Loco

Loco
97 Loco



Asher dan Dita membawa Regard berkeliling di dalam salah satu mall terbesar di kota itu.


Regard tampak sangat bahagia, dia berlari ke sana kemari sambil menatap toko mainan di dalam toko itu.


"Uwahhh, Papa Mama mainan mana yang harus Abang bawa ke rumah rekan kalian!?" seru Regard sambil mengangkat sebuah mainan mobil-mobilan di tangan kiri dan PS di tangan kanannya.


" Pilih yang menurut kamu seru dimainkan oleh anak pendiam sayang!" usul Dita.


Regard menatap lusinan mainan itu," Ummm... Abang pilih PS boleh Ma?" tanya Regard sambil membawa mainan itu pada ayah dan ibunya.


Asher memeriksa mainan itu, membaca peraturan dan petunjuk penggunaannya dengan teliti.


" Pilihan bagus nak, kita beli yang ini saja!" ucap Asher setuju.


" Apa itu cukup? anak laki laki biasanya suka bermain bola, basket dan yang berhubungan dengan fisik, " ucap Dea sambil menunjuk peralatan olahraga di sisinya.


" Boleh saja sayang, kamu ambilkan bola basket, aku akan mengajak mereka bermain basket nanti!" ucap Asher.


Mereka memilihkan beberapa hadiah untuk dibawa ke kediaman tuan Smith dan Lyra istrinya.


Tak butuh waktu lama, mereka sudah mengumpulkan beberapa hadiah.


Setelah memilih hadiah yang tepat, mereka bertiga berangkat menuju kediaman tuan Smith di kota itu.


Mereka membawa cemilan, buah buahan dan makanan kesukaan anak anak, dengan harapan besar anak tuan Smith dapat menerima mereka.


" Pa, Ma apa dia akan menerima Regard nanti? dari yang Abang dengar, dia anak pendiam yang tidak mau akrab dengan orang lain!" ucap anak itu dengan wajah penasaran.


" Dia akan menerima kita jika dia nyaman sayang, kita juga tak boleh memaksakan kehendak, biarkan mengalir dengan normal," ucap Dita sambil tersenyum manis.


Regard mengangguk paham, dia menatap ke luar jendela, " Pa, Ma kita diikuti mobil nenek lampir!" ucap Regard tiba-tiba.


Asher dan Dita saling menatapmke dengan wajah terkejut.


" Maksud kamu sayang!?" Dita langsung menoleh ke belakang.


" Mobil yang mana nak?" tanya Asher.


" Mobil abu abu di belakang sedan hitam itu, sejak di sekolah mobil itu sudah ada, tapi Regard awalnya tidak yakin kalau mobil itu mengawasi Regard, sampai ketika kita tiba di Mall Regard lihat nenek lampir di dalamnya!!" celetuk Regard.


"Nenek lampir? siapa maksud kamu nak?" tanya Dita penasaran.


" Nenek nenek yang ada di foto keluarga Mama dan paman Johan!" balas Regard dengan wajah kesal.


" Nenek lampir jahat!" ucap Regard.


Dita dan Asher terkejut bukan main. Bahkan Dita sampai berbalik dan menatap Regard dengan wajah tak percaya.


" Nenek yang ada di foto keluarga Mama? kamu yakin sayang?" tanya Dita dengan suara bergetar.


Regard mengangguk," iya Ma, nenek jahat itu!!! Regard tidak suka !!" ucapnya dengan nada ketus.


Dita terdiam membisu. Regard sedang membicarakan ibu kandungnya yang tiba tiba muncul setelah bertahun tahun.


" Kenapa dia muncul sekarang!?" Dita menatap kosong ke arah jalanan. Seseorang yang seharusnya menjadi tempat bersandarnya tetapi malah menjadi orang yang berdiri di barisan paling depan untuk menghancurkan dirinya dan keluarganya.


Setiap mengingat ibu kandungnya, hati Dita selalu sakit. Cara Nyonya Vera menghancurkan keluarga nya sendiri, menelantarkan anak anaknya dan berselingkuh sejak pernikahannya di mulai dengan tuan Luther.


Luka itu tak akan pernah sembuh, dan sekarang wanita itu menampakkan dirinya kembali setelah lima tahun berlalu sejak terakhir kali mereka bertemu.


Asher mengambil tangan istrinya dan menggenggam tangan Dita dengan erat. Tanpa bicara pun, Asher tahu bagaimana perasaan Dita saat ini,perasaan hancur dan sakit karena ibunya sendiri.


Dita menata suaminya perlahan. Dia benar benar syok saat ini," Ma.. maaf," ucap Dita pelan.


Asher tersenyum dengan lembut. Dia menepuk pucuk kepala Dita, " Tak apa apa sayang, tak apa aku di sini, tenanglah," ucap Asher menenangkan istrinya.


Dita menunduk dengan wajah sendu, hanya mengingat kejahatan nyonya Vera sudah membuat menatap Dita hancur. Luka lama yang tak sembuh dan selamanya akan diingat oleh Dea.


"Mama, maaf... Abang bikin Mama sedih ya? maaf, Abang tak akan bahas lagi," ucap Regard yang tiba tiba memeluk ibunya dari belakang.


"Ahh sayang, Mama yang minta maaf karena bersikap seperti ini, Mama tidak dewasa," ucap Dea sambil menatap putranya.


Regard melangkah ke kursi depan dan duduk di atas pangkuan ibunya.


Dia menatap wajah Dita dengan intens, menangkupkan kedua tangannya di pipi Dita.


Regard menatap ibunya, menatap Dita dengan dalam tanpa mengatakan apapun. Seolah dia mengerti rasa sedih dan sesak di dalam hati Dita.


" Hushh... Mama hebat, Mama perempuan hebat, tak apa apa.. semua akan baik baik saja, Abang dan Papa di sini," ucap anak itu seraya menepuk nepuk bahu ibunya.


Dia melakukan persis seperti apa yang sering orangtuanya lakukan ketika menghibur dirinya atau ketika saling menghibur satu sam lain.


Dita tak kuasa menahan air matanya, dia menangis sedih di hadapan putranya..


" Hiks hiks hiks... ahhh maafkan Mama sayang, seharusnya Mama tidak menangis di depan kamu, tapi Mama..." Dita menangis sesenggukan.


Buliran air matanya membasahi kedua pipinya. Dia sangat sedih saat ini.


" Sayang, tak apa apa," ucap Asher sambil menepuk bahu Dita dengan lembut.


Dia membawa mobilnya ke sisi jalan untuk parkir sebentar menenangkan istrinya .


"Mama lihat mata Abang," Regard menarik lembut wajah ibunya, menatap kedua netra Dita dengan dalam dan sungguh-sungguh.


" Mama tatap Abang!" ucap ya sekali lagi dengan penuh kelembutan persis seperti yang dilakukan ayahnya ketika menghibur Dita.


Dita menatap putranya sambil menangis. Meski di hadapan orang lain dia adalah perempuan yang pemberani, tetapi di depan anak dan suaminya dia salah sosok yang lemah dan butuh perlindungan.


" Tidak apa apa menangis, Abang di sini, Abang pasti akan melindungi Mama, jangan takut Ma... kita hadapi bersama-sama, bukannya Mama yang bilang kalau tak apa jika kita menangis? Mama kuat, Mama pasti bisa!" hibur Regard.


"Ma.. mu seperti apapun kondisi Mama, mau sesedih apapun, Abang akan selalu mencintai Mama, tak peduli Mama senang, tertawa, tersenyum, menangis, marah atau bersedih, Abang akan selalu ada di sana!" ucap Regard.


" Mama jangan takut, Abang pasti akan jaga Mama dari nenek lampir gigi ompong itu!!" celetuk Regard seraya mengusap pipi ibunya yang sudah dibasahi air mata.


" haha... sayang... kamu membuat Mama menangis sambil tertawa, terimakasih sayang... hiks hiks hiks...." Dita memeluk putranya dengan erat.


" Ahhh... kalian membuat papa terharu, sini Papa peluk dua duanya!!" ucap Asher .


Mereka bertiga saling menguatkan satu sama lain, saling menjaga dan menghibur.


Regard diam diam mengawasi mobil nyonya Vera yang mengawasi mereka dari sisi lain.


" Dia yang membawa adik Lili, dalam mimpi Abang, Lili diculik oleh nenek lampir,Abang harus cari tahu, tapi jangan sampai papa dan Mama tahu,tunggu pasti Abang baru beritahu!" batin Regard yang licik dan cerdas bak orang dewasa.


.


.


.


Like, vote dan komen 🤗