Loco

Loco
Chapter 22



Yoona masih mematut dirinya didepan kaca, memastikan wajahnya tidak kumal atau rambutnya tidak berantakan. Donghae akhirnya datang juga ke rumahnya setelah seharian kemarin dirinya menunggu pria menyebalkan itu.


Bagaimana tidak kesal, dia berada dirumah hanya bisa mendengar suara batin Donghae yang ragu-ragu untuk menjenguknya. Pria itu takut dirinya akan marah jika pria itu datang ke rumahnya. Padahal Yoona sudah sangat senang ketika tiba-tiba dia mendengar keinginan pria itu. Dua hari tidak melihat wajah tampan Donghae, membuatnya sedikit merindukan pria itu. Hanya sedikit.


“apa putri omma sedang jatuh cinta?”


Yoona langsung menoleh pada Nyonya Im yang masih berada dikamar itu, Yoona tidak menyadarinya.


“ti-tidak”, balas Yoona gugup. Nyonya Im tersenyum melihat kegugupan putrinya itu. Memang gengsi putrinya itu sangat luar biasa. Jelas-jelas wajah putrinya itu sudah bersemu – memerah.


“pria yang tampan”, puji Nyonya Im.


“omma… aku tidak jatuh cinta pada pria itu”, balas Yoona kesal karena ibunya tidak percaya dengan perkataannya.


“memangnya omma mengatakan kau jatuh cinta pada pria itu?”, tanya Nyonya Im, kembali menggoda. Yoona pun langsung salah tingkah. Ibunya sedang menggodanya. Sial.


“aku akan menemuinya”, ucap Yoona cepat dan langsung berlalu. Dia tidak ingin ibunya semakin menggodanya. Tapi memang benar – dia tidak sedang jatuh cinta pada Donghae. Dia hanya… sedikit menyukai pria itu.


Yoona berjalan cepat menuju ruang tamu dan benar saja dia melihat Donghae yang duduk disofa sambil mengamati rumahnya dengan kagum.


“dasar kampungan”, gumam Yoona. Dia pun mendekati pria itu.


“untuk apa kau datang ke rumahku?”, tanya Yoona langsung, tanpa basa-basi. Nada suaranya pun diatur sedemikian rupa, seperti dia tidak suka dengan kehadiran pria itu.


“a-annyeonghaseo”, sapa Donghae dengan formal. Yoona pun langsung menatap Donghae tidak suka. Kenapa tidak bertemu 2 hari membuat Donghae sekaku itu.


“kenapa bicara mu sangat formal?”


“ah… itu. Aku takut ibumu mendengar jika aku salah bicara nanti”, bisik Donghae. Yoona pun langsung menatap tidak habis pikir pada pria aneh itu.


“sudahlah. Jangan berbicara seformal itu padaku. Seperti berbicara dengan presiden saja”, omel Yoona. Walaupun dia tahu perkataan Donghae itu tidak salah sepenuhnya. Dia tahu ibunya pasti sedang mencuri dengar sekarang. Entah dimana pun itu sekarang.


“jadi ada apa kau datang ke rumah ku dimalam hari dan dengan pakaian sekolah?”, tanya Yoona sambil menatap penampilan Donghae yang terlihat lelah.


‘tampan’, batin Yoona.


“aku ingin minta maaf”


Yoona langsung terdiam. Ternyata pikirannya salah. Tadi dia berpikir Donghae datang karena mengkhawatirkannya. Dia salah besar.


“minta maaf untuk apa?”


Donghae ragu-ragu ingin mengatakan maksudnya. Dia takut jika ada yang mendengar perkataannya itu. Yoona pun yang melihat Donghae mengedarkan pandangannya, mengerti dengan pikiran pria itu.


“OMMA… AKU INGIN BERBICARA DENGAN TEMAN KU”, teriak Yoona tiba-tiba dan setelah itu terdengar sedikit keributan tidak jauh dari ruang tamu.


“sudah aman. Jadi untuk apa kau minta maaf?”, tanya Yoona lagi setelah memastikan sudah aman.


“Yoona… aku ingin minta maaf karena selama ini aku sudah mengetahui siapa sebenarnya Taeyeon”


“a-apa?”


“maafkan aku. Sebenarnya selama ini Taeyeon sering mengikuti kita dan bertemu denganku. Taeyeon jugalah yang memberitahuku tentang kemampuan mu itu”, ucap Donghae. Dia mengamati raut wajah Yoona setelah mengatakan maksudnya.


Yoona terdiam. Dia kaget. Pasti. Tapi lebih dari itu dia menjadi penasaran, kenapa selama ini Taeyeon mengikuti mereka. Sebenarnya apa yang diingin makhluk aneh itu darinya.


“kenapa kau baru memberitahu ku sekarang?”


“aku ragu. Bagaimanapun kalian sudah bersahabat lama. Aku tidak ingin merusaknya”


“aku tidak bersahabat dengan makhluk aneh”, balas Yoona sarkartis. Donghae bahkan sampai tidak bisa berkata-kata. Dia tahu Yoona sedang marah sekarang.


“jangan berkata seperti itu. Mereka tidak bermaksud buruk pada mu. Mereka hanya ingin menjagamu”, ujar Donghae, tidak suka Yoona berpikir buruk.


“kenapa? kenapa kau membela mereka. Apa kau juga ternyata bagian dari mereka?”, tanya Yoona, mencurigai Donghae. Walaupun dalam hati dia tidak ingin percaya pria itu juga selama ini membohonginya.


“ti-tidak. Aku manusia asli”, panik Donghae. Dia tidak menyangka Yoona menuduhnya salah satu dari penyihir-penyihir itu.


“tapi kau membela mereka”, balas Yoona kesal.


“aku tidak membela. Aku hanya ingin mengatakan apa yang sudah ku lihat selama ini”


“memangnya apa yang kau lihat?”


“mereka selalu menjagamu. Jika bukan karena Taeyeon, kau pikir kita masih bernapas seperti sekarang?”


“apa maksudmu?”


“Taeyeon yang membuat Kim So Dam ketakutan waktu itu. Aku bahkan melihat sendiri dia menikamkan pisau pada bahu Kim So Dam. Tapi aku tidak tahu apa yang terjadi, luka itu hilang begitu saja dari bahu pria itu. Aku juga melihatnya menangis ketika menyembuhkan luka nenek dan juga kau saat itu”


Yoona terlihat kaget. Dia ingin menangis sekarang, tapi dia juga ingin marah. Kenapa setelah bertahun-tahun bersama, Yoona baru mengetahui siapa orang yang selama ini dianggapnya sahabat.


“yang membuat Kangin tidak mengganggu kita juga sepertinya ulah Yuri. Karena saat itu aku meninggalkan Yuri dan Kangin ditaman sebentar. Sekembalinya, aku berpapasan dengan Kangin yang terlihat sangat ketakutan. Setelah mengetahui siapa Yuri sekarang, aku pun mengambil kesimpulan itu”, jelas Donghae lagi. Dia ingin menyadarkan Yoona.


“ka-kau pikir aku akan percaya? Tidak akan”, balas Yoona ketus, namun suaranya bergetar.


“mereka sangat menyesal Yoona. Mereka ingin minta maaf padamu”


“aku tidak mau. Aku tidak ingin bertemu dengan mereka lagi. Mereka menghianati ku bertahun-tahun. Kau pikir aku akan semudah itu memaafkan mereka?”


Donghae terdiam. Dia sudah menduga Yoona pasti akan sulit memaafkan ketiga penyihir itu. Tapi Donghae tidak ingin Yoona menyesal nantinya.


“waktu mereka tidak akan lama lagi. Aku tidak ingin kau menyesal nantinya karena tidak sempat melihat mereka”


“a-apa maksudmu?”


“aku tidak tahu apa yang mereka lakukan berada disekitarmu selama bertahun-tahun. Tapi Sooyoung mengatakan mereka akan segera meninggalkanmu karena mereka sudah gagal. Aku tidak tahu gagal dalam hal apa. Sooyoung tidak mau memberitahuku”


Yoona bisa merasakan tubuhnya bergetar hebat. Dia ketakutan. Dia kembali mengingat masa-masa kesendiriannya dulu. Jika tidak ada Sooyoung, Yuri dan Taeyeon, bisa dipastikan dia akan selalu diasingkan di sekolah.


Yoona pun mulai terlihat khawatir. Tapi dia tidak ingin mengakuinya. Dia masih marah pada mereka. Yoona tidak ingin dengan mudah memaafkan mereka. Bagaimanapun mereka membohonginya bertahun-tahun. Mereka sangat keterlaluan.


Jika mereka dulu langsung memberitahunya, mungkin Yoona bisa terima. Walaupun mereka bukan manusia atau makhluk asing, Yoona akan mencoba menerima. Tapi kenapa setelah bertahun-tahun. Yoona sangat kecewa pada mereka.


“maafkanlah mereka Yoona”


“kau tidak mengerti Donghae karena kau tidak merasakan apa yang ku rasakan sekarang. Bertahun-tahun mereka membohongiku. Bertahun-tahun aku menganggap mereka manusia. Dan bertahun-tahun juga aku menganggap mereka sebagai sahabatku, orang yang setia disisiku seperti apa pun sikapku pada mereka”, ucap Yoona. Dia mengungkapkan kekecewaannya.


Donghae menatap Yoona dengan sendu. Gadis itu sekarang memalingkan tatapannya. Tapi Donghae tahu gadis itu sedang menyembunyikan tangisnya. Mungkin memang Yoona masih membutuhkan waktu. Dia tidak bisa berbuat lebih lagi. Batasannya hanya sampai mencoba memberitahu Yoona apa yang dilihatnya selama ini. Selebihnya akan menjadi keputusan Yoona.


“aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Aku sudah memberitahu apa yang ku lihat selama ini”, ujar Donghae. Yoona masih tidak ingin menatapnya.


“aku akan pulang”, pamit Donghae langsung bangkit. Tapi sebelum benar-benar beranjak pergi, Donghae berbalik menatap Yoona yang masih memalingkan wajahnya.


“tadi sebenarnya mereka ikut denganku kesini. Tapi karena mereka takut kau masih marah, mereka pun pergi. Tapi Yoona… setidaknya bicaralah dengan mereka”


Setelah mengatakan itu, Donghae pun benar-benar pergi. Sedangkan Yoona masih terdiam dalam kekecewaannya, kemarahannya, kesedihannya dan juga ketakutannya.



)))))(((((



Selesai makan malam, Yoona masuk ke dalam kamarnya. Dia tidak bisa berlama-lama di ruang makan karena dia pun tidak bernafsu makan. Ibunya pun bahkan sudah membujuknya agar lebih banyak makan. Tapi Yoona tidak bisa. Pikirannya sedang kacau.


Kata-kata Donghae tadi benar-benar sangat mengganggunya. Dia memikirkan kemungkinan-kemungkinan jika Sooyoung, Yuri dan Taeyeon benar-benar pergi. Entah mengapa dia merasa takut.


“aish… apa yang sedang ku pikirkan. Aku harus kembali belajar. Hal tidak penting seperti mereka tidak perlu dipikirkan”, omel Yoona pada dirinya sendiri.


Yoona pun langsung duduk didepan meja belajarnya dan mulai mengerjakan soal-soal lagi. Dia harus fokus dengan tujuannya sekarang. Dia sudah memutuskan untuk beralih, dan mengikuti keinginan orang tuanya untuk masuk ke jurusan kedokteran. Jadi dia harus memulainya lagi dari awal.


Butuh konsentrasi penuh agar dia bisa mengejar ketertinggalannya. Dia harus bisa membuat orangtuanya bangga padanya. Sehingga perjuangan orangtuanya tidak sia-sia selama ini.


Namun baru 5 menit dia menggores-geraskan pensilnya di kertas, dia sudah mengerang kesal. Dia tidak bisa juga mengembalikan konsentrasinya. Pikirannya selalu tertuju pada ketiga makhluk aneh yang sampai sekarang Yoona belum tahu mereka itu sebenarnya apa. Hantu? Alien?


“aish… michyeosseo”, pekik Yoona sambil meremas-remas rambutnya. Dia kesal karena ketiga makhluk itu sangat mengganggu pikirannya.


“lupakan para penghianat itu”


Yoona kembali memerintah dirinya untuk tetap membenci. Dia tidak ingin memaafkan dengan mudah.


“apa aku mengikuti saran Donghae? Tapi aku tidak mau yang berbicara terlebih dahulu. Bisa-bisa mereka akan mentertawakanku. AHKKK”, kesal Yoona.


“apa aku panggil saja?”, Yoona mulai mempertimbangkan.


“ah iya. Mereka kan bisa datang dan menghilang begitu saja. Apa jika aku memanggil mereka, mereka akan datang?”, Yoona masih ragu-ragu. Tapi dia tetap ingin mencoba.


“baiklah. Aku akan mencoba”


“ka-kalian datanglah”, Yoona menggarut kepalanya karena merasa aneh dengan perkataannya sendiri. Dia pun langsung berbalik, namun tidak ada siapa pun dibelakangnya.


“hahaha… sepertinya aku sudah gila. Sepertinya aku terserang sindrom itu lagi. Kejadian ditoilet itu pasti hanya mimpi. Ya itu pa-”


“Yoong”


Yoona tidak sempat melanjutkan gerutuannya ketika tiba-tiba seseorang memanggilnya. Yoona langsung menegang, dia merasa merinding sekarang. Dengan kaku Yoona memutar tubuhnya dan matanya langsung membesar.


Diatas tempat tidur Yoona kini terlihat tiga gadis, duduk sejajar dan menatapnya. Lebih tepatnya satu orang tidak menatapnya sama sekali. Yoona masih terdiam dikursinya, hingga ketika Sooyoung mulai turun dari tempat tidur, Yoona langsung bereaksi. Dia bangkit menjauhi mereka. Dia kini berdiri tidak jauh dari pintu.


Yoona terlihat waspada jika-jika ketiga makhluk itu berbuat hal yang buruk padanya. Dia sudah mempersiapkan berlari cepat untuk membuka pintu dan berteriak mencari bantuan.


Melihat Yoona yang ketakutan dan waspada membuat Sooyoung langsung murung. Dia sedih karena Yoona menatapnya dan teman-temannya seperti orang jahat. Padahal mereka tidak berniat sedikit pun untuk melukai Yoona.


“jangan mendekat”, ucap Yoona menghentikan Yuri yang juga ingin mendekatinya. Yuri pun langsung terdiam.


“jika kau tidak ingin melihat kami, kenapa kau memanggil kami?”, tanya Yuri dengan nada kecewanya. Yoona pun menjadi tidak enak hati. Tapi dia kembali sadar jika yang dihadapinya saat ini bukanlah manusia. Jadi dia tidak perlu segan-segan.


“ja-jangan salah sangka. A-aku… aku hanya ingin me-menguji ke-kemampuan kalian saja”, balas Yoona gugup. Dia tidak ingin mengaku. Dia gengsi juga. Harga dirinya harus ditaruh dimana jika dia membenarkan kata-kata Yuri.


“sudahlah. Ayo kita pergi”, ujar Taeyeon dengan ketus. Yoona bisa melihat Taeyeon yang paling tidak ada minat untuk melihatnya atau minta maaf padanya. Yoona pun merasa kesal.


“tunggu”, ujar Yoona. Ketiganya pun langsung menoleh pada Yoona. Dilihat penuh minat seperti itu membuat Yoona takut. Tapi dia harus memberanikan diri.


“tetap disitu dan jangan melakukan apapun”, ujar Yoona. Dia pun berlahan melangkah, kembali ke meja belajarnya. Dia pun duduk menyamping agar bisa tetap memperhatikan mereka.


Yoona pun menatap mereka satu persatu. Bertahun-tahun bersama mereka, tapi ini kali pertamanya Yoona begitu takut melihat wajah mereka. Padahal tidak ada yang berubah dengan mereka.


“ck… aku pergi”, ujar Taeyeon lagi. Tapi Sooyoung langsung menahannya. Memang Taeyeon ikut datang karena Sooyoung dan Yuri yang memaksa. Dia masih belum mau bertemu Yoona. Dia masih kesal.


“tunggulah sebentar. Setidaknya kita harus berpamitan dengannya”, bujuk Yuri dengan pelan. Namun Yoona masih bisa mendengarnya.


“ja-jadi benar kalian akan pergi?”, tanya Yoona akhirnya. Sooyoung pun mengangguk.


“kenapa?”


“tugas kami sudah selesai dan kau sudah tidak membutuhkan kami lagi”, jawab Sooyoung.


“tugas? Aku tidak memutuhkan kalian lagi? Maksudnya apa?”, Yoona tidak mengerti. Dia tidak pernah meminta orang lain bahkan makhluk asing untuk bersamanya.


“kami adalah penyihir yang ditugaskan untuk menjagamu hingga kau dewasa. Kami adalah bagian dari doa mu ketika masih kecil”, jelas Yuri.


“doa?”, Yoona tidak mengingat dia pernah berdoa untuk meminta makhluk asing bersamanya dan untuk apa?


“kau kesepian Im Yoona dan kau meminta diberikan orang yang bisa selalu ada disisi mu. Dan kepala penyihir mendengar doamu itu dan berpikir tidak ada manusia yang sanggup setia dan selalu berada di samping manusia lainnya. Karena itulah kami dikirim ke dunia manusia”, jelas Yuri kali ini.


Yoona terdiam. Dia masih tidak percaya dirinya pernah meminta hal seperti itu. Lagi pula bagaimana doanya justru didengarkan oleh penyihir? Dan dia lebih tidak percaya lagi jika memang ada dunia penyihir. Dia tidak suka dongeng sejak dulu. Karena itu penjelasan Yuri sangat tidak bisa diterimanya.


“kami tahu kau tidak percaya dengan hal dongeng seperti itu. Bagi manusia kami adalah dongeng. Tapi pada kenyataannya kami memang benar-benar ada”, ujar Sooyoung.


“bahkan kau sudah melihatnya kemarin”, tambah Sooyoung.


Yoona pun kembali teringat dengan kejadian ditoilet sekolah beberapa hari yang lalu itu. Fakta itu pun mulai mempengaruhi pikirannya. Dia jelas melihat Taeyeon dan Sooyoung bisa menghilang dan muncul, berpindah tempat tanpa terlihat. Dan dari tubuh mereka seperti mengeluarkan api.


“tidak mungkin”


“Yoong…”


“sudahlah. Kalian menghabiskan tenaga saja untuk menjelaskan padanya. Manusia keras kepala sepertinya tidak akan pernah bisa percaya dan mengakui kita. Bahkan setelah hampir 10 tahun kita menjaganya masih kurang”, ujar Taeyeon ketus. Dia sudah tidak tahan dengan keras kepalanya Yoona. Jika memang Yoona tidak mau percaya, ya sudah.


“apa maksudmu dengan 10 tahun?”, tanya Yoona. Dia pun ikut kesal karena Taeyeon menyindirnya.


“waktu kami hanya diberi 10 tahun. Jika kami gagal, kami harus mengulang tugas lagi, mendampingi manusia-manusia yang kesepian. Atau mungkin tidak sama sekali”, ucap Sooyoung.


“tapi ini belum 10 tahun. Maksudku masih ada 3 bulan lagi”, ujar Yoona langsung meralat. Dia tidak ingin terkesan seperti tidak rela penyihir itu pergi.


“ini bukan tentang 10 tahun lagi Yoona. Lebih tepatnya kami pergi karena gagal mengendalikan diri kami”


“jelaskan pada ku semuanya. Jangan pergi begitu saja. Kalian membuatku seperti orang bodoh sekarang”, marah Yoona. Namun bisa didengarnya suaranya bergetar. Dia takut.


“kami adalah 3 penyihir yang gagal ujian kenaikan level. Sooyoung adalah penyihir dibidang akademik, Aku bidang seni, dan Taeyeon… tidak bergabung dalam bidang apa pun. Karena Taeyeon memiliki kekuatan khusus yang belum bisa dikendalikan oleh penyihir senior. Jadi Taeyeon cukup dikhususkan. Tapi karena kami sering melakukan kesalahan dalam menggunakan mantra sihir, jadilah kami penyihir-penyihir terbuang. Hingga tiba-tiba kepala penyihir memanggil kami dan menjanjikan kami sebuah kenaikan level jika kami bisa bertahan di dunia manusia selama 10 tahun. Tapi lagi… kami melakukan kesalahan”, ujar Yuri dengan diakhir kalimatnya dia mengerang kesal.


“ada apa?”, tanya Yoona.


“Yuri hampir saja berhasil mempercepat kelulusannya. Tapi dia melakukan kesalahan fatal. Dia melanggar peraturan penyihir. Kerena emosi dia memperlihatkan kekuatannya pada pria gendut itu”


“pria gendut? Maksudmu Kangin?”, tanya Yoona pada Sooyoung. Penyihir bertubuh tinggi itu mengangguk. Yoona menatap Yuri yang masih mengusap-usap wajahnya karena kesal.


“lalu kau dan dia?”, tanya Yoona pada Sooyoung dan menunjukkan Taeyeon dengan dagunya.


“itu… aku”, Sooyoung ragu-ragu.


“Sooyoung seringkali salah membaca mantra sihir”, geram Taeyeon.


“hah… jadi sebenarnya Taeyeon ingin memberi pelajaran kecil pada mu karena selalu berbuat jahat pada Donghae. Kami pun akhirnya menciptakan mantra yang bisa membuat mu bisa lebih baik kepada pria itu. Tapi aku melakukan kesalahan”, Sooyoung mengaku.


“kesalahan apa?”


“lagi-lagi aku salah membacakan mantranya. Jadilah kau seperti sekarang?”, ucap Sooyoung. Namun Yoona tidak mengerti. Dia menegakkan tubuhnya, penasaran dengan apa yang terjadi sebenarnya. Tapi Yoona tiba-tiba teringat sesuatu.


“jangan katakan karena kesalahan mu itu aku bisa mendengar suara batin Donghae”, curiga Yoona. Sooyoung pun langsung menunduk, tidak berani menatap Yoona. Seolah membenarkan dugaan Yoona.


Yoona tidak bisa berkata-kata lagi. Kepalanya sakit memikirkan selama ini dirinya menjadi bahan percobaan dari penyihir yang selalu gagal. Betapa sialnya nasibnya. Dan hal yang paling disialkan Yoona adalah penyebab semuanya itu adalah penyihir yang selama ini dianggapnya sebagai sahabatnya, orang yang dia percaya.


Yoona tidak tahu ini bentuk penghianatan atau sebuah pembelajaran untuknya. Dia benar-benar tidak bisa berkata-kata lagi.


“terlepas dari kesalahan yang Sooyoung lakukan, setidaknya itu bisa menjadi pelajaran untukmu agar tidak iri hati dan dengki”, ujar Taeyeon. Lagi-lagi penyihir mungil itu menyindir Yoona.


“tunggu dulu. Aku merasa kau begitu marah padaku. Bukankah yang seharusnya marah adalah aku. Aku kecewa, dihianati, dipermainkan selama bertahun-tahun”, marah Yoona. Lagi-lagi Taeyeon berhasil memancing emosinya.


“memangnya anak berusia 6 tahun sudah bisa mengerti jika kami mengatakan bahwa kami adalah penyihir?”, tanya Taeyeon. Tiba-tiba Taeyeon sudah berada didepan Yoona, membuat Yoona langsung terlonjak kaget dan mencoba mundur, hingga kursi yang didudukinya hampir terjatuh. Untungnya Sooyoung langsung menahannya.


“Taeng… jangan menambah masalah”, ujar Yuri, mengingatkan. Sooyoung pun langsung menarik Taeyeon dan mereka sudah ada diatas tempat tidur lagi.


Yoona mengelus-elus dadanya. Dia masih kaget dengan kehadiran Taeyeon yang tiba-tiba.


“lepaskan aku. Dia benar-benar tidak tahu diri”, marah Taeyeon karena Sooyoung masih menahan tubuhnya.


“kenapa? Kenapa kau sangat membenciku? Padahal Donghae mengatakan kau menangis ketika kau mengobatiku ketika kejadian pencurian itu. Apa itu hanya kebohongan Donghae saja agar aku mau memaafkan kalian?”, ucap Yoona kali ini dia sudah tidak menahan diri lagi. Dia menangis. Entah mengapa perkataan Taeyeon sangat menyakitkan baginya. Dia tidak suka Taeyeon membencinya.


Selama ini Yoona sangat dekat dengan ketiganya. Terutama Taeyeon. Yoona selalu menceritakan keluh kesahnya pada Taeyeon. Kesedihannya karena kesepian dan juga karana orangtuanya yang tidak mendukungnya kuliah dibidang hukum. Yoona tidak menyangka jika Taeyeon ternyata sangat membencinya.


“kenapa kau membenciku? Apa aku berbuat hal yang sangat buruk padamu? Jika benar, aku minta maaf”, tangis Yoona.


Taeyeon menatap Yoona dengan kaget. Dia tidak menyangka Yoona bisa secengeng itu. Biasanya gadis itu selalu menjunjung tinggi harga dirinya.


“ck… kau membuatnya menangis”, marah Sooyoung pada Taeyeon.


“aku tidak berbuat apapun. Kau saja masih menahan tubuhku”, bantah Taeyeon. Dia memang tidak melakukan apapun. Yoona saja yang mudah menangis.


“yak… kau memang tidak melakukan apapun. Tapi mulut mu itu yang tidak bisa dikontrol. Tidakkah kau berpikir jika kau sama saja dengannya. Kalian dengan mulut tajam”, marah Yuri juga.


Taeyeon pun langsung terdiam. Tapi dia menatap Sooyoung dan Yuri disampingnya dengan mengerucutkan bibirnya. Sekarang dia yang disalahkan.


Taeyeon pun menatap Yoona yang menutup wajahnya dengan telapak tangannya. Gadis itu masih menangis, membuat Taeyeon tidak tega. Dia pun merasa bersalah. Padahal dia pernah berjanji tidak akan membiarkan orang lain membuat Yoona menangis. Tapi ternyata dia sendiri yang membuat Yoona menangis.


“maaf. Maafkan aku Yoona”



)))))(((((