
Donghae dan Yoona kini berada di Jong-ro, Juongno-gu. Daerah yang terkenal dengan makanan-makanan khas Korea. Dimana sepanjang jalan berjejer rumah makan atau kedai dengan menu-menu andalan mereka.
“kau yakin ingin ikut mencari?”
“Ya. Memangnya kenapa?”
Donghae terdiam ketika Yoona balik bertanya dengan wajah kesal. Jadi hasil diskusi untuk tugas kelompok mereka adalah teknik pemasaran yang dilakukan oleh rumah makan tradisional. Dengan pertimbangan menu yang di sajikan adalah makanan tradisional yang sangat digemari masyarakat.
“Yak… Lee Donghae… Lagi-lagi kau tidak mendengar ku”
Teriaka Yoona segera menyadarkan Donghae yang sepertinya tadi melamun.
“Apa?,” balas Donghae dengan polosnya.
“menyebalkan”, seru Yoona semakin kesal. Gadis itu pun langsung beranjak pergi meninggalkan Donghae yang bingung dengan suasana hati Yoona yang selalu berubah-ubah.
Donghae pun langsung berjalan cepat menyusul Yoona yang sudah memasuki sebuah rumah makan sederhana dengan logo kimchi yang terpampang besar didepan rumah makan itu.
Ketika Donghae masuk, Yoona sudah duduk manis sambil menatap menu makanan yang tertera di selembar kertas yang di laminating.
“kau ingin coba yang mana?,” tanya Yoona tanpa mengalihkan pandangannya dari kertas di tangannya.
“mmm… terserah kau saja”, balas Donghae seadanya. Yang terdengar selanjutnya adalah dengusan Yoona. Kesal, entah karena apa.
Yoona beranjak dari duduknya, menghampiri seseorang yang sedari tadi berdiri dibalik meja tinggi yang diatasnya terdapat beberapa lembar kertas kecil.
Donghae hanya mengamati Yoona dari posisinya saat ini. Gadis itu terus berbicara sambil sesekali menatap kertas menu yang dibawanya. Setelah itu gadis itu kembali duduk berhadapan dengan Donghae.
“bagaimana menurutmu?” tanya Donghae.
“lumayan”
“ku rasa untuk tata kelola ruangnya menarik, sangat khas,” ujar Donghae, menilai sekeliling rumah makan itu.
“mmm… tapi cara pelayanan mereka pun perlu dinilai juga”
“kau benar”
Setelah Donghae membalas ucapan Yoona, seorang pelayan datang mengantarkan pesanan mereka. Dari penampilannya, makanan itu sangat menggugah selera.
“selamat makan”, seru Donghae dengan semangat. Tidak ada balasan dari Yoona. Karena gadis itu sudah sibuk memakan makanannya.
Hanya berselang lima menit, mereka sudah keluar dari rumah makan itu. Bukan karena makanan mereka sudah habis, tapi karena Yoona yang tiba-tiba ingin keluar dari rumah makan itu. Donghae tidak tahu persis apa yang menyebabkan Yoona demikian.
“sebenarnya ada apa? Kimchinya tidak enak?”, tanya Donghae sambil mensejajarkan langkahnya dengan Yoona. Gadis itu terus melangkah dan mengabaikan pertanyaan Donghae.
Tapi tiba-tiba Yoona berlari ke daerah yang cukup sepi. Awalnya Donghae kaget, tapi kemudian dengan cepat menyusul Yoona. Dia khawatir dengan gadis itu. Ketika Donghae semakin mendekati Yoona, pria itu mendengar suara Yoona yang seperti memuntahkan sesuatu.
“Yoona… kau baik-baik saja?” tanya Donghae menghampiri.
“jangan mendekat,” seru Yoona dengan napas yang terengah-engah. Tapi seolah tuli, Donghae tetap mendekati gadis itu.
“ku bilang jangan mendekat,” Yoona meninggikan suaranya, semakin kesal. Sebenarnya dia sangat malu dengan kondisinya sekarang ini. Donghae pasti merasa jijik dengan dirinya saat ini. Seperti itulah yang Yoona pikirkan.
Donghae memberanikan diri menyentuh leher Yoona, memijatnya dengan lembut. Yoona kaget dengan sentuhan itu. Tapi rasa hangat merayapi kulit lehernya hingga wajahnya. Yoona bisa pastikan wajahnya seperti buah tomat sekarang ini. Memalukan.
Melihat Yoona yang sedikit mulai tenang, Donghae menuntun gadis itu untuk duduk di teras sebuah rumah makan yang tampak sepi.
Donghae membuka tasnya, kemudian mengeluarkan botol kecil minyak angin, lalu memberikannya pada Yoona. Yoona yang memang merasa lemah tidak bisa mengatakan sesuatu lagi pada Donghae - seperti penolakan misalnya, gadis itu hanya pasrah saja.
“tunggu sebentar,” ujar Donghae, lalu pria itu pergi entah kemana. Yoona hanya menatap punggung Donghae yang semakin menjauh dari jarak pandangnya.
“dia pergi kemana sih? Tega sekali dia meninggalkanku dalam kondisi seperti ini”, gerutu Yoona ketika Donghae tidak kunjung kembali. Tapi Yoona tahu pria itu tidak mungkin berani meninggalkannya, karena Donghae meninggalkan tasnya juga bersama gadis itu.
“hahh… hahhh… maaf,” seru Donghae yang tiba-tiba muncul dihadapannya. Pria itu tampak kelelahan seperti habis berlari dan juga butiran-butiran keringat mengalir dari kening hingga lehernya.
‘ohh ya Tuhan’
Untuk kedua kalinya Yoona dapat melihat Donghae yang berkeringat seperti ini. Pertama ketika insiden dirinya yang hampir terjatuh dari tangga dan dengan hebatnya Donghae menolongnya. Kemudian sekarang.
Yoona selalu merutuki dirinya yang diluar sadar mengagumi Donghae yang berkeringat. Menurutnya Donghae yang berkeringat terlihat sangat tampan dan juga… seksi.
‘Im Yoona bodoh sadarlah’
Yoona memaki dirinya yang mulai berpikir vulgar setiap mendapat pemandangan Donghae dalam kondisi seperti ini. Rambut basah pria itu karena keringat dan juga aliran keringat yang membasahi kening hingga lehernya. Itu benar-benar seksi.
“Yoona… apa kau masih merasa sakit?” Donghae menyadarkan Yoona dari lamunannya. Yoona menggelengkan kepala, berharap pikiran kotornya segera sirna dari otaknya. Sedangkan Donghae beranggapan gelengan kepala Yoona tersebut sebagai jawaban bahwa Yoona sudah baik-baik saja.
“kau dari mana saja?”, tanya Yoona dengan tatapan tajam, berusaha menutupi kegugupannya karena menatap wajah Donghae.
“maaf… tadi aku membeli minuman dulu untuk mu”
“selama itu?”
“warung disekitar sini hanya menjual minuman dingin. Kata ibuku, tidak baik ketika mual mengkonsumsi minuman dingin. Jadi aku mencarinya cukup jauh hingga keluar dari daerah sini,” jawab Donghae. Dia rela berlari seperti orang gila hanya untuk gadis ini tapi yang didapatnya lagi-lagi kemarahan gadis ini.
“sudahlah… kau terlalu banyak alasan,” balas Yoona tetap menampilkan wajah kesalnya, walau dalam hati dia merasa tersentuh dengan kebaikan pria di hadapannya itu.
Dengan tidak sopannya, Yoona langsung merampas botol air minum yang Donghae genggam. Donghae hanya tersenyum kecut, melihat Yoona yang meminum air dalam botol itu hingga tandas tanpa ada niat sedikitpun membaginya. Padahal Donghae sangat haus setelah berlarian tadi.
Ketika membeli minuman itu, Donghae sudah berniat untuk membeli dua botol tapi, mengingat dirinya harus menabung untuk membeli kado ulang tahun untuk ibunya, niat tersebut pun diurungkannya. Tapi sekarang penyesalan itu datang karena Yoona – gadis keras kepala dan suka marah-marah itu, tidak membagi setetes pun air minum yang susah-susah dibelinya tadi. Pria yang malang.
“ayo kita lanjut” seru Yoona, bangkit dari duduknya.
“kau yakin? Apa tidak sebaiknya kau pulang dan istirahat?”
“aku tidak percaya kau bisa mencari rumah makan yang tepat”, balas Yoona santai. Melenggang begitu saja meninggalkan Donghae yang menggeram menahan amarah.
‘sialan’
Donghae mengumpat, tidak tahan lagi dengan sikap Yoona. Ditambah kondisi tubuhnya yang terasa lengket dan panas karena keringat.
‘sialan. Beraninya dia memaki ku’, batin Yoona yang mendengar umpatan Donghae.
“cepat Lee Donghae, jangan seperti siput. Bahkan siput pun bisa lebih cepat dari dirimu”, ujar Yoona sarkartis sebagai luapan kekesalannya dengan pria itu.
“maaf” Donghae segera menyusul.
“aku sudah mendengar beribu kali kata itu dari mu,” balas Yoona tanpa perasaan.
Donghae hanya bisa menghembuskan napas berat. Ingin rasanya dia melemparkan gadis itu ke jurang saat ini.
)))))(((((
Jadinya selama kunjungan mereka di rumah makan berikutnya, Donghae memastikan pada pelayan rumah makan itu untuk tidak mencampurkan bawang putih untuk Yoona tanpa gadis itu ketahui pastinya.
“kau tidak lelah?” tanya Donghae, karena Yoona masih terlihat sangat bersemangat mengayunkan kakinya menuju rumah makan berikutnya.
“tidak. Belum ada rumah makan yang benar-benar cocok untukku. Makanan yang mereka hidangkan biasa-biasa saja”, balas Yoona dengan santainya.
Sudah delapan tempat yang mereka kunjungi sedari tadi dan gadis itu bilang tidak ada yang cocok dan hidangannya biasa-biasa saja? Yang benar saja. Sedangkan gadis itu sedari tadi melahap habis semua pesanannya bahkan dia memesan untuk porsi keduanya. Donghae tidak habis pikir dengan gadis itu. Mulutnya tidak sinkron dengan apa yang dilakukan gadis itu.
Yoona memiliki tubuh kurus yang mungkin diidam-idamkan semua gadis didunia ini, tapi Donghae tidak menyukai tubuh seperti itu. Seperti tidak pernah makan saja. Donghae pikir, Yoona tipe gadis pada umumnya yang selalu menjaga porsi makannya, melihat bagaimana tubuh kurus Yoona selama ini. Tapi pada kenyataannya, pikiran itu tidaklah benar. Porsi makan Yoona sangatlah besar, bahkan mengalahkan porsi makan tiga orang pria.
Sepanjang jalan, beberapa kali mereka mendapat tatapan yang berbeda-beda dari orang-orang yang berpapasan dengan mereka. Mereka tidak memakai seragam sekolah yang bisa dianggap seperti pelajar yang keluyuran, tidak sekolah. Tapi mereka memakai pakaian santai saat ini. Tapi tatapan orang-orang membuat Yoona dan Donghae
tetap tidak nyaman.
Sebenarnya tanpa Yoona dan Donghae sadari, mereka saat ini terlihat seperti sepasang kekasih yang sedang berkencan atau mungkin seperti sepasang kekasih yang sedang melakukan perjalanan kuliner. Orang-orang melihat mereka sebagai pasangan yang sangat serasi. Mereka tidak tahu, sepanjang hari ini mereka selalu berdebat, tidak, lebih tepatnya Yoona yang terus mengomel dan marah-marah. Sedangkan Donghae selalu menjadi budak yang menurut pada tuannya. Pria yang malang.
“jjajangmyeon?”, gumam Yoona tiba-tiba berhenti. Gadis itu mendongak, menatap plangkat yang dipasang diatas pintu sebuah kedai tua. Donghae pun menyadari mereka sudah memasuki area yang tidak asing baginya, terkhusus kedai didepan mereka sekarang. Pria itu tidak menyangka pencarian mereka bisa sampai ke area ini.
Donghae bahkan selalu mengarahkan Yoona agar berjalan menjauhi area rumah makan atau kedai disekitar ini. Tidak banyak memang rumah makan didaerah ini. Tapi walaupun demikiran, setiap rumah makan selalu dikunjungi banyak orang, termasuk kedai tua yang kini sudah dimasuki Yoona. Gadis itu tampak tidak sabaran lagi.
Ketika masuk, seorang pelayan langsung kaget dengan kehadiran Donghae. Donghae menatap pelayan itu dalam diam, seolah meminta pelayan itu untuk tidak bicara apapun dan syukurnya pelayan itu mengerti.
Donghae pun duduk berhadapan dengan Yoona disebuah meja kecil di barisan belakang. Untunglah mereka masih kebagian meja. Karena Donghae sangat tahu, rumah makan ini tidak pernah sepi pengunjung.
“sepertinya tempat ini cukup terkenal” seru Yoona menatap sekitarnya. Banyak pengunjung dan memakan jjajangmyeon mereka dengan lahap. Membuat Yoona kembali merasakan gemuruh diperutnya karena lapar. Padahal tadi dia merasa perutnya sudah penuh. Tapi melihat bagaimana orang-orang dirumah makan itu dengan lahap, membuatnya lapar kembali. Benar-benar perut sialan.
Yoona sebenarnya malu pada Donghae karena pria itu pasti menyadari bagaimana cara makan Yoona yang begitu besar, seperti babi. Tapi mau bagaimana lagi. Perutnya adalah prioritas utama gadis itu.
“permisi, ini buku menunya” ujar seorang pelayan pria sambil memberikan kertas menu pada Yoona dan Donghae. Pria yang sudah cukup berumur itu menampilkan senyum ramah pada mereka. Yoona pun membalas senyum itu. Dia suka cara pelayanan di rumah makan itu.
“aku ingin memesan jjajangmyeon porsi besar” pesan Yoona.
“Anda?” tanya pelayan itu pada Donghae dengan senyum menggoda. Donghae dapat melihat itu dengan jelas, tapi berusaha mengabaikannya.
“aku pesan es jeruk saja”
“kau tidak ingin mencoba?” tanya Yoona kaget Donghae tidak memesan. Sangat disayangkan pria itu tidak ingin mencicipi, tapi yang lebih Yoona pikirkan adalah Donghae pasti menyadari Yoona yang sangat rakus, tiada henti makan. Harga dirinya benar-benar hancur di hadapan Donghae seharian ini.
“hanya ini saja?”, tanya pria tua itu.
“Iya” jawab Yoona bersemangat atau mungkin tidak sabaran, agar pelayan itu segera pergi dan menyiapkan pesanannya.
“aku tidak tahu ada rumah makan jjajangmyeon disekitar sini”
“ya… mungkin karena area ini jauh dari jalan besar. Terpencil dan cukup sulit ditemukan”
“kau pernah ke sini?”
“mmm… ya”
Donghae hanya bisa membalas seadanya. Entah kenapa dia tidak ingin mengatakan dia sangat mengetahui area yang mereka kunjungi sekarang.
“lalu kenapa kau tidak mengatakan sejak awal? Kan kita tidak perlu berjalan jauh dan mendatangi banyak tempat. Kau ini benar-benar ingin menghabiskan uang ku ya?” tuduh Yoona yang terlihat kesal.
Memang selama memasuki berbagai rumah makan tadi, gadis itulah yang paling banyak mengeluarkan uangnya. Bukan karena Donghae tidak ingin membayar, tapi memang gadis itu yang tidak mau. Yoona bersikeras ingin membayar makanan mereka, dengan alasan dia anak orang kaya yang punya banyak uang, tidak ingin diremehkan. Benar-benar gadis dengan harga diri setinggi langit.
“kau ingin kemana?” tanya Yoona panik ketika Donghae bangkit dari duduknya.
“aku ingin kebelakang sebentar” balas Donghae.
“aku ikut” seru Yoona tanpa sadar dengan kata-katanya. Dia hanya takut saja ditinggal sendirian ditempat yang tidak dikenalnya sebelumnya.
“a-apa? Ka-kau ingin ikut ke toilet?” Donghae kaget mendengar ucapan Yoona.
“to-toilet?” tanya Yoona bingung.
“iya toilet. Aku ke belakang ingin ke toilet”
Mendengar itu seketika wajah Yoona langsung memerah karena malu. Bisa-bisanya dia meminta ikut ke toilet dengan seorang pria. Pria yang selalu membuatnya naik darah dan kesal. Pria yang selalu dianggapnya sebagai saingan dan musuhnya.
“pe-pergilah” balas Yoona dengan nada datar walaupun diawalnya dia sempat terbata.
Donghae pun berbalik dan pergi. Pria itu penggeleng dan tersenyum kecil mengingat tingkah konyol Yoona. Walaupun Yoona gadis cerewet dan keras kepala, tapi ada sisi manja dan kekanak-kanakan gadis itu yang membuat Donghae ingin tersenyum.
Donghae mencuci tangannya dengan telaten sesekali bersiul. Namun tiba-tiba seseorang menepuk pundaknya membuat Donghae reflex berbalik. Ternyata pelayan pria tua tadi.
“Ya Tuhan… appa membuatku kaget”
“oh anak ku… sejak kapan putra ku yang selalu mengurung diri didalam kamarnya untuk belajar ini, tiba-tiba boom…. membawa seorang gadis cantik ke rumah makan keluarganya”, goda pria tua itu dengan
penuh drama.
“dia hanya teman sekelas ku appa. Jangan berlebihan seperti itu”
“jangan malu-malu nak. Appa juga pernah muda, sangat pengalaman dalam pendekatan dengan seorang gadis”
Donghae hanya bisa menggeleng mendengar ucapan ayahnya itu. Bukan hal yang baru bagi Donghae terhadap sikap ayahnya yang selalu percaya diri, menceritakan kisah-kasihnya selama remaja dulu. Dan sayangnya Donghae tidak tertarik. Ditambah ibunya yang mengatakan ayahnya terlalu banyak menambah bumbu-bumbu dalam ceritanya itu. Jadi Donghae tidak akan percaya.
“sudahlah appa, jangan memulainya lagi. Dia hanya teman sekelas ku dan kami sedang mengerjakan tugas kelompok.”
“kalau begitu kau harus memanfaatkan ini dengan baik bukan? Dekati dia dengan cara seperti…”
Donghae tidak mendengar lagi apa yang dikatakan pria tua itu dan dia pun tidak ingin tahu. Mendekati Yoona tidak pernah terlintas dalam pikirannya. Yoona yang keras kepala dan sulit diatur tidak pernah menjadi tipe gadis idamannya. Tidak ingin dan tidak akan pernah.
Berpacaran atau memiliki kekasih bukan prioritasnya sekarang. Dia hanya ingin belajar dan mencapai cita-citanya sebaik mungkin tanpa harus memikirkan seorang gadis. Apalagi gadis seperti Yoona.
Bukan berarti Donghae tidak membutuhkan pasangan dalam menjalani hidupnya. Hanya saja, itu mungkin akan dilakukannya setelah nanti dia bisa membuat kedua orangtuanya bangga karena usaha kerasnya dalam membantu usaha kedai keluarga mereka.
Mungkin Donghae akan memikirkan seorang yeoja ketika dia sudah bekerja nanti.
)))))(((((
bersambung...
jangan lupa klik like dan komentar kalian ya~