
Rumah di mana Tiara dan gadis kecil itu berada kini telah dikepung di berbagai sisi oleh puluhan anak buah Asher yang menyamar menjadi penduduk setempat.
Bahkan anak buah nyonya Vera pun tak tahu kalau mereka sudah dikepung.
Sebuah sedan hitam memasuki area rumah beton itu. Tampak Tiara keluar dari dalam rumah sendirian sambil menyambut seseorang yang penting.
"Selamat datang Nyonya," sambut Tiara sambil menunduk dengan wajah gugup.
Nyonya Vera keluar dengan wajah angkuh. Dia menatap Tiara dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan tatapan sinis seolah Tiara adalah sampah yang merusak pemandangannya.
"Cih, dasar tidak berguna!" gumamnya dengan wajah angkuh.
Nyonya Vera melenggang masuk ke dalam rumah itu tanpa tahu serigala buas macam apa yang mengintainya di sana.
Sedangkan Tiara tampak melirik ke arah timur bangunan itu, di mana anak perempuan itu berada dan kini dalam pengawasan ayah kandungnya Asher.
Yap!
Setengah jam yang lalu, rumah itu sudah disergap oleh anak buah Asher. Dan ternyata Tiara tidak melakukan perlawanan atau bahkan melaporkan situasi itu pada nyonya Vera, karena dia juga telah lama mendambakan kebebasan dari ikatan dengan nyonya Vera.
Tiara menurut dan bekerja sama dengan Asher untuk membekap nyonya Vera dan komplotannya.
Gadis itu masuk ke dalam rumah dengan wajah gugup. Dia tahu betapa gila nyonya Vera, perempuan itu bisa melakukan apa saja demi tujuannya, termasuk memusnahkan seseorang!
Sementara itu, di lantai dua, Asher tampak berkali-kali memeluk putri kecilnya yang tanpa dia sangka mengenal dirinya.
Asher menangis!
Dia begitu merindukan Lili, tak dia sangka gadis itu masih hidup dan sesuai insting anak pertamanya Regard, Lili masih ada di dunia ini..
"Papa..."panggil Lili sambil menatap wajah Asher. Anak Itu memang sangat cerdas, saat dia diculik dia sudah ingat betul wajah ayah dan Ibunya, seolah dia adalah anak ajaib yang tahu segalanya.
Asher menatapnya, mendengar kata kata itu membuatnya ingin menangis lagi.
"Anak Papa... Maaf nak, Papa baru bisa menemukanmu hari ini," ucap Asher sambil mengusap lembut pipi putrinya.
Lili tersenyum," Lili tahu Pa, Kakak egald juga tahu kalau Lili masih hidup!" ucap Anak itu.
"Bagaimana kalian bisa saling terhubung nak, Papa dan Mama's ering tak percaya kalau kakak bilang kamu masih hidup," tanya Asher heran.
Lili tersenyum, dia menunjuk ke arah langit," Semua itu karena perbuatan Tuhan, Papa dan Mama juga harus yakin pada Tuhan, karena Dia yang mengatur semuanya," ucap Lili.
"Bagaimana Lili tahu?" tanya Asher.
"kakak egald yang bilang di mimpi lili, " tuturnya dengan wajah polos.
Asher memeluk putrinya sekali lagi. Dia sangat yakin, hubungan batin Regard dengan Lili lebih dalam dari hubungan saudara sedarah .
Lili sehat dan aman, itu sudah membuatnya lega. Dia duduk dan memeluk putrinya yang hebat itu dengan hangat.
Lili tidak rewel, dia bukan gadis yang cengeng, dia sabar menunggu selama bertahun-tahun sampai ayahnya menemukan dirinya.
Asher mengendong Lili dengan mengikatnya pada tubuhnya karena dia tahu nyonya Vera sudah mendekat dan saatnya melakukan aksi mereka.
"Lili, apapun yang terjadi Pada akan melindungimu dan membawamu kembali ke rumah bersama Mama dan kak Regard!" ucap Asher.
"hu um! Lili percaya pada Papa!" jawabnya dengan yakin.
Adam menunggu kedatangan Nyonya Vera. Dia menatap sekeliling ruangan kamar Lili, tentu saja semua perlengkapan di sana diatur oleh Tiara yang lebih manusiawi dibanding nyonya Vera.
Padahal nyonya Vera adalah nenek kandung Lili sendiri tetapi merencanakan kejahatan untuk mengusik mereka.
ceklek!
Pintu kamar dibuka," Lili, nenek datang!!" seru wanita itu sambil mengeluarkan mainan baru yang dia beli.
"Owwhh nenek sudah pulang!?" ucap Asher sambil menatapnya dengan tatapan tajam dengan sebuah pistol terarah lurus ke kepalanya.
Asher menatap wanita itu dengan tatapan beringas tak peduli wanita itu yang melahirkan istri dan kakak iparnya.
Smirk menyeramkan muncul di wajah Asher.
Nyonya Vera terkejut bukan main bahkan hampir serangan jantung saat melihat Asam berdiri di depannya dengan sebuah pistol berada di tangannya.
Wajah wanita itu berubah pusat pasi, dia berjalan mundur dengan tubuh gemetaran.
"Ka.. Kau!!" pekiknya terkejut.
"Bagaimana bisa kau masuk ke sini!!" pekik nyonya Vera.
"Tentu saja bisa kera sialan!? Beraninya kau menculik dan memalsukan kematian putriku!!!" hardik Asher.
Dia tak pernah semarah ini, tetapi karena nyonya Vera menyentuh orang-orang yang dia cintai, dia tak akan segan untuk menghajar siapapun itu.
"Sedang apanya? Pengawal apa hmmm!?" Jack berdiri di belakangnya bersama anak buahnya dan langsung menangkap nyonya Vera lalu memborgol tangan wanita itu.
"Ti.. Tidak mungkin kalian bisa menemukanku, arrkhhhh sialan!!!".
"Jangan pikir kau bisa melukaiku Asher Roth, putra angkatmu itu ada di tanganku!!!" ancam nyonya Vera.
Asher tertawa," Hahahahah.... Omong kosong apa yang kau ucapkan nenek tua gila!?"
"Putraku baik baik saja bersama pamannya, Johan Luther!!" ucap Asher.
Semakin syoklah nyonya Vera mendengar itu, dia menatap ke sana kemari, seluruh anak buahnya telah terkapar di atas lantai dan Tiara berdiri di ujung sana dengan wajah datarnya tanpa memandang ke arahnya.
"Ti.. Tiara hubungi polisi!!"
"Tiara hubungi nenekmu!!" pekik Nyonya Vera.
Tiara menatapnya dengan senyuman sinis," Bukankah kau sudah membunuh nenekmu nyonya? Siapa lagi yang mau ku hubungi!?"
"Kau memanipulasi hidupku, membunuh nenekku dan menggantinya menjadi orang lain, dosa mana lagi yang tak kau lakukan!!!" pekik Tiara sambil menangis histeris.
Seluruh kejahatan Nyonya Vera telah terbongkar. Dia membunuh dan mengganti dengan cara yang sadis. Orang yang selama ini bersama Tiara bukanlah nenek kandungnya melainkan nenek buatan nyonya Vera untuk dia jadikan boneka dan sumber uang.
Gila memang perempuan licik itu. Dia menyakiti keluarganya sendiri, gila harta dan gila tahta.
"Ti.. Tidaaaakkkk!!!" pekik Nyonya Vera tak terima rencananya hancur.
Asher menemukannya, si kecil Regard selamat dan seluruh rencananya terbongkar. Semua pihak yang terlibat dengannya kini telah ditangkap di kediaman masing-masing. Mereka akan diproses dengan hukum yang tegas dan jelas sedang nyonya Vera dibawa ke pengasingan dan dibuat hidup menderita di sisa umurnya itu.
Akhirnya, Lili kembali berkumpul bersama keluarganya.
Di bawah, Regard dan Johan telah menunggu mereka.
Asher menggendong Lili keluar dari rumah itu dengan senyuman bahagia menatap putra kecilnya dan kakak iparnya.
" Papa!!" seru Regard sambil berlari menghampir mereka.
"Abang egaaaallddd!!" suara teriakan si kecil lili terdengar. Regard terdiam membisu sambil menatap ke arah punggung Asher.
Johan dan yang lainnya juga menatap mereka dengan wajah tertegun. Wajah Lili Roth, putri Asher dan Dita, benar benar mirip kedua orangtuanya.
"Lili?" ucap Regard dengan mata berkaca-kaca.
Lili melambai sambil tersenyum dengan manis. Sering bertemu dalam mimpi seolah dunia ini adalah fantasi, membuat keduanya tahu rupa masing-masing meski sudah berpisah bertahun tahun.
Regard menangis bahagia, dia berlari dan menghamburkan pelukannya pada ayah dan adiknya yang berjongkok di depan sana.
"Lili pulang Pa... Adik Regard pulaaang!!" seru anak itu sambil terus mengecup pipi Lili dan memeluknya berkali-kali.
Asher juga menangis demikian Johan dan yang lainnya.
Nyonya Vera menatap putra pertama Johan, pria itu sama sekali tidak peduli dengan keberadaan nyonya Vera. Dia tidak lagi mengingat nyonya Vera sebagai ibunya, karena sosok itu telah lama mati dalam hatinya.
Asher dan Johan membawa seluruh anak buah serta kedua anak kecil itu kembali ke kota. Tiara juga turut beserta mereka. Sedang nyonya Vera langsung dibawa ke pengasingan tanpa bisa melawan.
Dalam beberapa jam perjalanan mereka akhirnya tiba di rumah sakit pertahanan.
Tampak tuan Luther dan Nyonya Kiara berdiri menyambut kedatangan Asher dan yang lainnya sambil merangkul Dita dari masing-masing sisi.
Dita telah diberitahu kalau putrinya selamat dan kini Asher membawanya pulang. Sejak diberitahu dia tak berhenti menangis dan menunggu dengan hati yang gelisah.
Hingga harapannya terkabul, dia melihat kedatangan mobil sang suami.
Asher keluar dengan menggendong Lili dan Regard dalam pangkuannya.
Hati Dita terenyuh, putrinya masih hidup! Putrinya selamat.
tanpa aba-aba, wanita itu berlari sambil menangis histeris memanggil nama putrinya.
"Anakku Lili!!!" pekik Dita dengan langkah cepat.
"Mama!!!" seru Lili sambil menangis sesenggukan. Hari ketika dia melihat ibunya di rumah sakit, membuat Lili semakin merindukan Dita dan akhirnya mereka bisa berkumpul kembali.
Dita memeluknya dengan erat, mengecupnya berkali-kali sambil menangis bahagia.
"Putri kita sayang, putri kita masih hidup huwaa..... Aku merindukanmu anakku... maafkan Mama...maafkan mama... Kamu pasti ketakutan, kamu pasti kesepian!!" ucap Dita sambil menangis sesenggukan.
Semua yang ada di sana juga ikut menangis bahagia atas kembalinya Lili dalam pelukan mereka.
Asher, Dita, Regard dan Lili kini kembali menjadi keluarga yang satu dan penuh kasih, tak ada lagi yang akan memisahkan mereka kecuali kematian!