Loco

Loco
Chapter 20



Hari ini Yoona tiba disekolah lebih pagi dari biasanya. Bahkan sekolah masih sangat sepi ketika dia tiba. Hanya ada beberapa murid yang juga baru sampai dan juga para petugas kebersihan.


Semalam entah mengapa ibunya pulang ke rumah, tidak seperti biasanya. Karena itulah Yoona memutuskan untuk cepat-cepat berangkat ke sekolah, sebelum ibunya bangun dan mengoceh hal-hal yang bisa merusak paginya dan memancing keributan. Yoona masih ingin paginya penuh ketenangan.


Ketika Yoona baru saja duduk dikursinya, seseorang juga masuk ke kelas. Dia cukup heran Yuri tiba disekolah pagi-pagi. Walaupun Yoona tahu jika rumah Yuri jauh dari sekolah dan sahabatnya itu selalu berangkat pagi-pagi. Tapi mengingat ini masih terlalu pagi, Yoona menjadi mengira-ngira jam berapa Yuri berangkat dari rumah jika sepagi ini dia sudah tiba disekolah.


“oh… Yoong? Kau sudah masuk sekolah lagi?”, ujar Yuri. Yoona pun kaget. Dia tidak mengerti maksud Yuri. Yoona pun buru-buru mencek ponselnya dan melihat tanggal. Dan dia merasa tidak ada yang aneh. Dia ingat masih melalui hari-hari kemarin dan masuk ke sekolah. Bahkan dia sampai harus setiap hari membuntuti sahabatnya itu.


“a-aku tidak masuk sekolah lagi? Sindrom itu kumat lagi?”, panik Yoona seorang diri. Gadis itu bahkan mengingat-ingat apa yang dilaluinya seminggu terakhir ini.


‘ja-jadi ciuman dengan Donghae itu hanya mimpi?’, batin Yoona, dia merasa sedih dan kecewa karena itu semua hanyalah mimpi.


Yuri yang menatap raut sedih Yoona pun tidak bisa menahan tawanya lagi. Gadis itu tertawa sampai terbahak-bahak.


“kenapa kau ter- Yak… kau membohongiku”, seru Yoona kesal ketika akhirnya dia sadar Yuri sedang


menjahilinya. Padahal dia tadi sudah merasa sangat sedih. Tapi syukurlah ternyata dia benar-benar merasakan bibir Donghae kemarin.


‘aish… kenapa aku selalu memikirkan itu’, maki Yoona pada dirinya sendiri.


“maaf Yoong. Lagi pula kau terlalu serius menatap ku tadi. Seperti kau tidak mengenalku”, canda Yuri. Yoona pun cemberut.


“aku bukannya tidak mengenalmu. Aku hanya kaget kau tiba disekolah sangat pagi. Jadi aku sedang memperkirakan kau berangkat dari rumah jam berapa”, balas Yoona masih dengan nada cemberutnya.


“oh itu. Aku tadi menumpang dengan mobil sewaan nenek tadi. Nenek sedang ingin bertemu dengan pedagang sayuran yang biasa menerima setoran sayuran nenek. Jadi aku ikut saja. Hitung-hitung menghemat ongkos”, jelas Yuri. Yoona pun mengangguk, akhirnya mengerti.


Dengan jarak yang dipisahkan 5 meja ke meja Yuri yang paling depan, Yoona memperhatikan sahabatnya itu yang mulai merapikan meja dan lacinya.


Kebiasaan Yuri ketika pagi hari dikelas. Gadis itu akan mempersiapkan mejanya serapi mungkin. Menyiapkan buku pelajaran secara berurutan dan mencek kembali buku tugasnya.


Melihat Yuri sudah melakukan rutinitasnya itu, Yoona pun bangkit menghampiri Yuri. Tadi dia teringat dengan saran Donghae yang menyuruhnya untuk menanyakan langsung pada Yuri tentang kecurigaannya itu.


“Yuri-ya”, panggil Yoona. Yuri pun menoleh ketika Yoona sudah berada dibelakangnya. Yoona duduk dikursi dibelakang meja Yuri.


“ada apa?”


“aku ingin bertanya sesuatu. Tapi kau jangan marah”


“apa?”


Yoona terdiam dulu. Dia sedang menyusun kata-kata yang tepat agar Yuri tidak tersinggung.


“akhir-akhir ini aku sering melihat mu masuk ke ruangan kepala sekolah. Apa ada hal penting yang harus kau lakukan disana?”, tanya Yoona hati-hati.


“Ya. Sangat penting. Menyangkut hidup dan matiku”, jawab Yuri. Yoona pun langsung kaget. Pikirannya pun semakin menjalar keberbagai hal.


‘apa jangan-jangan kepala sekolah itu mengancamnya?’, batin Yoona.


“Yoong”, panggil Yuri.


“hah?”


“jujur pada ku. Apa yang sedang kau pikirkan sampai terus membuntutiku akhir-akhir ini? Apa karena masalah aku sering masuk ke ruangan kepala sekolah?”, tanya Yuri.


Yoona terdiam seribu bahasa. Dia kaget Yuri ternyata tahu dirinya selama ini mengikutinya.


“Yoong?”


“ah… itu. Aku… aku… maafkan aku. Aku tidak bermaksud. Aku hanya khawatir kau terlibat masalah besar dan tidak mau bercerita pada kami. Hingga aku mulai menduga kau… kau sedang menjalin hubungan khusus dengan kepala sekolah kita. Maafkan aku. Maafkan aku Yuri-ya”, ucap Yoona, cepat-cepat meminta maaf. Dia takut Yuri tersinggung. Jika pun benar Yuri melakukan itu, Yoona akan menerimanya. Bagaimanapun dia menyayangi sahabat-sahabatnya itu.


Tapi yang terjadi bukanlah Yuri yang tersinggung atau marah padanya. Yuri justru tertawa terbahak-bahak lagi. Yoona pun menatap Yuri dengan kebingungan. Gadis itu bahkan berpikir ulang, apa tadi sedang mengatakan hal yang cucu sampai sahabatnya itu tertawa begitu keras seperti itu.


“apa aku salah?”, tanya Yoona.


“tentu saja kau tidak salah”


“a-apa?”, kaget Yoona. Tidak menyangka benar adanya jika Yuri berhubungan khusus dengan kepala sekolah mereka. Tapi kenapa?


“maksudku kau benar sebagian. Sebagiannya lagi kau salah besar”, jelas Yuri.


“memang benar jika aku sedang ada masalah. Karena itu aku berulang kali menemui kepala sekolah. Tapi sampai menjadi hubungan dengan pria tua dan gendut itu… yang benar saja”, ujar Yuri sambil meringis.


Yoona pun menghela napas lega. Ternyata dugaannya selama ini salah. Dia terlalu berpikir buruk pada sahabatnya itu. Yoona pun semakin merasa bersalah.


“mianhae”, sesal Yoona.


“sudahlah. Tidak apa-apa. Aku mengerti. Jika aku diposisimu dan salah satu dari kau, Soo atau Taeng melakukan seperti yang ku lakukan kemarin, bisa saja aku juga mencurigainya. Sudahlah. Tidak apa-apa”, balas Yuri sambil menepuk-nepuk kepala Yoona.


Yoona masih menatap Yuri dengan wajah bersalahnya. Hingga kemudian dia tersenyum. Ternyata benar yang Donghae katakan. Yuri adalah gadis dengan pemikiran dewasa dan baik hati. Yoona ternyata masih belum mengenal Yuri dengan baik. Padahal mereka sudah bersama sejak di Sekolah Dasar.


Tapi Yoona juga berpikir mengapa Donghae jika tentang Yuri, pria itu bisa lebih peka. Kenapa dengan dirinya pria itu selalu bertindak bodoh dan tidak peka?


“dasar Lee Donghae menyebalkan”


 “Lee Donghae?”, tanya Yuri. Yoona pun langsung membekap mulutnya. Ternyata dia tadi tidak sedang membatin. Sial.


“ada apa dengan Lee Donghae”, tanya Yuri.


“ah tidak ada”, balas Yoona cepat.


“tapi Yuri-ya… sebenarnya kau sedang ada masalah apa?”, tanya Yoona.


“Kim saem mengatakan beasiswa ku akan ditarik karena nilai ku turun semester ini dan juga aku akhir-akhir ini sering bolos kelas tambahan”, ucap Yuri dengan nada sedih. Yoona pun prihatin pada sahabatnya itu.


“lalu?”


“aku meminta Kim saem untuk membantuku. Tapi seam mengatakan dia tidak bisa membantu. Lalu dia menyarankan ku untuk bicara langsung dengan kepala sekolah”


Yoona akhirnya mengerti titik permasalahan Yuri. Lagi-lagi dugaan Donghae benar.


“lalu apa yang kepala sekolah katakan? Kenapa kau harus berulang kali ke ruangannya?”


“kepala sekolah mengatakan itu adalah keputusan yayasan. Jadi aku harus berulangkali datang ke ruangannya, memohon agar membantu ku”


“lalu bagaimana sekarang?”


“hah… masih dalam proses”, jawab Yuri lesu. Yoona pun semakin prihatin. Dia tidak menyangka Yuri sedang memikul beban seberat itu. Beasiswa yang Yuri dapat memang adalah hal yang paling berharga bagi Yuri.


Mengingat Yuri adalah yatim piatu dan hidup dengan seorang wanita paruh baya – neneknya, tentu mendapat beasiswa menjadi hal yang paling berharga bagi gadis itu.


Yoona mengelus-elus lengan Yuri. Dia turut prihatin. Yoona tidak bisa berbuat banyak. Dia hanya bisa mendukung Yuri saja. Karena jika dia membantu secara materi, tentu Yuri tidak akan suka. Bahkan bisa saja Yuri merasa tersinggung. Jadi Yoona sebagai pendukung saja.


)))))(((((


“syukurlah”, ujar Donghae setelah Yoona menceritakan semua kecurigaan mereka selama ini salah.


Saat ini Yoona dan Donghae sedang berada di perpustakaan. Kebetulan sekali keduanya bertemu, ketika keduanya sedang mencari buku di rak bahasa dan sastra.


“sudah ku katakan Yuri tidak mungkin seperti itu. Kau terlalu banyak berpikir hal-hal yang buruk”, ujar Donghae lagi. Sedangkan Yoona sudah cemberut. Dia tahu dirinya salah.


“aku kan hanya menduga saja”, Yoona mencoba membela diri.


“jika sejak awal kau menanyakannya langsung, hal seperti kemarin tidak akan terjadi. Kau bahkan sampai terluka”, omel Donghae.


Yoona menipiskan bibirnya. Kenapa lama-kelamaan Donghae semakin menyebalkan karena terus menyalahkannya.


“iya aku tahu aku salah. Kau tidak perlu terus menerus menyalahkan ku. Lagi pula aku sudah minta maaf pada Yuri”, ujar Yoona. Dengan kesal diambilnya satu buku dan langsung pergi.


“hei… Yoona. Kau marah?”, ujar Donghae. Ternyata pria itu menyusul Yoona.


“aku tidak bermaksud seperti itu? Maafkan aku. Yang ku maksud adalah sesekali kau harus lebih percaya pada orang lain, terutama Yuri kan sahabatmu. Yuri akan kecewa jika kau tidak percaya padanya”, jelas Donghae. Yoona pun terdiam.


“iya aku tahu. Tapi kau bisa tidak berhenti menyebut nama Yuri terus menerus? Telinga ku sakit jika kau menyebut nama Yuri berulang kali”, balas Yoona dengan nada kesal. Gadis itu pun melanjutkan langkahnya. Buku yang diambilnya tadi diletakkan secara asal dia atas rak yang berbeda dari sebelumnya.


“jangan mengikutiku. Jika tidak, aku benar-benar akan mencekik mu”, ancam Yoona cepat ketika Donghae berniat untuk mengejar Yoona. Donghae pun langsung terdiam ketika ditatapnya Yoona sudah memperlihatkan kuku-kuku panjangnya lagi.


“menyebalkan”, ujar Yoona sebelum benar-benar menjauh dari Donghae.


Sepanjang langkahnya menuju kelas Yoona mengingat kata-kata Donghae tentang saling percaya. Ya, seharusnya dia bisa lebih percaya pada sahabat-sahabatnya. Mereka sudah mengenal sangat lama dan mengerti satu sama lain. Baik atau buruk masing-masing dari mereka juga sudah begitu hapal.


Yoona masuk ke dalam toilet yang tampak sepi. Sampai masuk ke dalam salah satu bilik pun, Yoona masih merenungi perkataan Donghae.


Setelah selesai dengan panggilan alamnya, Yoona pun sudah bertekat, mulai sekarang akan lebih mempercayai sahabat-sahabatnya itu.


Bertepatan dengan Yoona yang ingin membuka pintu bilik yang digunakannya, dia mendengar suara Sooyoung dan Yuri yang sepertinya baru masuk.


Yoona sudah berniat untuk menyapa mereka ketika tiba-tiba dia mendengar keduanya sedang membicarakannya. Yoona pun mengurungkan niatnya untuk menyapa mereka.


“jadi dia percaya kau memberi alasan karena beasiswa?”


Yoona tahu itu suara Sooyoung yang bertanya.


“tentu saja percaya. Aku sudah memikirkan semuanya ketika kemarin dia dan Donghae hampir saja memergoki ku”


Kali ini Yuri yang menjawab. Yoona mengepalkan tangannya erat. Jadi ternyata dirinya dibohongi selama ini.


“aku bahkan harus berpura-pura masuk ke dalam ruang guru untuk mengalihkan mereka. Tapi ternyata mereka tidak menyerah juga”, lanjut Yuri.


“makanya lain kali kau harus lebih berhati-hati. Bagaimana jika sampai kau ketahuan kemarin? Tamatlah riwayat mu”


“ya untunglah”


Yoona yang tidak tahan lagi, langsung keluar dari bilik toilet itu.


“apanya yang untunglah?”, ucap Yoona dengan nada datar.


“Yoona”, seru keduanya kaget dengan kehadiran Yoona. Yoona bisa melihat keduanya begitu panik.


“untunglah karena kau bisa membodohi ku? Begitu Kwon Yuri?”, ujar Yoona kali ini terdengar nada suara yang menahan amarah.


Yuri dan Sooyoung yang panik tidak bisa berkata-kata.


“Yoona, bukan begitu. Yuri tidak bermaksud. Dia hanya-”


“jangan ikut campur. Kau diam saja”, balas Yoona langsung motong ucapan Sooyoung.


“kau pikir kau sudah hebat karena berhasil membodohi ku hah?”, ucap Yoona sambil mendorong-dorong bahu Yuri. Gadis itu tidak melawan. Hal itu tentu membuat Yoona semakin marah. Dia masih berharap jika Yuri akan merasa bersalah dan meminta maaf. Tapi yang terjadi justru Yuri diam saja.


“Yoona. Dengarkan dulu. Jangan seperti ini”, ucap Sooyoung mencoba menenangkan Yoona. Dia tahu sifat tempramen Yoona jika sedang marah besar, tidak bisa dikendalikan.


“SEPERTI INI BAGAIMANA? DIA TERNYATA MEMBODOHI KU SELAMA INI. DAN KALIAN MENJADIKAN KU SEBAGAI BAHAN LELUCUAN. KALIAN PIKIR AKU BISA MENERIMA INI?”, teriak Yoona. Dan dia langsung mendorong Yuri keras hingga gadis itu terjatuh dilantai.


Sooyoung kaget dengan apa yang telah Yoona lakukan. Dia tidak menyangka Yoona tega melakukan itu pada Yuri. Dia harus segera menghentikan Yoona, jika tidak akan terjadi hal fatal lainnya. Sooyoung bahkan tidak sanggup untuk membayangkannya.


Namun belum sempat Sooyoung bertindak, dalam sekejap mata, Yoona terhempas membentur pintu salah satu bilik toilet itu.


Sooyoung berbalik dan menemukan Taeyeon sudah berada dibelakangnya sambil menyulurkan tangannya, membuat Yuri berdiri dengan tegak.


Baik Sooyoung, Yuri masih terlihat sangat kaget. Sedangkan Yoona, gadis itu terdiam dengan mata membulat dengan apa yang Taeyeon barusan lakukan.


Yoona tidak ingin percaya jika Taeyeon masuk ke toilet itu melalui jendela. Dan Yoona bisa pastikan jika tadi hanya ada dirinya, Sooyoung dan Yuri di toilet itu. Dan yang paling membuat Yoona tidak bisa berkata-kata adalah Taeyeon yang bisa menghempaskannya tanpa menyentuhnya dan juga bisa membuat Yuri bangkit berdiri hanya dengan menggerakkan tangannya dari jarak jauh.


‘se-sebenarnya Taeyeon itu apa? Dia pasti bukan manusia dan…’, Yoona menatap Sooyoung dan Yuri yang terlihat masih kaget. Tapi Yoona bisa melihat keduanya tidak merasa takut seperti yang dirasakannya sekarang. Yoona bahkan bisa merasakan tubuhnya bergetar ketakutan. Sooyoung dan Yuri seperti sudah tahu Taeyeon itu siapa.


Tiba-tiba Yoona pun tersadar akan sesuatu. Selama ini dia tidak mengenal keluarga Taeyeon dan juga Sooyoung padahal mereka sudah saling mengenal sejak kecil. Dan juga dirumah nenek Yuri, tidak ada satupun foto yang memperlihatkan Yuri dengan nenek. Yang ada hanya foto nenek dan almarhum suaminya.


“se-sebenarnya kalian ini siapa? Per-perlihatkan wajah buruk kalian yang sebenarnya”, teriak Yoona.


Brak


Tiba-tiba pintu bilik disamping Yoona terbuka dengan keras. Namun tidak ada seorang pun didalam bilik itu. Yoona kembali menatap Taeyeon yang kini sedang melangkah mendekatinya. Yoona bisa melihat mata Taeyeon seperti mengeluarkan api.


“Taeyeon… hentikan”, cegah Yuri. Dia panik Taeyeon akan berbuat nekat dan menyakiti Yoona.


“dia harus diberi pelajaran karena sudah berani mendorongmu. Dia pikir dia siapa? Kalau bukan karena kita, dia tidak akan bisa bertahan hingga sekarang”, balas Taeyeon langsung menyingkirkan Yuri dari hadapannya. Yuri pun terhempas, untung saja Sooyoung langsung menangkap tubuh Yuri.


Melihat apa yang dilakukan Taeyeon, membuat Yoona semakin ketakutan. Tubuhnya bergetar dan mengeluarkan banyak keringat. Dia ingin berlari keluar dari toilet itu. Tapi kakinya sangat lemas, tenaganya hilang seketika.


Lidah Yoona pun terasa kelu, membuatnya tidak bisa mengeluarkan suara lagi bahkan untuk berteriak sekali saja pun dia tidak bisa. Yang bisa Yoona lakukan adalah menyeret tubuhnya menjauh ketika Taeyeon semakin mendekatinya.


“Sooyoung… hentikan dia. Jika tidak Yoona akan terluka”, ujar Yuri. Sooyoung pun langsung tersadar.


Yoona bisa melihat tubuh Sooyoung menghilang dan tiba-tiba sudah berada di belakang Taeyeon.


Dengan cepat Sooyoung memeluk Taeyeon dari belakang lalu mengucapkan beberapa mantra untuk menghentikan kekuatan Taeyeon. Beberapa kali Taeyeon masih terlihat memberontak. Sooyoung bahkan terlihat kesulitan untuk menahannya.


“sial”, ujar Sooyoung karena mantra yang baru saja dibacakannya belum berfungsi dengan sempurna.


Sooyoung pun mencoba mantranya kembali. Kali ini satu lengannya masih memeluk Taeyeon dari belakang dan lengan satunya lagi, telapak tangannya menangkup kepala Taeyeon.


Sambil terus melafalkan mantra dalam hati, Sooyoung bisa merasakan telapak tangannya seperti terbakar. Kekuatan asli Taeyeon memang sangat kuat. Bahkan tidak ada yang bisa mengalahkan sahabatnya itu.


Sooyoung meringis kesakitan karena tidak hanya tangannya saja kini yang terasa terbakar, tapi seluruh tubuhnya. Bahkan dari tubuh Sooyoung keluar asap, persis seperti terbakar.


“Yoona… pergilah”, seru Yuri ketika Sooyoung hampir selesai dengan ritualnya. Yoona terdiam kaku. Tubuhnya tidak bisa digerakkan sedikitpun.


“YOONA… CEPAT PERGI”, teriak Yuri. Setelah teriakan Yuri itu, Yoona merasakan tubuhnya seperti terlonjak kaget, seolah nyawanya kembali ke raganya.


Dengan begitu ketakutan Yoona berlari keluar dari toilet itu. Pandangannya tidak fokus dan arah larinya tidak benar, tapi Yoona memaksa dirinya untuk segera kembali ke kelas dan menjauh dari mereka.


“Yu-Yuri… bantu aku”, ucap Sooyoung yang sudah tidak sanggup lagi menahan kekuatan Taeyeon. Yuri pun langsung mengulurkan tangannya, meletakkannya dipunggung tangan Sooyoung yang menangkup wajah mungil itu.


Baik Sooyoung maupun Yuri menahan kesakitan yang luar biasa. Hingga tenaga mereka hampir habis barulah Taeyeon bisa dihentikan. Gadis mungil itu langsung tidak sadarkan diri. Untunglah Yuri langsung menahan tubuh Taeyeon.


“aish… sial. Kenapa harus sekarang Yoona tahu”, kesal Sooyoung.


Mereka memang sudah berniat akan memberitahu siapa mereka sebenarnya pada Yoona ketika Yoona sudah lulus SMA dan tentunya dengan cara baik-baik. Tapi yang terjadi sekarang justru sebaliknya.


“andai saja tadi kita tidak ceroboh, pasti Yoona tidak akan melihat semua ini”, sesal Sooyoung.


“sudahlah. Tamatlah riwayat kita”, pasrah Sooyoung kini sudah terduduk dilantai, mengeluh dengan kegagalan mereka.


“dan jangan lupakan, kita tidak akan bisa lulus karena ujian kali ini pun kita gagal”, ucap Yuri membuat Sooyoung semakin mengerang kesal dengan kegagalan mereka yang sudah berpuluh-puluh kalinya.


Yuri meletakkan tubuh Taeyeon berbaring dilantai. Setelah itu dia mijat keningnya. Dia pusing bagaimana harus memberi alasan apa lagi atas kegagalannya kali ini.


Sedangkan Yoona kini sudah tiba dikelas. Dia duduk kursinya dengan wajah pucat. Dia terlihat waspada, mengamati sekitarnya jika saja Taeyeon, Sooyoung atau Yuri mengikutinya.


Yoona berusaha untuk mengatur napasnya agar sedikit bisa lebih tenang. Namun pikirannya masih pada Taeyeon yang sangat menakutkan dan juga kemampuan aneh Sooyoung dan Yuri.


Karena tidak nyaman lagi berada disekolah, takut jika tiba-tiba Taeyeon menyerangnya lagi, Yoona pun langsung memasukkan semua bukunya ke dalam tas dan langsung memeluk tasnya, berlari keluar kelas.


Donghae yang berada dimejanya - disamping meja Yoona, menatap Yoona dengan heran. Dia bisa melihat Yoona seperti orang yang sangat ketakutan. Hingga ketika Yoona berniat untuk pergi, Donghae langsung menahan lengan Yoona.


Donghae kaget ketika merasakan lengan Yoona yang begitu dingin.


“ada apa? Kau sakit?”, tanya Donghae khawatir.


“ti-tidak. Lepaskan aku. A-Aku harus pulang”, balas Yoona terbata-bata sambil melepas lengannya dari Donghae. Lalu langsung berlari cepat. Donghae pun langsung mengejar Yoona.


Namun ketika keluar dari kelas, Donghae bisa melihat Yoona yang berpapasan dengan sahabat-sahabatnya. Tapi Donghae langsung mengerutkan kening ketika Yoona justru mundur, terlihat seperti ketakutan. Gadis itu pun langsung mencari jalan lain untuk pergi.


Donghae pun kembali mengejar Yoona. Tapi suara Taeyeon langsung menginterupsi.


“biarkan saja. Dia akan pulang ke rumah. Kau tidak perlu mengejarnya”, ucap Taeyeon dengan nada lelah – tenaganya belum pulih.


“apa maksudmu? Dia terlihat tidak baik-baik saja”, khawatir Donghae.


“dia hanya kaget saja. Besok juga dia akan kembali seperti semula”, balas Taeyeon.


“kaget? Sebenarnya apa yang ter-”


Donghae menggantung perkataannya ketika dia mulai curiga pada Taeyeon.


“kau… kau memberitahunya identitas aslimu? Dan kalian berdua juga…”


Donghae menunjuk-nunjuk Sooyoung dan Yuri - memastikan dugaannya. Keduanya pun mengangguk membenarkan pikiran Donghae jika mereka berdua sama seperti Taeyeon.


Donghae mundur beberapa langkah – memberi jarak agar sedikit menjauh dari ketiga mahkluk aneh didepannya.


Donghae memijat keningnya. Selama ini yang selalu mengikutinya dan mengganggunya adalah Taeyeon.


Orang yang Donghae lihat ketika insiden Yoona hampir terjatuh ditanggga juga adalah Taeyeon. Gadis yang selalu melemparkan senyum lebar namun mengerikan bagi Donghae setiap kali mereka bertemu.


Gadis misterius yang menyuruhnya untuk berhati-hati pada Yoona karena Yoona bisa mendengar suara hatinya dan membaca jalan pikirannya. Gadis misterius yang duduk didepan kedai keluarganya sambil menonton pertengkaran antara dirinya, Yoona dan Kangin.


Gadis misterius yang dengan begitu sadisnya menikamkan pisau di bahu Kim So Dam hanya dengan gerakan bola matanya. Gadis misterius yang disebutnya dengan witch itu adalah Taeyeon.


Baru saja Donghae bisa menerima jika selama ini dirinya diikuti oleh mahkluk aneh. Tapi kini dirinya harus dikejutkan lagi jika Sooyoung dan Yuri juga ternyata mahkluk yang sama seperti Taeyeon. Dan ketiganya adalah penyihir.


)))))(((((


bersambung...