Loco

Loco
100 Loco



" Ada apa?" Tanya Regard.


" Bi... A.. apa nama akunmu?" Tanya Nick.


Regard tersenyum," ingin membuktikannya?" Regard berjalan ke arah Nick.


" Regard Roth 14, itu nama akunku," balas Regard.


Nick dengan cepat mencari nama akun itu. Dan benar saja, Regard sudah hampir mencapai level Mythic, level yang sangat sulit untuk diraih pemain seumuran mereka.


" Bi.. bisa kah a.. ekhmm.. a.. ajari aku?" Tanya Nick.


Regard tersenyum," berhasil!" Batin Regard.


" Boleh saja tapi kau harus mengikuti persyaratan ku!" Ucap Regard.


" Aku akan membantumu naik rank jika kau setuju!" Ucap Regard.


" Apa persyaratannya?" Tanya Nick.


" Ikuti kemauanku, tidak sulit, hanya hal hal kecil saja," ucap Regard.


" Aku bisa mengirimkan satu hadiah Hero dan alat alat lainnya padamu, bagaiman kak Nick?" Tawar Regard.


Nick sangat tertarik dengan game itu, dia ingin menaklukannya, benar benar ingin melakukannya.


" Ba... Baiklah setuju!" Ucap Nick.


" Woho!!" Regard berteriak girang.


" Laki laki tidak boleh mengingkari janjinya, kalau begitu ikut aku keluar, kita makan dulu baru mulai bermainnya!" Seru Regard sambil menarik kursi roda anak itu.


" Tapi... Aku... Aku tidak mau keluar! Kakiku..."


" Sudah jangan terlalu dipikirkan, kau sudah berjanji kak Nick!" Balas Regard.


" Ta.. tapi..." Nick tampak ragu, dia mencengkram kedua kakinya.


" Sudahlah, ayo keluar, kita mainnya di luar saja, di dalam kamar ini terlalu sumpek!" Keluh Regard sambil dengan cepat mendorong kursi Roda Nick keluar dari kamar itu.


Untuk pertama kali dalam beberapa bulan, Nick akhirnya keluar dari kamarnya.


" Tu.. tuan muda Nick keluar kamar!!" Seru para pelayan dengan wajah bahagia menatap Nick dan si jahil Regard yang berjalan dengan senyum sumringah membawa Nick keluar dari kamar.


Mendengar seruan para pelayan, Tuan Smith, Lyra, Dita dan Asher langsung berdiri dan menatap ke arah sumber suara.


" Nick keluar kamar? Bagaimana bisa!?" tuan Smith tampak sangat terkejut demikian istrinya.


" Paman Bibi, papa Mama kami lapar, mau makan!!"" Seru Regard sambil mendorong kursi roda Nick sembari melompat lompat kecil dan tersenyum sumringah ke arah kedua orangtuanya.


Regard menaikan jari jempolnya sambil mengedipkan sebelah matanya," berhasil!!" Gumam bocah itu.


Asher dan Dita tersenyum, mereka tahu putra mereka sangat cerdas.


" Tuan Asher... Se.. sebenarnya putra kalian ini seperti apa? Bagaimana bisa menghadapi Nick yang begitu keras kepala?" Tanya Tuan Smith tak percaya.


Asher tersenyum bangga," Dia bagaikan kotak Pandora, tak ada yang bisa menebak apa isinya," ucap Asher.


Regard mendorong kursi roda Nick. Tampak jelas Nick enggan menatap kedua orangtuanya.


" Kak Nick, dua pasangan yang cetar membahana di sana adalah tuan Papa dan nyonya Mama, orangtuaku, apa kakak tidak ingin menyapa mereka?" Tanya Regard.


Nick menoleh ke arah Dita dan Asher yang berdiri dengan senyum sumringah menatap mereka berdua.


" Ha.. halo Paman, Bibi," sapa bocah itu.


"Halo nak, senang bertemu denganmu," sapa Asher dan Dita sambil tersenyum.


" Regard kau tidak berbuat usil kan!?" Celetuk Dita.


Regard tersenyum sumringah," sedikit Ma.. heheh hanya sedikit!" Balas bocah itu .


Tuan Smith dan Lyra menatap bagaimana hubungan Dita, Asher dan putra mereka terjalin begitu erat. Mereka tampak seperti teman, sangat kompak dan ceria.


Berbeda dengan hubungan mereka dengan putra semata wayang mereka, sangat renggang dan rapuh.


"tan, Regard Lapar, kak Nick juga, kami boleh makan tidak?" celetuk Regard sambil tersenyum manis.


"ahhh... ayo ayo, tante tadi ada masak makanan Abang Nick, ada opor ayam juga seafood kesukaan Nick, ikut Tante!" Lyra dengan semangat langsung berjalan ke arah dapur .


Regard dan Nick memasuki ruang makan, sedangkan Dita dan Asher tampaknya sedikit sibuk dengan urusan mereka.


"lagipula Abang punya janji dengan kak Nick," ucap bocah itu.


" Benar, biar Regard main di sini, kali perlu saya yang akan antar dia nanti," ucap tuan Smith.


" eh itu terlalu merepotkan.kalian tuan," ucap Dita merasa tak enak.


" tak apa apa Dita, sekalian Abang Nick dan Regard bisa berbaur!" ucap Lyra dengan senyuman bahagia di wajahnya.


Dita melirik suaminya, Asher tampak mengangguk setuju" baiklah, kami titip Regard sebentar, nanti akan kami jemput," ucap Dita.


" Nak Papa dan Mama berangkat kerja dulu, ada masalah penting, Mama ada operasi dadakan dan Papa harus mengurus klien, Jangan nakal dan kalau ada apa apa langsung beritahu pada om dan Tante!" ucap Asher.


" siap tuan Papa!!!" seru Regard dengan penuh semangat yang berhasil membuat mereka semua tertawa.


Dita dan Asher terpaksa harus kembali ke kantor masing-masing. Rumah sakit tempat Dita bekerja sedang mengalami kebanjiran pasien sedangkan Asher harus melayani klien yang cukup sulit ditangani oleh Jack asistennya.


Pasangan itu berangkat bersama-sama, Asher terlebih dahulu mengantarkan istrinya.


" Sayang, sepertinya aku kan lembut lagi malam ini, nanti Regard minta tolong kamu yang jemput," ucap Dita.


" Baiklah, kau jangan paksakan dirimu, aku juga harus bertemu klien, orang ini sangat keras kepala!" ucap Asher dengan raut wajah tak senang.


" Tenanglah, kau pasti bisa!" hibur Dita.


Mereka berangka menuju tempat kerja mereka masing-masing.


Dita tiba di rumah sakit, sedangkan suaminya langsung berangkat ke perusahaan.


Perempuan itu berlari sekencang-kencangnya, jelas sekali rumah sakit dalam.kondisi urgent. Korban kecelakaan mobil tampak membludak di rumah sakit itu.


Dita berlari sekencang-kencangnya hingga matanya bertemu dengan seorang anak perempuan yang usianya sekitar 5 tahun, berjalan ke sembarang arah tanpa ada pendamping.


" Lili!!" mata Dita membulat sempurna, dia menatap anak kecil itu. Jantungnya berdebar kencang, sekujur tubuhnya bergetar saat melihat wajah anak itu, anak yang jaraknya cukup jauh dari dirinya.


"Lili!!" teriak Dita tiba tiba dengan mata berkaca-kaca.


Tetapi kekacauan di sana menghalangi langkahnya, di berusaha berlari menghampiri anak itu, tetapi orang orang terus berlari ke sana kemari tak membiarkannya lewat.


Dita mencoba berlari, tapi betapa sialnya, anak kecil itu tak lagi di sana.


" Lili!? Lili !? di mana kamu nak!? Lili!!" gumam Dita sambil berjalan ke sana kemari mencari anak itu.


Hingga...


Grep!!


tangannya di tarik oleh seseorang.


" Dita sadarkan dirimu, ada apa denganmu!?" suara Johan, kakak Dita membuyarkan ilusi Dita.


Dita berbalik dengan wajah kacau, dia menangis dengan tangan gemetaran.


" Ka... kak...a.. aku melihat Lili tadi,Lili ada di sini, dia masih hidup, aku melihat Lili tadi!!" ucap Dita sambil menangis sesenggukan.


Dia sangat terguncang, hal ini membuat hati Johan sakit. Adiknya yang ceria malah berubah jadi sensitif dan mudah rapuh seperti saat ini.


Johan menarik Dita ke dalam pelukannya," tenanglah, karena kekacauan ini kau jadi berhalusinasi, sudah Dita, tenang lah, itu hanya halusinasi mu," ucap Johan.


Dita menangis," maaf kak, aku terlalu memikirkan dia, sampai rasanya aku seperti sedang melihat putriku," ucap Dita.


Johan paham, dia membawa adiknya ke dalam rumah sakit, menenangkan Dita yang mudah terguncang.


Sementara itu, di luar rumah sakit.


" Mama! Mama! itu Mama!" seorang gadis kecil berkali kali menunjuk ke dalam rumah sakit.


" Mama di sini sayang, ayo kita pulang, kau sudah sembuh!!" ucap seorang gadis cantik sambil mengangkat tubuh gadis kecil itu ke dalam mobilnya.


" Halo nyonya Vera, Tiara akan segera kembali, Cindy sudah baikan," ucap gadis bernama Tiara itu.


.


.


.


like, vote dan komen 🤗