
Seorang pelayan yang pertama kali menyapa mereka ketika masuk ke dalam kedai itu datang menghidangkan pesanan Yoona dan Donghae.
“waw” Yoona berseru senang tanpa disadarinya ketika melihat jjajangmyeon yang baru disajikan didepannya dalam porsi mangkuk besar. Sebelumnya dia belum pernah makan sebanyak ini dalam waktu yang bersamaan. Tapi bagi Yoona ini menjadi tantangan untuknya.
Yoona langsung mengambil sumpitnya, mulai mengaduk-aduk jjajangmyeon-nya dengan tidak sabaran dan setelah yakin semua bumbunya sudah tercampur rata, Yoona langsung membuat gulungan besar jjajangmyeon dengan sumpitnya dan langsung masuk ke dalam mulutnya.
Donghae sampai menyernyit – lebih tepatnya takut Yoona akan tersedak dengan gulungan jjajangmyeon ukuran besar itu. Tapi yang terjadi nyatanya gulungan itu dengan mudahnya masuk ke dalam mulut lebar Yoona. Donghae terheran melihat kejadian langka itu.
“pelan-pelan saja”
Donghae memperingatkan Yoona, tapi sangat disayangkan gadis itu seperti orang tuli. Tetap melanjutkan makannya dengan tidak sabaran. Ya Donghae sangat tahu memang Yoona adalah gadis yang paling tidak sabaran.
Bukti nyata dari ketidaksabaran gadis itu adalah Donghae, yang sebagai korban gadis itu. Tapi karena pada dasarnya Donghae adalah pria yang cukup penyabar dan selalu mampu mengontrol emosinya, jadilah pria itu yang selalu terlihat rendah dimata Yoona.
“ukkk… ukkk”
Kekhawatiran Donghae benar terjadi. Yoona tersedak dengan makanannya. Donghae dengan sigap memberikan minuman pada gadis itu yang masih terbatuk-batuk. Sesekali Donghae hanya bisa menggelengkan kepala menatap gadis itu, tapi ujung-ujungnya gadis itu membuatnya tersenyum. Menggemaskan.
“tidak ada tissue?”, gumam Yoona sambil menutup mulutnya.
Donghae pun menatap kotak tissue diatas meja mereka yang memang kosong. Pria itu mengedarkan pandangannya, tapi sayangnya semua meja terlihat penuh dan tidak baik meminta alat makan orang lain terkhususnya ketika mereka telah mulai menyantap makanannya.
Donghae akhirnya berjalan sambil mengedarkan pandangannya, mencari ayahnya, tapi sayangnya pria tua itu tidak terlihat, sepertinya sedang sibuk di dapur.
“ukkkk… ukkk”
Yoona masih terbatuk-batuk walaupun tidak seperti sebelumnya. Donghae pun merogoh sakunya, mengambil sesuatu dari sana, lalu memberikannya pada Yoona.
Gadis itu mengerutkan keningnya menatap wajah Donghae kemudian pada uluran tangan Donghae.
“pakai ini saja. Sepertinya tissuenya sudah habis,” Donghae menjawab kebingungan Yoona.
“tidak perlu,” tolak Yoona.
“tapi… itu…”, Donghae tidak melanjut perkataannya. Dia ragu untuk melanjutkan.
“apa?”, ujar Yoona galak.
“itu… di bi-bibir mu” Donghae menjawab dengan ragu, dan langsung mengalihkan pandangannya karena dia terlalu lama menatap bibir gadis itu. Ini tidak baik untuk dirinya.
“ada ap-”
‘Sialan’
Yoona belum sempat menyelesaikan perkataannya, ketika dia menemukan noda di punggung tangannya ketika menghapus bibirnya tadi. Bibirnya belepotan. Yoona pun mulai terlihat panik.
‘sial... aku pasti terlihat jelek dan kotor. Sial’
Donghae kembali mengulurkan tangannya, memberikan saputangannya yang tadi sempat Yoona tolak.
Dengan wajah gengsinya, Yoona menerima saputangan pria itu. Diusapnya bibirnya dengan elegan, seperti wanita berkelas.
‘wangi’
Dari saputangan itu, Yoona dapat mencium wangi dark wood yang hangat dan maskulin, yang menciptakan aura yang bersahaja namun menggoda. Namja itu benar-benar merusak jalan pikiran Yoona menjadi sedikit liar. Tapi Yoona benar-benar sangat menyukai wangi saputangan itu.
Tanpa Yoona sadari, dia menempelkan sapu tangan itu di hidungnya, menghirupnya dalam-dalam, seolah-olah saputangan itu menghasilkan oksigen untuknya.
“kau baik-baik saja?” tanya Donghae sambil menatap tingkah aneh Yoona.
“aku kenyang” Yoona mengalihkan pertanyaan Donghae.
“tentu saja. Kau menghabiskan jjajangmyeon ukuran besar”
Yoona menatap mangkuknya dan memang benar, mangkuk itu sudah kosong. Astaga Im Yoona memang sangat luar biasa jika sudah berurusan dengan makanan.
“selanjutnya kita akan pergi kemana?” Donghae bertanya ketika beberapa menit mereka hanya terdiam saja.
“tidak perlu. Kita pilih rumah makan ini saja,” putus Yoona.
“kau yakin?” Donghae terlihat ragu dan sebenarnya tidak ingin. Entah mengapa dia merasa akan terjadi hal-hal yang buruk disekitarnya jika memilih rumah makan ini.
“sangat yakin. Sudahlah. Kau diam saja. Aku akan mengurus semuanya”
Yoona segera beranjak dari duduknya, menghampiri seorang wanita yang sedang memunggungi dirinya di balik sebuah meja kasir.
“ajumma[21]” panggil Yoona. Wanita itu pun berbalik. Yoona sempat terdiam sesaat ketika menatap wanita yang sudah lanjut umur itu. Yoona seperti pernah melihat wanita itu, tapi sayang dia tidak ingat dimana tepatnya.
“ada yang bisa saya bantu agassi[22]?” tanya wanita itu.
“ahhh… aku ingin membayar makanan di meja nomor tiga ajumma” Yoona segera tersadar.
“sebentar”
Wanita itu pun mulai menghitung pesanan dimeja nomor tiga. Sesekali wanita itu melirik Yoona sambil tersenyum lembut, Yoona pun menyadari itu. Gadis itu pun ikut membalas tersenyum, walaupun senyum wanita tua itu terasa aneh baginya.
“apa agassi teman Lee Donghae?” tanya wanita itu tiba-tiba, membuat Yoona terlonjak kaget.
“Ne. Ajumma, mengenal pria menyebalkan itu?”
Yoona terus mengoceh tentang hal-hal yang sangat tidak dia suka dari Donghae. Wanita tua itu hanya membalasnya dengan senyum dan anggukan kepala sesekali pada perkataan Yoona yang menurutnya juga merupakan keburukan Donghae.
“tapi ajumma… sebenarnya ajumma kenal Donghae dari mana? Dia sering makan disini?” tanya Yoona ketika tersadar dia terlalu banyak bicara.
“ajumma sangat mengenal anak itu. Mungkin agassi yang belum begitu mengenal anak itu. Tapi percayalah, dia anak yang baik, dia hanya terlalu banyak berpikir dan berhati-hati setiap bertindak” wanita itu menjelaskan sebisanya saja.
“mmm… ku asa memang benar. Dia sepertinya sering datang kesini” simpul Yoona sambil menyerahkan beberapa lembar uang pada wanita itu.
“Ya begitulah” balas wanita itu.
“tolong bersabarlah membimbing anak itu” pinta wanita itu sambil memberikan billing dan uang kembalian Yoona.
Yoona menelengkan kepalanya ke kanan. Bingung dengan ucapan wanita paruh baya itu, tapi Yoona tidak ingin memikirkannya, jadi diabaikan saja.
Yoona berbalik dan pandangannya langsung tertuju pada Donghae yang sedang membersihkan meja yang mereka tempati tadi, kemudiaan ke meja kosong berikutnya hingga seseorang pelayan tua yang melayani mereka tadi mengusik Donghae. Yoona dapat melihat kedua pria itu terlihat akrab walau Donghae sesekali menghindari tingkah konyol pria tua itu.
“mereka setiap hari memang seperti itu. Seperti anak kecil” Yoona menoleh kesamping menatap wanita tua yang tadi berdiri dibalik meja kasir, kini sudah berdiri disampingnya. Lagi-lagi Yoona bingung dengan ucapan wanita itu.
Yoona kembali menatap ke arah Donghae yang masih sibuk dengan kegiatannya membersihkan meja dan sesekali berbicara pada pengunjung yang sedang makan.
‘apa Donghae kerja sampingan disini? Ya mungkin saja. Tapi kenapa aku merasa seperti Donghae sangat akrab dengan semua orang yang ada ditempat ini. Pria tua itu bahkan terlihat sangat dekat dengannya dan ajumma ini juga sepertinya sangat mengenal Donghae, seperti kelu-’
‘Astaga!’
Yoona barulah sadar dengan apa yang terjadi di rumah makan itu sedari tadi. Kedai itu adalah milik keluarga Donghae. Pria tua yang tadi melayaninya adalah ayah Donghae dan wanita yang berdiri disampingnya sekarang adalah ibu Donghae. Sialnya Yoona baru ingat dia memang pernah bertemu dengan wanita tua itu di depan gerbang sekolah bersama Donghae.
‘babo… babo…’
“ada apa?”, tanya Donghae yang kini sudah berdiri dihadapan Yoona yang merutuki kebodohannya.
Yoona menegakkan kepalanya, menatap Donghae dengan wajah memerah, menahan malu. Tidak tahu bagaimana lagi, Yoona langsung pergi - keluar dari kedai itu.
“yak… Im Yoona” panggil Donghae tapi Yoona tidak menoleh sedikit pun.
“susul dia. Jangan menjadi pengecut” sindir seseorang.
“appa aku sudah bilang, dia hanya teman” balas Donghae kesal.
“appa mu benar. Susul dia. Hari sudah semakin gelap, tidak baik membiarkan seorang gadis seorang diri masih diluar rumah” nasehat ibu Donghae sambil meraih nampan yang Donghae bawa.
“baiklah” ujar Donghae pasrah. Walaupun sebenarnya dia yakin Yoona dengan cepat akan menolak niat baiknya itu.
Donghae berlari mencari Yoona yang sudah tidak terlihat lagi. Dia khawatir gadis itu tersesat atau diganggu sekumpulan orang dan berbuat buruk pada gadis itu. Donghae pun menghentikan langkahnya ketika menemukan gadis itu sedang berdiri dipersimpangan jalan sambil menendang-nendang batu. Gadis itu terlihat sangat kesal dan marah.
“Yoona” panggil Donghae ketika jaraknya semakin dekat dengan Yoona.
Yoona menoleh dengan cepat, kaget Donghae sudah menyusulnya.
“kau ingin kemana lagi?” tanya Donghae.
“pulang” balas Yoona ketus.
“biar ku antar”
“tidak perlu”
Donghae pun langsung terdiam dengan penolakan gadis itu. Karena dia sudah tahu sebelumnya dia akan mendapatkan penolakan seperti ini.
Donghae pun berbalik, mulai melangkah menjauhi Yoona. Gadis itu pun langsung terlihat panik karena Donghae ingin meninggalkannya.
“kau mau kemana?” seru Yoona cukup kencang, hingga beberapa orang yang melintas disana menatap gadis itu dengan heran. Sedangkan Donghae yang masih memunggungi Yoona, sudah tersenyum. Akhirnya dia dapat mengalahkan keegoisan Yoona.
“kenapa lagi?” tanya Donghae dengan berpura-pura menggunakan nada suara yang lemah, lelah menghadapi Yoona.
“berdiri disini dan jangan beranjak sedikitpun sebelum ku perintah” atur Yoona sesuka hatinya, sambil menunjuk sisi yang berjarak semeter darinya.
“baiklah” Donghae mengalah.
“aku hanya baru pertama kali datang ke sini. Aku belum hapal jalannya, jadi jangan salah sangka” lagi-lagi Donghae menyadari Yoona menjawab jalan pikirannya. Setelah itu hening, tidak ada yang bicara sepatah kata pun lagi.
“kenapa kau tidak mengatakan sedari awal kalau kedai itu milik keluarga mu?” gumam Yoona tanpa menatap Donghae. Dia sangat malu. Tapi walaupun demikian, Donghae masih dapat mendengarnya.
“mmm… kau tidak bertanya. Lagi pula… aku tidak ingin terlihat seperti seseorang yang sedang menyombongkan apa yang dimiliki”
Yoona langsung menatap tajam pria itu. Gadis itu merasa, perkataan Donghae seperti sedang mengindirnya.
“jangan salah paham. Aku… aku hanya tidak ingin terlihat memihak, mencari keuntungan sendiri” Donghae dengan cepat melanjutkan ucapannya, ketika melihat Yoona menatapnya tajam.
“sialan” Yoona mengumat terang-terangan pada Donghae.
“kau tahu tidak, karena pemikiran bodoh mu itu aku harus menahan malu didepan orangtua mu. Aku tidak tahu lagi harus menaruh dimana wajah ku ini” Yoona meluapkan kekesalannya.
“ma-maaf” Donghae langsung menunduk. Dia tidak tahu jika akan seperti ini jadinya. Dia hanya tidak ingin gadis dihadapannya itu terlalu sering berkeliaran dihadapannya. Ditambah lagi kemungkinan besar di depan orangtuanya jika memang kedai keluarganya yang dipilih gadis itu. Dia tidak memperhitungkan Yoona akan bereaksi demikian.
“aku minta maaf” ucap Donghae lagi ketika melihat Yoona masih terlihat sangat marah walaupun gadis itu tidak mengatakan apapun lagi.
“kau benar-benar tidak ingin ku antar pulang?” Donghae bertanya dengan lembut.
“aku sudah menghubungi supir ku” balas Yoona ketus.
“bagaimana jika kita menunggunya di sana saja. Kau pasti lelah terlalu lama berdiri” Donghae berusaha membujuk gadis itu sambil menunjuk sebuah halte kecil yang terbuat dari tiang-tiang kayu yang sudah tua. Donghae sebenarnya tidak ingin bersikap lembut dan sopan kepada gadis keras kepala itu. Hanya saja Donghae takut Yoona akan bertindak gegabah lagi seperti tadi.
Yoona melangkah mendekati halte itu, lalu duduk diatas balok-balok kayu yang dibuat seperti bangku.
Gadis itu duduk di sisi kiri dan disusul Donghae yang duduk di sisi kanan. Mereka terlihat canggung dan hanya terdiam saja.
Donghae mencoba mencari objek lain selain Yoona untuk menghibur diri dari kesunyiandiantara mereka. Tapi baru beberapa menit menatap ke depan, Donghae sudah melirik Yoona lagi.
Yoona mulai merasa udara semakin dingin. Dia menyesal tidak mengganti rok sekolahnya tadi dengan celana saja. Dia hanya mengganti kemejanya saja tadi. Dan ini benar-benar Yoona sesali karena udara mulai menusuk tulang-tulang kakinya hingga pahanya yang sedikit terlihat karena roknya yang tertarik keatas. Sesekali diusapnya kulit pahanya yang terbuka, mencoba menghangatkan diri. Tapi tindakannya itu segera berhenti ketika sebuah jaket menutupi pahanya. Yoona menoleh menatap Donghae yang kini hanya mengenakan T-shirt saja.
“jangan menolak, jika kau tidak ingin terserang flu” ujar Donghae sambil menatap gadis itu dengan lembut. Karena takut terpesona dengan pria itu lagi, Yoona langsung mengalihkan pandangannya.
Yoona berpura-pura sibuk, merapatkan jaket itu untuk menutup paha hingga kakinya.
“te-” Yoona ingin berterima kasih tapi seseorang menghampiri mereka.
“waw… lihat siapa yang ada disini” sindir suara itu.
“aku sedang tidak ingin berdebat dengan mu, jadi pergilah” usir Yoona pada Kangin.
“benarkah? Tapi aku sedang bersemangat ingin berdebat dengan mu” balas Kangin dengan senyum miring.
“sudahlah Kangin. Kau hanya berurusan dengan ku. Jangan ganggu dia. Kita bisa bicara nanti” bujuk Donghae pada pria yang selalu menganiayanya itu.
“siapa yang menyuruh mu bicara cupu? Aku tidak ingin berbicara dengan mu sekarang. Giliran mu sebentar lagi pengecut. Siapkan saja jatah untuk ku” balas Kangin dengan nada kesal dan mendorong tubuh Donghae hingga terduduk kembali diatas bangku kayu itu.
Melihat Donghae yang begitu lemah langsung meningkatkan kemarahan Yoona hingga ke ubun-ubun. Yoona bangkit dari duduknya dan mendorong dada Kangin agar menjauh dari Donghae.
“kau yang pengecut. Beraninya melawan yang lemah” seru Yoona.
“ohhh lihat ini. Kalian saling membela satu sama lain. Kalian berpacaran?”
“APA? JANGAN ASAL BICARA. AKU TIDAK MUNGKIN BERPACARAN DENGAN SI CUPU INI” balas Yoona dengan cepat, tidak terima dengan perkataan Kangin.
“tidak perlu berbohong, wajahmu memerah” goda Kangin. Yoona dengan cepat menyentuh wajahnya dengan panik. Setelah itu yang terdengar adalah tawa Kangin.
“Im Yoona… Im Yoona. Kau benar-benar penjahat kecil” Kangin terus tertawa, terbahak, mentertawakan kebodohan Yoona yang percaya saja dengan ucapannya.
“sudahlah. Jangan bertengkar. Tidak baik dilihat orang”
“DIAM”
Yoona dan Kangin meneriaki Donghae yang berniat melerai mereka. Dan Donghae pun kembali diam. Dia tidak bisa berbuat apa-apa. Lebih tepatnya tidak ingin terlibat dengan keributan yang diciptakan kedua manusia yang ada didepannya itu. Keduanya sama-sama keras kepala, suka mengatur, tinggi hati dan juga angkuh. Sifat-sifat yang paling Donghae tidak sukai.
Ketika Yoona dan Kangin masih sibuk dengan perdebatan mereka, pandangan Donghae tiba-tiba terarah ke ujung gang - tepatnya teras kedai keluarganya.
Disana duduk seorang gadis yang akhir-akhir ini juga mengganggu pikiran Donghae. Gadis itu berpakaian normal. Kemeja putih bermotif bunga berwarna terang dan celana jeans birunya. Sangat mencolok dimata Donghae. Witch itu ada disana, duduk diteras depan kedai keluarga Donghae, menatap kearah Donghae dengan senyum lebarnya seperti yang biasa Donghae lihat.
Donghae berlahan menelan salivanya. Dia merinding dengan kehadiran gadis itu, entah dimana pun dirinya dan Yoona berada. Donghae menduga witch itu sedari tadi mengikuti dirinya dan Yoona. Donghae bertukar pandang cukup lama dengan witch itu.
“BRENGSEK”
Teriakan Yoona segera menghentikan aksi tatap menatap Donghae dengan witch itu. Dia menoleh pada Yoona yang sudah siap ingin menarik rambut Kangin. Sepertinya perdebatan mereka sudah memasuki zona bahaya.
Donghae langsung menghentikan tindakan Yoona. Diraihnya lengan Yoona, menarik gadis itu ke belakang tubuhnya. Yoona kaget dengan tindakan cepat itu. Bahkan tubuhnya saat ini sudah merapat pada punggung lebar Donghae. Wangi yang sama dengan saputangan pemberian Donghae tadi, dapat Yoona cium dari punggung Donghae. Dia sangat menyukai wangi itu, pipinya kali ini benar-benar memerah.
“Kangin sudahlah. Kau tidak lihat, orang-orang mulai melihat kita. Kau tahu kan apa yang akan terjadi setelah ini jika kalian membuat keributan” Donghae mencoba memperingatkan pria dengan tubuh yang cukup berisi itu.
“ya… ya… ya… terus saja bela kekasih mu itu” cibir Kangin, tidak takut dengan tatapan orang padanya. Dia sudah biasa.
Donghae menarik napas dalam, kemudian menghembuskannya berlahan. Donghae melirik ke arah rumah makan keluarganya, dan witch itu masih ada disana lengkap dengan senyum lebarnya, menonton mereka.
“Yoona… tidak memiliki hubungan apa pun dengan ku. Pacar ku yang sebenarnya…”, Donghae menghentikan ucapannya.
‘apa aku harus melakukannya sekarang? Tapi bagaimana jika Kangin ingin meminta bukti lebih?’
Donghae bergumul dengan pikirannya yang dengan mudahnya Yoona pun bisa ketahui.
‘apa yang akan pria ini lakukan?’, Yoona was-was menunggu kelanjutan perkataan Donghae. Entah kenapa, jantungnya berdegup kencang. Bukan karena ada kemungkinan namanya yang akan disebut pria ini. Karena Yoona jelas mendengar Donghae mengatakan mereka tidak memiliki hubungan apapun.
“Nama pacar ku adalah Kwon Yuri” ucap Donghae dengan satu tarikan napas. Dia tidak begitu yakin dengan keputusannya itu, tapi ini satu-satunya cara agar Kangin tidak mengganggu Yoona lagi. Karena pada akhirnya Yoona memang ingin dirinya berpacaran dengan Yuri. Jadi memang tidak ada salahnya, walaupun ini lebih cepat dari pada yang direncanakan.
“Apa? Kwon Yuri? Si gadis seksi itu? Hahahaha”, Kangin tertawa terbahak-bahak.
“apa kau berpikir aku orang yang mudah dibodohi?” lanjut Kangin, tidak percaya pada Donghae.
Yuri memang terkenal dikalangan kaum adam di SMA Kirin bahkan di SMA lain, karena bentuk tubuhnya yang profesional dan membuat kaum adam tidak bisa berpikir jenih.
“aku… bisa membuktikannya nanti. Aku akan membawa Yuri kehadapan mu” balas Donghae tanpa berpikir lagi. Diliriknya lagi witch itu, dan gadis misterius itu sudah tidak ada lagi disana.
“ok… walaupun aku tidak akan mudah percaya, aku akan menunggu kau membawa Yuri kehadapan ku. Aku ingin Yuri yang mengatakan kalian berpacaran secara langsung”
“minggu depan, dilapangan futsal” ujar Kangin dan langsung pergi.
“ahh iya satu lagi. Menjauhlah dari penjahat kecil itu, jika tidak kau akan menderita seumur hidup” peringat Kangin sambil menoleh ke kiri untuk menatap Yoona yang terdiam kaku dibelakang Donghae. Setelah itu pria itu pergi.
Donghae menghembuskan napas berat. Dia bodoh. Dia terperangkap jebakan witch itu. Dia dengan bodohnya mengikuti alur yang dibuat witch itu. Donghae ingat pembicaraan mereka di kafe beberapa waktu yang lalu. Witch itu menginginkan Donghae segera mendeklarasikan Yuri sebagai kekasihnya didepan Yoona dan Kangin. Donghae tidak tahu apa tujuannya. Tapi Donghae sudah terlanjur mengatakannya untuk menyelamatkan Yoona.
Tiba-tiba Donghae teringat pada gadis yang berada dibalik punggungnya. Donghae berbalik, berhadapan dengan Yoona. Gadis itu hanya menunduk, diam. Tidak mengatakan apapun. Donghae khawatir. Apa dirinya terlalu kasar menarik Yoona tadi?
“Yoona kau baik-baik saja?”
Tidak ada jawaban. Gadis itu tetap diam. Donghae semakin panik.
“Yoona… hei… katakan sesuatu” pinta Donghae, tapi tetap tidak ada jawaban.
Titt titt titt
Donghae ingin menyentuh bahu Yoona, mengguncang tubuh gadis itu, tapi suara klakson mobil itu menghentikan niat Donghae. Donghae menoleh dan menemukan sebuah mobil silver, berlahan mendekati mereka. Yoona pun ikut mendongak, menatap mobil itu.
Yoona bersyukur, jemputannya akhirnya datang diwaktu yang tepat. Karena saat ini entah kenapa dia tidak ingin berlama-lama bersama Donghae. Entah apa yang pria cupu itu lakukan padanya, hingga dia bisa merasakan perasaan aneh seperti ini.
Jika beberapa menit yang lalu dia merasa seperti di hutan belantara yang ditumbuhi pepohonan, bunga-bunga dan rumput yang segar karena dapat mencium wangi pria itu, tapi menit berikutnya pria itu seperti melemparkan ribuan bom padanya, hingga dirinya merasakan perasaan aneh seperti saat ini. Perasaan yang dirinya sendiri tidak tahu apa namanya. Yang jelas dia tidak suka merasakan perasaan sesak seperti ini.
“maaf saya terlambat nona” ujar seorang pria yang baru keluar dari balik kemudi mobil itu – supir Yoona. Pria itu terlihat ketakutan karena dirinya yang terlambat menjemput. Tapi bukannya menjawab atau mengomel seperti biasanya, Yoona hanya diam dan melangkah membuka pintu penumpang dengan sendirinya tanpa bantuan supir dan segera masuk.
Supir itu sempat terlihat kebingungan. Dia menatap Donghae sesaat kemudian menunduk dan dibalas Donghae dengan menunduk juga. Setelah itu supir itu masuk kembali ke dalam mobil dan mobil itu pun melaju pergi.
“ada apa dengannya?” gumam Donghae sambil menggarut-garut kepalanya yang tidak gatal. Yoona sangat aneh.
Donghae pun memutuskan untuk kembali ke kedai keluarganya. Ketika berjalan, tiba-tiba dia teringat sesuatu yang benar-benar dilupakannya sebelumnya.
Sebulan yang lalu, ketika insiden Yoona yang hampir terjatuh dari tangga, Donghae ingat saat itu tidak hanya dirinya dan Yoona yang ada disana. Donghae ingat seseorang melintasi lorong yang juga melewati tangga tempat dirinya menangkap tubuh Yoona. Dan Donghae sangat yakin, orang itu adalah witch itu.
Pada saat itu, witch itu berlalu begitu saja seperti tidak melihat ada dirinya dan Yoona ditangga itu. Donghae yakin witch itu tahu mereka ada ditangga itu. Tapi mengapa witch itu berlalu begitu saja?
“ow… aku sampai merinding” ujar Donghae sambil menggosok-gosok lengan dan lehernya. Lama kelamaan kehadiran witch itu mulai menyeramkan baginya.
Donghae melangkah cepat masuk ke dalam kedai keluarganya dan langsung mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan itu. Mencari siapa tahu witch itu berada disana. Namun ternyata nihil. Ternyata gadis misterius itu sudah menghilang lagi.
Donghae tidak tahu sebenarnya maksud dari semua ini. Witch itu jelas sangat mengenal Yoona dan selalu berada disekitar Yoona, tapi kenapa justru mengatai Yoona dengan hal-hal yang buruk. Donghae mulai menduga-duga.
)))))(((((
[21] Wanita paruh baya, wanita berusia jauh lebih tua
[22] Nona, gadis
Bersambung...
Jangan lupa like dan komentarnya ya