terbendung.
"Bianca bawa Dita, aku akan memapah Asher!!" ucap Jack yang dibalas anggukan kepala oleh Bianca.
Mereka membawa keduanya ke dalam hotel itu. Asher dan Dita segera diamankan ke tempat yang kering dan hangat.
"Asher !! " panggil Jack.
"traumanya pasti kambuh!!!" ucap Jack panik.
Dita masih sadarkan diri. Dia menatap ke arah Asher yang pucat dan kesakitan. Gadis itu menangis, rasanya isi kepalanya ingin segera meledak saat ini juga.
"Asher..... Asher...." Dita mendekati pria itu yang berbaring di sebelah nya.
"Cepat telepon Ryan dan Samuel!!!" teriak Bianca mulai panik.
Jack langsung menghubungi mereka berdua.
Kondisi Asher sama sekali tak bisa dibiarkan. Dita juga sama, gadis itu terus menangis kesakitan karena perkelahian tadi.
"Aku akan menangani Dita dulu!!" ucap Gadis itu.
Dita dengan cepat diberi pertolongan pertama. Sedangkan Asher masih meringkuk di atas kasur sambil memukuli kepalanya sendiri.
Dita menatap pria itu sambil menangis," Asher... Asher... ada apa dengan dia!? ada apa dengannya!??' tanya Dita sambil menatap Asher.
"Asher sedang sakit, itu sebabnya kami datang ke hotel ini untuk beristirahat karena dia tak mau pulang, pekerjaan di perusahaan juga banyak, dia drop dan sekarang traumanya..." Bianca terdiam sambil menatap Asher dengan wajah sedih.
Dita terdiam, dia benar benar telah salah sangka. Pria itu tidak bermain di belakangnya tapi sedang dalam keadaan sakit.
Dita bangkit, dia menarik kasa dan membersihkan darahnya sambil terus menatap Asher.
"Aku mau ke dekat Asher," ucap Dita.
Bianca membiarkan Dita mendekati Asher yang sedang gemetaran.
Nafas Asher tampak tidak teratur, rasanya sakit melihat itu.
Pelan pelan Dita mendekati Asher dan menarik pria itu.
"A.. Asher..."panggil Dita pelan sambil menahan tangisannya.
Asher menoleh dengan wajah pucat sambil menangis. Dia benar benar terpuruk saat ini, tekanan kerja, trauma dan kesehatan yang memburuk mempersulit pria itu.
"Asher... ada apa... kenapa kau begini!??" panggil Dita sambil menangis.
Dia mengusap wajah pria itu dengan lembut dan menatapnya.
"Di... Dita .. Aku... Aku... takut..."ucap Asher yang malah pingsan dalam pelukan Dita.
" Asher!! bangun Asher!!!bangun!!!" pekik Dita sambil menangis.
Jack dan Bianca sama paniknya, kondisi pria itu benar benar buruk tapi Dita pun sama, dia terluka di sekujur tubuhnya.
Ryan dan Samuel tiba di hotel itu sambil membawa peralatan medis dan obat untuk Asher.
Dita dan Asher ditangani oleh mereka sebelum keduanya dipindahkan ke rumah sakit untuk mendapat perawatan yang lebih intensif.
Dita terus menemani Asher, memperhatikan semua yang mereka lakukan untuk menyelamatkan Asher.
" Ada apa dengannya? tak pernah ku lihat dia sesakit itu," tanya Dita pada dokter Ryan.
"Apa dia belum pernah cerita soal traumanya?" tanya Ryan sambil menatap Asher.
"Belum, ada apa?" tanya gadis itu.
Ryan terdiam sejenak, Samuel, Jack dan Bianca pun sama, mereka terdiam menatap Asher.
"Sejak kematian ayahnya, Asher memiliki trauma dengan banyak hal terutama orang yang memakai masker dan tertutup, traumanya juga sering kambuh ketika berhubungan dengan hal ha kecil seperti membuka kotak baru, berdekatan dengan orang asing dan banyak lagi," jelas Samuel.
"Dan sesuai penjelasan Jack, Asher syok saat melihat orang yang memukul mu tadi," tutur Samuel.
Dita terdiam, dia benar benar tidak menyangka kalau trauma Asher sampai separah itu.
"Apa tidak ada cara untuk menyembuhkan dia? Asher sangat tersiksa," ucap Dita.
"Tidak ada, ini hanya Maslaah waktu, penyakit hati sangat sulit di sembuhkan Dita, aku yakin kau juga tahu," ucap Bianca.
Dita terdiam, dia menggenggam tangan Asher yang berbaring di sampingnya, dia hampir saja berprasangka buruk pada pria itu.
"Ahhh.... maafkan aku tidak tahu," ucap gadis itu.
"Apa kita harus memindahkan mereka?" tanya Jack.
"Kondisi Asher sudah stabil, sebaiknya biar di sini saja, sebaiknya Dita segera ke rumah sakit!' ucap Ryan.
Dita menggelengkan kepalanya," tidak, aku akan menemaninya, kalian berisitirahat lah!" ucap Dita.
Jack dan yang lainnya paham, Dita dan Asher tinggal di ruangan itu sedangan Jack dan teman-temannya beristirahat di ruangan lain.
"Maaf, aku berprasangka buruk padamu," ucap Dita pelan sambil menangis menatap Asher yang sedang sakit.
.
.
.
Like, vote dan komen 🤗