
Sinar mentari yang hangat menerangi dan menghangatkan tubuh si kecil Regard. Dia membawa sebuah buket bunga yang dia genggam dnegan erat. Selangkah demi langkah memasuki sebuah area pemakaman umum.
Rambut cokelatnya yang ikal membuatnya sangat tampan, memakai stelan kemeja kecil yang dirancang khusus untuk anak kecil itu. Sambil tersenyum dia menghirup aroma bunga itu seolah dia adalah seorang lelaki dewasa yang akan bertemu dengan kekasihnya.
“Pendekar kecil, jangan terlalu lama ya!! Paman tunggu di sini, paman ada kerjaan!!” teriak Johan dari arah mobil di mana dia parkir.
“ baik Paman!” balas si kecil Regard.
Anak itu berjalan dengan langkah yang riang, angin yang lembut menyisir rambutnya yang sudah cukup panjang. Dia membuat penampilannya mirip seperti ayahnya, benar benar seorang anak yang sangat cerdas.
Dia tiba di depan sebuah makam anak kecil dengan sebuah foto cantik di tempel di batu peringatannya. Regard menatap nisan itu sambil tersenyum, lalu meletakkan bunganya di sana,” halo adik, abang datang lagi hari ini, bagaimana kabar adik di sana? “ ucapnya sambil membersihkan batu peringatan itu.
“ Lihatlah, abang memakai pakaian yang sama dengan papa, apakah abang cukup tampan hehehe.... “ ujarnya lagi.
Regard duduk di depan nisan itu, mengeluarkan gambar yang dia buat sendiri, dan juga sebuah kotak kecil berisi cup cake kesukaannya yang dibuatkan oleh Aruna, bibinya yang sangat perhatian.
Dia meletakkan kedua benda itu di sana,” ini makanan kesukaan abang, dan ini gambar yang abang buat untuk kamu, semoga nanti kita bisa bertemu lagi,” ucap anak itu.
Sudah menjadi kesehariannya berkunjung ke makam adk kecil yang sangat dia sayangi. Bahkan terkadang, Dita dan Asher tak tahu kalau anaknya datang ke makam. Mereka hanya akan tahu ketika Jack atau teman mereka yang lain melaporkan hal ini.
Regard selalu mengatakan bahwa adiknya berada di dunia ini, di salah satu belahan bumi di tempat paling indah dan mereka pasti akan bertemu. Jika mendengar kata kata Regard ini, orangtuanya dan keluarganya akan menganggap kalau Regard sampai saat ini masih belum menerima kematian adiknya.
Regard mengeluarkan ponsel dari tas kecilnya. Dia membawa ponsel itu sebagai alat komunikasi dengan orangtuanya.
“ Apa Papa dan Mama sudah tiba di sana? Sebaiknya abang telpon dulu,” gumam bocah menggemaskan itu.
Regard menghubungi nomor ayahnya, menyalakan sambungan video call untuk melihat wajah kedua orangtuanya yang sedang melakukan perjalanan bisnis.
“ Halo nak, Mama dan Papa baru saja tiba, sudah mau menghubungi kamu tapi kamu selalu lebih cepat satu detik!!” seru Asher dari seberang sana.
Dia dan istrinya Dita baru saja tiba di bandara Shanghai, mereka baru akan menghubungi anak mereka dan ternyata Regard mendahului mereka.
Regard tertawa,” Hahaha.... bilang saja tuan Papa dan Nyonya Mama lupa!!” ejek anak itu.
“ umm? Tentu tidak sayang, kami baru saja tiba, kamu di mana nak?” tanya Dita sambil tersenyum menatap putranya.
“ Bersama Lili, abang sedang mengunjungi makam Lili dengan paman Johan, tapi Paman sedang mengurus pekerjaannya di tempat parkir,” jelas Regard .
“ Kamu ke tempat adik kamu lagi? Bawa bunga juga sayang?” tanya Asher.
Regard menganggukkan kepalanya sambil menunjukkan buket bunga yang cantik , cupcake dan juga gambar yang dia letakkan di dekat nisan adiknya.
“ Papa dan Mama baik baik di sana, Regard juga punya jadwal banyak di sini. Jangan lupa makan yang benar,” ucap anak itu sambil tersenyum.
Asher dan Dita menatap putra mereka dengan senyuman bahagia. Sosok Regard sejak mereka temukan di depan apartemen telah menjadi pil kebahagiaan utama mereka. Obat yang selalu berhasil membuat hati mereka yang dingin merasakan hangatnya mentari.
“ ya sudah, Regard akan latihan taekwondo, sampai jumpa di rumah beberapa hari lagi!”ucap nya sambil melambakan tangannya pada ayah dan ibunya.
Dita dan Asher tersenyum sambil melambakan tangan mereka,” Kami mencintaimu Nak!” ucap mereka berdua.
“ Regard lebih mencintai kalian, ingat ada Regard yang selalu meunggu kalian pulang,” ucapnya .
Regard adalah berkah terbesar bagi pasangan itu. Anak bagiakan malaikat yang dikirim oleh surga untuk mereka telah mengubah kehidupan mereka. Anak yang mampu mengobati hati mereka perlahan lahan dan pasti.
Sementara itu, di Shanghai pasangan itu sedang bersiap untuk acara yang akan mereka hadiri. Jack sibuk mengurus semua persiapan, demikian Asher dan Dita yang sedang bersiap siap untuk menghadiri acara besar itu.
“ Sayang lebih baik rambutnya ku ikat atau bagaimana?” tanya Dita yang sedang menata rambutnya. Siang ini dia menggunakan putih tanpa lengan yang sangat pas di tubuhnya yang langsing dan indah.
Asher keluar dari ruang ganti dengan dasi acak acakan, sudah jadi kebiasaan buruknya.
“ Gerai sayang, jangan di ikat, aku tidak mau orang lain melihat area kekuasaanku,” ucap Asher langsung mendekati istrinya dan mendekap Dita dari belakang.
Dita terkekeh,” itu artinya aku lebih baik mengikat rambutku ke atas,” ucap Dita smabil tersenyum melirik suaminya.
“ Ohh tentu tidak bisa,” ucap Asher yang langsung menyerang leher jenjang istrinya, memberikan kecupan dan juga tanda kepemilikan di sana.
“ Sayang, kenapa dikasih cap merah? Aku mau ikat rambut,dasar kamu!” omel Dita seraya menepuk lengan suaminya.
“ ini milikku, tidak ada yang boleh lihat,” ucap Asher seperti anak kecil.
Leher Dita memiliki bercak merah, tentu saja tak mungkin baginya mengikat rambutnya lagi.
“ Dasar jahil, aku ini milikmu, orang orang mana berani melirkku saat kau bersamaku,” ucap Dita.
“ justru..” Dita berbalik, dia melingkarkan kedua tangannya di leher suaminya yang tampan. Wajah segar Asher adalah kesukaannya, penampilan berantakan Asher menurutnya lebih tampan.
“ Aku tidak mau wajah tampan ini dilirik oleh para wanita hidung belang!!” ucap dita sambil mengusap tengkuk suaminya.
Asher tersenyum, dia menatap dalam kedua netra isrinya, semakin hari , semakin dewasa, semakin dia mencintai istrinya. Ditariknya tengkuk wanita itu dan memulai permainan mereka. Dikecupnya bibir ranum itu, saling mendekap satu sama lain, dan menyalurkan perasaan mereka yang terus menggebu-gebu.
Keduanya sangat menikmati momen ini, setiap saat dan setiap ada kesempatan pasti dilakukan.
Asher memeluk istrinya, Dita mengusap tengkuk suaminya, permainan yang selalu mereka sukai.
“ Tuan Nyonya, kita akan berang... ups!!” Jack terkejut saat melihat kedua manusia itu sedang berciuman di sana, sontak dia berbalik dan menutup matanya,” Tuan Nyonya setengah jam lagi kita berangkat, aku keluar dulu!!” ucap jack dengan wajah malu. Dia pergi dari sana dna menutup pintu rapat rapat.
“ sayang, setengah jam lagi, masih sempat!!” ucap Asher sambil menggendong istrinya dan menatapnya dengan penuh cinta.
Dita terkekeh,” maaf sayang, tapi make upku belum selesai, kita lanjutkan nanti malam!” ucap dita smabil mengedipkan sebelah matanya.
Senyuman licik Asher muncul dia mengecup kening istrinya,” kau yang bilang, jangan sampai nanti kau menyerah,” ucap Asher sambil tersenyum.
“ siapa takut sayang,” bisik Dita.
“ Hahahaha.... aku sangat bahagia memilikimu Dita, sangat bahagia.. memilikimi, putra kita Regard dan juga putri kita adalah berkat terindah bagiku, terimakasih banyak, kau melakukannya dnegan baik!” ucap Asher.
Dita mengangguk,” kau juga sayang, aku bahagia memilikimu, dan sudah saatnya untuk bersiap siap, karena wajahmu masih berantakan!!” ucap dita.
.
.
.
Like, vote dan komen