
Dita, Regard, Aruna, Asher dan Jack sedang berkeliling di pasar raya kota itu. Berjalan kaki menikmati keramaian sambil membeli beberapa kebutuhan mereka di sana.
Dita sangat senang mengunjungi tempat umum seperti itu. Padahal dia punya banyak uang tapi lebih senang berbelanja ke pasar tradisional.
"Kenapa kita ke tempat seperti ini?" tanya Asher heran.
Dita sontak menoleh sambil menyerngitkan keningnya," maksud mu mau ke mana lagi Asher!?" celetuk Dita seraya menaikkan sebelah alisnya.
"Mak Lampir, pasar ini bau, kau bawa anak bayi, dia bisa terserang penyakit kalau kau bawa ke tempat seperti ini, kau dokter tapi tak tahu itu!? dasar bodoh!!" ejek Asher sambil menatap kesal pada Dita yang menggendong Regard sambil berkeliling di pasar itu.
Bughh!!
" Kau yang bodoh!!!" balas Dita sambil menyikut perut pria itu.
Asher mendengus kesal," Jangan ajak aku bertengkar sekarang!!! ini sudah malam dan aku lapar!!!" kesal Asher.
"Kan kau yang mulai Asher, lagian pasar ini tidak kotor, kau tak bisa lihat pakai mata kau kalau tak ada sampah yang berserakan!? bahkan lebih rapi dari kamarmu yang seperti kapal pecah itu!!!" ejek Dita.
"Kamarku!? kapal pecah katamu!? gak sadar diri kau ya Mak lampir bau upil!! dasar perempuan sinting!!!' ketus Asher.
"Ku bau jigong Banteng!!!"
Aruna dan Jack hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan mereka berdua. Sejak keluar dari rumah, mulut mereka selalu berbicara dan berdebat terus menerus tentang segala hal yang ada di sekitar mereka.
" Babababbabaa.... Bababababba...." Regard kecil tampak bersemangat melihat jajaran mainan beragam yang terpampang di jalanan area pasar itu.
" Anak Papa mau mainan? biar Papa belikan ya!!" ucap Asher yang terlalu peka, dia langsung menghampiri salah satu penjual mainan dan memilih untuk putranya.
" Wahh, kadang kadang dia bahkan lebih peka dari seorang perempuan, ini aneh!!" ucap Dita seraya memiringkan kepalanya melihat Asher.
Asher datang dengan sebuah mainan besar yang bahkan lebih besar dari tubuh Regard," Nah ini dia mainan Naga hijau... nafasnya bau kayak nafas Si jack bahahahha.... ini sayang mainan kamu roarrrhhhh..." teriak Asher sambil membawa mainan itu ke dekat Regard.
Bukannya senang melihat mainan itu malah membuat Regard menangis ketakutan karena boneka naga yang dipilih Asher mirip karakter genderuwo dengan kumis hijau, rambut jingkrak dan badan montok berotot.
" howeeeekkkk... ooeeekkkk.... owekkk...
Regard menangis tersedu-sedu melihat mainan menyeramkan itu.
" Ehh si kampret, ya kali kau kasih anakku main ular ularan sawah montok!? nangis lah dia, macam mana nya kau ini!" Omel Dita dengan logat Bataknya yang khas.
"Ehh tapi mainannya keren loh nak, kayak ulet keket kelebihan berat badan, gemesin !!" celetuk Asher sambil memasang wajah konyol di depan Regard, bukannya menghibur malah semakin membuat anak itu menangis sesenggukan.
" Oerrkhhhhhhh.... oerrrkhhhhh...." Regard menangis histeri sampai mata semua orang tertuju pada mereka.
Dita menarik mainan itu dan...
Brukk!!
Kepala Asher dihantamnya dengan boneka ulat keket kelebihan berat badan itu.
" Dasar bodoh, kembaran kau itu ulah keket, udah wajahnya berkerut kayak genderuwo kena tipes, kumisnya panjang wajahnya hijau, mirip kali sama kau, masa anak bayi kau masih mainan anak tuyul, yang waras waras aja ya om!!" Omel Dita sambil memeluk putranya. dan mengusap Air mata Regard dengan kedua tangannya.
Asher tertawa cekikikan, dia merasa bersalah tetapi melihat Regard menangis membuat nya senang, entah kenapa melihat bayi itu menangis rasanya sangat menggemaskan.
"Hahahah... ya maaf, habisnya bonekanya mirip denganmu, Tukang marah, Alias kak Ros hahhahaha!!!" Balas Asher.
" Kak Ros kak Ros, banyak omong, anakku sampai nangis gara gara ulahmu!!!" kesal Dita sambil memukuli pria itu.
" Nak itu bapakmu hancurkan aja, hajar aja dia uccok!!!" ucap Dita sambil memukuli Asher dengan kedua tangannya.
"Bahhahaha... ahahahaha...." Tak di sangka bayi kecil itu malah tertawa terbahak bahak melihat kelakuan random orangtuanya.
Asher dan Dita berdebat terus menerus, tak ada kata damai di mulut mereka berdua.
Aruna tersenyum melihat sahabatnya yang setidaknya hatinya mulai tenang setelah kejadian menghebohkan yang datang berturut-turut menyerang Dita.
Aruna juga sudah melepas kepergian neneknya dengan berpikir positif kalau sang nenek tak akan menderita lagi karena penyakitnya.
"Apa kau tidak mau membeli apa pun? pasar ini sangat luas," ucap Jack.
" Tidak tuan, bagaimana dengan anda?" tanya Aruna.
"Aku juga tidak," ucap Jack dengan nada dingin. Aruna mengangguk paham lalu berjalan mengikuti Dita dan Asher yang asik berdebat membicarakan alam semesta ini sejak tadi.
"Dia pria yang dingin, mirip seperti tuan Samuel, tapi lebih dingin tuan Samuel ," batin Aruna yang merinding di dekat Jack.
Aura Jack sama saja dengan Samuel yang pendiam dan menyeramkan. Tapi lebih parah Samuel yang sudah irit bicara, dia juga orang yang tak punya perasaan.
Aruna mengikuti mereka berdua sampai kakinya lelah. Dia senang mendengar celotehan Dita dan Asher yang tak kunjung selesai. tapi kakinya sudah lelah karena berjalan terlalu jauh.
"Kalian berdua, mau sejauh apa lagi kita berjalan, tak lihat kaki gadis ini sudah kesakitan!!" teriak Jack yang sejak tadi memperhatikan langkah Aruna yang semakin lambat dan tertatih-tatih.
Dita dan Asher sontak berbalik dengan bandana Beruang di kepala mereka masing-masing.
"Kau lelah Aruna!?" ucap mereka berdua dengan kompak sambil menghampiri Aruna dan Jack.
Aruna tentu saja terkejut, " Sebenarnya sedikit tidak nyaman, tapi tidak apa-apa, aku akan istirahat sebentar, kalian lanjutkan lah!!" tutur Aruna merasa tak enak karena mengganggu waktu mereka.
" Katakan saja, kalau sakit, kita pulang!" ucap Asher.
" Ho oh, benar, jangan di tahan biar kita pulang," tambah Dita merasa khawatir dengan kondisi gadis itu.
"Tak apa apa, aku baik baik saja!" tulis Aruna di catatannya.
Dita tak yakin, dia membuka ikatan gendongan Regard," Genderuwo jagain Regard sebentar, biar ku cek!" ucap Dita.
"Mak Lampir, mau sampai kapan kau memanggilku seperti itu!!" kesal Asher sambil memeluk putranya dalam pangkuannya.
" Sampai bulan jadi dua," celetuk Dita dengan senyuman jahil, dia berjongkok dan melihat lutut Aruna yang dipasangi kaki palsu, memeriksa kondisi kaki gadis itu.
Aruna memang sering mengalami lecet jika terlalu banyak bergerak dengan kaki palsu itu " Wahh ini membengkak, Aruna kau harus istirahat, sepertinya ini tidak cocok untukmu, nanti sampai rumah di buka saja, besok kita cari yang baru, " ucap Dita
" Tidak apa-apa Dita, sudah biarkan saja aku pakai yang ini, aku hanya butuh istirahat saja!" tutur Aruna dalam catatannya.
Melihat Aruna yang terbatas dalam berbicara dan juga mengalami kecacatan membuat semua orang iba termasuk Asher dan Jack, tetapi berkat sosok Dita, gadis itu memiliki semangat untuk menjalani hidupnya.
"Jangan ngeyel ya, pokoknya besok ganti yang baru, gak boleh nolak!!' tukas Dita dengan tegas.
Asher menatap Dita, perempuan itu membuatnya merasa kalau di dunia ini masih ada orang yang tulus.
" Hey.. hey jangan di sini, kau mau buka kakinya di sini!? kita pulang dulu!!' ucap Asher .
" Ehh.. benar juga, ya sudah ayo pulang!!!" ucap Dita.
Tiba-tiba...
" Dita!!!" suara teriakan seorang pria terdengar di telinga mereka.
" Ehh Siapa!?" pikir Dita heran.
Asher, Jack dan Aruna juga mendengar suara itu. Mereka menoleh ke arah sumber suara.
" Dita!!!!!" suara teriakan itu semakin kencang.
"Dita anak nakaaaal!!!!!"pekik pria itu dari seberang sana.
Sontak Dita terhenyak mendengar suara itu, suara alarm kematian yang memanggilnya.
" Ya..ya.. ampun...ma..mampus aku!!! arrkhhhhhhh..... Kaaabbuuurrr!!!"
.
.
.
Like, vote dan komen 🤗