
Dita berjalan dengan cepat. Tangannya penuh dengan barang belanjaan. Dia menatap ke sana kemari sambil mendengus kesal.
" Dasar Asher jahat, beraninya meninggalkanku di mall sendirian, aku sedang belanja tapi dia malah pergi begitu saja setelah menerima panggilan telepon! awas kau nanti!!" Dita terus menerus menggerutu.
Gadis itu melangkah dengan semua barang belanjaan yang menggantung di tubuhnya.
Dia membuka pintu gerbang dan tampaklah Johan sedang bermain bersama putranya Regard di sana.
" Kakak... bantu aku!!!" teriak Dita sambil menyeret semua barang belanjaannya.
"Loh Asher di mana Dit? kenapa kamu sendirian?" tanya Johan sambil mengangkat si kecil Regard ke kereta dorongnya dan memasukkan anak itu ke rumah terlebih dahulu sebelum membantu Dita.
" Dia tiba-tiba pergi, gak ada angin apa dia langsung pergi dari mall padahal barang belanjaan banyak banget," gerutu Dita.
Johan terkekeh," Belum juga kalian jadi pasutri udah begini. gimana nanti kalau kalian jadi nikah?" ejek Johan.
Dita menatap kakaknya," Dia pasti tidak akan begitu kakakku sayang, Asher itu sangat mencintaiku!' ucap Dita sambil tersenyum dengan pikiran optimis kalau Asher tidak akan pernah meninggalkan nya.
" Bagaimana kau tahu Dita, siapa yang tahu isi hati manusia? kakak hanya berharap dia tidak meninggalkan, melukai dan menyakitimu, jika sampai itu terjadi, keadaannya akan lebih parah dari si kambing bandot itu!' tukas Johan.
Dita terkekeh," iya kakak iya... dia tidak begitu kok. Mungkin ada hal mendesak, dia juga sebenarnya pamit, cuma aku gak dengar begitu jelas," ucap Dita.
Johan tersenyum menatap adiknya, setidaknya Dita bisa hidup bahagia dengan orang yang dia cintai.
Mereka masuk ke rumah dan membawa semua barang itu.
Dengan lihai Dita membereskan bahan masakan yang sudah dia beli. Hari liburnya berakhir hari ini.
Sebelum pernikahan dia harus menyelesaikan beberapa pekerjaan di rumah sakit.
" Besok aku akan kerja, apa Regard ku titip di tempat Aruna saja ya?' ucap Dita.
" Titip pada mereka saja, sekalian di Lucifer itu belajar mengasuh anak," ucap Johan.
" Ahh benar juga,ini akan membantu mereka!" ucap Dita dengan senyuman manisnya.
Semua barang belanjaan disimpan di lemari pendingin, Di tata rapi di rak dan dibersihkan agar siap pakai.
Dita mengurus rumah dengan begitu telaten. Dia benar bena memiliki aura seorang Ibu yang hebat dan bertanggung jawab.
Mata gadis itu menantang rumah yang luas itu, dia memerangkap kakak laki-lakinya yang sedang bermain dengan si Regard kecil.
Bibir gadis itu melengkung dengan indah, menatap punggung tempatnya bersandar selama ini..
Tak terasa, sebentar lagi Dita benar benar akan menikahi pria yang dia cintai.
Dia kembali mengingat betapa besar jasa kakaknya untuk menyelamatkan dirinya dari kehidupan yang suram.
Johan selalu berdiri di sampingnya, menjaganya dengan baik dan terus melindunginya tanpa memperdulikan dirinya sendiri.
Johan selalu mengawasi Dita dan selalu berdiri di samping gadis itu.
"Kak... " lirih gadis itu dengan hati yang terharu.
Johan terkejut, sontak dia berbalik dan menghampiri adiknya.
" Butet kenapa lagi kau menangis hmm!?" celetuk Johan dengan logat Bataknya.
Dita tertawa, dia memeluk sang kakak sambil menangis dan tertawa di saat yang bersamaan.
" Terima kasih kak, kakak selalu menemaniku, sebentar lagi aku akan menikah," ucap Dita.
" Kalau kau menikah apa kakakmu ini tak bisa menemanimu humm?" balas Johan sambil memeluk adiknya dengan erat.
"Dengar ya Anggi(adik), mau kau menikah, mau kau punya anak, mau kau jadi tua, kakak akan selalu ada untukmu, kakak kan selalu menjaga dan mengawasi mu, karena kau adik kakak, satu darah dengan kakak, tumbuh bersama kakak, " tutur Johan.
"Kakak akan selalu ada setiap kau butuhkan kakak, jangan ragu untuk datang dan memeluk kakak setiap kali kau punya masalah," ucap Johan seraya mengusap lembut pucuk kepala adiknya.
Dita mengangguk, dia hanya bergantung pada kakaknya selama ini. Tapi ternyata, dia juga telah menemukan cintanya, pria yang akan mendampinginya lahir dan batin seumur hidupnya.
Kakaknya akan selalu punya tempat spesial di hatinya.
"Kakak tidak akan pernah tergantikan!' ucap Dita.
"Tentu saja!" Tiba-tiba suara Asher menyela.
Pria itu masuk ke dalam rumah sambil menatap kakak beradik itu dengan senyuman bahagia.
"Dita tidak akan hidup menderita jika bersamaku, kakak ipar kau tenang saja, dia akan kuratukan!" ucap Asher sambil menarik Dita dari pelukan Johan.
Tiba-tiba...
Jluk!!
" Arrkhhh...Di... Ditaa... apa yang kau lakukan!!" teriak Asher meringis kesakitan tepat setelah Dita menginjak kakinya.
Dita mendengus kesal, menatap penuh amarah pada Asher.
" Dasar jahat!!!" teriak Dita.
Asher menyadari kesalahan fatal yang baru saja dia lakukan.
" Ma.. maafkan aku Dita!!!" sontak pria itu berlari dari sana setelah melihat taring gadis itu keluar.
Dita berdecak kesal, dia mengambil sendal jepitnya" Asher aku mencarimu ke mana mana, ku pikir kau hilang diculik orang, kenapa ka meninggalkan aku dasar jahat!!!" pekik Dita.
" aku tidak meninggalkanmu, kau yang tak dengar dasar melon gagal panen, aku sudah pamit tapi kau budeg!!" balas Asher.
" Apa kau bilang!!! dasar jahat, tega sekali kau!!!" pekik Dita sambil mengejar pria itu dengan murka berapi-api.
" Kemari kau!!!" terik Dita.
"coba kejar aku wleekk bahahahhaa....."
" Asher masih berani kau menertawakan aku!? dasar buncis kecil!?!" teriak Dita.
Johan tertawa menyaksikan pertengkaran kecil mereka. Hanya melihat adiknya dan Asher hidup bahagia seperti saat ini, hati Johan setidaknya lega.
Dia tidak peduli dengan masalah percintaannya yang tak baik baik saja. Sudah lama pria itu menyendiri, meluangkan semua waktunya hanya untuk adik, ayah dan pekerjaan nya.
Hatinya telah hancur, pernah dia begitu mencintai seorang wanita, tetapi yang dia dapatkan saat melamar pujaannya adalah undangan pernikahan sang perempuan dengan sahabatnya sendiri.
Itulah alasan kenapa Johan sangat membenci Benny dan Caca, karena mereka seolah melanjutkan penderitaannya pada Dita.
" Selama kalian hidup bahagia, kakak akan senang," gumamnya.
###
Sementara itu. tuan Luther sedang gundah gulana di kediaman Samuel dan Aruna.
" Paman ada apa? kenapa paman sangat gelisah?' tanya Samuel yang sedang menyuapi istrinya dengan buah buahan segar.
"Hahh... bagaimana tidak gelisah, Dita akan menikah tapi kakak ya, si Johan itu masih belum ada tanda tanda dekat dengan seorang gadis, dia mau menjomblo sampai kapan!?" ucap tuan Luther dengan kesal.
"Apa Paman sudah bicarakan dengan kak Johan?" tanya Aruna.
" Sudah berkali-kali nak, tapi telinganya sepertinya sudah tuli, dia tidak mendengar Paman sama sekali!" kesal pria itu.
Memikirkan Johan cukup membuat tenaganya terkuras.
" Bagaimana kalau dijodohkan saja?" usul Samuel.
Tuan Luther terdiam, dia menatap Samuel dengan serius. Tiba-tiba...
" Hahahhahaha...." Pria itu tertawa saat mengingat bagaimana dirinya, tuan Roth dan nyonya Kiara menjadi Mak comblang ayah dan Ibu Samuel.
" Kau benar benar Genius!" ucap tuan Luther.
" Paman jadi teringat kalau Ayah dan Ibumu juga menikah karena Paman, paman Roth dan Kiara jadi mak comblang nya!" ucap pria itu sambil tertawa.
" Paman dekat dengan orangtua Samuel?' Tanya Aruna.
Tuan Luther mengangguk," Sangat dekat. Paman, Paman Roth, Kiara dan ayah Samuel adalah sahabat sejak dulu, kami menjadikan ayah Samuel pada seorang wanita yang melahirkan Samuel,ayah mu adalah pria yang dingin seperti Johan!" ucap Tuan Luther sambil tertawa mengingat masa Lalu.
Samuel terdiam, mendengar bahwa orangtuanya bertemu karena jasa tuan Luther dan sahabatnya, membuat Samuel terharu.
" Kalau begitu, Samuel akan bantu Carikan untuk Johan!!" ucap pria itu dengan penuh semangat.
.
.
.
Like, vote dan komen 🤗