
7 Years Later
Yoona bangkit berdiri, lalu merapikan blazernya. Kemudian dengan senyum lembut dia mengulurkan tangannya pada pria tua - kliennya. Seorang pengusaha eksekutif yang sedang membutuhkan jasanya untuk memenangkan suatu kasus penjiblakan brand perusahaannya.
Kasus seperti itu bukanlah perkara mudah, namun bagi Yoona tidak begitu. Kasus seperti itu sudah biasa ditanganinya. Meniru produk perusahaan lain dan mengklaim itu milik perusahaannya. Menangani kasus seperti itu sudah menjadi makanan Yoona sehari-hari.
“baiklah. Saya permisi dulu”, pamit pria tua itu. Yoona pun mengantar pria tua itu hingga pintu ruangannya. Setelah pintu kembali ditutupnya, dia tersenyum lebar. Profesinya memang lebih menyenangkan dibandingkan menjadi seorang dokter.
Setelah 7 tahun berlalu Yoona sudah menjadi seorang pengacara disebuah firma hukum besar dan sangat terkenal. Keahliannya dalam hukum tidak diragukan lagi. Banyak klien yang mengejar-ngejar Yoona agar membantu dalam kasus-kasus yang menimpa mereka.
Bahkan Nyonya Im – ibu Yoona, sudah berulang kali meminta Yoona agar bergabung dengan firma hukumnya. Namun Yoona selalu menolak dan mengatakan ingin mandiri. Lagi pula Yoona berpikir apa bedanya bekerja difirma hukum ibunya dengan firma hukum lainnya. Ibunya tetap saja mengontrol kasus-kasus apa yang boleh diterimanya.
Kasus yang paling jarang Yoona terima adalah masalah politik. Nyonya Im tidak memperbolehkan Yoona berurusan dengan politik. Yoona sudah pernah mencoba menerima satu klien yang seorang pejabat daerah. Kasusnya awalnya mudah. Hanya pencemarah nama baik. Yoona pun menerima klien itu tanpa sepengetahuan ibunya.
Hingga akhirnya kasus itu merambat ke arah politik dan korupsi. Yoona pun kesal pada kliennya itu karena sudah membohonginya sejak awal. Ingin Yoona membatalkan kerjasama. Namun Yoona pun berpikir, hal seperti itu tidaklah profesional.
Nyonya Im yang akhirnya mengetahui kasus itu pun memarahi Yoona habis-habisan. Namun Nyonya Im tetap membantu Yoona. Membagi pengalamannya jika harus menghadapi klien yang sebenarnya bersalah. Yoona pun sangat beruntung atas bantuan ibunya itu.
Bicara tentang Nyonya Im, wanita itu sudah lebih banyak waktu meluangkan waktu dengan keluarga. Dan dia harus mengakui Yoona memang cocok menjadi seorang pengacara. Jauh lebih baik darinya dulu ketika memulai karirnya sebagai pengacara pemula.
Nyonya Im juga bisa melihat Yoona yang pintar dalam mengatur waktunya dengan bekerja, keluarga, bahkan untuk dirinya sendiri. Yoona benar-benar menunjukkan dirinya bisa menjalani hidupnya dengan baik. Nyonya Im bangga pada putrinya itu.
Yoona menghempaskan tubuhnya di kursi empuknya. Tamunya hari ini akhirnya habis juga. Sedari pagi Yoona selalu kedatangan tamu dan juga janji temu dengan kliennya hingga dia melewatkan makan siangnya.
“aku lapar”, keluh Yoona sambil mengusap perutnya. Yoona pun membuka laci mejanya, mencari brosur-brosur rumah makan yang diberikan sekretarisnya padanya beberapa hari yang lalu.
Yoona membolak-balik beberapa brosur itu dengan tidak berminat. Tidak ada makanan yang menarik baginya. Hingga di brosur yang terakhir dia melihat jjajangmyeon. Dia pun teringat sesuatu.
Yoona dengan cepat meraih ponselnya dan mencari nomor kontak seseorang disana. Setelah menemukannya, Yoona langsung menekan tombol panggil.
Yoona menggerak-gerakkan kakinya , terlihat tidak sabar, menunggu sampai seseorang diseberang sana mengangkat telponnya.
[annyeonghaseo. Dengan Kedai jjajangmyeon. Ada yang bisa kami bantu], sapa seorang wanita yang sudah sangat Yoona kenal suaranya itu.
“annyeonghaseo ajumma. Ini aku Im Yoona”
[oh… Yoona-ya. Sudah lama sekali kau tidak datang berkunjung], seru wanita paruh baya diseberang sana – ibu Donghae.
Yoona memang cukup sering mendatangi kedai keluarga Donghae itu walaupun tidak ada Donghae disana. Yoona datang ke sana bukan untuk mencari perhatian pada keluarga Donghae. Dia murni datang kesana untuk makan jjajangmyeon. Karena bagi Yoona belum ada yang bisa menandingi kelezatan jjajangmyeon milik keluarga Donghae. Ya walaupun setiap datang kesana, Yoona selalu diperlakukan khusus. Itu hanya point tambahan bagi Yoona.
“maafkan aku. Akhir-akhir ini perkerjaan ku sedang banyak ajumma. Jika ada waktu aku akan berkunjung bersama omma”, ujar Yoona.
[baiklah. Jadi ada apa kau menghubungi ke kedai?]
“aku lapar ajumma. Aku tidak sempat makan siang tadi karena kedatangan tamu”, keluh Yoona dengan nada manja. Setelah itu terdengar tawa ibu Donghae.
[ck… kau tidak boleh melewatkan makan siang mu walaupun banyak pekerjaan. Tapi senang saja, ajumma akan siapakan paket super besar special untuk mu]
“ne. kamsahamnida ajumma”, balas Yoona dengan semangat.
[oh iya kemarin Donghae menelepon]
Mendengar nama Donghae, seperti ada sengatan kecil didadanya. Dia merasa senang. Yoona pun memperbaiki letak duduknya.
“apa dia akan pulang?”, tanya Yoona dengan nada santai walaupun sebenarnya dirinya sudah sangat ingin berteriak senang.
[ajumma tidak tahu. Dia hanya mengatakan kontrak kerjanya akan selesai disana]
Mendengar itu Yoona langsung lemas. Kenapa sangat sulit bagi Donghae untuk pulang. Padahal pria itu sudah selesai dengan studinya dan kontrak kerja sebagai pengabdian disana, sudah selesai setahun yang lalu.
[oh Yoona, nanti kita lanjut lagi. Sedang ada pelanggan yang datang. Kau tenang saja, ajumma akan kirim makanan untukmu secepatnya]
“ne ajumma. Kamsahamnida”
Setelah mengucapkan terima kasih, Yoona pun memutus sambungan teleponnya. Kemudian layar ponselnya berkedip ada notifikasi. Namun bukannya membuka notifikasi itu, Yoona justru menopang dagu sambil menatap layar ponselnya yang memperlihatkan wajah lelap Donghae. Yoona mengambil foto itu diam-diam ketika dirinya di ruang rawat setelah kejadian pencurian 7 tahun. Pria itu menunggunya siuman sampai terlelap.
“ck…”, desis Yoona karena notifikasi ponselnya terus berbunyi, mengganggunya menatapi wajah tampan Donghae yang menjadi wallpaper ponselnya.
Dengan kesal Yoona membuka notifikasi itu. Ternyata grup chat alumni SMA. Sudah banyak sekali chat disana. Yoona sudah malas membaca satu persatu. Dia hanya membaca sekilas lewat saja.
“oh iya. Aku hampir lupa”, ujar Yoona baru ingat jika besok adalah acara reuni SMA angkatannya yang ke 3. Sekali 2 tahun memang alumni SMA seangkatannya melakukan reuni. Kadang di sebuah club, restoran. Dan kali ini berada di aula SMA Kirin.
Kebetulan sekali sedang liburan musim panas, jadi gedung aula SMA itu tidak dipakai. Yoona cukup kagum dengan kegigihan panitia dari reuni itu untuk terus mencoba agar bisa reuni di SMA Kirin langsung.
Yoona membuka map diatas mejanya. Jadwal kerjanya yang sudah diatur sedemikian rupa oleh sekretarisnya ada dimap itu. Melihat jadwalnya besok, Yoona pikir siangnya dia bisa keluar kantor. Tapi memikirkan acara reuni yang membosankan dengan menonton bersama dokumentari masa-masa sekolah mereka lagi, juga tidak efisien menurutnya.
Sebenarnya hanya satu yang Yoona harapkan sehingga dia mau datang ke acara reuni itu. Tentu saja Donghae. Dia berharap pria itu juga datang ke acara reuni itu. Namun hingga 2 kali acara reuni diadakan, Donghae tidak pernah datang.
“Dan sepertinya kali ini pun dia tidak akan datang”, ucap Yoona dengan nada sedih. Dia sangat merindukan pria itu. Tapi mengingat perkataan ibu Donghae tadi, pria itu masih disana, dan belum tahu kapan akan pulang.
“dasar menyebalkan”, kesal Yoona. Namun dia kembali menatap layar ponselnya, memperlihatkan wajah Donghae, Yoona pun kembali tersenyum.
Sesekali diusapnya layar ponselnya itu seolah dia sedang mengusap wajah asli Donghae. Begitulah selama ini Yoona menghadapi rasa rindunya yang semakin besar pada pria itu.
Setiap hari Yoona selalu menunggu pria itu menghubunginya atau memberinya kabar. Tapi hingga 7 tahun berlalu, tidak sekali pun pria itu menghubunginya. Bahkan pesan sebaris kata pun tidak.
Yoona sebenarnya bisa saja menghubungi pria itu. Yoona bisa meminta nomor ponsel Donghae dari ibunya. Tapi gengsi terlalu menguasainya, jadilah dia merindu selama 7 tahun seperti orang bodoh.
)))))(((((
Diluar dugaan Yoona, jadwalnya berubah keesokan harinya. Pekerjaannya menjadi padat hingga sore hari. Namun hal itu tidak Yoona permasalahkan karena memang Yoona sudah memutuskan tidak pergi ke acara reuni itu. Jadi dia menyanggupi saja jadwal yang diberikan oleh sekretarisnya tadi.
Pekerjaan Yoona hari ini didominasi dengan bertemu klien, dan ada dua kasus yang masuk ke ruang sidang. Kasusnya pun tidak terlalu berat. Yoona sudah menyiapkan bukti dan saksi untuk pembelaan bagi kliennya.
Sidang pertama lancar-lancar saja. Namun ketika sidang kedua, tiba-tiba jadwal sidang diundur hingga sejam. Kantor Yoona yang jauh dari kantor pengadilan, membuat Yoona terpaksa tetap berada di kantor pengadilan itu. Jika dia pulang terlalu memakan banyak waktu.
Dengan secangkir kopi, Yoona duduk dilobby kantor pengadilan. Sesekali dia memeriksa lagi bahan – bahan persidangannya. Sedangkan kliennya saat ini memilih untuk tidur. Sesekali Yoona mendengar dengkuran dari pria disampingnya. Hal itu sebenarnya sangat mengganggu baginya. Tapi Yoona tidak bisa berbuat apa-apa.
Yoona pun memutuskan untuk memasukkan kembali bahan persidangannya ke dalam tas lalu membuka ponsel. Ternyata banyak sekali notifikasi dari grup chat alumni. Yoona pun membukanya. Diawal-awal terlihat foto-foto persiapan para panitia yang sedang mendekorasi aula. Namun selebihnya hanya berisi chat-chat tidak penting dari alumni yang lain.
Yoona pun menonaktifkan ponselnya ketika dilihatnya rombongan hakim sudah datang dan menuju ruang sidang. Yoona pun dengan cepat membangunkan kliennya itu.
Yoona mempersilahkan kliennya untuk ikut masuk ke ruang sidang. Sebelum dia ikut masuk, sejenak Yoona menarik napas dalam, kemudian menghembuskannya. Dia harus kembali fokus.
)))))(((((
Pukul 4 sore Yoona baru bisa beristirahat sedikit lebih tenang. Pekerjaannya hari ini hampir selesai. Hanya satu jadwal lagi yang harus Yoona kerjakan yaitu memeriksa berkas kasus yang terjadi 3 tahun yang lalu. Karena kasus yang akan dihadapinya besok dipersidangan membuka kembali kasus lama.
Yoona meregangkan otot-otot tubuhnya. Hingga sekretarisnya datang dan memberikan beberapa tumpukan berkas kasus 3 tahun yang lalu itu. Yoona cukup pusing melihat tumpukan berkas itu. Yoona pikir dia bisa sedikit lebih bersantai, tapi ternyata pekerjaannya tidak membiarkannya sedikit saja istirahat.
“ini tidak akan bertambah lagi kan?”, ucap Yoona memastikan pada sekretarisnya.
“tentu saja tidak. Tapi jika kau menginginkan bahan referensi lebih, satu box besar siap untuk ku antarkan ke ruanganmu”, jawab sekretaris itu. Yoona pun langsung tersenyum kecut. Memang sekretarisnya sangat hebat untuk masalah mencari referensi kasus. Yoona bahkan sampai kewalahan untuk membaca semua referensi yang diberikannya.
“tidak perlu. Aku menyelesaikan yang ini dulu”, tolak Yoona sambil menepuk-nepuk tumpukan dimejanya.
Setelah sekretarisnya itu pergi, Yoona pun mulai membaca-baca berkas-berkas itu. Sesekali dia mencatat hal-hal ganjil dan beberapa info yang tidak dia ketahui sebelumnya, dia mencarinya di mesin pencarian.
Hingga tidak terasa sudah setengah jam dia berkutat dengan berkas-berkas itu. Tapi dia tidak sengaja menatap kelender diatas mejanya. Dia menandai tanggal hari ini dengan simbol hati. Dimana dia berharap akan bertemu dengan pemilik hatinya – di acara reuni sekolah.
Merasa penasaran dengan apa yang terjadi diacara reuni itu, Yoona pun mengambil ponselnya dari tas. Dan dia baru sadar sedari tadi dia tidak mengaktifkan ponselnya kembali.
Setelah ponselnya aktif langsung banyak notifikasi yang didominasi oleh grup alumni dan beberapa panggilan dari nomor tidak dikenal. Yoona mengabaikan panggilan dari nomor tidak dikenal itu. Dia beralih pada grup chat alumninya.
Mata Yoona membulat ketika chat di grup itu lebih dari 999+. Yoona pun semakin penasaran apa yang para alumni bahas hingga chat sebanyak itu.
Seperti biasa isinya hal-hal tidak penting dan godaan satu sama lain karena beberapa alumni yang pernah berpacaran ketika masa sekolah bertemu kembali. Sesekali Yoona tertawa membaca godaan-godaan teman-temannya. Hingga beberapa foto mulai dikirim, memperlihatkan kondisi acara reuni itu.
Yoona membuka beberapa foto yang sedikit menarik baginya. Ada yang mengirim foto panggung yang menurut Yoona sangat bagus. Ada yang mengirim foto berkelompok dan berpasangan.
Yoona tertawa cukup keras ketika melihat foto Sehun yang dipaksa berfoto dengan seorang wanita dengan pakaian seksi. Yoona tidak ingat siapa wanita itu dan berasal dari kelas berapa. Yoona memperbesar gambar itu untuk memperjelas wajah Sehun yang terlihat ketakutan pada wanita itu, yang semakin membuat Yoona tertawa.
Namun tiba-tiba tawa Yoona berhenti ketika difoto itu dia melihat seorang pria yang tidak sengaja tertangkap kamera. Wajah pria itu hanya terlihat dari samping saja. Namun entah mengapa Yoona berdebar-debar sekarang. Karena tidak begitu jelas, Yoona mencari lagi foto –foto yang lain hingga tangan berhenti bergerak dilayar ponselnya.
Yoona terdiam kaku ketika dia melihat foto beberapa pria sekelasnya dulu – kelas A. Dan salah satu dari mereka adalah orang yang paling Yoona tunggu-tunggu – Donghae.
Donghae ternyata datang ke acara reuni itu. Yoona tidak tahu bagaimana ceritanya pria itu berada disana, sedangkan kemarin baru saja ibu Donghae mengatakan Donghae masih berada di Amerika dan belum pulang. Tapi sekarang justru pria itu berada di acara reuni.
Yoona pun dengan cepat meraih tas dan kunci mobilnya. Dia tidak bisa menyia-nyiakan kesempatannya kali ini untuk bertemu dengan Donghae. Bila perlu Yoona akan mengurung pria itu, agar tidak pergi lagi.
“Im Yoona, kau ingin kemana?”, ujar sekretaris Yoona ketika melihat Yoona keluar dari ruangannya dengan terburu-buru.
“mianhae unnie. Ada hal yang sangat penting harus ku lakukan. Aku janji berkas-berkas itu akan selesai ku baca besok pagi sebelum jadwal sidang”, janji Yoona dan kembali keluar dari kantor. Dia bahkan tidak peduli dengan tatapan pegawai firma itu sedang menatapnya aneh.
Yoona menekan-nekan tombol lift karena tidak juga terbuka. Yoona sudah tidak memiliki waktu. Acara reuni itu sudah berjalan sejak 2 jam yang lalu. Bisa dipastikan saat ini pasti acaranya hampir selesai.
Tidak punya pilihan, Yoona berlari menuju pintu darurat. Turun tiga lantai melalui tangga darurat. Dengan kaki panjangnya, dia menuruni tangga itu dengan cepat. Setibanya di lobby, napasnya sudah terengah-engah. Dengan cepat dia menuju parkiran.
Setelah masuk ke dalam mobilnya, Yoona melajukan mobilnya diatas rata-rata. Dalam perjalanannya beberapa kali dia menyalip mobil lain dengan serampangan. Untung saja tidak ada polisi lalu lintas sehingga gadis itu aman.
“sial. Kenapa tidak ada yang memberitahuku dia datang ke acara itu”, kesal Yoona sambil memukul stir mobilnya. Namun pandangannya tetap fokus pada jalanan.
)))))(((((
bersambung...
ini udah menuju ending.
sekitar 2 chapter lg ending
jangan lupa like dan komentarnya ya