
Seminar bisnis hari ini berjalan dengan lancar. Dita mendapat banyak pujian dari para petinggi, bahkan dilirik untuk masuk ke instansi besar dunia kesehatan internasional.
Tetapi Dita bukanlah seseorang yang haus akan kejayaan dan kebanggaan. Karena suami dan putranya saja sudah membuatnya bangga.
"Anda sangat hebat hari ini nona Dita!" puji salah satu profesor tampan yang dengan sengaja mendekati Dita.
Dia tampak tertarik pada Dita, seorang dokter yang memiliki banyak kelebihan.
Sambil menyodorkan minuman dia menatap Dita dengan senyuman aneh.
Grep!!
Tangan kekar Asher menarik pinggul istrinya dan tangannya yang lain mengambil gelas yang disodorkan oleh pria itu.
" Terimakasih untuk minumannya, tetapi istriku tidak boleh minum minuman murahan ini, dan satu lagi panggilannya bukan nona, tapi nyonya muda Roth!!" ucap Asher dengan nada sarkas sambil menatap pria itu dengan tatapan sinis.
" Berani menggoda istriku, ku habisi kau di depan umum bangsat!" batin Asher.
Dita terkekeh, dia membalas rangkulan suaminya dan menunjukkan pada dunia kalau dia dan Asher sangat dekat satu sama lain.
"Terimakasih atas pujiannya, tapi saya lebih senang dipuji suami saya sendiri tuan," ucap Dita.
Pria itu langsung terdiam, sama sekali tidak bisa mendekati Dita yang memang sangat mempesona.
Asher dan Dita berjalan sambil saling merangkul satu sama lain. Semua mata tentu tertuju pada pasangan yang sangat serasi ini.
Dalam sekali bertindak, rumor buruk tentang rumah tangga Dita di forum kesehatan langsung ditepis dengan semua momen manis Dita dan Asher di acara pesta setelah seminar besar hari ini.
"Banyak sekali yang memujimu, aku jadi marah!" bisik Asher.
" Marah? cihh... apa aku juga harus marah? banyak sekali yang menjadi fansmu di sini, para wanita sejak tadi selalu mencuri curi pandang padamu!!" balas Dita dengan wajah kesal.
Asher tertawa geli," Kau sangat pendendam, satu satunya yang cocok denganku hanya dirimu baby," bisik Asher.
" Aku tahu itu!" balas Dita dengan percaya diri.
Setelah acara seminar itu berakhir, Asher dan Dita melanjutkan perjalan mereka ke rumah sakit terbesar di Shanghai bersama rekan rekan Dita.
"Kunjungan kali ini kita laksanakan untuk mendukung anak anak pengidap kanker, mereka melihat berbagai konten yang telah kita terbitan sebelumnya, hal ini sangat membantu memberikan mereka semangat untuk berjuang demi hidup mereka," jelas Dokter Choi kepala kedokteran di rumah sakit itu.
“ Bagaimana perkembangan teknologi organ dalam buatan yang sedang kalian kembangkan dokter Choi? Topik ini kan sedang menjadi perbincangan hangat sejak satu tahun lalu,” tanya Dita dengan penasaran.
“ Prosesnya cukup lama Dita, semua butuh waktu, kau tahu sendiri teknologi seperti ini membutuhkan tangan tanag kreatif yang mau berdedikasi dalam jangka panjang , sedangkan di tim kami sudah terjadi pergantian personel sampai beberapa kali, kendala utamanya adalah menemukan orang yang setia!” ucap Dokter Choi dengan wajah pasrah karena proyek yang dia dan timnya kembangkan tampaknya tak dapat membuat para anggota tim untuk tetap setia di kelompok mereka.
Dita menepuk bahu pria itu,” tenanglah, semua akan berjalan dengan lancar, siapa yang meragukan kemampuan dokter Choi ini,” Imbuh Dita memberi semangat pada pria muda berprestasi itu.
Dita, Dokter Choi dan dokter Bianca yang bekerja di rumah sakit Luther adalah teman satu tim dalam relawan mengatasi perang dan bencana alam beberapa tahun silam.
“ Kalau begitu, bagaimana jika kita memberikan program ini pada para calon dokter, ini akan bagus sekaligus membantu calon dokter dan mahasiswa kedokteran yang berprestasi untuk menjadi dokter hebat dengan membuat kontrak selama sepuluh tahun,” Asher mengeluarkan ide bisnisnya.
“Mereka akan terdaftar di bawah naungan yayasan Roth Grup, calon dokter yang disebutkan tadi akan berada langsung di bawah pengawasan Roth Grup dan menandatangani kontrak kerjasama sepuluh tahun , hal ini akan sangat membantu tim kalian mengembangkan teknologi organ dalam buatan!” jelas Asher dengan penuh semangat.
Dita, Dokter Choi dan beberapa dokter lain langsung menatap pria itu dengan wajah melongo. Sangat jarang pebisnis yang mau mengambil resiko dalam teknologi pembuatan organ tubuh yang prosesnya lama dan bahkan masa depannya meragukan.
Tetapi Asher malah dengan gamblang menawarkan diri sebagai yayasan yang mau menaungi para dokter muda dan calon dokter untuk mendukung teknologi ini.
“ Sayang, kau serius? Maksudku, teknologi ini bahkan belum sempurna, kami harus melakukan riset terus menerus untuk menciptakan benda itu, bahkan tim Amerika saja sudah menyerah dnegan teknologi ini, selain memakan banyak waktu, juga butuh dana yang besar” ucap Dita.
Asher tersenyum sambil menggenggam tangan istrinya,” Sayang, aku melihatnya dari sudut pandangan bisnis, meski resikonya besar, bukankah ketika kalian berhasil nanti akan menjadi keuntungan berkali lipat bagi grup Roth?” ucap Asher dnegan percaya diri
“ tuan Anda benar benar dermawan tapi apa tidak sebaiknya Anda pikirkan lagi?” tanya Dokter Choi.
“ tentu Tidak!” ucap Dokter Choi dengan percaya diri.
Asher tersenyum,” kalau begitu, senang bekerjasama dengan kalian!” ucap Asher sambil menjulurkan tangannya.
Dokter Choi dan semua timnya terdiam membeku. Hari ini mereka mendapatkan kejutan besar, penyelamat mereka telah tiba.
Kesepakatan antara Roth grup dengan universitas kedokteran di Shanghai sedang dalam proses. Dita dan para rekan dokternya sama sekai tidak menyangka kalau Asher akan melakukan hal ini.
“ Sayang, apa kau benar benar yakin? Dari segi bisnis, proyek ini sama sekali tidak memiliki peluang besar untuk berhasil,” ucap Dita.
Asher tersenyum,” sayang aku yakin kalian akan berhasil, aku tahu ini juga mimpimu, sekaligus membantu anak anak yang menderita kanker dan penyakit ganas lainnya, tidak ada salahnya, masalah uang, kau tahu sendiri setebal apa dompet suamimu!” celetuk Asher .
“ Lagi pula, aku bisa menemukan banyak donatur, banyak rekan bisnis yang akan bergabung dalam proyek ini, mereka akan langsung mengikutiku!” ucap Asher dengan wajah yakin.
Dita tertawa,” kau benar benar narsis!”
Keduanya duduk di kursi dalam lorong rumah sakit itu. Tertawa satu sama lain, sama sekali tidak menunjukkan kalau mereka merupakan sepasang suami istri yang sangat sukses.
Siapa pun yang melihat mereka akan dibuat iri dengan kehadiran mereka.
“ Nyonya, tidak saya sangka kita bertemu di sini!!” Suara seorang perempuan membuat kedua orang itu berbalik.
Lyra berdiri di dekat mereka sambil menatap Dita dan Asher dengan wajah bahagia karena bertemu mereka lagi di tempat yang tidak terduga.
" Siapa?" tanya Dita dengan ragu seraya melirik suaminya yang juga bingung dengan kedatangan wanita itu.
"Ah.. maaf, kenalkan saya Lyra, perempuan yang kamu bantu di toilet kemarin malam," ucap Lyra sambil tersenyum.
"Wahh ternyata kamu, cantik sekali!! oh iya aku Dita!!" ucap Dita sambil menjabat tangan Lyra dengan wajah gembira.
"Senang bertemu denganmu lagi Dita, jas yang kamu berikan kemarin masih di penatu, aku akan memberikannya padamu jika kau ada waktu sore ini," ucap Lyra.
" Ahh tak apa, jangan sungkan, sedang apa di sini? Apa sedang sakit?” balas Dita dengan ramah sambil tersenyum dan berdiri menatap wanita itu.
Lyra tersenyum,” aku sedang membawa suamiku untuk kontrol kesehatannya, beberapa hari ini dia terlalu lelah, hanya pengecekan kesehatan berkala, kalian sendiri sedang apa di sini?” tanya Lyra sambil menatap Asher.
“ ahh iya sampai lupa, ini suamiku Lyra, Asher Roth” ucap Dita memperkenalkan Asher pada wanita itu.
"Kami sedang ada urusan pekerjaan di sini. " jelas Dita.
"Sayang dia perempuan yang ku bicarakan semalam, " jelas Dita pada suaminya.
"Saya mendengar cerita anda dari Dita, syukurlah anda baik baik saja," ucap Asher dengan ramah.
Lyra menatap mereka berdua yang memang sama sekali tidak mengenal dirinya sebagai istri dari Tuan Smith, calon kolega bisnis mereka.
“ Tuan Asher, sepertinya setelah ini kita akan sering bertemu!” ucap Lyra sambil menatap Asher dan Dita bergantian dengan senyuman ramah.
Dita dan Asher saling menatap dnegan wajah bingung,” apa maksudnya nona?” tanya Asher dan Dita dengan wajah heran.
.
.
.
Like, vote dan komen.