Loco

Loco
Chapter 26



20 menit yang ditempuhnya seperti di neraka yang panas, hingga akhirnya Yoona sampai di SMA Kirin. Dengan asal, Yoona langsung menyerahkan kunci mobilnya pada seorang petugas parkir agar memarkirkan mobilnya dengan benar. Yoona bahkan menyelipkan uang pada petugas parkir itu agar tidak protes.


Yoona terus melangkahkan kakinya, bahkan lama kelamaan dia mulai berlari menuju aula. Tidak ada yang berubah dengan tata letak gedung SMA Kirin setelah 7 tahun berlalu.


Yoona langsung membuka pintu aula dan dia melihat ruangan itu remang-remang. Ternyata mereka sedang menikmati dokumentasi masa-masa sekolah mereka yang membosankan itu. Dan Yoona tahu menonton dokumentasi adalah acara terakhir dari acara itu. Itu semakin membuat panik.


Yoona mengedarkan pandangannya ke sekitar aula itu. Namun karena lampu dimatikan, hanya cahaya dari layar besar didepan sana yang menjadi penerang di aula besar itu. Hal itu tentu mempersulit Yoona untuk mencari Donghae.


Beberapa kali Yoona salah mengenali orang. Napasnya masih terengah-engah, dia lelah. Tapi dia juga tidak ingin menyerah. Dia harus menemukan pria itu.


“Im Yoona”, panggil seseorang. Yoona pun berbalik, ternyata beberapa teman sekelasnya dulu.


“ada apa dengan pakaian mu?”, tanya salah satu dengan mereka.


Yoona pun menunduk, menatap pakaiannya. Dan betapa bodohnya dia, ketika baru sadar dia datang ke acara reuni dengan pakaian kantornya. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan apa yang dipakainya. Hanya saja, pakaiannya tidak layak digunakan untuk datang ke acara reuni. Dimana orang-orang di aula itu terlihat mengenakan pakaian-pakain indah.


“ah maaf. Aku baru ingat acara reuni hari ini. Jadi aku langsung berangkat dari kantor”, alasan Yoona, namun sesekali dia mengedarkan pandangannya.


“oh… kau pasti sangat lelah. Wajah mu sampai berkeringat seperti itu”, ucap salah satu dari mereka. Yoona pun langsung meraba wajahnya dan benar saja dia berkeringat sangat banyak. Double sial untuknya.


“dimana teman-teman yang lain?”, tanya Yoona sambil melap wajahnya dengan saputangan yang selalu dibawanya kemanapun.


“ada disana. Tapi beberapa sudah ada yang pulang”


“pu-pulang? Siapa yang sudah pulang?”, perasaan Yoona semakin tidak karuan sekarang. Dia gelisah. Ditambah dia tidak juga menemukan Donghae di kumpulan kelasnya dulu.


“Go Wun, Yun Seong, Tae Ho, si gila Jeong Hyeok juga sudah pulang”


Yoona merasa lega karena nama Donghae tidak mereka sebutkan. Berarti pria itu masih berada diaula itu.


“ah iya… tadi Donghae juga sudah berpamitan pulang”


“benarkah. Padahal aku ingin berfoto dengannya. Siapa tahu saja anakku bisa setampan dia ketika lahir”, ucap temannya yang sedang hamil besar.


Yoona yang mendengar nama Donghae juga disebut tiba-tiba, membuat lututnya langsung lemas. Dia bahkan terduduk dilantai.


“yak... Yoona. Kau tidak apa-apa?”, ujar teman-temannya itu.


“ti-tidak. Aku… aku”, Yoona tidak bisa melanjutkan perkataannya. Dia sudah tidak bisa berpikir lagi. Lagi-lagi dia kehilangan Donghae.


Dengan dibantu oleh teman-temannya itu, Yoona bangkit berdiri dan dibawa ke sebuah kursi dekat meja besar yang menghidangkan banyak makanan dan minuman.


“gomawo”, ujar Yoona ketika temannya memberinya segelas minuman. Dengan cepat Yoona meneguknya. Setelah itu dia menghela napas. Dia benar-benar sial hari ini.


Yoona bahkan meninggalkan pekerjaannya begitu saja, melanggar aturan lalu lintas, bertindak bodoh datang dengan pakaian kantor bahkan dengan wajah yang Yoona bisa yakinkan sangat berantakan. Semua itu Yoona lakukan hanya untuk bisa datang ke acara reuni itu dan bertemu dengan Donghae.


Tapi sekarang dia menyadari, dia terlambat dan semua pengorbanannya itu sia-sia. Donghae sudah pergi. Ingin rasanya Yoona menangisi kesialannya hari ini.



)))))(((((



Yoona kini menatap layar besar dihadapannya dengan datar. Sesekali dia menyesap minumannya. Dia masih berada diaula – acara reuni. Dia memutuskan untuk tetap disana. Karena dia malas untuk pulang atau kembali ke kantor. Tadi dia sudah terlanjur mengatakan akan menyelesaikan pekerjaannya besok pagi. Lagi pula kantornya pasti sudah sepi, mengingat jam kantor sudah selesai setengah jam yang lalu.


Tidak ada yang menyadari jika sedari tadi Yoona menghela napas. Semua terlalu fokus menonton video dokumentasi itu. Padahal baginya tidak ada yang menarik dari video yang berdurasi 1 jam lebih itu. Karena bosan, Yoona pun beranjak dari duduknya.


Yoona merasa dirinya terlalu banyak minum. Kepalanya sedikit pusing. Sedangkan dia harus menyetir ketika pulang.


“kau mau kemana?”, tanya Sehun yang sedari tadi menemaninya berbincang-bincang.


“bukan mencari Donghae?”, goda Sehun.


“ck… jangan asal bicara”, balas Yoona berkelit. Yoona pun langsung pergi.


Sehun yang masih mengawasi Yoona hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. Yoona masih seperti dulu. Harga diri setinggi gunung Everest. Padahal jelas-jelas mantan ketua kelasnya itu tertarik pada Donghae. Buktinya sedari tadi wanita itu selalu bertanya-tanya tentang Donghae padanya. Tapi Yoona tetap saja tidak mau mengakui perasaannya.


Keluar dari aula, Yoona menghembuskan napas lebih keras. Lalu dia menatap sekelilingnya. Dengan tanpa tujuan Yoona melangkahkan kakinya, hingga tidak disadarinya kini dia sudah berada di lantai dua dan berada dilorong menuju kelasnya dulu.


Yoona pun mengingat-ingat lagi masa-masa SMA-nya dulu. Banyak hal berharga yang didapatnya ketika bersekolah di SMA itu.


Yoona membuka pintu kelas yang bertuliskan huruf A besar dipintunya. Namun sayangnya pintu itu terkunci. Yoona pun hanya bisa melihat isi kelas itu dari jendela kaca.


Yoona mengintip dan isi ruangan itu sudah jauh berbeda dengan kelasnya dulu. Tentu saja 7 tahun bukanlah waktu yang singkat. Tapi Yoona masih ingat bagaimana kondisi kelasnya dulu. Dia bahkan masih ingat dimana mejanya, meja ketiga sahabat penyihirnya dan juga meja Donghae.


Yoona menatap meja disudut kiri ruangan itu. Meja Donghae. Kemudian kenangan dirinya yang mencium Donghae pun terlintas dalam pikirannya. Yoona sampai terkekeh mengingat betapa agresifnya dia dulu pada Donghae. Dia memang sudah gila karena pria itu. Dan sekarang justru lebih gila.


Yoona juga mengingat Donghae yang sangat perhatian dan baik padanya. Karena terlalu bagi, pria itu tanpa rasa segan membawanya ke UKS dan mencarikannya pembalut dan jangan lupakan pakaian dalam merah muda yang pria itu berikan ketika Yoona tidak ada persiapan menghadapi siklus menstruasinya. Kejadian memalukan itu tidak akan pernah Yoona lupakan.


Tiba-tiba Yoona meringis kecil ketika dia merasakan sakit pada kakinya. Dia pun melepas sepatu heels hitamnya itu. Setelah berlarian sedari tadi dengan mengenakan heels dengan tumit setinggi 7 centi itu, sekarang dia mulai merasakan sakitnya. Padahal tadi ketika berlari dia tidak merasakan sakit sedikitpun.


Dengan bertelanjang kaki, Yoona bersandar pada pagar pembatas lorong didepan kelasnya dulu itu. Lagi-lagi dia menghela napas berat. Kemudian dia mengeluarkan ponselnya. Melihat kembali foto Donghae bersama teman-teman pria sekelasnya.


Yoona memperbesar foto itu hingga yang terlihat dilayar ponselnya hanya Donghae saja. Yoona tersenyum kecut. Pria itu masih terlihat seperti dulu. Hanya satu yang berubah. Pria itu semakin tampan. Ingin sekali rasanya Yoona menjerit karena ketampanan pria itu.


“kenapa kau semakin tampan? Menyebalkan”, ujar Yoona menatap foto Donghae itu. Hingga berlahan air matanya mengalir. Dia sangat kecewa karena tidak bisa bertemu dengan Donghae.


“aish… ada apa dengan dirimu Im Yoona”, kesal Yoona pada dirinya sendiri. Dia dengan kasar menghapus air matanya. Dia terlalu sensitive akhir-akhir ini jika terlalu merindukan Donghae atau ketiga sahabatnya yang hingga sekarang Yoona tidak tahu bagaimana nasib ketiganya.


Setelah beberapa menit berada didepan kelasnya itu, Yoona kembali menyusuri lorong-lorang disana, hingga dia berada di pertigaan lorong. Yoona pun memutuskan untuk berbelok menuju lorong sebelah kanannya. Dia tiba-tiba teringat dengan suatu tempat. Tempat favorite-nya.


Yoona menaiki anak-anak tangga menuju atap gedung laboratorium itu. Entah mengapa dia merasa berdebar-debar. Dia tidak sabar untuk tiba diatap gedung itu. Dia pun harus cepat tiba disana, karena hari sudah mulai menggelap, pasti tidak ada penerangan diatap itu.


Sampai didepan pintu, Yoona menarik napas dalam, lalu menghembuskannya. Berdoa semoga pintu atap itu tidak dikunci.


Ketika Yoona memutar knop pintu itu, dia langsung tersenyum lebar karena pintu itu tidak terkunci. Yoona pun mendorong pintu itu masih dengan senyum lebarnya.


Sebenarnya dia cukup heran mengapa pintu atap itu tidak dikunci. Padahal kelasnya tadi terkunci, mengapa atap itu tidak. Lagi pula Yoona sangat hapal juga pintu atap itu akan dikunci ketika jam sekolah sudah usia. Tapi Yoona tidak ingin memikirkan hal itu. Dia justru beruntung pintu itu tidak dikunci.


Ketika pintu itu benar-benar terbuka lebar, senyum Yoona semakin lebar pula. Jantungnya bahkan sampai berdebar-debar. Yoona anggap debaran itu sebagai wujud dirinya yang begitu merindukan tempat favorite-nya itu. Tempatnya untuk menenangkan diri, bersantai jika jam istirahat, dan tempatnya bertemu dengan pria yang selalu membuatnya seperti orang gila itu.


Namun senyum itu berlahan sirna ketika melihat pemandangan didepannya.


Atap itu memang tidak luas. Namun Yoona tiba-tiba merasa jarak dari pintu itu pada seseorang disana begitu jauh sehingga dia harus menyipitkan matanya, agar dia bisa melihat lebih jelas.


Disana berdiri seorang pria yang membelakanginya. Namun Yoona tahu siapa pria itu. Melihat dari pakaiannya yang sama persis seperti difoto grup alumni, bisa dipastikan pria itu adalah orang sama sedang dia cari. Yoona bahkan bisa merasakan debaran jantungnya yang begitu cepat. Debaran yang sama seperti yang Yoona rasakan 7 tahun yang lalu. Debaran yang membuatnya begitu gila dan tidak bisa dikendalikannya. Debaran yang diakibatkan oleh pria yang sama.


“Do-Donghae”, ucap Yoona terbata.



)))))(((((



bersambung...


tinggal 1 chapter lagi ending 😭