Loco

Loco
51 Loco: Burung Besi Tak Mungkin Sakit!



Jack masuk ke dalam ruangan itu dengan perlahan sambil menatap seisi ruangan.


"Bababababba... Bababababba...." Suara si kecil Regard terbesar, bayi mungil itu tampak sangat senang melihat kedatangan Jack di ruangan itu.


Sedang dua kakek nenek yang sangat kompak tadi, tak masuk ke dalam ruangan karena melihat Asher sudah terlelap, dan ada Aruna di sana.


Jujur saja, jiwa kepo nenek kakek ini lebih besar dari apapun. Mereka penasaran dengan sosok Aruna, gadis yang mereka sebut sangat cantik.


Tapi karena gadis itu sedang tidur keduanya memilih berkeliling di rumah sakit yang besar itu.


Jack menatap Asher yang sedang berbaring. Dia sudah sangat panik ketika menemukan apa yang sebenarnya terjadi pada Aruna.


Gadis malang itu dijebak!!


"Sial, apa yang harus ku lakukan, si tolol itu juga belum ketemu sampai saat ini!!!" batin Jack sambil berjalan mondar mandir di dalam ruangan itu menatap Asher yang sedang dikompres oleh Dita.


"Ada apa Pak Jack!? kenapa kau begitu gelisah!? sesak berak kau!?" celetuk Dita sambil menatap Jack di belakangnya.


" Haih.. sesak nafas aku malah Dita, apa dia belum bisa dibangunkan!? ada apa dengannya!? kenapa dia bersikap manja seperti ini!?" kesal Jack sambil menatap Asher heran.


"Dasar tidak berperasaan, dia sakit, kau sebagai asistennya harus tahu kalau dia sakit, kenapa kau paksa dia bekerja!??" kesal Dita.


"Sakit!? burung besi itu sakit!? hah sejak kapan manusia robot bisa sakit, bangunkan saja dia, itu hanya akal bulusnya, dia tidak benar benar sakit!!" ketus Jack yang sudah merasa sangat panik saat ini.


"Tidak, dia harus beristirahat, sudah sana keluar dulu, kalau ada yang mendesak kau kerjakanlah lebih dulu, jangan mengganggunya!!" ucap Dita dengan wajah kesal.


Tapi Jack tetaplah si asisten Presdir paling keras kepala.


Tak peduli dengan ucapan Dita dia mendekat ke arah Asher dan mengulurkan tangannya hendak membangunkan Asher.


Grep!!


"Jangan coba coba, dia masih sakit, demam tinggi dan tekanan darahnya tidak stabil, jangan mengganggunya!!" Kesal Dita sambil menarik tangan Jack begitu saja dan menjauhkan pria itu dari Asher.


Dita berdiri sambil merentangkan kedua tangannya di depan Jack, melarang pria itu untuk mendekati Asher yang sedang sakit saat ini.


" Jangan mengganggunya. Keluar kau dasar tukang kentut!!" Ejek Dita.


Jack berdecak kesal," Apa masalahnya, dia tidak mungkin sakit!!" ucap Jack tak percaya sebelum mendengar suara Asher.


" Kesehatannya lebih penting dari apa yang akan kau sampaikan padanya, dia butuh istirahat, jangan keras kepala, pergilah!!" ucap Dita dengan lantang.


" Jack!" suara Dokter Ryan membuat mereka berdua menoleh ke arah kedatangan pria itu.


Penampilannya tak biasa, dia tidak mengenakan jubah dokternya yang lusuh dan juga kelinci kecil tak berbentuk yang sudah sangat antik itu.


Dokter Ryan sangat berbeda hari ini terutama raut wajahnya yang biasanya menyebalkan dan aneh malah berubah menjadi serius.


"Ryan!??" pikir Jack.


"Ada apa dengan Asher!?" Jack mendekat. Sebenarnya dia disuruh oleh tuan Luther ke ruangan ini karena mendengar Asher sakit.


" Dia sakit, dia menahannya dan sampai demam tinggi, sudah ku tangani tadi, biarkan dia istirahat!" ucap Dita.


"halaahh mana mungkin dia sakit, dia itu manusia hempkhh!!!" Jack yang mulutnya longgar langsung disumbat dengan kasa kering oleh Ryan.


" Diam bangsat, kau sama sekali tidak peka, sudah berapa kali kejadian seperti ini, dia bisa mati!!" kesal Ryan sambil menatap Jack yang tahunya hanya bercanda.


Melihat reaksi Ryan, itu artinya Asher benar benar sakit dan Jack telah salah sangka.


" Maaf, dia selalu menyembunyikan penyakit nya sampai mengaku kalau tak bisa sakit, tapi sekarang dia bahkan mau dirawat oleh Mak lampir ini, bukankah itu aneh!?" ucap Jack sambil menatap Dita.


" Kau yang merusak suasana dasar bodoh!!" balas Jack.


" Bisakah kalian berdua hentikan!? Ada dua orang sakit di sini!" hardik Ryan.


" Hemphhk!!" keduanya memalingkan wajah mereka dan menatap ke sembarang arah.


Ryan mengamati Asher, pria itu jatuh sakit lagi, tapi yang aneh adalah sesuai perkataan Jack, dia mau dirawat oleh Dita.


Asher hanya mau dirawat oleh orang-orang tertentu. Dia tidak bisa dekat dengan sembarang orang bahkan mengalami gangguan panik jika didekati orang yang tidak benar benar dia kenal.


Semua ini berasal dari trauma di masa lalu. Setiap bertemu orang baru, melihat benda tertutup. membuka kotak hadiah, dia seolah dihadapkan dengan situasi yang sama sepe ketika dia membuka kotak berisi kepala ayahnya.


Menakutkan dan sangat menyiksa, dia harus hidup dalam penderita itu selama bertahun-tahun lamanya.


Dita terdiam, dia mendengar penjelasan Ryan, tak pernah dia sangka kalau seseorang yang sangat kuat seperti Asher malah mengalami hal mengerikan seperti itu.


"Dokter Dita, ada yang harus kami bicarakan dengan Jack, jagalah mereka, ini tentang apa yang terjadi pada sahabatmu, Aruna!" jelas Ryan sambil menatap Aruna yang tak kunjung sadar.


Dia telah menyimpan hasil visum gadis itu, kenyataan yang sangat berat akan mereka hadapi setelah Aruna bangun.


"apa yang terjadi padanya!? apa kalian menemukan pelakunya!? katakan padaku, siapa dia!? siapa orang itu!?' tanya Dita dengan nada mendesak.


Ryan menatap Aruna sejenak, dia turut berduka atas apa yang terjadi pada Aruna, tapi tak pernah Ryan sangka kalau Aruna akan terlibat dengan seseorang yang tak seharusnya.


" Tenanglah!" Ryan menepuk bahu Dita, dia merasa bersalah pada gadis itu terlebih kepada Dita.


" Setelah Asher bangun, aku akan menjelaskan nya pada kalian," ucap Ryan. Jelas raut wajahnya mengatakan ada sesuatu yang besar di sini. Sesuatu yang akan menghancurkan hari gadis itu.


" Apa kau tidak bisa menjelaskannya padaku lebih dulu!? aku.. aku butuh kepastian!" ucap Dita dengan wajah penuh harap.


Ryan menggelengkan kepalanya, tak bisa dia menjelaskan hanya di depan Dita. Jika dilihat dari karakter Dita, maka setelah dia tahu dalang dibalik kejadian yang dialami Aruna, dia pasti akan membunuh orang itu dengan tangannya sendiri.


"Nanti! kami harus mematikannya dahulu!" ucap Ryan berbohong karena dia sudah tahu apa yang terjadi, kapan, di mana dan siapa dalangnya.


"Kami pergi dulu, jaga mereka, jika Asher sudah bangun, hubungi aku, " ucap Ryan sambil menepuk bahu gadis itu.


" Tapi...


" Dita, " Tiba tiba Ryan menarik gadis itu dan memeluknya.


Dita tentu terkejut, Jack diam saja dan menatap ke arah Aruna yang malang.


" Ku harap kau kuat, dan tetap disisi Aruna, mulai saat ini semuanya mungkin akan sulit baginya!" ucap Ryan lalu melepaskan Dita dan pergi dari ruangan itu.


Dita terdiam, dia menatap kepergian Ryan dengan rasa penasaran yang besar. Entah kenapa hatinya kembali gelisah seperti saat kemarin di pesta pernikahan Caca dan Benny.


" Ada apa ini? kenapa aku gelisah, Aruna, kau baik baik saja kan? siapa yang melakukan ini padamu!!" batin Dita.


Sementara itu di kediaman Wicaksono, Caca duduk dengan tenang di atas kasur empuk sambil berbicara dengan seseorang.


" Hmmm... kerja bagus, pastikan mengirim video itu ke ponsel gadis busuk itu, dia pasti akan mati dan hancur berkeping-keping!" ucap Caca sambil tersenyum sinis sembari mengunyah buah anggur merah di tangannya.


.


.


.


Like, vote dan komen 🤗