Loco

Loco
Chapter 15



Hari sudah sore ketika akhirnya mereka selesai memanen semua sayuran milik nenek Yuri. Semuanya tampak sangat lelah. Semuanya, terkecuali Taeyeon yang beristirahat dirumah, kini sedang membopong karung-karung berisi sayuran ke rumah nenek.


Tapi masih ada satu hal lagi yang harus mereka kerjakan setibanya diruman nenek, yaitu membersihkan sayur-sayuran itu. Karena besok, pagi-pagi sekali akan di setor ke pasar.


“wah… halmeoni sangat berterimakasih pada kalian. Kalian pasti sangat lelah”, ujar nenek setibanya semua sayuran itu di halaman belakang rumah nenek.


“ne… kami sangat lelah. Karena itulah halmeoni, tolong buatkan pudding lezat untuk kami”, jawab Sooyoung dengan wajah memelas.


Puding buatan nenek Yuri memang sangat mereka gemari terkhusus Sooyoung dan Yoona.


“tentu saja nenek sudah siapkan itu untuk kalian”


“jinjia?”


“tentu saja”


“tapi sebelum itu, pastikan bersihkan dulu sayurannya”, ujar nenek cepat ketika Sooyoung sudah berniat berlari ke dapur mencuri start memakan puding. Sooyoung pun langsung cemberut karena ketahuan ingin lari dari tugas.


Semuanya pun tertawa melihat tingkah Sooyoung yang seperti anak kecil. Gadis itu kini sedang memohon pada nenek untuk memberinya satu cup saja puding untuk mengembalikan staminanya. Tapi sayangnya nenek tidak juga mau memberikannya.


“hiks… kenapa nenek sangat pelit?”, gerutu Sooyoung.


“nenek bukannya pelit. Tapi dasarnya kau saja yang rakus”, balas Yoona. Merasa tidak terima dikatakan rakus, Sooyoung dengan sengaja mengambil air ditelapak tangannya dan menyiramkannya pada Yoona.


“YAK”, teriak Yoona kaget ketika wajahnya disiram air. Bukannya takut, Sooyoung justru tertawa keras. Efeknya Yoona semakin kesal. Tidak segan-segan Yoona langsung mengambil gayung yang sedang Donghae gunakan, menyiramkan semuanya langsung ke wajah Sooyoung hingga membuat gadis tinggi itu terjatuh akibat dorongan air


yang Yoona siram.


Sooyoung mengusap wajahnya dengan gelagapan. Yoona memang benar-benar tidak pandang buluh jika sudah merah. Melihat pertengkaran Yoona dan Sooyoung akan berlangsung seru, Yuri melangkah mendekati selang air yang biasa neneknya gunakan untuk menyiram bunga.


Dengan senyum lebar, Yuri sudah bersiap menyerang dengan senjata ampuhnya. Dibukanya keran air itu dan langsung menembakkan air dari selang itu ke arah Yoona dan Sooyoung.


“YAK”, seru Yoona dan Sooyoung bersamaan. Mereka langsung berlari kearah Yuri. Namun sayang, air yang di semprotkan kearah mereka menghalangi mereka untuk mendekat.


Yoona memang yang pada dasarnya tidak pernah mau mengalah, langsung mencari ide. Melihat Donghae yang hanya tertawa saja melihat pertempuran mereka, langsung menarik tangan pria itu kehadapannya.


Dengan posisi berhadapan, punggung pria itu Yoona gunakan sebagai tameng untuk mendekati Yuri. Sesekali Donghae meringis kesakitan karena kerasnya semprotan air dari selang yang Yuri tembakkan kearah mereka.


Dengan kondisi yang sudah basah kuyup, Yoona mengusap wajahnya, terus mendorong Donghae mendekati posisi Yuri. Dia mengintip dari cela-cela lengan Donghae.


Yuri yang merasa dirinya dalam bahaya, langsung melempar begitu saja selang ditangannya dan berlari menjauh. Melihat Yuri yang menyerah, Yoona langsung mengambil alih selang itu. Dengan cepat dia mengarahkannya pada Yuri yang sudah berlari menjauh. Yoona tidak akan membiarkan hal itu terjadi.


“rasakan ini”, geram Yoona. Ketika keran air diputarnya hingga tandas, selang air itu pun langsung mengeluarkan air sangat keras dan terdengarlah jeritan dari Yuri. Yoona pun langsung tertawa senang atas kemenangannya.


Melihat Yuri sudah kelelahan menghadapi serangannya, Yoona pun langsung beralih menyerang Sooyoung.


“yak… yak… aku tidak ikutan”, panik Sooyoung.


“justru kau yang memulai duluan tadi”, balas Yoona tidak ingin berbelaskasihan pada sahabatnya itu. Dan berikutnya yang terjadi adalah pekikan dari Sooyoung.


Merasa diri yang berkuasa, dia tidak membiarkan siapa pun luput dari serangannya termasuk Donghae kini yang sudah kelabakan melindungi tubuhnya dari serangan air Yoona.


Mereka berempat bersenang-senang disana. Saling menyerang dan mencuri selang air itu. Mereka tidak menyadari seorang pria disana yang hanya diam menonton mereka. Terkhusus perhatiannya pada Yoona yang selalu mengandalkan Donghae untuk melindunginya dari serangan Yuri dan Sooyoung.


Jonghyun mengepalkan tangannya kuat-kuat menahan kekesalannya. Bagaimanapun Donghae ingkar janji padanya. Itu membuat dirinya benar-benar marah. Pria itu pun memutuskan untuk masuk ke rumah. Tapi dia berpapasan dengan nenek ketika masuk.


“aku ingin ke kamar mandi”, ucap Jonghyun ketika nenek menatapnya dengan heran. Tanpa mengatakan apa-apa lagi Jonghyun langsung pergi. Nenek pun hanya bisa menggelengkan kepalanya. Kemudian dia beralih pada teriakan dari belakang rumahnya.


Ketika nenek membuka pintu belakang, dia langsung tersenyum sambil menggelengkan kepala melihat kelakuan anak-anak muda itu. Wanita paruh baya itu tersenyum melihat betapa bahagianya mereka yang tertawa lepas tanpa memikirkan beban dan apa yang akan terjadi esok harinya bahkan masa depan mereka.


Memang benarlah seperti itu yang terjadi. Mereka harus menikmati masa-masa muda mereka dengan bersenang-senang, tidak sibuk dengan terus belajar dan mengejar nilai disekolah. Anak muda zaman sekarang juga perlu memiliki waktu untuk bersenang-senang. Setidaknya seperti yang Yoona dan teman-temannya sekarang.


“YAK… APA YANG KALIAN LAKUKAN. DASAR ANAK-ANAK NAKAL”, teriak nenek. Mereka berempat pun langsung terdiam. Mereka tersenyum kikuk menatap nenek yang sudah bertolak pinggang menatap mereka. Dengan cepat Donghae langsung mematikan kran air itu.


“kalian ini bagaimana, sayurannya kan belum dibersihkan”, ujar nenek. Mereka pun dengan cepat berlari pada bak besar tempat mereka membersihkan sayuran tadi. Tanpa kata mereka langsung melanjutkan membersihkan sayuran itu. Ditambah lagi, nenek terus mengawasi mereka dari belakang.


Nenek menggelengkan kepala dan tersenyum melihat tingkah cucu-cucunya itu.


“setelah selesai, segera mandi dan ganti baju kalian. Ck… kalian bisa sakit jika basah terlalu lama”


“ne halmeoni”, ucap mereka serempak.


“cepatlah. Pudingnya sudah halmeoni siapkan”


“NE”, ucap mereka lagi lebih semangat dan suara yang paling kuat berasal dari Sooyoung pastinya. Puding sudah menantinya.


)))))(((((


Mereka baru saja menyelesaikan makan malam mereka tentunya dengan daging panggang lezat buatan nenek Yuri. Taeyeon pun sudah bergabung bersama mereka setelah sedari siang hingga malam gadis mungil itu istirahat dikamar.


Semuanya sedang bersantai selain Yuri yang sedang membersihkan piring di dapur. Yoona, Jonghyun dan Donghae duduk disofa terpisah sambil menonton TV. Sedangkan Sooyoung sedang menuliskan sesuatu dibuku rahasianya sambil mengamati gerak laba-laba kecil dekat lemari. Dan Taeyeon sudah kembali ke kamar.


Sesekali Donghae melirik Yoona dan Jonghyun yang duduk bersandar disofa dengan Yoona dalam rangkulan kekasihnya itu. Walaupun tahu Jonghyun memaksa Yoona menyandarkan kepalanya di bahunya, Donghae tetap saja risih melihatnya. Dia menyesal tidak menyanggupi ajakan nenek tadi keluar rumah. Wanita paruh baya itu sedang ke rumah tetangganya untuk meminjam mobil untuk mengantar sayurannya ke pasar besok.


Donghae pun memutuskan untuk pergi membantu Yuri saja. Walaupun Yuri sudah menolak bantuannya berulang kali, Donghae akan tetap didapur saja dari pada melihat wajah memuakkan Jonghyun.


Melihat kepergian Donghae, Yoona langsung menegakkan tubuhnya, menetap Donghae akhirnya pergi juga. Sedari tadi dia sudah menahan diri untuk tetap dalam posisinya. Dia ingin melihat reaksi Donghae seperti apa jika dia bermanja-manja pada Jonghyun. Namun sayangnya, Donghae terlihat biasa-biasa saja dipenglihatannya.


“Yoona”


“mmm”


Yoona menjawab Jonghyun dengan tetap menatap kepergian Donghae ke dapur. Walaupun dia sudah tahu jika Donghae dan Yuri tidak berpacaran, dia tetap merasa khawatir karena Yoona tidak tahu perasaan Donghae yang sebenarnya. Bahkan pria itu tidak pernah sekalipun mengutarakan perasaannya walau dalam hati. Hal itu tentunya


membuat Yoona merasa diambang-ambang.


“Yoona”, ucap Jonghyun lagi kali ini dengan nada tegas. Yoona pun langsung menoleh pada pria itu.


“boleh kita bicara diluar sebentar?”


“baiklah”


Mereka berdua pun keluar, duduk diteras rumah yang terdapat beberapa kursi dan sebuah meja kecil.


Yoona duduk dikursi yang dipisahkan dua kursi lain dari kursi yang Jonghyun duduki. Melihat itu Jonghyun semakin yakin dengan dugaannya.


“jadi apa yang ingin kau bicarakan?”, tanya Yoona langsung sambil merapatkan jaketnya karena udara sangat diingin diluar.


“saranghae”, ucap Jonghyun. Yoona mengerutkan kening, karena pria itu tiba-tiba mengatakan cinta.


“wae? Kau tidak ingin menjawab pernyataan cintaku juga”, Jonghyun bertanya karena Yoona diam saja.


“kenapa tiba-tiba?”, ujar Yoona.


“tiba-tiba? Bagian mana yang tiba-tiba? Bukankah sepasang kekasih akan sering mengatakan cinta pada pasangannya. Atau hanya aku saja yang berpikir seperti itu, sedangkan kau tidak sama sekali?”, ucap Jonghyun langsung menyindir Yoona.


“sebenarnya apa mau mu?”, tanya Yoona mengerti jika perkataan pria itu sedang menyindirnya.


“mau ku? Aku ingin kau mengatakan bahwa kau juga mencintaiku”, ucap Jonghyun. Yoona langsung terdiam.


‘sial. Apa yang harus ku katakan? Tidak mungkin aku mengatakannya’, batin Yoona. Dia sedang berpikir keras agar


Jonghyun bisa mengerti.


“apa ini semua karena Donghae?”


Nama Donghae disebut-sebut membuat Yoona langsung menatap Jonghyun dengan kening mengerut. Dia tidak mengerti maksud pria itu.


“ku beritahu kau suatu rahasia. Aku membuat perjanjian dengan Donghae. Jika kelas ku menang melawan kelas A, dia harus berjanji untuk menjauhimu dan mendukungku untuk menyatakan perasaanku padamu”, ucap Jonghyun. Yoona pun terlihat terkejut. Dia pun akhirnya mengerti mengapa Donghae tersenyum saja saat Jonghyun menyatakan perasaannya waktu itu.


“kenapa kau harus melibatkan Donghae?”, tanya Yoona.


“kenapa? Tentu saja karena dia satu-satunya orang yang akan menghambat usahaku untuk mendekatimu”


“ck… kau sangat lucu. Memangnya kau pikir Donghae siapa sampai harus menghalangimu. Dia bukan siapa-siapa”, ucap Yoona dengan ketus.


“Donghae mungkin saja adalah pria yang kau sukai”


Ucapan Jonghyun itu tentu menjadi goncangan tersendiri bagi Yoona. Sudah tiga orang yang mengatakan dirinya menyukai Donghae.


Yang pertama Sooyoung, lalu Yuri dan sekarang Jonghyun yang masih berstatus sebagai kekasihnya.


‘Apa benar selama ini aku terlihat seperti orang yang menyukai Donghae? Lalu bagaimana jika Donghae juga ternyata berpikir seperti itu?’


Yoona mendengus kesal. Yoona memijat keningnya karena pusing memikirkan apa yang sudah dilakukannya selama ini. Hal itu pun tidak luput dari perhatian Jonghyun.


“Yoona”


“mmm”


“kita akhiri saja semua ini”


“apa maksudmu? Kau ingin kita putus?”


“mmm”


Yoona dan Jonghyun pun langsung terdiam. Tidak ada yang memulai pembicaraan lagi. Bertepatan saat itu Donghae mendengar perkataan Jonghyun yang meminta putus. Tapi pria itu memutuskan untuk mundur saja, kembali masuk ke dalam rumah.


Tadinya Donghae ingin menyusul nenek ke rumah tetangga karena Yuri mengatakan khawatir nenek keluar rumah seorang diri. Tapi yang didapatinya justru mendengar percakapan sepasang kekasih itu.


Jonghyun pun memutuskan untuk masuk ke dalam rumah dan tidak menyadari Donghae yang bersembunyi dibalik pintu. Kemudian pria itu kembali dengan membawa tasnya.


“kau mau kemana?”, tanya Yoona ketika melihat Jonghyun sudah membawa tasnya keluar rumah.


“apa? Kau gila? Ini sudah malam. Tidak ada kendaraan lagi”


“kau mengkhawatirkanku?”, tanya Jonghyun yang langsung membuat Yoona terdiam, tidak bisa menjawab. Dia sebenarnya ingin mengatakan sedikit khawatir karena memang hari sudah malam. Tapi pada kenyataannya gadis itu hanya diam saja. Melihat itu Jonghyun hanya bisa tersenyum - senyum yang terlihat dipaksakan.


“gomawo karena kau masih mau memberi sedikit perhatian padaku. Kau tenang saja, aku sudah menelepon supirku untuk menjemput. Sebentar lagi dia akan sampai”, jawab Jonghyun. Bertepatan dengan ucapan pria itu, sebuah mobil mewah memasuki pelataran rumah nenek Yuri.


Tanpa mengatakan apa-apa lagi, Jonghyun langsung masuk ke dalam mobilnya. Yoona hanya bisa mengamati perginya Jonghyun dalam diam. Dia tidak bisa mengatakan apapun.


Setelah mobil Jonghyun tidak terlihat lagi, Yoona kembali duduk dikursi teras rumah. Dia duduk disana sambil menaikkan kakinya memeluk kakinya.


‘jadi… aku baru saja diputuskan?’


‘seorang Im Yoona yang diputuskan? Bukan aku yang memutuskan’


‘sial’


Yoona merasakan harga dirinya tercoreng karena dengan berani-beraninya Jonghyun yang memutuskannya terlebih dahulu. Seharusnya dialah yang memutuskan pria itu. Sialnya Yoona kalah cepat.


Yoona menyembunyikan wajahnya dibalik lipatan kakinya. Dia menangisi harga dirinya.


Yoona menegakkan kepalanya ketika dia mendengar kursi yang bergeser di sampingnya. Dia langsung menemukan Donghae duduk disana menatap lurus ke depan.


‘sial. Apa yang dilakukannya disini?’, batin Yoona sambil menghapus air matanya.


“kau baik-baik saja?”, tanya Donghae.


‘tidak’


“Ya aku baik-baik saja”, ucap Yoona tidak sesuai dengan hatinya.


“sepupu ku pernah mengatakan hal yang paling menyakitkan bagi yeoja ketika namja meminta mengakhiri hubungan mereka secara tiba-tiba”, ucap Donghae, mengingat-ingat perkataan sepupunya itu.


Yoona mengerutkan keningnya. Bukan tidak mengerti perkataan Donghae, lebih tepatnya dia penasaran dengan sepupu Donghae yang memberi pelajaran tentang seorang yeoja pada Donghae.


“tapi dia juga mengatakan yeoja tidak boleh terpuruk hanya karena seorang namja saja. Banyak pria diluar sana yang akan mencintai lebih dan lebih lagi”


“karena itu… kau harus tetap semangat Yoona”, ucap Donghae sambil mengepalkan tangannya, memberi semangat.


Yoona menutup mulutnya dengan telapak tangannya. Bukan karena terharu, tapi dia sedang menahan tawa karena Donghae terlihat sangat lucu. Dia mulai sadar bahwa Donghae menganggapnya menangis karena putus cinta. Pada kenyataannya dia sedang menangisi harga dirinya yang semakin menipis.


Tapi karena tidak bisa menahannya lagi, Yoona benar-benar meluapkan tawanya. Dia tidak bisa menahannya lagi.


‘dasar Donghae bodoh’, batin Yoona.


Donghae menggarut kepalanya, tidak mengerti mengapa Yoona justru tertawa. Padahal tidak ada yang lucu dilakukannya. Dia sedang serius menghibur dan memberi semangat pada gadis itu.


‘jangan-jangan dia sudah gila karena putus cinta’, batin Donghae.


“YAK”, teriak Yoona marah karena mendengar pikiran Donghae. Pria itu pun langsung kaget dan terdiam. Kini Yoona sudah tidak tertawa lagi, tapi gadis itu menatapnya dengan tajam.


“apa yang kalian lakukan di luar?”, ucap nenek yang tiba-tiba sudah pulang.


“hehe… kami hanya menikmati angin malam”, jawab Donghae berbohong.


“ck… angin malam itu tidak bagus untuk kesehatan. Ayo kita masuk”, ajak nenek.


“halmeoni, dia siapa?”, tanya Donghae pada nenek. Wanita paruh baya itu pun menoleh ke belakang.


“oh… dia saudara dari tetangga halmeoni. Dia akan membantu halmeoni besok pagi membawa sayuran ke pasar. Sekalian dia yang akan mengemudi mobilnya”, jelas nenek. Donghae dan Yoona pun mengangguk. Namun dalam artian yang berbeda. Yoona mungkin hanya sekedar mengerti. Sedangkan Donghae mengangguk karena mengetahui identitas pria dibelakang nenek itu.


Donghae hanya merasa pria itu memiliki minat khusus pada Yoona. Karena sedari dia dan nenek tiba tadi, pria itu terus menatap Yoona dari atas kepala hingga kaki.


“dia akan menginap disini?”, tanya Donghae sedikit berbisik. Nenek pun kembali mengangguk.


“tapi dimana yang lain?”, tanya nenek ketika sudah tidak melihat siapa-siapa lagi di ruang tengah.


“oh mungkin mereka sudah tidur. Dan tadi Jonghyun pamit pulang karena dia ada urusan keluarga yang tidak bisa ditinggalkan”, ujar Yoona mengarang jawaban tentang Jonghyun. Tidak mungkin Yoona mengatakan Jonghyun pulang karena putus dengannya.


“oh ya sudah. Kalian juga istirahatlah”, ucap nenek sambil menunjukkan kamar kosong pada pria bernama Kim So Dam itu.


Donghae masih diam berdiri di tempatnya, memastikan pria itu masuk ke dalam kamar kosong itu.


“kenapa kau masih belum masuk ke kamar mu?”, tanya nenek.


“ah iya, aku ingin mengambil air minum dulu halmeoni”, ucap Donghae dan langsung berlalu ke dapur. Setelah air minum diambilnya, Donghae kembali memastikan pintu kamar pria asing itu benar-benar tertutup rapat. Setelah itu dia masuk ke dalam kamarnya.


Donghae naik ke tempat tidur, lalu berusaha memejamkan matanya. Mungkin karena lelah juga, dia pun langsung terlelap.


)))))(((((


Donghae terbangun karena dia bermimpi buruk. Dia bermimpi ibunya menangis. Tapi Donghae tidak ingat karena apa ibunya menangis.


Donghae pun duduk dan mencari air minum. Setelah meneguknya, dia merasa belum puas. Dia mengambil jam tangannya di atas meja. Dan ternyata masih jam 2 pagi. Tapi karena masih haus, Donghae pun memutuskan keluar untuk mengambil air minum.


Donghae langsung menuju dapur sambil mengusap-usap matanya yang sebenarnya masih mengantuk. Dia dengan rakus meneguk beberapa gelas air hingga dia puas. Setelah itu dia kembali ke kamarnya. Tapi dia langsung berhenti ketika melihat pintu kamar tempat Yoona, Yuri, Sooyoung dan Taeyeon terbuka sedikit, tidak tertutup rapat seperti yang dipastikannya sebelum masuk kamar semalam.


Donghae pun langsung menoleh pada pintu kamar kosong tempat Kim So Dam menginap. Namun pintu itu tertutup rapat.


Donghae pun menghela napas lega. Dia pun berniat menutup pintu kamar para gadis itu dengan hati-hati. Tapi belum sempat dia menutup pintu itu, dari celah pintu yang terbuka, Donghae bisa melihat beberapa barang yang terjatuh dilantai secara tidak wajar.


Donghae pun dengan berlahan mendorong pintu itu. Dan benar saja, didalam sudah sangat berantakan dan yang paling mengejutkannya, tidak ada siapapun disana. Dengan panik Donghae pun langsung berlari ke kamar tempat Kim So Dam berada. Dan benar dugaannya, pria itu pun tidak ada disana.


“sial”, geram Donghae.


Brak


Tiba-tiba suara benda yang terjatuh menyadarkan Donghae dari kepanikannya. Donghae pun menatap ke arah suara benda terjatuh itu - kamar nenek.


Donghae menghembuskan napasnya, lalu dengan hati-hati mencari sesuatu didapur sebagai alat jika benar dugaannya terjadi sesuatu dirumah itu.


Donghae pun menemukan pipa besi yang biasa digunakan untuk membersihkan saluran pembuangan air dari washtafel.


Ketika sampai di depan pintu kamar nenek yang masih tertutup itu, lagi-lagi Donghae menghembuskan napasnya. Lalu dia membulatkan tekatnya. Dengan cepat dia membuka pintu itu dan bersiap menyerang. Namun karena begitu kaget dengan apa yang dilihatnya, Donghae justru terdiam.


Didepannya terlihat Yuri, Sooyoung dan Taeyeon tergeletak dilantai dengan kaki dan tangan terikat. Juga dengan Yoona, namun gadis itu masih dalam keadaan sadar.


Karena Donghae lengah, Kim So Dam langsung mengarahkan pisaunya ke leher nenek.


“diam, atau wanita tua ini akan merasakan tajamnya pisau ini”, ancam Kim So Dam. Donghae pun terdiam.


“brengsek”, maki Donghae.


“jangan mengumpat anak muda. Kau ingin mereka semua mati?”, ujar Kim So Dam lagi kali ini dengan senyum miring. Donghae menggeram marah.


“buang pipa itu keluar lalu tutup pintunya. CEPAT”, teriak Kim So Dam. Donghae pun langsung melakukan perintah pria brengsek itu karena pisau itu semakin mendekati kulit leher nenek.


Donghae pun tidak tega melihat wajah pucat wanita paruh baya itu. Donghae yakin nenek sangat ketakutan sekarang. Begitupun dengan Yoona.


‘Yoona… kau baik-baik aja?’, batin Donghae dan dia bisa melihat gadis itu mengangguk. Donghae melihat mata Yoona yang berkaca-kaca, ingin menangis. Ditambah lagi mulut gadis itu dibekap dengan kain, pasti sangat sulit bernapas.


“sekarang buka lemari itu”, perintah Kim So Dam lagi. Donghae pun melakukan keinginan pria itu.


“keluarkan semua isinya”


Donghae pun mengeluarkan semua pakaian yang digantung menggunakan hanger itu. Merasa ada kesempatan. Donghae melempar baju-baju itu ke arah Kim So Dam, sayangnya hal itu tidak berpengaruh banyak. Tapi Donghae tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan sekecil apapun itu.


Dengan kemampuan karatenya, dia langsung menendang lengan Kim So Dam hingga pisau yang awalnya berada digenggaman pria itu, langsung terlempar ke lantai.


“brengsek. Berani-beraninya kau”, marah Kim So Dam. Dengan lihai pria itu pun menyerang Donghae. Untungnya Donghae bisa menghindar. Tapi itu ternyata trik Kim So Dam untuk bisa meraih pisaunya kembali. Dia pun mengarahkannya pada Yoona. Korban yang paling dekat dengan posisinya berdiri.


“jangan”, panik Donghae ketika Kim So Dam dengan gilanya mengarahkan mata pisau itu ke pipi Yoona. Kali ini Yoona benar-benar menangis membuat Donghae benar-benar tidak tega.


“Kau… masuk ke dalam lemari itu”, perintah pria itu lagi. Karena sudah Yoona yang menjadi sasarannya membuat Donghae tidak bisa berpikir tenang.


“CEPAT”, teriak Kim So Dam.


Donghae pun terpaksa masuk ke dalam lemari itu. Melihat Donghae sudah masuk ke dalam lemari itu, Kim So Dam dengan cepat berlari, menutup pintu lemari itu, mengunci Donghae di dalamnya.


“YAK… BRENGSEK. LEPASKAN MEREKA”, marah Donghae sambil berusaha membuka lemari itu. Namun sialnya tidak bisa.


“LEPASKAN MEREKA”, teriak Donghae.


Kim So Dam langsung memukul pintu lemari itu membuat Donghae kaget.


“dengar anak muda. Aku akan menuruti permintaanmu setelah apa yang ku inginkan sudah tercapai. Dan tentunya bersenang-senang sebentar dengan gadis-gadis cantik disini”, ucap Kim So Dam sambil menjulurkan lidahnya, mengusap bibirnya seperti orang yang kelaparan.


“brengsek. Sedikit saja kau sentuh mereka, aku tidak akan memaafkanmu”, marah Donghae dengan suara sedikit bergetar. Dia tahu dia tidak bisa berbuat apapun sekarang, tapi dia juga tidak ingin menyerah.


Seolah tuli, Kim So Dam berlalu, berbalik. Bertepatan dengan itu Kim So Dam melihat nenek bergerak mengangkat kursi untuk menyerang. Namun karena memang tenaganya sudah tidak ada lagi, jadilah kursi itu jatuh begitu saja.


Kim So Dam pun mentertawakan kelakukan wanita paruh baya itu. Tapi kemudian dia menggeram marah.


“dasar wanita tua tidak berguna”, marah Kim So Dam dan dengan teganya melayangkan pukulan keras ke wajah wanita paruh baya itu hingga terpental mengenai sudut meja.


Yoona memekik ketakutan ketika melihat nenek sudah tergeletak dengan darah yang mengalir dari kepalanya. Donghae pun melihat kejadian itu dari cela-cela ukiran pintu lemari tempatnya disekap.


“halmeoni”, teriak Donghae sambil mencoba mendobrak pintu lemari itu. Tapi karena ruang geraknya sangat sempit, Donghae tidak bisa mengerahkan semua tenaganya. Donghae bisa merasakan tubuhnya bergetar karena takut wanita paruh baya itu terluka parah.


)))))(((((


bersambung...