
Rumah sakit grup Luther,
Langkah kaki mungil sang Dita terdengar begitu berat. dia menyeret nyeret kedua kakinya, berjalan di atas marmer putih itu sambil menundukkan kepala dengan wajah cemberut.
Tuk!
Jari seseorang menarik pipinya," Hey kenapa lemas begitu!?" Asher menarik kekasihnya dan menatapnya dengan penuh kasih sayang.
Dita menoleh pada pria itu, kedua matanya melengkung ke bawah, bibirnya mengerucut dia tampak tidak percaya diri dengan seragam dokter yang dia kenakan hari ini.
" Asher... aku takut..." ucapnya sambil menatap pria itu dengan mata penuh kekhawatiran.
" takut kenapa?" Tanya Asher sambil memeluk Dita.
" Bapak, aku takut Bapak masih marah dan syok melihat aku, aku takut perubahanku belum memuaskan dan malah membuatnya semakin sakit!!" ucap Dita sambil menahan air matanya.
Sekalipun Bapaknya keras, dia sangat menyayangi pria itu. Selama berminggu-minggu, dia tak diperbolehkan bertemu dengan ayahnya. Setelah melewati proses belajar dan memperbaiki diri, akhirnya tuan Luther mau menemui Dita.
Asher menaruh kedua tangannya di bahu Dita dan menatapnya sambil tersenyum," kau bisa Dita, lagian Om yang minta kamu datang, jadi jangan takut dan mengkhawatirkan hal yang tidak pasti akan terjadi!" ucap Asher.
"Bapak pasti senang melihat perubahanmu yang besar!" tutur Asher dengan lembut.
Dita menghela nafas sambil memainkan jari-jarinya. Jelas seluruh anggota medis di rumah sakit itu sejak tadi sudah dibuat tercengang dengan penampilan baru Dita.
Gadis cantik dengan aura dan kharisma yang kuat. Sangat cocok disebut sebagai dokter teladan, penampilan, cara berjalan, cara bercakapnya sudah benar benar sesuai dengan identitasnya sebagai seorang perempuan.
Dita berubah banyak, dia jadi lebih sabar dan belajar banyak untuk mengendalikan pikiran nya.
" Kau sudah berubah begitu banyak Dita, kau melewati semua prosesnya dengan baik, dan sekarang kau akan kembali ke cita-cita mu sebagai seorang dokter muda yang hebat, maka dari itu berjuanglah!" ucap Asher.
"Terimakasih,' balas Dita sambil memeluk pria itu dengan erat.
Dia mendapatkan kekuatan dari Asher yang selalu mendukung setiap langkahnya.
" Ekheeemm... jangan berpelukan di tengah jalan, ganggu mata aja!!" suara ketus Dokter Ryan membuat keduanya malah semakin berpelukan erat..
"ahh ini rasanya punya pasangan yang benar!" ucap Asher sambil tersenyum jahil seraya melirik Si Duta jomblo sedunia itu berdiri dengan mulut menganga di depannya.
" Asher.. Kau berani pamer ya!!" pekik Ryan.
Asher dan Dita terkekeh geli, " tentu saja berani pamer, kan pamer sama pacar sendiri, Iri ya 'mblo!?" Celetuk Asher menggoda sahabatnya yang sudah lama menyendiri itu.
" Dasar keparat pengkhianat!!"balas Ryan dengan wajah kesal.
" hahah... sudahlah, jangan digoda terus, dia malah kebakaran jenggot itu!!' ucap Dita yang juga balas Ryan dengan tatapan meledek.
Ryan hanya bisa berdecak kesal. bukannya tidak bisa mencari pasangan, hanya saja dia merasa pasangannya saa sekali belum kabur di dunia ini.
"Calon pacarku masih jadi benih, belum lahir di muka bumi ini!" celetuk Ryan.
"kalau dia lahir, maka kau akan jadi pedofil, pantas saja tak punya pacar hahaha.." ejek Asher.
" ejek terus, dasar buncis kecil hahahha... " balas Ryan sambil tertawa cekikikan.
"Siapa yang kau sebut buncis kecil dasar keparat!!" Asher mengejar Ryan, keduanya berlarian di lorong itu seperti anak kecil.
Dita menatap mereka sambil tersenyum, tapi di satu sisi dia sangat gugup untuk menemui ayahnya.
" tenang Dita, Bapak gak akan makan kamu kok, paling cuma diceramahi," gumam Dita sambil mencengkram roknya.
Dia berjalan dengan anggun, berlatih dengan baik tentu saja memberikan hasil yang sempurna. Gadis cantik itu melangkah dengan semangat untuk menemui sang ayah.
Hingga tiba-tiba suara seseorang membuatnya berhenti melangkah.
" Dita!? Putri Luther!?" seorang perempuan menyebut namanya. Nada suara dan logat bicara yang sangat dihapal oleh Dita.
Gadis itu terdiam sejenak, jelas dia mendengar suara mantan ibunya yang telah menelantarkan dirinya dan keluarganya.
Dia memilih untuk melanjutkan langkah kakinya, daripada harus meradang karena sakit hati.
Dita berjalan dengan cepat, dia sangat cantik dan menawan. Parasnya jelas begitu mirip dengan tuan Luther. Tak mengambil satu inchi pun paras dari ibunya.
"Audrey!!" panggil wanita itu dengan nama tengah Dita, nama yang jadi nama panggilan gadis itu di masa kecil.
Dita seolah menutup telinga. padahal dia jelas mendengar suara perempuan itu ada di belakangnya.
" Dita Audrey Sihombing, di mana sopan santunmu terhadap Ibumu!!" hardik wanita itu sama persis seperti cara dia menghardik Dita dan Johan di masa kecil.
Kelemahan Dita telah kembali, suara itu membuat dadanya sesak, ingatan kekerasan di kepalanya berputar bak film.yang langsung meremukkan sekujur tubuhnya.
Dia berbalik dengan wajah pucat pasi, dan melihat nyonya Vera berdiri di hadapannya dengan tatapan wajahnya yang tegas dan tajam.
Sorot mata pembunuh yang tidak berubah sama sekali.
" mati!! mati kau!! mati kau dasar anak durhaka kurang ajar!!" Dita kecil dipukuli, dicekik dan disiksa oleh wanita itu.
Kakaknya Johan disuruh berdiri di atas kursi sambil mengangkat dua ember air penuh , padahal sekujur tubuhnya sudah mengalami luka memar.
Dia terus memukuli tubuh Dita yang kecil, menyiksa anaknya sendiri melampiaskan rasa tidak puas dan serakahnya pada dua anak yang dia lahirkan.
Bruk!!!
Ingatan itu membuat Dita terjatuh lemas ke atas lantai. Ini sebabnya dia menghindari kehidupan normalnya, itu sebabnya dia memilih berpindah pindah tempat dan hidup jadi gadis serampangan untuk melupakan semua masa lalu yang menyakitkan itu.
Itu sebabnya Dita berubah jadi gadis yang bar bar untuk menunjukkan pada dunia kalau dia kuat.
Tapi tampaknya, semua usahanya itu sia sia, dia masih saja tidak bisa berteriak dan melawan perempuan yang melahirkannya itu.
Dita terjatuh ke atas lantai. sedangkan perempuan itu tersenyum dengan wajah sinis sambil menatapnya.
" Masih ingat dengan Ibu!? Ini Ibu nak, kau masih ingat kan sayang!?" ucapnya sambil berjongkok mendekati Dita.
Dia menjulurkan tangannya, berusaha untuk mengusap wajah putrinya.
Dita terdiam gemetaran, dia pucat sampai keringat dingin.Traumanya berat, dia mengalami ketakutan luar biasa saat melihat perempuan itu.
" Jangan berani menyentuh Adikku, dasar wanita Jahanam!!" teriak Johan menggelegar di sepanjang lorong rumah sakit itu.
Pria itu menarik tangan Nyonya Vera dan mendorongnya menjaga dari Dita.
"Jangan sekali sekali menyentuh adikku, sialan!!" pekik Johan.
Dada pria itu naik turun, dia menatap penuh dendam pada perempuan jahat itu.
" ayo Dit, " ajak Johan.
Dia menggendong adiknya di punggungnya, tak peduli perempuan itu terjatuh karena ulahnya selama adiknya bisa tenang.
" Johan, Dita dasar kalian tidak berperasaan, aku ibu kalian, dasar kurang ajar!!' pekik wanita itu.
Johan menutup telinganya, dia berlari kencang, membawa sang adik yang terkulai lemas di punggungnya.
Sama seperti masa lalu, ketika hidup mereka masih begitu sulit, Johan sering menggendong Dita di punggungnya, membawa dan melindungi adiknya yang punya trauma.
"Kakak akan melindungimu Dita, kakak akan melakukan apa pun untuk menjagamu!!" batin Johan sambil berlari kenang menuju ruangan ayah mereka.
.
.
.
Like, vote dan komen 🤗