
Im Yoona 10 Tahun Yang Lalu
Im Yoona yang sudah berusia 6 tahun akhirnya mulai masuk sekolah. Layaknya anak yang baru masuk sekolah, tentu sangat ingin diantarkan oleh orangtuanya ke sekolah. Namun itu hanyalah harapannya saja. Yoona tahu orangtuanya tidak akan ada waktu untuknya.
Yoona adalah putri semata wayang dari Im Seulong dan Jho Hyo Eun. Pasangan yang berprofesi sebagai jaksa dan pengacara itu sangat terkenal di dunia perpolitikan maupun di masyarakat. Bagi orang yang melihat keluarga itu pasti merasa iri.
Namun tidak ada orang yang tahu jika seorang gadis kecil menjadi korban kepopuleran orangtuanya itu. Yoona awalnya selalu menagis jika ibunya tidak pulang ke rumah. Dia memang sangat manja.
Tapi berlahan-lahan dia mulai terbiasa seorang diri dirumah. Hingga hari pertamanya masuk sekolah pun, Yoona hanya diantara seorang supir. Kasihan sekali.
Setelah supir keluarganya itu mengantarnya ke kelas, Yoona langsung duduk di bangku yang kosong. Sudah banyak murid-murid dikelas itu dan tentunya masih didampingi orangtuanya. Hanya ada beberapa anak yang tanpa orangtua namun asyik bermain dengan murid yang lain.
Yoona bukan anak yang mudah bergaul dengan orang lain atau orang yang baru dikenalnya. Karena itu dia hanya diam saja menatap sekitarnya. Dia juga iri pada murid yang masih bersama orang tuanya dikelas itu.
Mata Yoona sudah berkaca-kaca. Dia ingin menangis karena tidak ada yang mau menemaninya. Namun karena malu dilihat orang lain menangis, Yoona pun melipat tangannya di meja dan menyembunyikan wajah sedihnya disana.
Dikelas yang diisi oleh 25 anak-anak itu, tidak seorang pun yang menyadari jika ada seorang anak yang menangis diam-diam karena merasakan kesepian, tidak mengenal siapapun di ruangan itu.
Hari pertama Yoona terkesan biasa saja. Tidak ada yang istimewa. Dia hanya mengikuti pelajaran dengan baik dan tidak berbicara dengan siapa pun. Beberapa teman sekelasnya memang mencoba mengajaknya bicara. Tapi karena Yoona merasa tidak mengenal mereka, jadilah Yoona diam saja.
Ketika seorang guru mengajarkan cara menulis, Yoona dengan mudah menuliskan kata-kata yang diucapkan gurunya. Guru-guru yang masuk dihari pertama Yoona sekolah memuji kepintaran Yoona.
Banyak teman sekelasnya yang memujinya namun ada juga yang menatapnya tidak suka karena Yoona yang tidak ramah sama sekali.
Hingga waktu pulang sekolah, lagi-lagi teman-teman sekelasnya dijemput orangtuanya. Dirinya pun sebenarnya dijemput, tapi lagi-lagi oleh supir yang memang bertugas mengantar jemputnya ke sekolah.
Yoona keluar kelas sambil menunduk. Dia tidak ingin melihat pemandangan disekitarnya. Dia iri tapi tidak bisa berbuat apapun.
“agassi”, pangil seorang pria. Yoona pun mendongak lalu membalas dengan senyum kecil pada supirnya itu. Lalu segera masuk ke dalam mobil.
Tidak ingin memikirkan apapun, Yoona memutuskan untuk tidur saja. Berharap segera sampai dirumah.
)))))(((((
Yoona mengurung diri dikamar setibanya dirumah. Dia hanya bermain-main dengan boneka pemberian orangtuanya bulan lalu ketika ulangtahunnya.
Namun tiba-tiba dia mendengar suara mobil. Dengan perasaan senang Yoona langsung melompat dari atas tempat tidurnya. Dia berlari keluar kamar. Dia sangat berharap jika yang datang itu adalah ibunya. Dan benar saja yang datang adalah ibunya. Yoona langsung berseru riang.
“OMMA”, teriak Yoona dengan riang. Dia berlari menuju ibunya yang baru memasuki ruang tamu. Dia memeluk wanita itu dengan erat.
Jho Hyo Eun pun membalas pelukan putrinya itu. Dia juga sangat merindukan putri kecilnya yang sudah ditinggal beberapa hari ini karena urusan pekerjaan.
“kau sudah makan?”
“sudah”
“baguslah. Pergilah bermain dikamar mu”, ucap wanita itu yang langsung membuat Yoona terdiam. Yoona ingin protes tapi tiba-tiba ponsel ibunya berbunyi.
Yoona bisa melihat ibunya yang langsung serius berbicara dengan orang yang menelepon ibunya itu. Bibirnya bahkan sudah mengerucut karena ibunya mulai mengabaikannya.
“omma… tadi disekolah aku…”
“nanti dulu ya sayang. Kau bermain dulu dikamarmu”, wanita itu langsung memotong ucapan Yoona dan langsung pergi lagi dari rumah.
Yoona menatap kepergian ibunya itu dengan mata berkaca-kaca. Padahal dia ingin menceritakan hari pertama sekolah tadi. Tapi ibunya sudah sibuk lagi dengan pekerjaannya.
Berlahan air mata jatuh satu per satu membasahi pipi gadis mungil itu. Yoona pun berbalik dan berlari menuju kamarnya. Namun dia melihat supir dan pelayan rumahnya sedang menatapnya dengan tatapan kasihan, dia tidak suka. Dengan perasaan marah Yoona langsung menghapus air matanya dan berlari ke kamarnya.
Didalam kamar, Yoona puas menangis tanpa harus menyembunyikan air matanya lagi. Dia sangat sedih karena kedua orangtuanya tidak pernah peduli padanya. Dia juga ingin seperti teman-teman sekelasnya.
“agassi… ayo makan”, ujar seorang pelayan sambil mengetuk-ngetuk pintu kamar gadis mungil itu.
“AKU TIDAK LAPAR. PERGI”, teriak Yoona dengan suara cemprengnya karena masih menangis. Dia tidak peduli dengan sopan santun lagi. Dia hanya ingin dikamar saja. Dia tidak ingin bertemu dengan siapa pun. Bahkan ibunya sekalipun.
Setelah puas menangis, Yoona merasa bosan. Akhirnya gadis itu beranjak ke rak bukunya. Mengambil salah satu buku yang sekiranya bisa menghilangkan rasa bosannya.
Setelah memilih secara asal, Yoona membuka satu persatu lebar buku bergambar itu. Buku yang sedang dibacanya adalah dongeng terjemahan dari negara tirai bamboo – China.
Sesekali Yoona mengerutkan keningnya berpikir keras dengan penjelasan dari gambar-gambar yang dilihatnya. Hingga buku itu selesai dibacanya, dia masih mengerutkan kening. Dia memikirkan isi ceritanya.
Walaupun tidak mengerti seluruhnya, tapi Yoona tertarik dengan satu hal. Dibuku cerita itu ada seorang anak yang selalu teraniaya karena keluarga tirinya. Dia selalu merasa kesepian karena dikurung dirumah dan saudara-saudara tirinya tidak mau berteman dengannya.
Suatu saat anak yang teraniaya itu berdoa, semoga ketika dia bisa keluar dari rumah itu, dia menemukan teman sebanyak-banyaknya agar dia tidak sendirian lagi. Dan doa anak itu terkabulkan. Dia bisa kabur dari rumah itu. Dia berlari ke arah hutan lebat. Banyak binatang buas yang mengincarnya. Namun ajaibnya beberapa binatang buas itu mulai mengeluarkan suara dan berbicara dengannya. Ternyata binatang-binatang buas itu baik. Akhirnya anak kecil itu pun tinggal selamanya dengan binatang-binatang dihutan itu. Binatang-binatang buas namun sangat baik padanya.
“kenapa dia mau bertemen dengan harimau?”, pikir Yoona. Karena sepengetahuannya harimau yang pernah dilihatnya di kebun binatang sangat besar dan menakutkan. Sesekali dia menggerak-gerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri sambil mengamati gambar sampul buku itu. Kemudian dia kembali membuka beberapa halaman. Hingga dia menemukan gambar anak perempuan dalam dongeng itu sedang berlutut dan berdoa.
“apa jika aku juga berdoa, doa ku akan menjadi kenyataan?”, gumam Yoona dengan polosnya. Dia tidak tahu jika yang dibacanya adalah sebuah dongeng.
Yoona pun menekuk kakinya ke belakang, menegakkan dadanya. Dia menirukan posisi berdoa seperti yang dilakukan anak dibuku itu. Merasa sudah mirip, Yoona pun mendongak ke atas, menatap langit-langit kamarnya.
Namun hingga beberapa menit, Yoona tidak juga mengucapkan doa atau permohonan apa-apa. Namun yang terjadi air mata gadis kecil itu berlahan menetes. Dia kembali merasa sedih. Dia juga tidak tahu harus meminta apa.
“a-aku… aku ingin punya teman untuk selamanya”, setelah mengatakan permintaannya itu, Yoona langsung melempar dirinya ke belakang dan menyembunyikan tangisnya. Dia tidak peduli dengan permintaan bodohnya itu apakah sudah diucapkannya dengan benar.
)))))(((((
Dibelahan dunia yang lain, sedang terjadi kehebohan karena sudah keluarnya nama-nama yang lulus untuk kenaikan level para penyihir junior.
Ada yang bersorak riang karena kelulusannya dan ada juga yang langsung menunduk malu karena lagi-lagi gagal.
Kenaikan level sihir memang tidaklah mudah. Namun jika terjadi puluhan kali, mungkin bagi penyihir yang lain tidaklah wajar.
Tiba-tiba keriuhan itu langsung tenang ketika kehadiran kepala penyihir. Lax – begitulah mereka menyebutnya. Penyihir tua yang memimpin akademi penyihir.
Semua penyihir yang ada disana langsung menunduk hormat. Tidak ada yang berani menegakkan kepalanya karena takut. Wajah marah terlihat jelas dari wajah Lax. Sepertinya sedang terjadi sesuatu diluar akademi.
Lax masuk ke dalam ruangannya diikuti oleh Grass - wakil asistennya. Dia langsung duduk dikursi kebesarannya sambil memijat-mijat keningnya. Hal ini terjadi karena dewa sedang melimpahkannya tugas yang tidak wajar padanya.
Dewa memerintah Lax untuk mewujudkan doa seorang anak kecil di bumi. Tentu mewujudkan keinginan bukan hal yang sulit bagi seorang penyihir hebat sepertinya. Hanya saja, dia harus mewujudkan keinginan seorang manusia. Perlu ditegaskan, manusia.
Dalam aturan, penyihir tidak boleh hidup berdampingan dengan manusia. Walaupun wujud penyihir seperti manusia, tapi memang sejak dulu penyihir dan manusia tidak pernah hidup berdampingan, dan yang memberikan peraturan itu adalah dewa.
Tapi entah apa yang sedang Dewa pikirkan sampai melimpahkan urusan manusia kepada penyihir. Yang biasanya berurusan dengan manusia adalah para malaikat. Tapi Lax tidak bisa menolak inginan Dewa.
Lax memijat keningnya dan sesekali dia menghembuskan napas berat.
“ada apa Lax?”, tanya Grass. Lax pun mencerita semua permintaan dari Dewa itu. Permintaan yang tidak masuk akal.
“jadi apa yang akan kau lakukan sekarang?”, tanya Grass setelah mendengar semua masalah yang membuat Lax pusing.
“aku belum tahu. Biar aku pikirkan nanti saja. Masih ada waktu”, jawab Lax.
“jadi bagaimana ujian kali ini?”, tanya Lax.
“jauh lebih baik. Tapi ada saja yang tidak lulus lagi”, ujar Grass sambil membuka telapak tangannya hingga muncul sebuah gulungan kertas. Grass pun memberi gulungan kertas itu sebagai laporan.
Lax menerima gulungan itu dan langsung menganalisis hasil kelulusan para penyihir junior. Namun matanya langsung membesar ketika melihat nama-nama penyihir yang tidak lulus ujian.
“mereka tidak lulus lagi?”, tanya Lax tidak percaya.
“ya begitulah. Aku juga tidak mengerti dengan mereka. Ada saja kesalahannya”, ujar Grass.
“apa lagi yang harus ku lakukan untuk bisa membuat mereka lulus?”, keluh Lax pada tiga nama yang tidak juga lulus kenaikan level. Padahal mereka sudah mengulang ujian puluhan kali.
“menghadapi mereka lebih sulit dibandingkan menghadapi manusia”, keluh Lax lagi. Namun tiba-tiba dia mendapat pencerahan.
“Grass… panggilkan mereka bertiga”, perintah Lax. Walaupun tidak mengerti apa tujuan Lax, Grass tetap melakukan perintah Lax.
Tubuh Grass langsung berubah menjadi seekor serangga dan terbang, keluar dari ruangan Lax. Grass adalah penyihir yang bisa berubah wujud menjadi hewan apapun.
Hanya beberapa menit, Grass sudah kembali membawa tiga penyihir yang Lax maksud.
“Grass… keluarlah. Aku perlu bicara secara khusus dengan mereka”, perintah Lax lagi, Grass patuh dan langsung keluar.
“jadi kalian tidak lulus lagi?”, tanya Lax dengan nada dingin. Ketiga penyihir didepannya langsung menunduk ketakutan.
“harus mengulang ujian berapa kali lagi agar kalian bisa lulus? Kalian tidak malu? Usia kalian sudah hampir 100 tahun. Penyihir seusia kalian bahkan sudah dilevel master. Tapi kalian bertiga lulus dari level junior pun tidak juga bisa”, marah Lax. Ketiga penyihir itu semakin menunduk.
“apa lagi kesalahan kalian kali ini?”, tanya Lax, mereka masih terdiam.
“kalian benar-benar ingin dimusnahkan oleh Dewa?”, tanya Lax yang langsung membuat ketiganya panik.
“Lax… maafkan kami. Beri kami satu kali lagi kesempatan. Kali ini kami pasti lulus”
“Lax… kami mohon”
Lax masih tidak menjawab, penyihir tua itu masih terlihat berpikir. Hingga kemudian dia mengangguk.
“baiklah”, jawab Lax. Ketiga penyihir itu pun langsung mengucapkan terima kasih. Namun Lax langsung melanjutkan perkataannya.
“tapi kali ini kalian tidak perlu ujian lagi. Tapi aku akan memberikan tugas kepada kalian”
“tugas?”
“ya. Dan aku memberi waktu 10 tahun untuk kalian menyelesaikannya”
Ketiganya langsung berseru senang. Lax benar-benar memberi mereka keringanan. Diberikan tugas bukan ujian, ditambah lagi diberi waktu yang sangat lama untuk menyelesaikan tugas itu. Mereka memang sangat beruntung. Begitulah yang mereka pikirkan.
“jadi kalian siap dengan tugas yang akan ku berikan”
“Ya. Kami siap”, ujar mereka bersamaan.
“baiklah”, ucap Lax. Penyihir tua itu terdiam sesaat, menatap tiga penyihir wanita didepannya. Hanya bisa melafalkan doa, semoga keputusannya tidak salah.
“Sooyoung”
“ne”
“Yuri”
“ne”
“dan Taeyeon”
“ne”
“persiapkan diri kalian, karena kalian akan segera dilemparkan ke bumi untuk mengabulkan doa seorang gadis kecil”
)))))(((((
Sudah sebulan berlalu sejak Yoona masuk sekolah. Sama seperti ketika hari pertamanya, sebulan pun tidak ada perubahan dari rutinitasnya yang selalu diantar jemput supir. Namun hari ini hal ajaib terjadi. Ibunya akan menjemputnya pulang sekolah.
“Yoona… apa benar kali ini ibu mu akan menjemput mu?”, tanya gadis berambut panjang didepan mejanya.
Yoona memang menceritakan jika hari ini ibunya akan menjemputnya pulang. Tentu Yoona merasa sangat bahagia. Akhirnya dia bisa memamerkan pada teman-teman sekelasnya, jika orangtuanya juga bisa menjemputnya disekolah.
“ne”, balas Yoona bersemangat, sudah terlihat sangat tidak sabar untuk segera pulang dan memperlihatkan ibunya pada teman-temannya.
“baguslah. Tapi kata omma ku, omma mu sangat sibuk sehingga tidak bisa menjemputmu. Apakah benar?”
Yoona ditanyai lagi oleh teman sekelasnya yang lain. Yoona merasa teman-temannya itu tidak percaya dengan perkataannya tadi pagi jika ibunya akan menjemputnya. Yoona tidak mungkin berbohong karena ibunya yang secara langsung mengatakan melalui telepon semalam.
Namun yang terjadi memang diluar dugaannya. Hingga sekolah sepi, ibunya tidak juga muncul. Teman-temannya yang ikut-ikutan menunggu pun mulai bosan.
“kau tidak sedang berbohongkan?”, curiga salah satu dari mereka.
“tidak. Omma sudah berjanji semalam akan menjemputku”, balas Yoona.
“tapi mana?”
“itu… itu… omma pasti menjemputku”, gumam Yoona sambil menunduk. Dia juga mulai berpikir jika ibunya lupa menjemputnya atau ibunya yang berbohong padanya semalam.
“aku pulang saja. Kau memang pembohong Im Yoona”, ujar gadis yang duduk didepan mejanya itu. Yang lain pun ikut pergi satu persatu sambil mengatakan Yoona pembohong.
“tidak… aku… aku bukan pembohong. Omma sudah berjanji akan menjemputku hari ini”, guman Yoona sambil menghapus air matanya. Dia terus menatap gerbang sekolahnya, masih mengharapkan kehadirian ibunya. Namun hingga 30 menit kemudian tidak ada seorang pun yang menjemputnya.
Yoona pun duduk ditanah, mengabaikan jika seragam sekolahnya akan kotor. Dia menangis tersedu-sedu didepan gerbang sekolah.
“kenapa kau menangis?”
Pertanyaan itu membuat Yoona dengan cepat menghentikan tangisnya dan menghapus air mata di pipinya. Dia mendongak dan menemukan tiga gadis yang menatapnya dengan heran.
“kenapa kau menangis? Kau sakit?”, tanya gadis yang menggunakan jepitan rambut berwarna kuning.
“aku… aku tidak menangis”, bohong Yoona. Dia tidak ingin orang-orang menganggapnya sebagai gadis yang cengeng.
“tapi tadi kami mendengarmu menangis. Kau tidak apa-apa?”, ucap gadis yang tubuhnya lebih tinggi.
“aku tidak apa-apa”
“kenapa kau duduk disini. Ayo berdiri. Bajumu kotor”, ajak gadis yang tubuhnya lebih kecil. Dia membantu Yoona berdiri dan dengan lembut membersihkan bokong Yoona yang kotor karena tanah.
“kalian berteman? Kalian kelas berapa?”, tanya Yoona polos. Ketiganya pun langsung menatap Yoona tidak percaya.
“kau tidak mengenal kami?”, tanya gadis yang bertubuh tinggi itu. Dan dengan polosnya Yoona menganggukkan kepalanya.
“aku sedih”, ucap si jepit rambut kuning.
“kenapa?”, tanya Yoona polos.
“aku sedih karena kau tidak mengenal kami. Padahal kita satu kelas”, ucap gadis berjepit rambut kuning itu. Yoona pun langsung terdiam dan merasa bersalah.
“maaf”, ucap Yoona.
“tidak apa-apa. Biar kami perkenalkan diri. Aku Kim Taeyeon, dia Kwon Yuri dan si tinggi ini Choi Sooyoung”, ucap gadis yang bertubuh kecil itu sambil menunjuk gadis berjepit rambut kuning lalu gadis yang bertubuh tinggi.
“Aku Im Yoona”, Yoona pun ikut memperkenalkan diri.
“iya kami tahu. Kau si gadis pintar yang sangat tidak ramah itu”, sindir Sooyoung namun dengan cepat Yuri memukul temannya itu agar menjaga ucapannya. Yoona pun tidak segan-segan menatap tajam pada Sooyoung.
“kau tidak pulang?”, tanya Taeyeon seperti berusaha mengalihkan kekesalan Yoona pada Sooyoung.
“aku… aku sedang menunggu ibuku”, ucap Yoona ragu dengan ucapannya sendiri. Dia tidak ingin dianggap anak yang tidak memiliki orang tua seperti teman sekelasnya yang lain. Gadis kecil dengan kegengsiannya.
“kenapa ibumu harus menjemputmu? Kau tidak bisa pulang sendiri?”, tanya Yuri.
Pertanyaan itu langsung mengagetkan Yoona. Gadis itu tidak menyangka jika pertanyaan itu akan dilontarkan.
“memangnya kenapa?”, tanya Yoona.
“sangat manja”, komentar Sooyoung. Yoona semakin kaget. Dia tidak menyangka ada yang berpikir jika dijemput orangtua itu adalah anak yang manja. Tentu dia tidak akan mengakui dirinya manja.
“jadi kalian tidak pernah dijemput orangtua kalian?”, tanya Yoona masih dengan keheranannya.
“tentu saja”
“kenapa?”
“karena kami bukan anak-anak manja”
Yoona langsung terdiam Dia malu sendiri sekarang.
“apa kau anak yang manja sehingga harus dijemput orangtua ke sekolah?”, tanya Yuri.
“te-tentu saja tidak. Bi-biasanya orangtuaku tidak menjemputku. Biasanya aku… aku bisa pulang sendirian”, balas Yoona gugup. Dia tidak akan mengakui dirinya manja. Bahkan menangis tersedu-sedu karena kedua orangtuanya tidak pernah menjemputnya. Tidak akan.
“baguslah. Oh ya kami duluan. Soo, Taeng, ayo”, ajak Yuri.
“kalian mau kemana?”, tanya Yoona penasaran.
“bermain”, jawab Sooyoung.
“kalian tidak pulang? Belajar dirumah?”, tanya Yoona yang polos.
“disekolah kita sudah belajar. Waktunya untuk bermain. Bukan begitu?”, tanya Sooyoung pada kedua temannya. Dan keduanya langsung mengangguk. Yoona pun menatap ketiganya dengan kening mengerut.
“inilah untungnya jika tidak dijemput orangtua ketika pulang sekolah. Bisa bermain sepuasnya sebelum pulang”, ucap Sooyoung lagi.
“Yoona… kau mau ikut dengan kami?”, ajak Taeyeon.
“aku? Dengan kalian?”, ujar Yoona ragu.
“ne”
Yoona sebenarnya sedikit tergoda dengan ajakan mereka. Lagi pula dipasti dia akan bosan menunggu jemputan yang entah akan tiba berapa lama lagi. Soal masalah ibunya tidak kunjung datang, Yoona sudah tidak berharap lagi.
Tapi Yoona pun tidak bisa langsung menyanggupi ajakan mereka. Yoona tidak mengenal mereka. Ibunya sudah berpesan agar tidak berteman dengan sembarangan orang.
“tidak. Aku harus belajar dirumah”, tolak Yoona dengan nada ragu.
“ah iya. Ibumu akan menjemputmu ya. Kau memang anak yang manja”, sindir Sooyoung.
“yak aku sudah bilang. Aku bukan anak manja. Aku ikut dengan kalian”, balas Yoona kesal.
“kenapa?”, tanya Sooyoung dengan nada mencibir.
“karena aku bukan anak manja”, Yoona menegaskan kembali.
“sudahlah. Ayo”, ajak Taeyeon memaksa. Dia langsung menarik tangan Yoona untuk ikut dengan mereka.
Begitulah awal mula Yoona mengenal Sooyoung, Yuri dan Taeyeon.
Setelah itu ketiganya selalu menempel pada Yoona. Awalnya juga Yoona tidak suka dengan mereka karena mereka sangat berisik dan banyak bicara. Sangat berbanding terbalik dengannya. Tapi lambat laut Yoona mulai terbiasa.
Bahkan Yoona mulai melupakan orangtuanya yang jarang pulang ke rumah. Karena Sooyoung, Yuri dan Taeyeon sering bermain ke rumahnya. Mereka bermain apa pun. Mereka sudah menjadi teman dekat, bersahabat. Hingga lulus Sekolah Dasar pun mereka selalu bersama.
Yoona yang mulai bergantung kepada ketiga sahabatnya itu, pun memaksa ketiganya untuk masuk ke sekolah yang sama lagi dengannya. Yoona rela memberikan pelajaran gratis kepada ketiganya agar nilai mereka mencukupi dan bisa masuk ke sekolah yang sama dengannya.
Tanpa Yoona sadari, doanya telah dikabulkan.
)))))(((((
bersambung...