Loco

Loco
Chapter 2



Waktu pulang sekolah sudah berlalu sejak sejam yang lalu, tapi Yoona masih ada didalam kelas membereskan perlengkapan kelas dibantu oleh Yuri, Taeyeon dan juga Sooyoung. Yoona yang diunjuk sebagai ketua kelas mempunyai kewajiban untuk selalu merapikan perlengkapan kelas ketika jam pelajaran sudah selesai.


“Yoona, apa kau benar-benar sangat membenci Donghae?”, tanya Sooyoung. Yoona mengerutkan kening menanggapi pertanyaan Sooyoung.


“jangan kira kami tidak tahu jika kau dibalik semua kejadian buruk yang menimpa Donghae”, ujar Yuri sambil membersihkan white board.


“sangat. Sampai rasanya aku ingin gila”, balas Yoona dengan menggebu-gebu. Percuma yeoja itu menghindar. Ketiga sahabatnya itu sudah sangat mengenalnya dengan baik. Jadi tidak ada gunanya berbohong.


“tapi kau sepertinya sudah melewati batas Yoong”, ujar Taeyeon.


“tidak. Ini belum seberapa Taeng”, balas Yoona cepat.


“aku harus membuatnya menyerah dan memilih kembali ke kelasnya semula. Dan kalian harus mendukungku. Tapi tenang saja, aku tidak akan melibatkan kalian didalamnya”, tambah Yoona bersemangat sedangkan ketiga sahabatnya itu hanya dapat menggeleng, pasrah. Mereka akan membiarkan Yoona. Lagipula dengan sendirinya Yoona akan menyerah juga.


“ahh, aku rasa semua sudah rapi. Kalian tunggulah di depan gerbang, aku akan menyerahkan buku absensi ini ke ruang guru sebentar”, ucap Yoona. Mereka pun berjalan beriringan kemudian berpisah dipertigaan lorong. Yoona menuju ke kiri ruang guru dan ketiga sahabatnya itu ke kanan menuju tangga.


Tok tok tok


“permisi”, ucap Yoona berlahan ketika pintu sudah dibukanya. Yoona berlahan mendekati meja Kim songsaengnim.


“saem, ini buku absensi kelas A”, ucap Yoona ketika sudah berhadapan dengan meja seorang guru yang sudah memasuki usia kepala empat namun masih terlihat seperti anak SMA itu.


“ohh, Im Yoona. Terima kasih. Sudah membantu pekerjaan saem”, ucap Kim songsaengnim.


“Ne. Kalau begitu, saya permisi saem”, balas Yoona sambil membungkuk hormat.


Namun ketika ingin keluar dari ruangan itu, tiba-tiba terlintas dalam pikiran Yoona untuk mencoba kembali, siapa tahu kali ini dia beruntung. Dengan berlahan Yoona berjalan mendekati meja guru lain yang sedang asyik dengan laptopnya.


“anyeonghaseyo Nam saem”, sapa Yoona.


“ohhh, nona Im”, seru Nam songsaengnim terlalu keras sambil menutup laptopnya dengan cepat. Sepertinya Nam songsaengnim sedang melihat sesuatu yang tidak benar dilayar laptopnya itu. Terlihat dari wajahnya memerah dan ketakutan jika ketahuan. Untung saja ruang guru itu sudah sepi. Hanya ada beberapa guru saja yang tinggal.


“mmm, tentang tugas kelompok itu, apa saya memang tidak bisa masuk ke kelompok lain saja saem?”, ujar Yoona. Berharap kali ini gurunya itu mau merubah pikirannya. Tapi harapan hanyalah harapan. Nam songsaengnim menggeleng pertanda tidak untuk jawaban dari pertanyaannya itu.


“sudah saem bilang, ini strategi nona Im. Kau harus memanfaatkannya dengan baik”, jelas Nam songsaengnim.


“baiklah. Saya permisi”, balas Yoona dengan suara lemah. Tidak ada gunanya berbicara dengan Nam songsaengnim ternyata. Yoona langsung keluar dari ruangan itu.


“ada apa?”, tanya Kim songsaengnim pada Nam songsaengnim.


“seperti biasa Noona. Permintaan anak muda zaman sekarang aneh-aneh”, jawab Nam songsaengnim santai pada yeoja yang lebih tua sepuluh tahun darinya itu.


“itu karena mereka diajari oleh guru yang aneh seperti kau Nam Saem”, ujar Kim songsaengnim.



)))))(((((



Yoona menunduk sambil menggerutu. Memaki Nam songsaengnim lalu memaki Lee Donghae atau siapa pun yang dapat dibuat sebagai pelampiasan kekesalannya.


“Nam saem memang gila. Bagaimana bisa dia membuatku satu kelompok dengan namja itu? Ahkkkk”, gumam Yoona sambil mengacak-acak rambutnya.


“aku benar-benar bisa gila sekarang. Bagaimana aku harus menghadapi Lee Donghae? Sedangkan aku sudah membuat namja itu sengsara selama dua minggu ini”


“bagaimana ketika kerja kelompok nanti dia balas dendam lalu melakukan yang tidak–tidak? Bagaimanapun aku seorang yeoja?”, Yoona berbicara seorang diri merutuki perbuatannya. Memperkirakan hal-hal negatif yang kemungkinan dapat Donghae lakukan untuk membalasnya.


Tanpa memperhatikan langkah kakinya yang menuruni anak-anak tangga, tiba-tiba Yoona tidak dapat mengendalikan keseimbangan tubuhnya karena salah menjatuhkan pijakannya.


“ahkkkk”, teriak Yoona. Yoona yakin jika dalam kasus seperti ini, terjatuh dari tangga, minimal anggota tubuhnya pasti ada yang patah dan terparahnya mungkin dia mati dengan berlumuran darah. Tapi yang Yoona rasakan malah dekapan hangat yang tidak pernah dirasakannya.


Sebuah tangan melingkari pinggangnya. Dengan berlahan, Yoona membuka matanya, memastikan apa yang terjadi. Ketika matanya benar-benar terbuka, hal pertama yang dilihatnya adalah mata sendu. Yoona menyukai mata sendu itu. Mata yang memancarkan kelembutan dan kehangatan. Dan mata itu milik… Deg.


Jantung Yoona langsung berdebar kencang tidak terkendali. Posisinya sedang berdiri lurus diatas salah satu anak tangga dan punggungnya merapat di dinding kanan tangga dengan tangan kanan seorang namja melingkari pinggangnya dan tangan yang satunya menempel di dinding tepat disamping kepala Yoona, menahan beban tubuhnya.


Ini pertama kalinya Yoona melihat wajah seorang namja yang sudah dianggapnya seperti musuh, dalam keadaan sangat dekat. Hanya satu yang dapat dikatakan oleh Yoona, untuk menggambarkan keadaan namja yang menolongnya itu. Seksi.


Dengan rambut basah dan kening yang dialiri keringat, namja yang berada tepat di depannya itu sangat seksi dan juga tampan dimatanya.


Yoona adalah gadis populer di SMA Kirin dan tentu saja menjadi pujaan hati namja yang ada disekolah itu. Tapi walaupun begitu tidak ada satupun yang dapat menarik hati yeoja itu, tidak ada yang dapat membuatnya berdebar seperti sekarang ini. Ini kali pertama.


“kau baik-baik saja Yoona-ssi?”, pertanyaan itu segera mengembalikan Yoona kembali pada kesadarannya. Mata Yoona langsung membesar ketika sadar siapa yang ada didepannya sekarang ini dengan kondisi hampir menempel dengan dirinya.


Lee Donghae.


Dengan cepat Yoona mendorong bahu Donghae, menjauh darinya. Ada apa dengannya sampai bisa tidak sadar jika beberapa menit tadi dia sedang mengagumi seorang Lee Donghae. Namja itu terhuyung kebelakang, untung besi pembatas tangga dapat menahan tubuhnya.


“ahkkk”, rintih Donghae ketika punggungnya terbentur besi pembatas tangga. Mendengar rintihan itu Yoona merasa bersalah.


‘apa aku terlalu keras mendorongnya?’, batin Yoona.


“a-apa yang kau lakukan?”, ucap Yoona tajam, berpura-pura marah padahal sedang menutupi kegugupannya, dan pipinya terasa hangat.


“tentu saja menolongmu. Tadi Yoona-ssi hampir terjatuh dari tangga”, balas Donghae sambil menggosok-gosok punggungnya yang sakit.


“untung saja aku masih sempat menjangkau tubuhmu. Jika tidak, mungkin Yoona-ssi sudah pasti terjatuh”, tambah Donghae dengan ucapan formalnya. Terdengar sangat kaku di pendengaran Yoona.


“ta-tapikan tidak perlu sampai kau harus menempel sedekat itu”, ujar Yoona kesal.


“maaf aku tidak sengaja. Itu hanya gerakan spontanitas dan aku tidak dapat menghindarinya”, bela Donghae.


“alasan. Bilang saja kau mencuri kesempatan”, ucap Yoona. Mencari-cari kesalahan yang dapat menjatuhkan namja itu.


“tidak, sungguh”, bela Donghae lagi.


“dan kau…”, ucap Yoona menjeda. Donghae memandangnya dan lagi mata sendu itu berhasil menariknya ke alam bawah sadar.


“aku kenapa? Jangan bilang Yoona-ssi akan memanfaatkan kejadian ini dengan melaporkannya sebagai tindakan pelecahan. Sungguh, aku benar-benar tidak sengaja. Aku hanya berusaha agar Yoona-ssi tidak sampai terjatuh”, kali ini suara Donghae seperti memohon. Bisa sangat fatal jika sampai Yoona melaporkannya. Bisa-bisa beasiswa yang didapatnya ditarik kembali dan orangtuanya akan dipanggil kesekolah. Donghae tidak mau hal itu sampai terjadi.


Yoona terkejut dengan jalan pikiran Donghae. Yoona tidak berpikir sedikitpun untuk memanfaatkan kejadian ini untuk membalas dendam. Namja itu berpikir terlalu jauh.


‘apa aku sejahat itu sampai dia berpikir seperti itu?’, ada perasaan terluka yang Yoona rasakan mendengar ucapan Donghae.


“kau… Bau”, ucap Yoona sambil menutup hidungnya dengan telapak tangannya.


“apa?”, tanya Donghae bingung.


“kau bau Lee Donghae. Menjauhlah. Kau merusak indra penciumanku”, ulang Yoona lebih jelas. Donghae mengendus sekitarnya, lalu kebajunya. Dan benar, dia bau. Dirinya sendiri mengakui itu.


“hehehe, maaf. Aku baru saja selesai membersihkan toilet. Menjalankan hukumanku”, ucap Donghae tersenyum sambil menggarut kepalanya yang tidak gatal. Dia malu.


“pergi. Kau benar-benar menyebalkan”, usir Yoona.


“baiklah. Tapi Yoona-ssi benar tidak apa-apa kan?”, tanya Donghae lagi.


“iya. Sudah, sana”, usir Yoona lagi. Kali ini suaranya sudah meninggi.


“syukurlah. Baiklah, aku pergi. Lain kali hati-hati Yoona-ssi”, nasehat Donghae, lalu menaiki tangga. Yoona masih diam ditempat, hingga Donghae tidak terlihat lagi, barulah yeoja itu langsung terduduk disalah satu anak tangga itu. Kakinya terasa lemas. Pipinya merona dan jantungnya masih berdebar-debar.


“ada apa ini dan tadi itu apa? Apa yang ku lakukan. Aku mengagumi Lee Donghae? Lee Donghae. Ya Tuhan. Aku benar-benar sudah gila”, dengan berlahan Yoona bangkit berdiri, membawa tubuhnya keluar dari gedung sekolah.


“aku pasti sudah gila. Aku gila”, guman Yoona.


“STRES”, teriak Yoona sambil menjambak rambutnya.


“yak, kenapa kau berteriak?”, tegur Yuri. Yoona memandang sekitar, ternyata dia sudah sampai didepan gerbang sekolah.


“tidak. Tidak. Ha-hanya saja sepertinya aku kelelahan”, bohong Yoona. Tidak mungkin dia mengatakan pipinya memerah karena Lee Donghae.


“benarkah? Kalau begitu ayo kita pulang, biar kau bisa langsung istirahat”, ujar Taeyeon. Yuri membimbing Yoona berjalan keluar dari gerbang sekolah. Untung Yuri membantunya berjalan, karena sejujurnya kakinya sudah sangat lemas. Sekilas Yoona mengarahkan pandangannya kebelakang, tepatnya ke lantai dua. Deg


Jantung Yoona langsung berdebar kembali. Dialihkannya pandangannya ke depan. Donghae sedang ada disana, dilantai dua sambil memandangnya.


“bi-bisakah kita lebih cepat berjalan. Kepalaku pusing”, ucap Yoona. Sebenarnya hanya alasan, di takut jika bertemu dengan Donghae nantinya. Sooyoung yang memperhatikan tingkah aneh Yoona, memandang kearah Yoona tadi.


Sooyoung melihat seorang namja berpakaian olahraga, berjalan dengan santai sepertinya ingin menuruni tangga. Lee Donghae. Sooyoung yakin itu Lee Donghae. Tapi bukan itu permasalahnya sekarang. Yang jadi permasalahannya, kenapa Yoona menjadi seperti orang yang ketakutan melihat Donghae.


‘pasti terjadi sesuatu tadi’, yakin yeoja tinggi itu. Yakin telah terjadi sesuatu diantara Yoona dan Donghae. Sooyoung tersenyum tipis. Kekemarannya yang suka menonton hal-hal berbau misteri, sangat mendukung dalam menghadapi hal-hal yang diluar nalar manusia. Termasuk kasus Yoona kali ini. Membuat yeoja tinggi itu bersemangat dan penuh keingintahuan.



)))))(((((



Sudah seminggu berlalu sejak insiden ditangga itu dan Yoona selalu menghindar dari Donghae. Segala cara Yoona usahakan untuk tidak bertemu pandang atau berpapasan dengan namja itu. Walaupun tidak dapat semudah itu, karena namja itu duduk di sebelah mejanya.


“Yo-Yoona-ssi”, panggil seorang namja. Namun tidak ada jawaban dari Yoona. Yeoja itu sedang melamun. Hingga sebuah sentuhan di lengannya barulah yeoja itu sadar. Yoona mendongak, memandang orang yang dengan berani mengusiknya.


‘Mata teduh’


Kata-kata itu yang terlintas pertama kali dalam pikiran Yoona.


“Yo-Yoona-ssi, maaf bisa kita bicara sebentar? Aku ingin diskusi tentang tugas kelompok dari Nam saem”, ucap Donghae. Yoona tidak merespon, dia hanya diam membeku ditempat.


“Yoona-ssi?”, panggil Donghae karena tidak ada respon dari orang yang dipanggilnya.


“a-aku ada urusan”, ucap Yoona cepat dan langsung pergi begitu saja dari hadapan Donghae.


‘apa aku salah lagi? Aku membuatnya marah’, batin Donghae. Namja itu mengerutkan kening, bingung dengan tingkah Yoona yang beberapa hari ini seperti menghindarinya.


Yoona berjalan cepat menuju toilet. Yoona langsung masuk ke salah satu bilik toilet, duduk diatas closet duduk. Yoona menyentuh kedua pipinya yang diyakininya pasti memerah lagi.


‘Apa aku salah lagi? Aku membuatnya marah’


Tiba-tiba terdengar suara seseorang. Yoona memandang sekitar. Tidak mungkin ada orang lain dibilik toilet yang dimasukinya itu terkhusus suara itu suara namja. Yoona bergidik ngeri. Sebenarnya ini bukan yang pertama kalinya Yoona mendengar suara itu, ini sudah yang kesekian kalinya. Dan Yoona mengenal suara itu.


“tidak. Ini tidak mungkin”


“Pergi. Pergi. Pergi”, teriak Yoona. Akibat teriakan itu beberapa siswi yang ada di dalam toilet segera mengetok pintu bilik toilet yang Yoona gunakan.


“Yoona, kau baik-baik saja?”, seru siswi itu bergantian.


“pergi. Ku mohon pergilah. Jangan ganggu aku. Aku minta maaf. Aku tidak akan berbuat jahat lagi. Ku mohon”, Yoona memohon entah kepada siapa sambil menutup kedua telinganya dengan telapak tangannya.


Yoona seolah-oleh tuli, tidak mendengar gedoran pintu. Yang ada dipendengarannya hanya suara itu. Suara sendu yang terdengar sedih. Dan kesedihan itu akibat dari dirinya sendiri. Yoonalah yang menyebabkannya.


Suara pintu yang digedor terus terdengar. Hingga terdengar teriakan yang sangat kencang dari beberapa siswi yang sangat Yoona kenal.


“Yoona, Yoong, IM YOONA”, Yuri, Taeyeon dan Sooyoung memanggil nama Yoona. Hingga teriakan terakhir dari Sooyoung yang sangat keras, barulah Yoona sadar. Yoona menyentuh pipinya yang basah karena menangis ketakutan. Yoona mengedarkan pandangannya kesekeliling toilet sempit itu. Tidak ada siapa-siapa.


‘Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa aku bisa mendengar suaranya? Apa ini karma karena aku selalu berbuat jahat padanya dan dia tidak mengeluh?’


“YOONA”, terdengar teriakan dari Sooyoung lagi. Yoona beranjak berdiri, mengusap wajahnya yang masih basah lalu merapikan rambut dan seragamnya. Merasa semua kembali rapi, Yoona menarik napasnya dalam-dalam, lalu mencoba menghembuskannya.


Dengan berlahan Yoona membuka pintu toilet yang ada didepannya. Yoona terkejut, sudah banyak siswi didepannya. Menatapnya khawatir terkhusus tiga sahabatnya. Dengan cepat, Yoona langsung merasakan kehangatan akibat pelukan dari Yuri disusul Taeyeon dan Sooyoung.


“Ada apa? Kau kenapa Yoona?”, tanya Yuri lembut sambil mengelus rambut Yoona.


“iya kau kenapa? Kau berteriak seperti orang ketakutan Yoong”, tanya Taeyeon juga.


“katakan ada apa? Kenapa kau mengatakan pergi?”, tanya Sooyoung sambil melirik ke dalam bilik toilet, dibelakang Yoona.


“apa di dalam ada hantu?”, bukannya takut, Sooyoung malah terlihat antusias mengatakannya. Memang hanya gadis tinggi itu yang sangat menyukai hal-hal seperti itu.


“auwww, kenapa kau memukul ku”, adu Sooyoung ketika mendapatkan sakit di lengannya.


“jaga bicaramu. Bisa tidak pikiran anehmu itu tidak muncul disaat seperti ini”, marah Yuri.


“kenapa? Aku kan hanya bertanya. Awww, YAK”, Sooyoung berteriak kesakitan karena kali ini pukulan dari Taeyeon.


“aish kau ini”, marah Taeyeon. Siswi yang ada disana sudah terkekeh, lucu dengan kesakitan yang Sooyoung rasakan. Yeoja tinggi itu memang sangat terkenal dengan jalan pikirannya yang aneh. Tapi walaupun seperti itu, Sooyoung tipe gadis yang pintar dan gampang bergaul. Jadi Sooyoung tetap punya banyak teman walaupun aneh.


“sudahlah. Dia hanya terlalu khawatir dan… mungkin juga penasaran. Bukan begitu Soo?”, Yoona tersenyum melihat tingkah sahabat-sahabatnya itu. Mungkin jika bukan mereka yang memanggilnya, jika bukan suara mereka yang Yoona dengar tadi, mungkin saja dia sudah pingsan didalam toilet itu. Yoona senang selalu ada mereka disaat-saat senang dan sulit sekalipun.


“Hehehe, tapi walaupun seperti itu, syukurlah kau baik-baik saja”, balas Sooyoung dengan cengiran kudanya.


“jadi apa yang terjadi?”, tanya Yuri.


“nanti akan aku ceritakan. Tapi sepertinya aku perlu ke UKS untuk istirahat. Kepalaku pusing”, ujar Yoona. Sahabatnya itu segera menuntun Yoona keluar dari toilet.


Ketika baru keluar dari toilet, jantung Yoona langsung berdebar-debar kencang, tubuhnya membeku seketika. Didepannya Donghae berdiri memandangnya khawatir. Tiba-tiba Yoona penasaran apa yang sedang dipikirkan namja itu. Tapi sayangnya suara itu tidak terdengar sedikitpun.


‘Kenapa? Kenapa ketika berada didekatnya, suara itu malah tidak terdengar’, Yoona membatin.


“Yoona, ada apa?”, tanya Taeyeon. Yoona langsung tersadar dari diamnya.


“ohh… ti-tidak ada”, jawab Yoona terbata. Mereka melanjutkan langkah mereka. Ketika jaraknya semakin menjauh, langkah Yoona terhenti.


‘Dia kenapa?’


Suara itu, lagi. Suara itu terdengar. Dengan cepat Yoona berbalik, menghadap kearah Donghae yang masih menatapnya. Beberapa saat tatapan mereka bertemu.


‘kau baik-baik saja Yoona-ssi? Semoga iya’


Suara itu terdengar. Yoona dapat mendengarnya. Jika tadi ditoilet dia seperti orang ketakutan mendengar suara itu, sekarang berbanding terbalik. Yang ada kini dia sudah seperti Sooyoung. Sangat penasaran dan antusias.


Kening Yoona berkerut. Ada yang aneh dengan datangnya suara itu. Wajah Yoona tampak serius dan kaku sambil memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi. Namun Donghae salah mengartikan raut wajah Yoona itu. Donghae berpikir jika Yoona sedang menatapnya dengan penuh kebencian. Sehingga Donghae memutuskan untuk berbalik, masuk ke dalam toilet namja.


“ini sangat aneh”, gumam Yoona.


“apa yang aneh?”, seru Sooyoung. Yoona langsung memandang wajah sahabat-sahabatnya. Sepertinya tidak ada salahnya bercerita sedikit kepada mereka tentang apa yang ada dipikirannya.


“ayo, kita ke UKS. Akan ku ceritakan disana. Tapi sepertinya jam pelajaran akan dimulai. Nanti saja kalau begitu”, Yoona tersadar jika jam pelajaran sebentar lagi akan dimulai. Tidak mungkin sahabatnya itu harus membolos karenanya.


“aish, siapa yang peduli dengan pelajaran disaat-saat seperti ini”, seru Taeyeon. Yoona, Yuri dan Sooyoung kaget dengan seruan yeoja mungil itu. Pasalnya diantara mereka berempat, Taeyeonlah yang paling tidak suka membolos saat jam pelajaran. Tapi lihat sekarang, yeoja itu malah tidak peduli jika dirinya akan ketinggalan pelajaran kesenian – pelajaran favorite-nya.


“kenapa? Memangnya kalian tidak penasaran dengan apa yang terjadi dengannya?”, tanya Taeyeon kepada Sooyoung dan Yuri. Keduanya mengangguk setuju.


“nah, tunggu apa lagi, ayo ke UKS”, seru Taeyeon bersemangat, bahkan yeoja mungil itu sudah terlebih dahulu berjalan menuju ruang UKS.


“hahaha, ada apa dengannya? Sepertinya dia terserang virus Sooyoung”, seru Yuri sambil tertawa disambut juga tawa dari Yoona bahkan Sooyoung sendiri ikut tertawa. Padahal Yuri sedang mengatakan dirinya sebagai virus. Tapi itulah Sooyoung, dia tidak mudah sakit hati atau tersinggung. Dia malah senang jika orang disekitarnya ikut gila sepertinya.


“ayo”, ajak Yuri untuk melanjutkan langkah mereka menuju UKS. Sedangkan Taeyeon sudah tidak terlihat lagi.


Sooyoung memperhatikan sekitarnya, jika saja ada yang aneh terjadi. Atau mungkin ada yang mengikuti mereka. Karena menurutnya sesuatu yang akan Yoona ceritakan sangat rahasia bagi mereka.


Siapa yang bisa menjamin sebuah rahasia akan selalu tersimpan selamanya. Tidak ada yang tahu jika sekitar mereka biasa saja ada yang mendengar dan itu pasti akan menjadi bumereng bagi mereka.



)))))(((((