Loco

Loco
Chapter 3



Keempat yeoja itu sedang duduk diatas sebuah ranjang di ruang UKS. Yuri, Sooyoung, dan Taeyeon, fokus memandang Yoona yang tampak sedang berfikir, mempertimbangkan bagian mana yang pantas dan tidak


diceritakannya.


“jadi?”, Taeyeon bertanya dengan tidak sabaran. Yuri dan Sooyoung pun tampak mengangguk menyetujui pertanyaan Taeyeon. Yoona memandang satu persatu sahabatnya itu.


‘Aku tidak akan bisa menghindar jika wajah mereka sudah seperti itu. Tidak sabaran’, batin Yoona.


“jadi...”, Yoona mulai menceritakannya. Ketiga sahabatnya itu pun mendekatkan diri pada Yoona.


“sebelumnya aku ingin mengakui sesuatu terlebih dahulu. Sebenarnya kejadian yang menimpa Donghae akhir-akhir ini adalah ulahku”


“ya kami tahu”, seru Yuri cepat. Yoona menghela napas, tidak menyangka Yuri akan menjawab secepat itu.


“dan kami rasa itu sangat keterlaluan”, tambah Taeyeon dengan wajah kecewa disambut anggukan kepala oleh Yuri dan Sooyoung.


“ya... Aku tahu itu. Dan ku rasa aku sudah mendapatkan balasannya. Aku.... Aku dapat mendengarkan suara Donghae”, jujur Yoona.


“tentu saja kau bisa mendengar suara Donghae. Memangnya selama ini kau merasa Donghae bisu?”, ujar Sooyoung.  Yoona menggeleng. Bukan ‘bisa mendengar’ dalam artian seperti yang Sooyoung utarakan tadi yang


Yoona maksud.


“bukan seperti itu Soo. Aku bisa mendengar suara Donghae. Suara batin Donghae”, jelas Yoona. Hingga beberapa detik terjadi keheningan diruangan UKS itu. Yoona menunggu respon dari sahabatnya itu. Ketiga sahabatnya itu memandang Yoona dengan serius. Sooyoung mengarahkan punggung tangannya ke kening Yoona.


“dia tidak demam dan wajahnya pun tidak pucat lagi. Jadi kurasa dia sungguh-sungguh”, simpul Sooyoung sambil berbicara kepada Yuri dan Taeyeon. Yoona menjauhkan tangan Sooyoung dari keningnya.


“aku tidak sedang mengada-ada. Aku sungguh-sungguh. Awalnya juga aku tidak percaya, tapi hal itu terjadi berulang-ulang”, jelas Yoona lagi, sedikit kesal karena sahabatnya itu tidak mempercayainya.


“apa kau berteriak di toilet juga karena mendengar suara Donghae?”, tanya Yuri dibalas anggukan dari Yoona.


“ohh tidak mungkin. Bagaimana bisa hal seperti itu terjadi. Aku tidak percaya ini”, seru Taeyeon sambil menggeleng-gelengkan kepala. Diantara mereka berempat, Taeyeonlah yang paling tidak percaya hal-hal diluar nalar manusia. Seperti contohnya kejadian yang Yoona alami sekarang.


“tapi kau harus percaya Taeng”, balas Yoona. Tapi Taeyeon masih tetap menggeleng tidak percaya.


“kau bisa membuktikannya?”, tantang Taeyeon.


“tentu. Tapi…”, Yoona tersadar. Bagaimana jika dia tidak dapat mendengar suara Donghae nantinya. Dia pasti akan dianggap seorang pembohong. Karena terkadang suara Donghae memang tidak bisa terdengar.


“tapi apa?”, tanya Yuri.


“mmm… Ada kalanya aku tidak bisa mendengar suaranya sama sekali”, jelas Yoona.


“biasanya dalam keadaan seperti apa sampai kau tidak bisa mendengar suaranya?”, tanya


Sooyoung. Yoona berpikir sejenak.


“Pertama kali aku dapat mendengar suara itu ketika aku sedang tidur-tiduran dikamar. Lalu ketika berangkat sekolah, dalam toilet dan yang terakhir tadi. Ketika kita bertemu dengannya didepan toilet”, Yoona menceritakan kapan dan dimana saja dia dapat mendengar suara itu.


“ketika kau mendengar suara itu, apa Donghae ada disekitarmu?”, tanya Sooyoung. Sepertinya Sooyoung mulai mendapat mencerahan dari kejadian yang menimpa Yoona.


“tidak, kecuali tadi didepan toilet itu”, jawab Yoona.


“tapi jarak kalian cukup jauh tadi. Ahhh, aku sudah tahu sekarang”, seru Sooyoung.


“apa?”, tanya Yoona, Yuri dan Taeyeon bersamaan. Mereka sudah sangat penasaran


sekarang.


“Ketika Yoona mendengar suara itu, Yoona dan Donghae tidak dalam lingkungan yang sama. Tapi mengingat jika tadi didepan toilet, dengan jarak yang cukup jauh, Yoona dapat mendengar suara Donghae, maka aku simpulkan suara Donghae dapat Yoona dengar jika mereka dalam jarak yang cukup jauh. Seperti didepan toilet tadi. Mungkin 5 – 10 meter”, jelas Sooyoung dengan wajah berbinar-binar seperti orang yang baru menemukan harta karun yang tersembunyi puluhan tahun.


“ahhh, kau benar Soo”, seru Yoona.


“tadi di depan pintu toilet kita sempat berpapasan dengan Donghae. Apa kau tidak mendengar apapun?”, tanya Yuri.


“ne, aku tidak mendengar apapun”, jawab Yoona.


“tapi ketika jarak kita cukup jauh darinya kau tiba-tiba mendengar suaranya?”, tanya Taeyeon.


“ne. Makanya aku berbalik memandangnya karena terkejut dapat mendengar suaranya lagi”, jawab Yoona.


“wahhh, daebak[15]”, ucap Taeyeon, Yuri dan Sooyoung bersamaan.


“tapi bagaimana hal ini bisa terjadi? Apa sebelum itu kau mengalami sesuatu? Misalnya deman tinggi atau sakit perut, atau terjatuh?”, tanya Yuri penasaran dengan asal mula dari kejadian yang menimpa Yoona.


Yoona langsung membeku ketika Yuri mengatakan ‘terjatuh’. Yoona ingat seminggu yang lalu dia hampir terjatuh dari tangga sekolah tapi untungnya Donghae menyelamatkannya. Dan jangan lupakan Yoona yang terpesona dengan ketampanan Donghae.


“apa karena itu?”, gumam Yoona.


“apa?”, tanya ketiga yeoja yang ada disekitar Yoona itu. Yoona tersadar jika gumamannya dapat didengar oleh sahabatnya itu.


“ahhh, tidak. Tidak apa-apa”, jawab Yoona cepat. Sahabatnya itu pun percaya saja.


Yoona bernapas lega namun tidak sadar jika Sooyoung yang duduk disampingnya, menatapnya curiga.


“jadi apa yang terjadi sebelumnya?”, tanya Yuri lagi.


“mmm, aku tidak ingat. Tapi ku rasa tidak terjadi apa pun”, jawab Yoona pura-pura santai.


“sudah nanti saja kita bicarakan itu. Sekarang aku ingin buktinya jika itu benar-benar terjadi”, Taeyeon mengingatkan kepada yang lain jika dia masih belum percaya.


“ya, kau benar. Aku juga masih belum sepenuhnya percaya”, ucap Yuri.


“aku ada ide”, seru Sooyoung.


“kemari, mendekatlah”, tambah Sooyoung. Yoona, Yuri dan Taeyeon mendekat pada Sooyoung. Dengan lengan panjangnya, Sooyoung dapat merangkul ketiga yeoja itu hingga membentuk seperti lingkaran. Sooyoung pun membisikkan gagasannya untuk membuktikan kebenarannya.


“bagaimana?”, tanya Sooyoung ketika idenya sudah tersampaikan.


“ku rasa itu tidak sulit dilakukan. Bagaimana dengan mu Yoona?”, tanya Taeyeon.


“kurasa aku bisa. Asalkan jarakku cukup jauh darinya”, jawab Yoona.


“itu bisa diatur. Kau duduk saja di depan, dikursiku dan aku akan duduk dibelakang”, ucap Yuri. Semuanya pun mengangguk setuju.


“baiklah, ayo kita mulai rencana kita”, seru Sooyoung. Mereka pun beranjak keluar dari ruang UKS menuju kelas.


Walaupun sudah terlambat untuk masuk ke kelas, tapi mereka harus masuk, agar rencana mereka dapat berjalan dengan lancar. Untuk alasan keterlambatan mereka, biarlah Sooyoung yang mengarang alasannya nanti kepada Baek saem – guru kesenian.


Taeyeon dan Yuri jalan didepan dan Sooyoung serta Yoona dibelakang mereka. Sooyoung menggenggam lengan kiri Yoona. Yoona melirik Sooyoung sejenak dan benar saja yeoja tinggi itu sedang menatapnya dengan serius. Yoona pun menghentikan langkahnya diikuti Sooyoung.


“apa?”, tanya Yoona.


“kau menyembunyikan sesuatu kan?”, tanya Sooyoung dengan penuh kecurigaan.


“ti-tidak. Apa yang bisa ku sembunyikan dari kalian”, jawab Yoona terbata.


“jangan berbohong. Mengaku saja Yoong”, paksa Sooyoung.


“su-sungguh Soo”, Yoona tetap tidak mau mengaku.


“aku tidak percaya jika kau tidak sedang menye-“


“yak, apa yang sedang kalian bicarakan. Ayo cepat”, ucapan Sooyoung terpotong karena teriakan Yuri yang memanggil mereka. Merasa ada kesempatan untuk menghindar dari pertanyaan Sooyoung, Yoona dengan cepat melangkah mendekati Yuri dan Taeyeon.


“apa yang sedang kalian bicarakan?”, tanya Taeyeon setibanya Yoona didekat mereka.


“ahh, tidak ada. Ayo”, ajak Yoona. Mereka pun berjalan beriringan, meninggalkan Sooyoung dibelakang yang sedang memutar otak, menebak apa yang sedang Yoona sembunyikan.


Sooyoung menyentuh lehernya yang pegal. Yeoja itu mendongakkan kepalanya ke atas untuk meregangkan lehernya yang kaku. Namun tiba-tiba Sooyoung tersenyum lebar ketika dari posisinya sekarang yang ada dilantai dasar, dapat melihat seorang namja dilorong lantai dua sedang berjalan untuk memasuki kelas mereka. Lee Donghae.


“ckckck… Im Yoona kau salah jika bisa menyembunyikan sesuatu dari Choi Sooyoung. Aku mengenalmu dengan baik”, ucap Sooyoung dengan senyum lebar kemudian tertawa seorang diri.


Selain rencana dikelas, Sooyoung pun memiliki rencana lain yang langsung tersusun rapi diotak pintarnya itu.


)))))(((((


“ohh Yuri-ssi, kenapa duduk disitu?”, tanya Donghae ketika Yuri duduk di kursi Yoona.


“itu… Yoona sedang ingin duduk di depan”, jawab Yuri sedikit terbata, karena Yuri tidak pintar berbohong. Melihat Yuri tampak kesulitan menghadapi Donghae, Sooyoung dan Taeyeon datang menghampiri Yuri.


“apa Yoona-ssi marah lagi padaku?”, gumam Donghae.


“tidak… dia tidak sedang marah padamu. Yoona memang biasanya seperti itu, suka berganti-ganti tempat duduk. Setiap meja dikelas ini sudah pernah didudukinya secara bergantian”, ucap Sooyoung tiba-tiba membuat Donghae terkejut.


“Donghae”, panggil Taeyeon.


“Ya…”, jawab Donghae.


“apa aku bisa meminta bantuanmu?”, tanya Taeyeon. Saatnya memulai rencana mereka. Untung saja ketika mereka tiba dikelas, Baek saem belum masuk ke kelas. Sepertinya sedang ada urusan lain diruang guru. Jadi itu


memberi kemudahan bagi mereka untuk menjalankan rencana.


“ne, tentu saja. Apa yang bisa ku bantu Taeyeon-ssi?”, sahut Donghae.


“aish, jangan seformal itu. Kita ini seumuran bahkan satu kelas. Jadi jangan memakai embel-embel ssi”, ujar Sooyoung. Yeoja itu selalu risih jika Donghae sudah berbicara formal seperti itu.


“ba-baiklah, Sooyoung”, ucap Donghae sedikit kaku.


“Donghae, bisakah kau membacakan tulisan ini. Aku sedikit kesulitan membacanya”, Taeyeon menjulurkan selembar kertas berisi tulis tangan Taeyeon sendiri. Tapi yeoja itu berkata kesulitan membaca tulisan itu – tulisannya sendiri.


Donghae meraih kertas itu, lalu mulai membacanya dengan suara yang cukup keras. Tapi Taeyeon segera menyela.


“bukan. Bukan seperti itu Donghae. Maksudku, bisakah kau membacanya dalam hati?”, ucap Taeyeon. Kening Donghae langsung berkerut. Terasa aneh dengan permintaan Taeyeon. Bagaimana bisa Taeyeon tahu apa yang tertulis dikertas itu, jika Donghae tidak menyuarakannya?


“kau bisa?”, tanya Taeyeon lagi. Donghae masih terdiam mengamati kertas itu kemudian ke Taeyeon secara bergantian.


“lakukan saja. Dia memang terkadang aneh. Kami pun sering disuruh melakukan hal-hal aneh seperti itu. Anggap saja sebagai awal perkenalan dari Taeyeon”, bisik Sooyoung kepada Donghae, namun masih dapat didengar oleh Taeyeon.


“baiklah”, ucap Donghae dengan polosnya. Dia mulai membaca setiap kata yang tertulis dikertas itu, sesuai dengan yang yeoja mungil itu minta.


Taeyeon menatap tajam Sooyoung. Karena sudah mengatainya aneh. Yeoja yang sudah seperti tiang listrik itu tidak sadar jika ide untuk menyuruh Donghae membaca dalam hatikan rencananya sendiri. Dan sekarang lihat, nama baik Taeyeon dimata Donghae menjadi rusak. Sooyoung yang melihat itu malah tersenyum lebar.


Lima menit berlalu, hingga akhirnya Donghae selesai membaca isi dari kertas itu.


“ini… sudah ku baca”, ujar Donghae sambil mengembalikan kertas itu pada Taeyeon.


“gomawo Donghae”, balas Taeyeon dengan senyum.


“ohh bisakah kau mengucapkan ‘gomawo Calista’ dalam hati”, tambah Sooyoung.


“apa?”


“ayo katakan saja ‘gomawo Calista”, paksa Sooyoung.


“baiklah”, jawab Donghae.


‘gomawo Calista’, batin Donghae.


“Sudah?”, tanya Sooyoung. Donghae pun mengangguk.


“gomawo Donghae-ya[16]”, ucap Sooyoung sambil menepuk-nepuk punggung Donghae, seolah-oleh mereka teman dekat.


“ohhh, dimana Yoona. Aku ingin mengajaknya pulang sekolah nanti ke toko kue”, seru Sooyoung dengan topik pembicaraan yang tiba-tiba dialihkan tanpa terarah. Membuat Yuri yang sedari tadi diam karena tidak dapat berbohong dengan baik dan juga Taeyeon mendesah pasrah. Biarlah Sooyoung melakukan sesuka hatinya. Karena


mereka berdua pun tidak akan dapat menghentikannya.


“ohh itu dia”, seru Sooyoung lagi. Bahkan terdengar seperti teriakan. Padahal mereka berada didalam kelas yang tidak begitu luas. Tapi Sooyoung harus berteriak tidak jelas.


“ayo, kita temui Yoona”, ajak Sooyoung pada Yuri dan Taeyeon.


“sekali lagi, gomawo Donghae”, ucap Taeyeon lagi sebelum Sooyoung menarik tangannya menjauh.


Ketika jarak mereka dari Donghae cukup jauh, Yuri langsung mencubit lengan Sooyoung.


“awww”, rintih Sooyoung.


“kau gila ya. Yoona pasti akan membunuh mu”, ucap Yuri.


“dan kau pun berhutang juice strobery sebagai ganti sudah menjelek-jelekkanku di depan Donghae”, tambah Taeyeon.


“ya, ya. Baiklah. Aku minta maaf. Tapi ini sangat menyenangkan bukan?”, balas Sooyoung tidak merasa bersalah sedikitpun.


“aish kau ini”, cibir Yuri.


Dilain sisi lain, Yoona masih mematung dengan jari tangannya masih mengapit sebuah pulpen diatas sebuah kertas yang berisi tulisan tangannya. Yang menjadi pusat penglihatannya adalah kertas bertulis tangan itu. Lebih tepatnya pada kata-kata terakhir yang ditulisnya.


Gomawo


Calista.


Kenapa tiba-tiba Donghae mengucapkan kata-kata itu. Yoona tahu yang menyusun kata-kata romantis yang Donghae ucapkan tadi pastilah Taeyeon. Gadis mungil itu ahlinya dalam menyusun kata-kata manis dan menyentuh. Tapi Yoona yakin juga Taeyeon tidak mungkin menambahkan kalimat terakhir itu. Calista. Nama itu adalah nama yang Yoona gunakan ketika dirumah. Ibu dan ayahnya selalu menyebutnya dengan namanya Calista. Karena ketika Yoona lahir, kedua orang tuanya sangat ingin menggunakan nama itu untuk putri pertamanya. Namun sayangnya, neneknya tidak setuju. Neneknya lebih menyukai nama Yoona. Im Yoona.


Yoona tetap diam memandang kalimat itu. Bukannya tidak suka. Hanya saja, ketika suara Donghae yang Yoona dengar menyebutkan namanya, ada perasaan senang, berdebar, dan seperti ada ribuan kupu-kupu diperutnya. Untuk pertama kalinya Yoona menyukai nama Calista.


“Yoona…”, panggil Sooyoung.


“ohhh”, sadar Yoona.


“kau sudah menulis semuanya?”, tanya Taeyeon. Yoona kembali ingat dengan rencana mereka. Hampir saja dia lupa jika mereka sedang dalam misi pembuktian kemampuannya itu.


“ne, sudah. Ini… coba samakan”, jawab Yoona sambil menyerahkan kertas yang bertulis tangannya kepada Taeyeon. Taeyeon mulai menyamakan kertas asli yang ada di tangan kirinya dengan kertas yang baru Yoona berikan. Sooyoung dan Yuri juga ikut menyamakannya. Dan semuanya persis sama. Tidak ada yang kurang sedikitpun.


“waw… Ini luar biasa”, seru Taeyeon, akhirnya percaya dengan kemampuan Yoona.


“benarkan? Aku tidak sedang berbohong. Aku benar-benar bisa mendengarnya”, bangga Yoona ketika mendengar seruan Taeyeon.


“tapi…”, Sooyoung menggantung ucapannya, membuat Yoona mengerutkan kening.


“kenapa? Ada yang terlewatkan?”, tanya Yoona.


“Bukan. Semuanya sempurna. Hanya saja… ini…”, Sooyoung mengambil kedua kertas yang ada ditangan Taeyeon, kemudian meletakkannya dimeja, tepat didepan Yoona.


“lihat kalimat terakhir ini”, Sooyoung menunjuk kalimat terakhir yang Yoona tulis.


“tapi aku benar. Donghae mengatakan itu”, bela Yoona.


“ya aku tahu. Aku yang menyuruhnya mengatakan itu”, jujur Sooyoung.


“sialan, beraninya kau…”, kesal Yoona.


“ampun tuan putri, aku hanya bercanda tadi. Lagi pula dia tidak tahu Calista itu adalah dirimu. Jadi kau jangan marah dulu”, bela Sooyoung.


“tapikan tetap saja dia menyebutkan nama lain ku”, ucap Yoona.


“tapi kau sangat menyukainya kan”, goda Sooyoung. Pipi Yoona langsung memerah. Dia langsung gugup dan gelisah.


“ti-tidak. Siapa yang bilang”, bela Yoona, terbata.


“tidak ada yang bilang. Tapi ini sudah membuktikannya”, jelas Sooyoung, sambil menunjukkan simbol ‘love’ yang tergambar disamping nama Calista. Mereka berempat mengamati kerta itu baik-baik.


Yoona semakin panik. Dia tidak sadar ketika menggambar lambang hati itu.


‘kapan aku membuat itu. Ohh Tuhan, aku benar-benar sudah gila’, batin Yoona.


“a-aku ti-tidak membuat itu”, ucap Yoona cepat.


“aish… ini jelas-jelas tulisanmu. Sudah mengaku saja. Kau menyukainya”, kali ini Yuri pun ikut menggoda Yoona. Membuat pipi Yoona semakin memerah.


“lihat… wajahnya sudah seperti kepiting rebus”, Taeyeon menunjuk-nunjuk wajah Yoona yang memerah, dengan tawa. Sooyoung dan Yuri pun ikut mentertawakan Yoona.


“diam. Kalian sangat menyebalkan”, umpat Yoona dengan nada yang mulai meninggi. Ketiga sahabatnya itu pun langsung terdiam. Bahkan siswa yang ada dikelas pun ikut terdiam sambil mengarahkan pandangan pada keempat yeoja yang sedang berkumpul dimeja depan itu. Walaupun sedang dipandangi seluruh siswa yang ada dikelas itu, tapi Yoona tidak peduli. Yang dipikirkannya bagaimana lepas dari godaan sahabatnya itu.


“sudah ku bilang aku tidak membuat itu. Titik. Tidak ada komentar lagi”, jelas Yoona, namun kali ini suaranya sudah dapat dikontrol dengan baik. Yoona langsung meremas kedua kertas itu menjadi sebuah gundukan bola, lalu memasukkannya ke dalam laci mejanya. Seolah-olah membuangnya.


Sooyoung mengedipkan mata pada Yuri dan Taeyeon. Menandakan agar tidak perlu melanjutkan ini lagi. Yuri dan Taeyeon pun mengangguk masih dengan senyuman mereka.


“baiklah tuan putri, jangan marah-marah. Nanti kau cepat tua. Kami akan pergi, jadi jangan marah lagi”, ucap Sooyoung sambil mengajak Yuri dan Taeyeon untuk kembali ke meja mereka masing-masing.


“sialan”, gumam Yoona setelah sahabatnya itu pergi. Sebenarnya Yoona marah bukan pada sahabatnya itu, bukan pada Donghae juga. Tapi lebih tepatnya marah pada dirinya sendiri. Marah karena dirinya tidak bisa mengendalikan diri jika sudah berurusan dengan Donghae. Namja itu membuat dirinya hilang kendali.


)))))(((((


[15] Luar biasa, hebat


[16] Imbuhan tambahan (informal)