
Hari ini Im Yoona harus merelakan jam istirahatnya untuk mengerjakan tugas sejarah yang diberikan oleh Jung songsaengnim karena dia tidak masuk jam pelajaran sejarah minggu lalu akibat sakit. Dimana gurunya itu memberikan kuis di kelas A. Akibatnya hari ini Yoona harus mengerjakan tugas sebagai pengganti kuisnya.
Walaupun akan dikumpulkan besok, Yoona tidak ingin membuang-buang waktu. Dia harus mengerjakan secepatnya agar tugasnya yang lain tidak terbengkalai.
Yoona sudah hampir selesai mengerjakan semua soal yang terdiri dari 10 essai. Tapi ada satu pertanyaan yang masih belum di jawabnya karena materi dibuku kurang lengkap.
Yoona pun membuka ponselnya, mencoba mencari materi yang diinginkannya. Tapi dia tidak juga menemukan hasil yang sedikit lebih memuaskan. Sesekali gadis itu berdecak kesal karena tidak menemukan situs yang tepat atau setidaknya menambah referensinya. Dia bahkan tidak sadar Donghae yang masuk ke dalam kelas.
Donghae membuka tasnya untuk mengambil buku tugasnya yang ingin Eunhyuk pinjam karena kelas sahabatnya itu diberi tugas yang sama dengan kelas A.
Donghae sedikit melirik pada Yoona karena gadis itu terus berdecak kesal sambil membuka ponsel dan sesekali halaman bukunya.
Karena penasaran, Donghae sedikit memanjangkan lehernya untuk melihat apa yang membuat gadis secerdas Yoona terlihat kesal mengerjakan tugas tambahannya.
Donghae mengangguk-anggukan kepalanya, mengerti bagian mana yang sedang Yoona kerjakan.
“sebaiknya kau mencari referensi di perpustakaan”, ujar Donghae tanpa sadar. Ketika Yoona menoleh padanya, barulah pria itu sadar dengan ucapannya.
Donghae langsung berangsur mundur dan pergi sebelum Yoona marah padanya karena sudah mengganggu gadis itu. Donghae bisa melihat tatapan tidak suka dari Yoona.
Namun ketika hampir saja keluar dari kelas, Yoona langsung memanggilnya.
“Donghae”
“a-ada apa? Maaf aku sudah mengganggu mu?”, ujar Donghae tidak enak hati.
“ya aku kesal kau sudah mengganggu ku. Karena itu kau harus melakukan sesuatu untuk ku agar kau ku maafkan”, ujar Yoona dengan wajah datar. Dia menyembunyikan kebahagiaannya ketika dia akhirnya memiliki kesempatan bersama Donghae lagi.
Donghae mengerjap-ngerjapkan matanya, terlihat kebingungan. Dia melihat Yoona sudah membereskan buku-bukunya, membawa keluar dari kelas.
“kau harus mencarikan referensi untuk ku”, ujar Yoona ketika mereka sudah keluar dari kelas.
‘sial. Padahal aku ingin makan siang di kantin’, batin Donghae.
“kau tidak mau?”, ujar Yoona tiba-tiba membuat Donghae kaget.
“haha… tentu… aku akan membantumu”, ujar Donghae. Yoona langsung berhenti tiba-tiba dan menatap Donghae kesal.
“aku tidak meminta bantuanmu. Aku hanya akan memberi maaf padamu jika kau mencari referensi sejarah untuk ku”, balas Yoona ketus. Harga dirinya tercoreng ketika Donghae mengatakan akan membantunya. Bagaimanapun sebenarnya dirinya sendiri bisa melakukannya. Dia tidak butuh bantuan dari Donghae. Yoona hanya, ya… ingin bersenang-senang saja.
Setibanya di perpustakaan, Yoona langsung mencari meja di sudut perpustakaan yang selalu sepi penggunanya.
Yoona meletakkan buku catatannya di meja itu lalu mulai menyusuri rak-rak buku. Donghae tanpa mengatakan apapun mengikuti gadis itu.
Donghae mulai memisahkan diri, keduanya hanya dipisahkan oleh satu rak saja. Dengan serius Donghae mencari buku yang mungkin bisa membantu Yoona. Gadis itu pun melakukan hal yang sama.
Ketika Yoona berbalik pada rak dibelakangnya, dia sedikit kaget ketika tatapannya bertemu dengan Donghae. Pria tidak menatapnya dengan serius, hanya saja pria itu terlihat seperti ingin mengatakan sesuatu.
“apa?”, tanya Yoona cepat.
“tidak”, ucap Donghae sama cepatnya. Pria itu kembali fokus pada buku di tangannya. Yoona pun mengangkat bahunya, mencoba mengabaikan.
“sebentar lagi juga aku akan tahu”, gumam Yoona sambil sedikit terkekeh. Yoona sangat yakin pria itu akan membatin dan dia bisa mendengarnya.
Namun beberapa menit berlalu, Yoona tidak mendengar apapun. Dia bahkan memukul telinganya beberapa kali, jika saja ada yang salah dengan telinganya. Tapi tetap saja dia tidak mendengar apapun. Dia bahkan sampai mencari-cari suara itu.
“Yoona”
Panggilan itu sontak langsung menyadarkan Yoona. Dia berbalik dan menemukan Donghae berada didepannya. Dia tidak sadar jika sedari tadi dia melangkah begitu saja menuju lorong rak yang Donghae tempati.
‘sial’
“kenapa kau mengikutiku?”, tanya Donghae, menatap Yoona dengan kening mengerut.
“a-aku? Mengikutimu?”, tanya Yoona terbata.
“mmm”
“hahaha… tidak mungkin. Lagi pula untuk apa aku mengikutimu? Aku hanya ingin mencari buku di rak ini”, ucap Yoona langsung berpura-pura mencari buku. Dengan asal dia menarik satu buku dan pura-pura fokus membaca. Sedangkan pikirannya sedang merutuki kebodohannya.
“kau membutuhkan referensi tentang sejarah tradisi Darye[31] juga?”, tanya Donghae. Yoona menegakkan kepalanya, guna menatap Donghae. Dahinya mengerut tidak mengerti dengan perkataan Donghae.
“tentu saja tidak. Untuk apa aku membaca tradisi Darye. Yang ku butuhkan itu sejarah Demiliterized Zone[32]”, ujar Yoona.
“tapi… buku yang kau baca bukan tentang Demiliterized Zone”, ujar Donghae bingung.
“hah?”
Yoona pun menutup buku itu untuk melihat sampulnya. Dan benar saja apa yang Donghae katakan. Sampul buku dengan lukisan orang yang sedang berkumpul dan minum teh tercetak jelas disana.
‘Im Yoona babo’
Yoona memejamkan matanya dan menunduk, menyembunyikan rasa malunya. Sambil merutuki kebodohannya, Yoona langsung meletakkan begitu saja buku itu.
“ekhm… tadi aku hanya berpikir mungkin saja tradisi Darye ada hubungannya dengan kesepakan pertempuran dulu. Aku kan harus banyak mendapat referensi”, ujar Yoona memberi alasan atas kebodohannya yang jelas-jelas sangat terlihat oleh Donghae.
“sebaiknya aku menungu di meja saja”, ucap Yoona langsung pergi. Dia sudah tidak sanggup lagi bertatapan dengan Donghae.
Donghae menatap kepergian Yoona sambil menahan senyum. Bagi Donghae Yoona terlihat menggemaskan ketika menutupi rasa malunya.
Donghae pun mengambil buku yang Yoona letakkan begitu saja tadi. Dimasukkannya ke dalam rak dengan rapi. Tapi dia masih tidak bisa menyembunyikan senyumnya. Dia masih mengingat alasan Yoona yang tidak masuk akal tadi.
“menggemaskan”, gumam Donghae.
)))))(((((
Kini Donghae dan Yoona sudah duduk berdampingan dimana Yoona sibuk dengan catatan tugasnya sedangkan Donghae asyik membaca.
Awalnya setelah menganjurkan beberapa referensi buku, Donghae sudah berniat untuk pergi dan melanjutkan makan siangnya dengan Eunhyuk. Tapi karena suasana perpustakaan sangat sepi, dia menjadi tidak tega meninggalkan Yoona seorang diri di sana walaupun masih ada satu dua murid disana.
Donghae pun memberi alasan ada buku yang ingin dibacanya. Jadilah mereka sekarang berduaan di meja sudut perpustakaan itu.
Donghae menoleh ke kiri ketika Yoona membentur-benturkan pulpennya pada buku yang tadi diberikannya. Yoona terlihat sedang memikir-mikirkan kalimat yang tepat untuk ditulisnya. Donghae pun menarik buku yang sedang Yoona salin isinya itu. Dia akan membantu karena materi itu sudah pernah diajarkan oleh Jung songsaengnim beberapa hari yang lalu, bertepatan dengan Yoona tidak masuk sekolah. Jadi Donghae maklum Yoona pasti ketinggalan pelajaran itu.
“aku akan beritahu sedikit berdasarkan apa yang Jung saem jelaskan minggu lalu”, ujar Donghae sambil menatap Yoona yang menatapnya dengan kening mengerut.
“jadi…”
Donghae mulai menjelaskan beberapa bagian yang tidak tertera di buku itu yang pastinya membuat Yoona sedikit kebingungan seperti tadi. Dengan lancar Donghae melafalkan apa yang diketahuinya dengan pencilnya yang aktif menggores-gores, juga melingkari beberapa kata untuk mempertegas apa yang dijelaskannya.
Yoona mendengar dengan baik apa yang Donghae katakan. Namun tidak dengan matanya. Gadis itu tidak sedikitpun melihat apa yang Donghae tunjuk dengan pencilnya. Yoona lebih berminat dengan wajah serius Donghae.
Entah mengapa dia merindukan saat-saat seperti ini dengan Donghae. Hanya berdua tanpa ada yang mengganggu dan dirinya yang sepuasnya memerintah pria itu untuk melakukan apa yang diinginkannya. Tentu saja ditambah dengan perhatian dan kebaikan pria itu padanya.
Yoona terus memperhatikan wajah Donghae dari samping. Mulai dari rambut pendek pria itu sedikit bergerak karena hembusan dari AC yang tepat diatas mereka. Yoona yakin jika rambut Donghae pasti sangat lembut seperti rambut bayi.
Lalu tatapan Yoona beralih ke mata Donghae yang fokus pada buku yang sedang pria jelaskan. Seharusnya Yoona merasa bersalah karena tidak mendengar perkataan pria itu sedari tadi. Tapi memang dasarnya Yoona tidak peduli dengan penjelasan Donghae. Dia lebih tertarik mengamati wajah Donghae.
Mata Yoona pun mulai beralih pada hidung pria itu. kemudian pada pipi. Yoona cukup heran bagaimana Donghae yang berasal dari pinggiran kota dan juga dari kalangan ekonomi bawah bisa memiliki kulit yang begitu putih dan bersih seperti perawatan. Tapi Yoona tahu pria itu pasti tidak pernah perawatan kulit. Jadi Yoona cukup kagum dengan kebersihan kulit Donghae.
Yoona sedikit menggigit ujung bibir bawahnya ketika tatapannya jatuh pada bibir Donghae yang terus bergerak melafalkan kata-kata yang kini sudah tidak Yoona dengar lagi. Lama-kelamaan Yoona merasa bibir Donghae seperti bergerak slow motion dipenglihatannya. Yoona bahkan sampai kesulitan bernapas ketika sesekali lidah Donghae terlihat membasahi bibirnya.
Pikiran-pikiran kotor pun bermunculan di otak Yoona. Ingin sekali saja, hanya sedikit saja, dia ingin merasakan bibir pria itu. Tentu saja dia ingin merasakannya dengan bibirnya.
Yoona menipiskan bibirnya untuk bisa mengendalikan dirinya. Tangannya sampai meremas roknya dengan kuat. Dia tidak peduli jika roknya akan terlihat kusut nanti. Dia tidak peduli apa-apa lagi, bahkan harga dirinya pun tidak. Dia hanya ingin mencium pria itu. Setidaknya pipi pria itu pun boleh asalkan hasrat kotornya itu bisa tersalurkan.
Dengan gerakan pelan, Yoona mendekat, mencondongkan badannya ke kanan dengan mata yang tetap fokus pada bibir Donghae. Namun sasarannya adalah pipi pria itu. Dia tidak akan senekat itu untuk mencium pria itu terlebih dahulu. Bagaimana pun dia adalah seorang yeoja.
Cup
Yoona memejamkan matanya ketika akhirnya hasrat kotornya itu tersalurkan. Dia bisa merasakan pipi Donghae yang sedikit dingin mungkin karena terpaan AC didepan mereka.
Ketika Yoona membuka matanya kembali, yang pertama dilihatnya adalah bukan pipi Donghae lagi, tapi wajah Donghae yang kaget. Seketika Yoona bisa merasakan jantungnya berdebar cepat dan matanya membulat, sadar dengan apa yang sudah dilakukannya.
Yoona baru sadar dia sudah mencium bibir Donghae, bukan pipi pria itu. Yoona tidak tahu bagaimana hal itu terjadi. Tadi dia hanya ingin mencium pipi pria itu walaupun matanya fokus pada bibir Donghae.
Yoona pun langsung berbalik, membelakangi Donghae. Wajahnya sudah sangat memerah dan meringis dengan apa yang sudah dilakukannya. Harga dirinya sudah hancur berkeping-keping. Bibirnya sudah tidak perawan lagi.
‘bi-bibir ku… bibir ku’, keluh Yoona dalam hati.
Secara bersamaan Yoona dan Donghae menatap loudspeaker di dinding - tidak jauh dari mereka. Kemudian keduanya sama-sama menoleh Dengan bodohnya keduanya terlonjak kaget ketika tatapan mereka bertemu. Keduanya bersamaan mengalihkan pandangannya. Mereka terlihat salah tingkah.
“kita harus segera kembali ke kelas”, ujar Yoona dan langsung pergi begitu saja, meninggalkan Donghae yang hanya bisa menatap kepergian gadis itu.
Donghae masih terlihat salah tingkah sambil sesekali menyentuh bibirnya. Tadi yang diingatnya dia sedang memberitahu Yoona apa yang Jung songsaengnim jelaskan minggu lalu tentang Demiliterized Zone.
Ketika Donghae menjelaskan dan tidak ada respon dari Yoona yang duduk disampingnya, dia pun menoleh dan betapa kagetnya dia ketika bibir Yoona langsung mendarat di atas bibirnya. Walaupun bibirnya dan bibir Yoona hanya bersentuhan dalam hitungan detik, Donghae tahu itu tetap dikategorikan sebagai ciuman.
Donghae merasa sangat malu tentunya. Tapi dia bisa mengerti jika Yoona yang paling malu diantara mereka berdua. Bagaimanapun Yoona tetaplah seorang yeoja, yang memegang prinsip ciuman pertama tidak boleh dilakukan oleh yeoja terlebih dahulu.
Donghae tahu itu karena sepupu perempuannya pernah mengatakan itu padanya ketika menceritakan ciuman pertamanya. Waktu itu Donghae memang tidak mengerti dengan jalan pemikiran sepupunya itu. Tapi setelah merasakannya sekarang, dia akhirnya mengerti.
Sambil berjalan menuju kelasnya, Donghae memikirkan kondisi Yoona. Bagaimanapun yang paling terbebani pasti gadis itu. Donghae tidak tahu apakah itu ciuman pertama Yoona atau tidak, ditambah lagi Yoona adalah kekasih Jonghyun. Donghae menjadi merasa bersalah pada ketua OSIS itu. Jonghyun pasti sangat marah jika tahu apa yang terjadi tadi. Jika dirinya berada diposisi Jonghyun, pastinya dia juga marah pada pria yang mencium kekasihnya. Ya walaupun dalam kasusnya ini, Yoonalah yang menciumnya.
“Lee Donghae apa yang kau lakukan disini? Kenapa belum masuk ke dalam kelas?”, ujar Nam songsaengnim.
Donghae langsung terlonjak kaget, melihat guru muda itu sudah berada disampingnya. Dia melupakan jika kelas sudah kembali dimulai. Dan sialnya giliran guru muda itu yang mengajar dikelasnya.
“saem”, ujar Donghae sambil mengelus dadanya. Sepertinya dia terlalu banyak memikirkan Yoona sehingga dia tidak menyadari kedatangan guru muda itu.
“kenapa kau masih berada diluar?”, tanya Nam songsaengnim.
“ma-maaf saem, aku dari toilet tadi”, jawab Donghae berbohong.
“oh. Ya sudah, ayo masuk ke kelas”, ajak Nam songsaengnim. Keduanya pun segera masuk ke dalam kelas. Penghuni kelas yang awalnya sedang berhamburan, tidak duduk dikursinya masing-masing pun langsung bergegas kembali ke kursinya masing-masing ketika melihat kehadiran Nam songsaengnim.
Donghae pun langsung menuju kursinya. Tapi sebelum dia duduk, dia tidak menemukan Yoona berada dikursinya. Donghae pikir gadis itu tadi bergegas keluar dari perpustakaan menuju kelas. Tapi nyata gadis itu tidak ada dikelas.
Satu tempat yang bisa Donghae duga sebagai persembunyian Yoona. Tentunya atap gedung laboratorium. Under Sky.
‘apa dia baik-baik saja?’
)))))(((((
Jam pelajaran terakhir, barulah Yoona kembali ke kelasnya. Dia terpaksa melewatkan 2 mata pelajaran untuk menenangkan diri di atap gedung. Pikirannya sangat kacau tadi. Insiden di perpustakaan benar-benar membuatnya seperti orang gila. Belum lagi dia harus memikirkan bagaimana harus menjelaskannya pada Donghae.
Yoona sangat yakin jika Donghae sudah berpikir yang aneh-aneh tentang dirinya. Satu hal yang tidak bisa Yoona terima jika pria itu beranggapan dirinya menyukai pria itu.
Jika sampai Denghae pikirkan seperti itu, dia sudah bersiap untuk menegaskan pada pria itu, jika dirinya tidak menyukai pria itu dan tidak akan. Ya Yoona sudah memikirkan itu jika suatu waktu Donghae menanyakannya.
Tapi diluar kendalinya ketika masuk kelas pada pelajaran terakhir, justru dia seperti siput yang sembunyi pada
cangkangnya karena takut pada ancaman sekitarnya. Dan bagi Yoona ancaman itu adalah jika bertemu pandang dengan Donghae.
Yoona bisa rasakan jika pria itu sesekali memperhatikannya. Yoona juga tahu pria itu mengkhawatirkannya. Tapi Yoona tidak siap berhadapan dengan pria itu. Tolong berikan waktu padanya untuk bisa mengendalikan dirinya lagi.
“Yoong”, ujar Yuri datang bergerombol dengan Sooyoung dan Taeyeon. Yoona pun merasa bersyukur karena itu. Dia merasa terselamatkan. Di tambah lagi sahabat-sahabatnya itu berdiri disampingnya, sehingga memblock jika saja Donghae mencoba mencuri-curi pandang padanya.
“ada apa?”
“nenek Yuri mengundang kita untuk panen sayuran lagi”
“oh”
“kenapa reaksimu seperti itu? Jangan katakan kali ini kau tidak ikut lagi”, ujar Taeyeon tidak suka. Hal yang sama
pun dirasakan Sooyoung dan Yuri.
Nenek Yuri adalah seorang petani yang memiliki lahan perkebunan cukup luas di pinggiran kota. Nenek Yuri dibantu oleh bibi dan pamannya untuk mengelola lahan tersebut. Karena lahan yang cukup luas, tentunya membutuhkan tenaga lebih jika sedang menanan bibit dan juga panennya.
Undangan panen sayuran di kebun nenek Yuri memang sudah seperti kegiatan rutin mereka berempat setiap tahunnya. Namun memang 2 tahun terakhir ini Yoona tidak bisa ikut dengan alasan ada kegiatan lainnya. Walaupun sebenarnya gadis itu hanya berdiam diri di rumah sambil menunggu ibunya pulang kerja.
Lebih tepatnya besok adalah ulang tahun ibu Yoona. Walaupun pada kenyataannya ibunya tidak pernah ada dirumah setiap ulang tahun, Yoona tetap ingin berada dirumah, walaupun apa yang dilakukannya adalah hal yang sia-sia.
“mianhae”, ujar Yoona tidak enak hati.
Setelah itu langsung terdengar seruan tidak suka dari ketiga gadis disamping Yoona. Yoona ingin mengatakan hal yang sebenarnya, tapi dia merasa itu tidak penting. Ketiga sahabatnya itu juga tahu jika hubungannya tidak baik dengan ibunya. Bisa-bisa meraka akan syok jika mengetahui dirinya menunggu ibunya pulang kerja untuk merayakan ulang tahun.
“sampaikan permintaan maaf ku ke nenek”, ucap Yoona pada Yuri. Yuri pun hanya bisa mengangguk masih dengan wajah kecewa.
“ah… Donghae… kau ingin ikut dengan kami panen sayuran?”, ajak Taeyeon tiba-tiba yang teringat akan Donghae dibelakang mereka.
Merasa namanya disebut Donghae langsung menoleh, menatap orang yang menyebut namanya.
“a-apa?”
“panen sayuran. Kau mau ikut kan?”, ajak Taeyeon.
“wah benar juga. Karena Yoona tidak ikut, kita pasti kekurangan tenaga bantuan. Jika Donghae ikut pasti sangat membantu”, ujar Sooyoung dengan sangat bersemangat.
“Donghae… kau mau ikut?”, tanya Yuri dengan nada lembut. Hal itu langsung membuat telinga Yoona berdenging. Dia tidak suka.
‘kenapa dia harus berbicara lembut seperti itu? Menyebalkan’, batin Yoona. Gadis itu akhirnya mencuri dengar
pembicaraan orang disampingnya yang terus merayu Donghae agar ikut dengan mereka.
Tapi diantara mereka semua yang paling membuat Yoona selalu tersulut emosi adalah interaksi Donghae dan Yuri. Keduanya terlihat begitu mesra.
Yoona pun bisa membayangkan apa yang akan terjadi besok ketika panen. Bisa saja Yuri akan terpeleset karena tanah yang basah, lalu Donghae dengan penuh perhatian akan menolong Yuri, menggendongnya dan mengobati kaki Yuri.
Yoona pun bisa membayangkan keduanya akan saling menyiram air ketika membersihkan sayuran, bercanda tawa dengan begitu riangnya.
Yoona langsung menggelengkan kepalanya, membayangkan kemungkinan-kemungkinan itu. Dia tidak bisa terima jika hal seperti yang dibayangkannya itu terjadi. Menurutnya itu terlalu berlebihan. Ya… itu berlebihan, bukan karena dia cemburu. Bukan.
“baiklah. Aku akan menunggu kalian di halte dekat sekolah”
Mendengar perkataan Donghae yang akhirnya setuju ikut, membuat Yoona langsung kalang kabut.
“aku juga akan ikut”, Yoona berseru cepat. Mereka pun langsung berbalik, menatap Yoona dengan kening mengerut.
“tapi tadi kau mengatakan ada kegiatan lain”, ujar Sooyoung.
‘ah… iya. ulang tahun omma. Tapi Donghae tidak boleh dibiarkan berduaan saja dengan Yuri. Itu terlalu berbahaya’,
panik Yoona dalam hati.
“se-sepertinya aku bisa membatalkannya. Lagi pula kalian pasti membutuhkan banyak bantuan tenaga besok”, balas Yoona dengan sedikit terbata.
Melihat belom ada reaksi dari orang-orang disampingnya, Yoona pun gelagapan.
“ba-bagaimana jika Jonghyun juga ikut? Pasti akan sangat membatu”, tawar Yoona tiba-tiba.
Yuri, Sooyoung dan Taeyeon langsung menatap Yoona tidak percaya, bisa-bisanya Yoona mengajak Jonghyun juga.
“ya ku rasa saran Yoona bagus juga. Lagi pula aku merasa canggung jika pria seorang diri disana nanti”, ucap Donghae dengan rasa malunya. Sebenarnya niat awalnya ingin meluruskan masalahnya dengan Yoona dan jika ada Jonghyun sekalian, dia bisa lebih baik. Agar tidak ada kesalahpahaman lagi.
“ba-baiklah”, jawab Yuri dengan setengah hati. Bagaimanapun besok pasti tidak akan nyaman jika ada Jonghyun. Entah apa yang dipikirkan Yoona sehingga harus mengajak kekasihnya.
“baiklah. Sampai bertemu besok”, ujar Taeyeon. Mereka pun berpencar, kembali ke meja masing-masing. Namun Sooyoung menyempatkan diri untuk mengusik Yoona.
“yak… untuk apa kau mengajak Jonghyun?”, bisik Sooyoung agar Donghae tidak bisa mendengarnya.
“memangnya kenapa?”
“aish… jelas-jelas kau tahu alasannya. Pasti akan sangat tidak nyaman jika ada Jonghyun. Dia pasti akan menempel padamu seperti lintah”, ucap Sooyoung kesal.
“tidak akan”, balas Yoona asal. Dia pun menyesal mengatakan mengajak Jonghyun. Dia sudah bisa bayangkan bagaimana besok. Dia tidak akan bisa mengawasi Donghae dan Yuri dengan tenang, melainkan dia harus ekstra keras untuk menjauhkan si ketua OSIS itu agar tidak menempel terus dengannya.
Semoga saja besok Yoona bisa menikmati liburan akhir pekannya dengan damai. Dia sudah merelakan tidak merayakan ulang tahun ibunya besok. Jadi Yoona berharap besok menjadi hari yang menyenangkan. Semoga saja.
)))))(((((
[31] Tradisi minum teh dengan segala etika dan tatacara minum teh. Dimana taradisi ini dilakukan dalam suasana formal yang telah diwariskan oleh nenek moyang bangsa Korea.
[32] Demiliterized Zone atau DMZ adalah tindak lanjut dari kesepakatan penghentian pertempuran antara Korea Selatan dan Korea Utara pada tahun 1953.
bersambung...