Loco

Loco
58 Loco : Ruangan rahasia



Asher menatap sekeliling, tak ada lagi yang bergerak di sana. Bahkan rumahnya sendiri sudah seperti penjara.


" Aku harus mengganti seluruh pengurus rumah, bagaimana kepala pelayan Kim mengatur rumah utama jadi kacau begini!?" batin Asher yang masih menutup mulut Dita dengan tangannya.


Gadis itu menatap ke atas, jelas dia melihat wajah pucat Asher yang semakin menjadi jadi. Pria itu masih sakit tapi memaksakan diri.


puk!! puk!!


Dita menepuk tangan Asher sampai membuatnya tersadar kalau sejak tadi mereka berdua bersembunyi di balik tirai besar itu.


" Asher!!" kesal Dita sambil mendorong pria itu.


" Ck, diamlah!" ketus Asher sambil membersihkan tangannya .


" Kau.. apa maksudmu tadi!? apa yang kau maksud tadi Asher!??" Dita memberontak, hampir saja dia berteriak lagi.


Asher menatap gadis keras kepala itu, dia menariknya sambil memeriksa ke kanan dan kiri.


" Kau tidur di lantai, malam ini akan ku habiskan waktuku di sini!!" teriak Asher tiba-tiba.


Jelas Dita terkejut, mulutnya dibekap oleh Asher. Pria itu tampak memeriksa ruangannya. Ruangan yang hanya dia, ibunya dan Sam boleh masuki.


"Ikut aku!! jangan berteriak!" bisik Asher sambil menarik gadis itu entah ke mana. Mereka berjalan terus melewati sebuah lorong hingga tiba di depan sebuah tembok buntu.


Asher melihat ke kanan dan kiri, area itu gelap, mereka masuk dari tumpukan kertas di belakang tirai besar tadi.


" Tempat apa ini!?" bisik Dita.


Asher tak menjawab, dia menekan benda kecil yang langsung membaca sidik jarinya untuk menjadi akses masuk ke ruangan di balik tembok besar itu.


Tembok itu bergerak ke belakang lalu tampaklah sebuah tangga menuju lantai atas. Mereka berdiam masuk ke tempat yang disusun dari batu bata itu.


Dita menggenggam tangan Asher sambil menatap ke sana kemari dengan wajah takut. Baru kali ini dia masuk ke tempat seram dan aneh seperti itu.


" Asher ini sebenarnya di mana!!" bisik Dita sambil menepuk bahu pria itu.


" Ruang rahasia!" ucap Asher.


Dia menarik gadis itu, kali ini Asher berubah lagi. Dia tak semarah beberapa menit lalu, tampaknya pria itu merencanakan sesuatu dan sedang melakukan rencananya.


Mereka terus naik tangga, bersamaan dengan itu, setiap bilik yang mereka lewati menutup dan langsung terkunci.


Hingga mereka tiba di ruangan paling atas bagian rumah itu. Tempat yang duduk sering dikunjungi Asher, mendiang adiknya dan ayahnya.


"Tempat apa ini!?" Dita terkejut sekaligus terpukau melihat ruangan luas yang terawat dan ditata dengan rapi itu. Sebuah rak buku besar menjulang tinggi ke atas, berisi banyak buku yang sudah disusun sesuai kategori masing-masing.


Dua buah meja belajar dan sebuah meja kerja dengan dua kursi utama.


Sebuah kasur besar dan lebar dengan jendela bulat yang terhubung langsung dengan pemandangan luar yang sangat indah.


Tak ada yang bisa mengakses ruangan itu, bahkan Jack saja tak tahu kalau ada ruangan di atas sana.


Hanya Asher, Ibunya dan Samuel yang tahu mengenai ruangan rahasia itu.


Asher membawa Dita duduk di meja kerja itu," Di sini kita bisa bicara dengan tenang, " ucap Asher sambil menghela nafas lega.


Sebenarnya sikap anehnya tadi dia lakukan untuk mengelabui mata mata di rumah itu. Jelas dia tahu ada mata mata tapi belum melakukan gerakan untuk memukul mundur mereka.


Saat dia menceritakan kejadian yang menimpa keluarganya, ada beberapa orang yang mondar mandir depan ruangan kerja yang dikunci itu.


" Apa yang sebenarnya terjadi, kenapa kau menyebutku mata-mata!?" tanya Dita.


Asher duduk bersandar sambil menatap Dita. Melihat reaksi Dita tadi, dia bisa tahu kalau Dita bukan lah mata mata seperti kecurigaan Jack.


" Semua ini berhubungan dengan tawaran kerjasama yang kuucapkan tadi!" ucap Asher.


" Dan tadi aku sudah memulai rencanaku Dita, sesuai janjiku, aku akan membantumu, dan kau akan jadi umpanku untuk menjebak pelaku pembunuhan Papa!" jelas Asher.


" Kau sudah mulai!? tapi aku belum setuju!?" protes Dita.


"Dita, ini darurat dan kau sudah terjerumus ke dalam rencana ini!" ucap Asher.


"Jack mencurigaimu sebagai mata-mata dari pihak pelaku, dia pikir kau adalah bagian dari mereka karena hidup terpisah dari tuan Luther dan kakakmu!?" jelas Asher.


"Dan jujur saja aku juga sempat mencurigaimu menggunakan Regard, Aruna bahkan semua kejadian itu sebagai taktik untuk menjatuhkan ku!" jelas Asher.


"Kau!? hah... memang cocok sih wajahku jadi mata mata!! " celetuk Dita sambil tersenyum bangga pada dirinya.


Dita terkekeh," Tenang saja mas bro, aku sudah dituduh lebih parah dari sekedar mata-mata!" ucap Dita.


" Yakin lebih parah!?" tanya Asher tak yakin, karena dia juga menerima laporan lain dari Jack yang terlalu pesimis.


"Apa ada yang lebih parah!?' tanya Dita.


"Pembunuh, munafik, sok jagoan, pengemis cinta dan tukang pamer!" ucap Asher.


Mata Dita membulat, " Wahh seterkenal itu kah aku sampai aku mendapatkan semua julukan itu!?" Ucap Dita.


" Itu yang Jack dapat saat menyelidikimu!!" jelas Asher.


" Kalian menyelidiki ku!? Wahhh kalian benar benar!!"


" Bukan itu inti masalahnya!" ucap Asher.


" Kerja sama ini akan melibatkan banyak pihak, tapi yang tahu hanya kita berdua!" jelas Asher.


"Sebelum aku menjelaskan tentang kerja samanya, aku ingin kita mengingat tanda ini jika suatu saat harus berbohong!!' ucap Asher sambil mengangkat jari kelingkingnya dan menggerakkannya ke atas dan bawah.


" Ini tanda kita, gunakan jika dalam keadaan mendesak!" jelas Asher.


Dita mengangguk paham.


"Baiklah, jelaskan apa yang harus ku lakukan! kau akan membantuku, aku sudah setuju dengan pernikahan, maka setelah ini kita akan bekerjasama seterusnya!" tukas Dita.


Melihat lampu hijau dari gadis bar bar nan gila itu, Asher tersenyum lega. Dia akan menggunakan segala cara untuk mendapatkan apa pun keinginannya. Ada yang harus dia ketahui dari si pembunuh itu, yakni keberadaan adik kandungnya yang sebenarnya tidak meninggal dunia!


Adik Asherr tak pernah meninggal, tetapi keluarga mereka membuat rumor itu untuk mempercayai ucapan para dokter yang ikut kerja sama membunuh adiknya.


Bertahun-tahun dia mencari adiknya, dia akan melakukan apa pun untuk mencari gadis yang pasti sudah tumbuh dewasa itu.


"Dita, pelaku dibalik kematian ayahku adalah suami ibu kandungmu!" jelas Asher.


" APA!!!" Dita terkejut bukan main.


" Su... suami jal4ng busuk penuh muslihat itu!!!" Dita tak percaya.


Asher mengangguk," benar, dan Emma adalah saudari dirimu seibu!!"


" Jangan katakan mimpi buruk itu yang benar saja bagaimana bisa aku punya Ibu dan saudara tiri kain lap bekas, menjijikkan Asher!!" gerutu Dita.


" Terserah apa katamu, tetapi dalang dibalik kejadian besar belasan tahun lalu adalah ayah dari Emma, perempuan yang sempat akan kunikahi!" jelas Asher.


"E.. Emma!? perempuan berbibir lemes seperti bibir ikan dower itu!? " tanya Dita.


" Bisakah kau serius sedikit!? ini sudah larut malam dan aku masih sakit!' kesal Asher.


" Baiklah maaf maaf!!"


" Ayah Emma adalah dalangnya, tapi masih ada pemimpin lain yang juga ikut serta dalam pembunuhan itu, aku ingin menjadikanmu sebagai umpan untuk memancing mereka mendekat pada mu!' jelas Asher.


" Menggunakanku sebagai umpan!? Kau gila ya!!!" balas Dita tak percaya.


" Kalau aku mati bagaimana!? aku belum menikah, belum ciuman pertama, belum makan di puncak gunung Alpen, aku tidak mau mati muda, selain itu aku juga belum merasakan nikmatnya dunia orang dewasa, tega kau menjadikan ku umpan!?" Ucap Dita.


" kau tak akan mati, selama ada aku di sisimu!" ucap Asher yang tiba tiba menarik Dita dan mendekatkan gadis itu ke tubuhnya.


Deg deg deg!


"A.. a.. Asher!!" panggil Dita dengan suara gugup.


" Hmm?"


"Nafasmu bau Ikan asin!!"


" Sial! Dita!"


.


.


.


Like, vote dan komen 🤗