
Dita bergegas, dia berlari menuju ruangan ayahnya yang sedang dirawat di ruang pasien. Bagaimana seorang pemilik rumah sakit malah dirawat di rumah sakitnya sendiri.
Gadis itu berjalan terburu-buru, semua orang bergunjing tentang dirinya. Dan jelas dia mendengar kalau dirinya diejek dan disebut tak sepadan dengan figur ayah dan kakaknya yang hebat.
" Aku masih tidak percaya kalau dia adalah anak pak direktur, serampangan dan seperti gembel, tidak tahu aturan!!"
" Ssthh jangan keras keras, kita bisa dipecat nanti!" bisik yang lain sambil menatap Dita dengan tatapan heran.
Gadis itu melihat penampilannya, wajahnya menjadi cemberut karena memang benar yang mereka katakan. Dia sama sekali tidak menunjukkan citra sebagai perempuan berpendidikan.
" Apa aku terlalu jelek ya?" batin Dita sambil melihat dirinya dari ujung kepala sampai ujung kaki.
" huffhh memang jelek, Regard pasti akan malu kalau punya ibu seperti ku," batin gadis itu.
Dia mempercepat langkah kakinya. Menatap ke sana kemari sambil merapikan rambutnya yang acak acakan.
Gadis itu berjalan dengan cepat sampai tak sadar kalau dia menabrak tubuh seseorang.
Bruk!!
"Ehh... aduuuhh..."
Grep!!
Hampir saja dia terjatuh ke lantai jika tubuhnya tak ditahan oleh pria yang menatapnya dengan tatapan dingin itu.
" Pak Sam? eh.. aduh maaf pak. maaf, gak sengaja," ucap Dita.
Samuel hanya berdiri dengan tatapan mata dingin sambil melepaskan tangannya dari gadis itu.
" Di mana ruangan Gadis itu?" tanya pria itu dengan suara berat. Dia bukan Samuel yang sebenarnya, dia adalah Lucifer, alter ego pria itu.
" Aruna? di lantai dua ruangan nomor 45, kenapa kau lupa?" tanya Dita heran.
Tetapi pria itu tidak menjawab, dia pergi begitu saja tanpa mendengarkan Dita.
Gadis itu memiringkan kepalanya, dia merasa cukup heran dengan tingkah Samuel yang dia lihat.
" Seperti bukan dirinya," pikir Dita.
Dita melanjutkan langkahnya menuju ruangan sang ayah. Dia bergegas menuju ruangan itu.
Tak butuh waktu lama, Dita tiba di ruang inap ayahnya. Dia masuk sambil membawa beberapa pakaian tuan Luther atas perintah Johan.
"Kak ini pakaiannya, bagaimana keadaan Bapak?" tanya Dita sambil menyerahkan pakaian itu pada Johan yang menyambut nya di depan pintu.
" Sudah siuman," ucap Johan dengan nada ketus.
Dita menatap kakaknya, " bahkan kakak pun marah? " ucap gadis itu.
Johan mengabaikan Dita, dia berjalan menjauh membiarkan gadis itu berpikir sendiri agar menjadi lebih dewasa.
Dita mendekat ke brankar ayahnya,menatap pria itu dengan mata berkaca-kaca.
"Bapak..." ucap Dita yang langsung mengambil tangan ayahnya dan memeluk pria itu.
" Jangan dekat dekat denganku, aku tak punya anak pembangkang seperti mu!!" tukas tuan Luther.
Dengan tegas dia mendorong Dita menjauh dari dirinya," ingat kata kataku ini, kau tidak boleh menemui ku sebelum kau benar benar belajar banyak dari Bianca!" ucap Tuan Luther yang enggan menatap putrinya.
" Tapi.. Pak... Ja.. jangan begini Pak," bujuk Dita.
" Bapak bercanda kan? Bapak tahu kalau Dita gak bisa, kenapa bapak begini?" tanya gadis itu dengan wajah memelas.
" Bapak gak bercanda Dita, apa pernah kau lihat bapak tidak serius!? ini hukuman untukmu!!" tukas pria itu.
Dita terdiam sambil menahan air matanya," Janji ya, setelah Dita berubah, Bapak jangan menjauh lagi," ucap Dita sambil menangis.
"Tergantung sikapmu!" balas tuan Luther.
"Dita boleh kan melihat Bapak di sini? biar Dita yang rawat bapak?" tanya gadis itu.
" Tapi Pak, apa Bapak gak mau lihat Dita menikah!?" tanya gadis itu.
" Bapak akan lihat, tapi jangan berharap kalau Bapak bisa memaafkannya, kita jaga jarak, sampai kau benar benar berubah!" tegas tuan Luther.
Dita tak sanggup menahan rasa sedih di hatinya. Kecewa terhadap dirinya sendiri karena telah membuat orangtua nya bersedih.
Gadis itu mengusap air matanya,dia mengangguk setuju," Dita paham Pak, Dita akan cepat. Dita akan berubah," ucap gadis itu sambil membungkuk.
" Maafkan Dita sudah membuat Bapak dan Kakak Sedih," gadis itu membungkuk lagi dengan sopan.
Nyonya Kiara dan Bianca tersenyum melihat Dita.yang cepat sadar. Tak butuh waktu lama untuk membuatnya menyadari kalau hidupnya itu berharga.
" Keluar!' ucap tuan Luther sambil menatap ke arah lain. Kedua tangannya mencengkram selimut, menahan gejolak di hatinya.
Dita menurut, gadis yang biasanya heboh, ribut dan seperti preman itu spontan berubah menjadi perempuan yang tenang.
"Dita permisi pak," ucapnya.
" Pelajaran akan dimulai malam ini, di apartemenmu!" ucap Bianca sebelum gadis itu benar benar keluar.
" Baiklah. tapi apa boleh aku bertemu Regard?' tanya Dita menatap ayahnya.
" Tidak! sebelum kau benar benar berubah. kau tidak boleh bertemu cucu ku!" tegas tuan Luther.
" Tapi...
Dita hanya terdiam," baiklah," ucapnya pasrah.
Gadis itu berjalan keluar dengan wajah lesu. Johan juga mengikutinya dari belakang dan segera menarik tangan gadis itu .
" Ikut kakak!" ucap Johan.
Sementara itu di dalam ruangannya, Tuan Luther terduduk dengan wajah sedih," Kiara, Bianca, aku tidak tahan melihatnya menangis seperti itu, apa kita sudahi saja?" tanya Tuan Luther.
Jujur saja, mereka hanya bersandiwara agar Dita bisa berubah. Dia tidak tega melihat Dita bersedih, tetapi di sisi lain dia takut, Ibu kandung gadis itu akan memanfaatkan dia, orang-orang akan merendahkan dirinya dan menghancurkan putrinya.
"Luther, kita semua sudah sepakat, bahkan Asher pun mau membantu, jangan sia siakan kesempatan ini, Dita harus berubah jika ingin menghadapi iblis itu!" ucap Nyonya Kiara menguatkan Tuan Luther.
Pria itu hanya bisa menghela nafas berat," ku harap dia cepat berubah," ucap tuan Luther yang dibalas anggukan kepala oleh Nona Bianca dan nyonya Kiara.
##
Johan membawa adiknya ke area sepi di lorong rumah sakit itu.
" Dita, jangan terlalu bersedih," ucap Johan sambil mengusap air mata adik ya.
" Kak.. hiks hiks hiks...aku terlalu jahat ya? aku terlalu jahilnya?" tanya Dita yang tidak kuasa menahan rasa sedihnya.
Johan menggelengkan kepalanya," Adik kakak hanya butuh waktu untuk belajar, Bapak hanya berharap kalau kamu jadi perempuan yang bahagia, tidak direndahkan, bertata Krama yang baik, dan menunjukkan kalau kamu itu tetap hebat meski tanpa iblis itu!' jelas Johan.
" Ini semua untuk kebaikanmu, sebelum kamu berumah tangga dan menjadi ibu resminya Regard, kamu harus berubah, " ucap Johan.
" Ingat Dita, balas dendam terbaik adalah perubahan menjadi lebih baik dari mereka yang menyakiti kita," tutur Johan sambil menatap wajah adiknya,menguatkan Dita dan mendukungnya.
Dita mengangguk sambil menangis sesenggukan, dia memeluk Johan,tempat bersandarnya yang paling dia sayangi.
" Kakaaak...maafkan Dita kak..maafkan Dita membuat malu kakak dan Bapak, Seharusnya Dita tidak tenggelam dalam trauma itu, Dita akan berubah, Dita akan balas dendam dengan cara ini!!" ucap gadis itu penuh tekad.
Diat menangis sesenggukan di dalam pelukan kakaknya. Johan juga berharap yang sama, kehilangan sosok ibu membuat masa kecil mereka penuh tantangan terutama Dita yang tak pernah merasakan kasih sayang seorang Ibu sejak kecil.
" Semua pasti akan baik baik saja!" ucap pria itu.
.
.
.
Like, vote dan komen 🤗