Loco

Loco
Chapter 10



Suasana di SMA Kirin sangat ramai karena seluruh penghuni sekolah sedang disibukkan dengan perlombaan yang diadakan untuk memeriahkan ulang tahun SMA Kirin. Dimulai dari perlombaan menghias kelas, dance, football, lari 100 meter, menyanyi dan memasak.


Yoona berpartisipasi untuk menghias kelas dan memasak bersama Taeyeon. Yuri dan juga Sehun menjadi pasangan dalam lomba dance, sedang Sooyoung yang memiliki kaki panjang berpartisipasi dalam lomba lari 100 meter.


Saat ini kebanyakan murid-murid sedang ramai berkumpul dilapangan olahraga untuk menonton pertandingan football. Donghae sebagai kapten tim dari kelas A menjadi sorotan semua orang. Diluar dugaan orang-orang, dibalik penampilannya yang cupu, Donghae ternyata sangat mahir bermain bola.


“Yoong, Taeng… Ayo kita menonton football. Pertandingannya sedang seru-serunya. Kita sudah masuk babak final melawan kelas B”, seru Sooyoung yang tiba-tiba masuk ke kelas A. Yoona dan Taeyeon sedang memeriksa hasil riasan kelas mereka ketika Sooyoung memanggil.


“aku tidak tertarik”, ujar Yoona malas.


“ayolah. Kita harus memberi semangat pada Donghae dan timnya”, ujar Sooyoung merengek sekaligus memaksa.


Melihat Yoona tetap sibuk memperbaiki letak vas bunga, dengan kesal Sooyoung langsung menarik lengan Yoona keluar dari kelas.


“YAK… AKU BILANG TIDAK MAU”


“kau itu harus memberi contoh yang baik sebagai ketua kelas”, balas Sooyoung atas teriakan Yoona.


Yoona terus memberontak lepas dari Sooyoung. Sedangkan Taeyeon hanya bisa menggeleng melihat tingkah keduanya. Walaupun begitu Taeyeon pun mengikuti keduanya keluar dari kelas.


Ketika sudah sampai dilapangan Yoona bisa mendengar teriakan penyemangat bagi tim-tim yang bermain. Yang tidak Yoona habis pikir adalah kenapa dominan teriakan bahkan jeritan dari para yeoja yang terdengar. Dan yang mereka teriakkan adalah nama Donghae dan Jonghyun – perwakilan dari kelas B yang juga merupakan ketua OSIS SMA Kirin.


“mereka sangat berisik”, komentar Yoona ketika akhirnya dia bisa mendapat tempat duduk di tribun paling atas. Sooyoung hanya mengangkat bahu acuh dengan komentar Yoona.


“WAW”, seruan keras langsung terdengar tiba-tiba. Yoona menatap ke arah lapangan dan menemukan sumber dari teriakan itu. Para kaum yeoja sedang berteriak histeris, bahagia, melihat Jonghyun yang melepas baju olahraganya.


Yoona cukup memaklumi hal itu. Tubuh Jonghyun memang bagus. Tapi entah mengapa Yoona biasa saja melihat itu. Sooyoung dan Taeyeon saja kini sudah ikut-ikutan berteriak disampingnya.


Yoona bisa melihat pertandingan yang sengit antara tim Donghae dan Jonghyun. Hingga hampir sejam berlalu hasilnya masih seri. Donghae dan teman-temannya terus berusaha membobol gawang tim Jonghyun, tapi pertahanan di belakang gawang sangat kuat.


“ku dengar Jonghyun menantang Donghae sesuatu”


Percakapan dari sebelah kirinya membuat Yoona penasaran. Disebelahnya berkumpul para gadis yang entah dari


kelas berapa. Yoona tidak hapal wajah-wajahnya.


“apa?”


“iya. Tadi Minki memberitahu ku jika Jonghyun yang menantang”


“apa taruhannya?”


“Jika kelas B menang, Jonghyun akan melakukan sesuatu dan Donghae harus setuju”


“Jonghyun ingin melakukan apa?”


“Minki tidak mau memberitahu ku. Katanya itu rahasia”


“ck… sayang sekali”


Yoona semakin menodongkan kepalanya ke arah gadis-gadis yang sedang membicarakan Donghae dan ketua OSIS itu. Yoona penasaran.


‘sebenarnya apa yang mereka taruhkan? Dan untuk apa Donghae ikut-ikutan hal seperti itu?’, batin Yoona.


“GOL”


Teriakan keras itu mengagetkan Yoona yang sedang melamun memikirkan kebodohan Donghae.


Orang-orang dibangku bawahnya berdiri senang membuat Yoona pun akhirnya ikut berdiri dan melihat hasilnya.


Yoona menatap papan score 3-2. Kelasnya kalah. Yang mencetak gol tadi adalah kelas B. Yoona bisa melihat teman-teman sekelasnya kecewa -Donghae dan timnya. Mereka terlihat letih dan juga kecewa.


Tapi Yoona dapat melihat Donghae yang menepuk-nepuk pundak temannya itu, tetap menyemangati.


“WAH”, lagi-lagi teriakan para kaum yeoja. Kali ini Donghae yang menjadi penyebab keributan itu. Teman-temannya menjahili Donghae dengan melepas kaus olahraga pria itu.


Terikan kali ini jauh lebih keras dibanding ketika Jonghyun yang melepas kaus olahraganya tadi. Semua tampak terpana dengan bentuk dada Donghae. Six pack diperut Donghae membuat orang-orang terkagum-kagum.


Tak terkecuali Yoona. Sebelumnya memang dia sudah melihat dada pria itu. Tapi saat itu dadanya masih tertutup


kaus yang basah. Namun kali ini benar-benar Yoona tidak bisa mengalihkan matanya dari Donghae. Bahkan dia tidak menyadari jika dia sudah menganga dengan mata membulat.


“Yoona… air liur mu menetes”, ujar Sooyoung. Dengan polosnya Yoona mengusap sudut bibirnya namun tetap menatap Donghae. Setelah itu Yoona bisa mendengar tawa Sooyoung dan Taeyeon. Yoona pun tersadar dengan kebodohannya.


‘sial’, maki Yoona.


“ternyata si tuan putri sudah jatuh ke tangan budaknya”, goda Sooyoung.


“apa yang sedang kau bicarakan? Aku tidak mengerti”, balas Yoona pura-pura tidak mengerti. Namun Sooyoung dan Taeyeon tetap saja terus mentertawakannya. Karena kesal akhirnya Yoona pun pergi.


“Yak… kau mau kemana?”, ujar Taeyeon.


“tentu saja ingin melihat pertandingan dance Yuri dan Sehun”, balas Yoona dengan nada kesal.


“ck… anak itu benar-benar keras kepala”, ucap Taeyeon sambil menatap kepergian Yoona.


“sudahlah. Nanti juga dia akan sadar sendiri. Kita biarkan saja”, nasehat Sooyoung sambil menepuk-nepuk pundak


Taeyeon.


)))))(((((


Yoona mencari-cari keberadaan Yuri dan Sehun di aula – tempat dilaksanakannya pertandingan dance. Tapi sepanjang matanya memandang dia tidak menemukan keduanya. Dia pun akhirnya menghampiri teman sekelasnya yang sebelumnya sudah berada disana.


“dimana Yuri dan Sehun?”, tanya Yoona.


“Yoona bagaimana ini?”, ujar salah satu dari teman sekelasnya itu. Mereka terlihat panik.


“ada apa?”


“Yuri tadi mendapat kabar jika neneknya sakit dan dia pun segera pulang”


“apa? Lalu dimana Sehun?”


“kau tidak tahu jika Sehun hari ini tidak masuk sekolah?”


Yoona langsung memijat-mijat keningnya. Dia pusing karena ketidakhadiran Yuri dan Sehun. Bisa dipastikan kelas mereka akan kalah lagi. Tadi sudah kalah saat pertandingan football. Sekarang kalah lagi karena ketidakhadiran Yuri dan Sehun.


Yoona sebagai ketua kelas merasa harus bertanggungjawab untuk mengharumkan nama kelasnya. Dia tidak bisa berdiam diri saja menerima begitu saja kelasnya kalah hampir disemua pertandingan. Walaupun baginya itu tidak penting untuk meningkatkan nilainya, tapi tetap saja harga dirinya sebagai ketua kelas A dipertaruhkan juga.


“biar aku saja yang menggantikan Yuri. Tolong beritahu panitia jika perwakilan kelas kita diganti”, ujar Yoona pada


teman sekelasnya.


“baiklah. Tapi Yoona yang menjadi pasangan mu siapa?”


“pasangan?”, kaget Yoona. Dia melupakan yang satu itu.


“iya. Dancenya kan harus berpasangan”


“sial”, umpat Yoona pelan. Dia menggarut kepalanya kesal. Namun tiba-tiba matanya bertemu dengan segerombolan namja yang baru memasuki aula. Yoona pun mendesah pasrah. Dia harus memilih salah satu dari pria-pria itu.


“tambahkan saja namanya”, ucap Yoona sambil menunjuk salah satu dari gerombolan pria itu.


Setelah itu Yoona langsung menghampiri gerombolan itu dan menarik lengan pria yang tadi ditunjuknya menjadi


pasangannya.


“Yoona… apa yang kau lakukan?”, tanya Donghae yang masih ditarik oleh Yoona menuju gedung laboratorium.


“kau diam saja. Kau ikuti saja perintahku”, ucap Yoona kesal dengan langkah yang lebar. Mereka tidak memiliki


waktu lagi.


“ada apa sebenarnya?”, tanya Donghae setelah mereka sampai di atap gedung. Yoona pun sudah melepas lengannya.


“Sehun tidak masuk sekolah dan Yuri tadi pulang karena neneknya tiba-tiba sakit”


“lalu?”


“ck… kau ini benar-benar bodoh ya”, ujar Yoona dengan kesal. Donghae pun langsung terdiam.


“kita harus menggantikan mereka”


“apa? Tapi… tapi aku tidak bisa menari”


“kau harus bisa. Sudah jangan banyak tanya. Waktu kita hanya 30 menit untuk menghapal gerakannya”, ucap Yoona tidak ingin dibantah lagi.


Yoona mengutak-atik ponsel miliknya, memperlihatkan rekaman Yuri dan Sehun ketika latihan dikelas beberapa hari yang lalu.


“ayo kita mulai”, ujar Yoona ketika mereka sudah menonton video itu berulang kali.


Awalnya memang Donghae terlihat sangat kaku. Namun karena Yoona terus memaksa pria itu agar lebih lugas dalam menggerakkan tubuhnya, akhirnya pria itu mulai terbiasa.


Yoona dan Donghae kini sedang duduk bersandar di tembok. Keduanya terengah-engah. Keringat bercucuran. Mereka sudah berlatih dengan keras berulang kali.


Memang tidak bisa diragukan keduanya dianugerahkan otak yang cerdas dan mampu menghapal dengan cepat.


“kita harus segera ke aula. Pertandingannya akan segera dimulai”, ujar Yoona. Donghae pun mengangguk. Namun ketika Donghae sudah berdiri, Yoona masih tetap duduk. Gadis itu memijat-mijat kakinya.


Donghae pun berinisiatif mengulurkan tangannya, membantu Yoona berdiri. Yoona menatap uluran tangan Donghae. Ketika dia sedikit mendongakkan kepalanya, matanya bertemu dengan mata teduh Donghae.


Deg


Lagi-lagi perasaan aneh itu menyerang dada Yoona. Tapi seolah tidak ingin semakin larut dalam buaian mata teduh itu, Yoona langsung mengulurkan tangannya. Namun bukannya menerima bantuan Donghae, Yoona justru memukul telapak tangan Donghae sehingga menjauh dari hadapannya.


“ayo”, ajak Yoona begitu saja meninggalkan Donghae dibelakangnya.


‘attitude yang buruk’, batin Donghae.


“Lee Donghae cepat”, teriak Yoona tiba-tiba. Donghae pun lagi-lagi tersadar dia berbicara dalam hati lagi tadi.


)))))(((((


Seluruh murid SMA Kirin kini sedang terkagum-kagum dengan penampilan dance dari kelas A yang tidak lain adalah penampilan Yoona dan Donghae. Gerakan keduanya begitu lugas dan harmonis.


Tidak ada yang menyangka kedua murid tercerdas di SMA Kirin itu juga memiliki bakat menari.


Yoona sedang melakukan gerakan memutar mengelilingi Donghae - terlihat seperti menggoda. Namun ketika Donghae ingin meraih Yoona, gadis itu justru berlari. Donghae pun terlihat seperti menyerah. Namun tiba-tiba Yoona berlari kearahnya, melompat sekaligus memeluk leher Donghae. Dengan sigap Donghae menangkap gadis itu hingga ke duanya berputar-putar.


romantis.


Musik pun berhenti. Terdengar tepuk tangan dari semua penonton dan juga juri yakni Baek songsaengnim. Sedangkan Yoona dan Donghae masih bertahan dalam posisinya saling berpelukan. Napas keduanya masih terengah-engah.


Berlahan Donghae melepas pelukannya ketika matanya bertemu dengan mata Jonghyun yang menatap mereka tidak suka.


“penampilan yang luar biasa. Berikan tepuk tangan lagi untuk pasangan ini”, ucap MC membuat penonton kembali riuh.


Yoona dan Donghae pun menunduk hormat sebagai ucapan terima kasih. Setelah itu mereka turun dari panggung. Namun ketika sudah dibelakang panggung, Yoona langsung menjauh dari Donghae. Dia merasa ada yang tidak beres dengan tubuhnya.


Ketika disekitarnya terlihat sepi, Yoona memeriksa roknya yang ternyata terdapat bercak darah. Dia lupa jika minggu ini adalah masa-masa menstruasinya. Dia tidak memiliki persiapan.


“sial. Bagaimana ini?”, panik Yoona sambil menutupi roknya yang terdapat bercak merah. Ditambah perut yang keram dan pinggangnya mulai terasa sakit.


Yoona harus segera ke UKS sebelum orang-orang menyadari kondisinya. Baginya itu sangat memalukan. Namun kesialan kembali menimpanya. Donghae justru mendatanginya dengan wajah khawatir.


“sial. Kenapa dia mengikutiku”, gumam Yoona.


“Yoona… kau kenapa?”


“tidak apa-apa. Pergilah. Aku ingin sendiri sekarang. Jangan mengganggu ku”


“tapi wajahmu terlihat pucat. Kau sakit?”, seolah tuli, Donghae justru semakin terlihat khawatir. Yoona pun semakin kesulitan untuk menjawab.


“ti-tidak. Aku baik-baik saja”, balas Yoona berusaha menjawab ketus seperti biasanya.


Donghae terlihat tidak langsung percaya. Dia mengamati gerak-gerik Yoona dan juga tangan Yoona yang terus berada dibelakang seperti menyembunyikan sesuatu.


Karena penasaraan Donghae mendekat, namun anehnya Yoona terus menghindar. Tidak membiarkan Donghae mengetahui apa yang disembunyikannya.


Tidak tahu keberanian dari mana, Donghae langsung menarik lengan Yoona cukup keras sehingga tubuh Yoona langsung berbalik. Terlihatlah sudah apa yang Yoona sembunyikan.


Donghae langsung terdiam melihat bercak merah itu menempel dirok Yoona. Sedangkan Yoona sudah menunduk malu, langsung menghadap Donghae lagi.


Seperti tersengat sesuatu, Yoona terlonjak kaget ketika lengan Donghae mendekapnya dari belakang. Dia melihat Donghae yang sedang mengikatkan kemejanya – kostum dance pria itu tadi, kini sudah berada di pinggang Yoona.


“kita ke UKS”


Suatu respon yang tidak terduga ketika Donghae mengatakan itu, seolah pria itu tidak merasa malu atau tidak memilih untuk pergi menjauh. Pria itu mengkhawatirkannya.


Ketika Donghae mencoba membantu Yoona berjalan, gadis itu justru mengaduh kesakitan. Sungguh Yoona tidak sedang mencuri kesempatan untuk bermanja-manja pada Donghae. Tapi perutnya benar-benar sangat sakit. Gadis itu bahkan merasa ingin mati saja karena tidak sanggup menahan sakitnya.


“kenapa?”, tanya Donghae.


“perutku keram, sangat sakit”


Donghae pun hanya bisa menghembuskan napas. Dia tidak bisa membiarkan Yoona terlalu lama menahan sakitnya.


“maafkan aku”


Setelah mengucapkan kata maaf itu, Donghae langsung membopong tubuh Yoona.


“yak… apa yang kau lakukan? Turunkan aku”, ujar Yoona panik jika saja ada yang lewat dan melihat mereka.


“aku kan sudah minta maaf. Kau harus segera ke UKS”, ujar Donghae dengan sedikit berlari, dia keluar dari pintu


belakang aula.


Keluar dari aula, dengan mengendap-endap Donghae membopong Yoona menuju UKS. Sedangkan gadis itu lebih


memilih untuk menyembunyikan wajahnya di dada bidang Donghae. Jika ada yang melihat mereka, setidaknya dia tidak perlu memperlihatkan wajahnya, Yoona sudah pasrah. Wangi tubuh Donghae juga cukup menenangkannya dari kepanikan.


Yoona merasakan Donghae meletakkannya di tempat yang cukup empuk. Yoona pun baru menyadari mereka sudah sampai di ruang UKS. Wangi tubuh Donghae memang sangat bisa membuatnya melupakan semuanya.


Donghae terdiam sesaat mengamati Yoona yang masih menunduk malu.


“sebentar”, ujar Donghae, lalu mencari orang yang bertugas di UKS. Tapi beberapa menit Donghae sudah kembali lagi.


“sepertinya tidak ada yang berjaga di UKS”, ucap Donghae.


“ya sudah. Aku bisa mengurusnya sendiri. Kau kembali saja ke aula”, balas Yoona masih dengan harga dirinya yang setinggi gunung Everest.


Donghae terdiam lagi sambil menatap Yoona. Sedangkan yang ditatap langsung menunduk.


‘*t*idak bisakah dia pergi saja? Ini benar-benar sangat memalukan’, batin Yoona.


“yang kau perlukan hanya pakaian ganti, dalaman dan juga apa itu namanya… pembalut?”, ujar Donghae tidak yakin dengan kata-katanya yang terakhir.


Yoona langsung mendongak dan menatap Donghae tidak percaya. Dia tidak menyangka Donghae bisa mengatakan semua benda-benda keramat itu pada seorang yeoja.


Ketika Yoona ingin membalas, untuk mengatakan Donghae sudah terlalu gila, Donghae sudah melangkah membuka lemari-lemari yang ada disana. Mencari benda-benda yang dikatakannya tadi.


Yoona mengulurkan tangannya untuk mencegah atau apalah yang bisa menghentikan Donghae. Pria itu benar-benar ingin membuatnya mati karena rasa malu yang sudah tidak terbendung lagi. Tapi perutnya kembali berulah. Sakit itu lagi-lagi menggerogotinya. Dia pun tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Dia pun memilih membaringkan tubuhnya.


“ini”, ucapan itu langsung menyadarkan Yoona yang sempat memejamkan matanya.


Dengan dibantu oleh Donghae, Yoona pun kembali duduk. Dia menatap disampingnya sudah terdapat benda-benda yang dikatakan pria itu tadi.


Yoona melihat pakaian dalam dan sebungkus pembalut, juga celana training disana.


“celana trainingnya untuk masih ada tersisa satu lagi”, ucap Donghae dengan polosnya. Dia tidak juga sadar jika


Yoona kini sedang menahan rasa malunya.


“a-aku akan menggantinya”, ucap Yoona terbata. Dia pun berdiri tanpa mau sedikitpun menatap Donghae. Wajahnya pasti sudah semerah tomat.


“aku bisa sendiri”, tolak Yoona ketika Donghae berniat untuk memapahnya menuju toilet yang terdapat di dalam UKS itu.


“baiklah”, ucap Donghae. Dia memilih untuk membuatkan teh hangat sembari menunggu Yoona selesai dari toilet


Sedangkan Yoona di dalam toilet sedang menatap pakaian dalam yang Donghae berikan tadi. Keningnya mengerut dan tangannya gemetar sambil membentangkan pakaian dalam itu.


“bagaimana dia tahu ukuran ku?”, gumam Yoona dengan wajah yang semakin memerah, malu. Dia merasa horor menatap pakaian dalam berwarna merah muda itu.


Mengingat dirinya sudah terlanjur begitu malu, dia hanya bisa menerima kebaikan pria itu saja tanpa bisa berkomentar lagi. Donghae benar-benar luar bisa. Mampu membuatnya tidak bisa berkutik seperti ini.


Selesai mengganti pakaiannya, Yoona keluar dari toilet sambil membawa pakaian kotornya yang sudah digulung rapi. Dia berjalan dengan menunduk malu.


“ini ku buatkan teh untukmu”


Yoona menerima uluran teh itu dengan masih tidak ingin menatap Donghae.


“kata adik sepupu ku minuman hangat bisa meredakan sedikit keram pada perut”, tambah Donghae.


“mmm”, hanya itu jawaban dari Yoona. Sedikitnya respon dari Yoona tadi akhirnya menyadarkan Donghae dengan


kecanggungan dan malu yang Yoona rasakan.


'apa aku sudah bertindak terlalu berlebihan?', pikir Donghae.


“ne”, respon Yoona terlalu cepat sehingga tidak bisa mengendalikan mulutnya.


Donghae yang kaget langsung menatap Yoona dan gadis itu pun menatapnya dengan mata membulat kaget dengan ucapannya sendiri.


Yoona gugup dan sulit untuk mengatur debar jantungnya. Melihat tatapan Donghae padanya sudah bisa dipastikan jika pria itu mulai menyadari kemampuannya.


‘sial. Bagaimana ini?’, batin Yoona panik.


Yoona terlonjak kaget ketika Donghae meletakkan telapak tangannya di kedua bahunya. Yoona mendongak untuk menatap pria itu. Donghae menampilkan wajah datar saja. Setelah itu Yoona bisa merasakan tubuhnya didorong hingga terbaring di tempat tidur.


Mata Yoona berkedip-kedip semakin panik. Pasalnya bukan hanya membaringkannya di atas tempat tidur, tapi wajah Donghae tetap juga berada diatasnya, menatapnya intens. Yoona bisa rasakan debaran jantungnya semakin tidak terkendali.


Yoona pun memejamkan matanya berlahan ketika Donghae semakin menundukkan kepalanya. Dia sudah merelakan ciuman pertamanya pada Donghae.


‘apalah arti sebuah ciuman pertama’


Begitulah pemikiran Yoona pada awalnya hingga dia bisa merasakan kepalanya terangkat dan sesuatu ditarik dari bawah kepalanya. Yoona pun dengan cepat membuka matanya.


Kini yang dilihatnya adalah Donghae yang sedang membentangkan selimut tipis menutupi kaki hingga perutnya.


“aku akan kembali ke aula. Kau istirahat saja”, ucap Donghae dengan senyum lembut. Setelah itu Donghae meninggalkan Yoona sendirian saja di ruangan serba putih itu.


Yoona masih terdiam, berbaring sambil menatap langit-langit ruangan itu. Matanya terbuka tanpa berkedip dalam


beberapa detik.


“HAH”, Yoona langsung menghembuskan napas dengan keras. Dia baru sadar jika dia menahan napas beberapa detik yang lalu.


“michyeosseo[24]… michyeosseo Im Yoona”


Yoona memukul-mukul kepalanya cukup keras. Agar pikiran aneh, bodoh, kotornya segera hilang. Dia tidak habis pikir bagaimana dia bisa berpikir Donghae akan menciumnya dan yang paling parah adalah dia yang dengan ikhlas mempersilakan Donghae mengambil ciuman pertamanya.


“apa tadi aku terlihat seperti berharap agar dicium?”


“hahaha… itu tidak mungkin”


Yoona terus bermonolog sendiri, hingga dia mengingat jika dia tadi memejamkan matanya ketika Donghae menunduk mengambil selimut dari atas kepalanya.


“AHHHH… AKU BENAR-BENAR SUDAH GILA”, raung Yoona menangis atas kebodohannya sendiri. Setelah ini dia tidak tahu lagi harus bagaimana dihadapan Donghae.


Yoona tidak bisa menghindari pria itu karena dia masih memiliki perjanjian dengan Kangin untuk memperlihatkan Donghae dengan kekasihnya. Dia tidak bisa menarik kata-katanya lagi.


“tapi tunggu dulu”, ujar Yoona tiba-tiba mulai mencurigai sesuatu.


“dia tidak sedang mempermainkan ku kan?”, curiga Yoona pada Donghae.


“bagaimana pun dia seorang pria dan tidak mungkin dia tidak mengerti dengan situasi seperti tadi”


“AHHH… DONGHAE SIALAN”, maki Yoona sambil menjambak rambutnya. Dia kembali meraung sedih dengan kebodohannya hari ini.


)))))(((((


[24] Gila


bersambung...