Loco

Loco
Chapter 11



Didalam kelas A terlihat ramai dan riuh. Semua penghuni kelas itu sedang merayakan kemenangan kelas mereka. Mereka mendapat juara pertama untuk menghias kelas, menyanyi, lari 100 meter dan juga dance. Sedangkan football mereka mendapat juara dua dan memasak mereka mendapat juara ketiga. Namun jika dirata-ratakan, kelas A memperoleh piala terbanyak dibandingkan kelas yang lain.


Beberapa murid masih sibuk berfoto dengan piala-piala kemenangan kelas mereka. Sedangkan yang lain sudah bersiap untuk pulang karena hari sudah semakin sore. Yoona pun sudah bersiap untuk pulang. Dia sedang menunggu Sooyoung dan Taeyeon yang terlihat masih bercanda dengan Donghae.


Tentunya Yoona tidak akan bergabung dengan mereka karena dia sedang berusaha menjauh dari Donghae. Melihat pria itu selalu mengingatkannya dengan pakaian dalam berwarna merah muda itu.


Yoona menyentuh pipinya yang dia yakini sudah kembali merona setiap mengingat kejadian memalukan itu.


“YAK… kalian lama sekali. Aku ingin pulang”, teriak Yoona karena dia sudah tidak sanggup lagi berlama-lama berada dikelasnya.


Donghae, Sooyoug dan Taeyeon pun terlonjak kaget dan langsung menatap Yoona.


“sepertinya tuan putri sedang mode mood yang jelek. Sebaiknya kita segera menghampirinya sebelum mulutnya mengeluarkan api”, cibir Sooyoung yang langsung mengundang tawa dari Donghae dan Taeyeon.


“kami duluan”, ucap Taeyeon langsung menghampiri Yoona yang juga disusul oleh Sooyoung.


Donghae masih menatap ketiga gadis itu dengan senyum, hingga senyum itu mulai terlihat dipaksakan. Setelahnya dia pun memperlihatkan wajah datar masih ke arah ketiga gadis yang semakin menjauh itu.


‘ya Tuhan hampir saja’, batin Donghae sambil mengelus dada. Tentunya Yoona yang mendengar itu, membuat gadis itu mengerutkan keningnya. Dia tidak mengerti apa yang sedang Donghae pikirkan.


‘memangnya terjadi sesuatu sehingga dia bisa merasa lega seperti itu?’, batin Yoona.


“Yoona… kau sedang melamun?”, tanya Sooyoung langsung menyadarkan Yoona.


“ah… tidak. Ayo kita pulang”, balas Yoona berbohong.


“Yoona”


Lagi-lagi merasa namanya dipanggil Yoona pun berhenti. Namun kali ini bukan dari Sooyoung maupun Taeyeon. Itu suara pria.


Yoona pun berbalik. Yoona bisa melihat Jonghyun, si ketua OSIS mereka berlari kecil menghampirinya. Yoona pun mengerutkan kening heran mengapa pria itu memanggilnya. Dia merasa tidak ada urusan dengan ketua OSIS itu. Dan mereka pun tidak memiliki hubungan yang dekat sehingga perlu saling menyapa.


“Yoona… boleh kita bicara sebentar?”, ujar Jonghyun. Ketiga gadis itu pun saling tatap.


“mungkin dia ingin menyatakan cintanya padamu”, bisik Sooyoung.


“ck… tidak mungkin”, balas Yoona dengan sedikit kesal.


“sudah. Dengarkan saja dulu, dia ingin mengatakan apa”, ujar Taeyeon. Yoona pun mengangguk.


“ada apa?”, tanya Yoona.


“mmm… itu… boleh kita bicara berdua saja?”


Yoona pun mulai merasakan tidak enak. Dia merasa akan terjadi sesuatu. Jika benar seperti yang Sooyoung katakan, Yoona sudah bersiap untuk menolak pria itu langsung tanpa perlu memikirkannya lagi.


“katakan saja disini”, balas Yoona. Gadis itu sudah berpikir Jonghyun akan mengurungkan niatnya. Namun diluar dugaan, pria itu memiliki keberanian yang besar. Pantas saja dia dipilih menjadi ketua OSIS.


“Yoona”, ucap Jonghyun kini sudah berlutut sambil mengulurkan setangkai bunga dari balik punggungnya.


Yoona yang kaget tidak sadar sudah melangkah mundur. Dia mulai terlihat panik. Tiba-tiba lidahnya sulit digeraknya untuk menolak pria itu. Ditambah lagi perlakukan Jonghyun yang masih berlutut itu mengundang perhatian murid-murid yang sedang berada dihalaman sekolah. Mereka bahkan mulai mendekat, penasaran dengan apa yang terjadi.


“apa ini hadiah taruhannya tadi?”, bisik beberapa gadis yang mulai mengerti apa yang terjadi dengan Jonghyun.


“a-apa yang kau lakukan?”, tanya Yoona tidak menyadari suaranya terbata. Dia terlalu panik.


“Yoona… sejujurnya aku sudah menyukaimu jejak kelas 1. Karena itu, maukah kau menjadi kekasih ku?”, ucap Jonghyun masih mengulurkan setangkai bunga itu.


“wah… wah…”, seru Sooyoung begitu bersemangat. Taeyeon pun langsung memukul lengan gadis tinggi itu.


“a-aku…”


“terima… terima… terima”, sorak murid-murid yang ada disana yang Yoona baru sadari semakin banyak. Tapi matanya tiba-tiba bertemu dengan sosok pria yang akhir-akhir ini membuatnya seperti orang gila.


Donghae kini menatapnya. Tapi ada yang tidak Yoona sukai dari kehadiran Donghae diantara murid-murid itu. Pria itu tersenyum kepadanya seolah menyatakan dia akan baik-baik saja jika Yoona menerima Jonghyun menjadi kekasihnya.


Yoona akhirnya tersadar jika selama ini dirinya saja yang terlalu terbawa suasana ketika sedang bersama Donghae. Sedangkan pria itu terlihat biasa saja. Bahkan saat ini pria itu tersenyum lebar ketika pria lain menyatakan perasaan kepadanya.


“baiklah”, ucap Yoona dengan nada kesal. Walaupun dibalas dengan kata-kata yang cukup ketus, Jonghyun tetap merasa bahagia begitupun orang-orang yang menonton mereka. Mereka bahkan bertepuk tangan, riuh.


“aku pulang dulu”, ucap Yoona setelah menerima bunga dari Jonghyun. Kepalanya tiba-tiba sakit.


“ok. Hati-hati dijalan, chagiya[25]”, ucap Jonghyun dengan gamblang membuat orang-orang langsung berseru ria.


Sedangkan Yoona sudah tidak peduli lagi. Dia hanya ingin pulang. Sooyoung dan Taeyeon pun langsung menyusul Yoona.


“wah… sekarang ada yang sudah memiliki kekasih disini. Chukkae[26]”, ucap Sooyoung dengan riang.


“diamlah. Kau sangat berisik”, ucap Yoona dengan kesal. Taeyeon yang melihat Yoona sepertinya sedang tidak ingin diganggu, langsung menahan lengan Sooyoung yang tersulut emosi karena perkataan Yoona yang kasar.


“Soo”, ucap Taeyeon memperingatkan.


“ck… dia tidak pernah berubah”


“dia sedang kesal”


“memangnya itu salahku? Dia saja yang tidak ingin mengikuti kata hatinya dan lebih memilih harga dirinya. Ujung-ujungnya dia yang menyiksa dirinya sendiri”, ucap Sooyoung panjang lebar. Dia kesal tapi juga kasihan pada Yoona.


Tapi memang benarlah adanya jika memang Yoona terlalu gengsi untuk mengakui perasaannya yang sebenarnya. Sehingga keputusannya tadi menjadi penyesalan bagi dirinya sendiri.


)))))(((((


Sudah 2 minggu Yoona menjalin hubungan dengan Jonghyun, dan Yoona bisa merasakan dunianya begitu hampa walaupun Jonghyun selalu ada disekitarnya seperti lebah yang rindu pada sari-sari bunga. Pria itu selalu menempel padanya.


Akibatnya Yoona terkadang tidak memiliki waktu untuk sendiri menikmati waktunya di atap sekolah. Terkadang kebersamaannya dengan sahabat-sahabatnya pun sedikit berkurang karena Yoona merasa tidak nyaman jika ada Jonghyun ketika mereka sedang bergosip atau mungkin sedang berkumpul seperti biasa.


Bukan karena Jonghyun pria yang buruk atau jahat. Pria itu sangat baik. Yoona harus akui itu. Jonghyun sangat peka dengan kondisi Yoona. Jika Yoona lebih banyak diam ketika sedang berdua, pria itu langsung pamit pergi untuk memberi Yoona waktu sendiri. Tidak seperti Donghae yang selalu bodoh dan tidak mengerti keadaan.


Membicarakan pria bodoh itu, Yoona juga sangat jarang berbicara dengannya. Keduanya seperti saling mengindar dengan alasan masing-masing yang tidak jelas.


Tapi hari ini Yoona sudah bertekat harus mengajari Donghae untuk segera menyatakan perasaannya pada Yuri. Karena semalam, ketika baru tiba dirumah setelah seharian menemani Jonghyun mencarikan kado untuk ulang tahun ibunya, dia bertemu dengan Kangin.


Kebetulan yang sangat sial bagi Yoona. Mengapa rumahnya harus satu kompleks dengan rumah Kangin? Dia sangat muak melihat wajah brandalan itu. Kesialannya bertambah lagi ketika Kangin menagih janji akan mempertemukannya dengan Yuri, tentunya dengan Donghae sebagai kekasih Yuri.


Yoona sudah memberitahu Donghae dengan menyelipkan note di buku tugas pria itu, seperti biasanya. Setelah memastikan Donghae sudah melihat note itu, ketika jam istirahat pertama Yoona langsung menuju atap sekolah.


Ketika Yoona menaiki anak-anak tangga itu, tiba-tiba terdengar langkah yang terkesan terburu-buru dari belakangnya. Yoona pun langsung menoleh kebelakang, tapi dia tidak melihat siapapun dibelakangnya. Ketika dia berbalik dia langsung melihat Sooyoung yang melangkah dengan riang menuruni tangga. Gadis jangkung itu sepertinya tidak menyadari kehadiran Yoona disana.


“Soo?”, panggil Yoona.


“Yo-Yoona”, ucap Sooyoung dengan gugup. Gadis itu terlihat gelisah dari matanya yang tidak fokus.


“apa yang kau lakukan disini? Kau dari atap gedung?”, tanya Yoona masih menasaran. Dia sangat tahu Sooyoung paling tidak suka ke gedung laboratorium. Katanya hawa digedung itu tidak menyenangkan. Tapi kenapa sekarang sahabatnya itu justru keluar menuruni tangga dari atap gedung dengan wajah ceria, tanpa ada beban.


“ah… itu… aku…”, Sooyoung terlihat kesulitan untuk menjawab. Gadis itu sibuk seperti mencari seseorang dibelakang Yoona. Yoona bahkan ikut mencari seseorang dibelakangnya, tapi nyatanya tidak ada siapa-siapa dibelakangnya.


“kau mencari siapa?”, tanya Yoona akhirnya, itu pun semakin membuat Sooyoung gelisah.


“a-aku mencarimu. Kau kan biasanya ada diatap gedung”, jawab Sooyoung disertai dengan tawa yang dipaksakan.


Yoona pun menyadari itu. Dia pun menjadi curiga pada sahabatnya itu. Sejak mereka bertemu pertama kali di Sekolah Dasar memang Yoona sudah tahu Sooyoung adalah orang yang aneh dan suka berbohong. Tapi setelah itu Sooyoung biasanya akan mengakui dirinya berbohong dengan sendirinya.


Kali ini pun Yoona tahu gadis itu sedang berbohong. Sooyoung pasti menyembunyikan sesuatu. Tak sengaja Yoona melihat baju Sooyoung yang sedikit berdebu. Dia pun mulai menyimpulkan apa yang sedang sahabatnya itu lakukan.


“jangan katakan kau sedang bereksperimen”, curiga Yoona. Sooyoung pun terlonjak kaget. Melihat reaksi Sooyoung, Yoona menyimpulkan jawabannya benar.


“hehehe”, Sooyoung tertawa canggung.


“kau ini benar-benar aneh”, ujar Yoona.


“aku harus segera menuliskannya dibuku. Aku pergi dulu. Bye”, ucap Sooyoung dengan semangat. Yoona pun hanya bisa menggelengkan kepala dengan si kaki panjang itu.


Tapi belum sampai Yoona kembali menaiki tangga, dia bisa mendengar tawa Sooyoung yang bergema dilorong. Yoona pun menjadi penasaran, mengapa gadis itu tertawa seorang diri.


Yoona mengendap-endap mengintip dari balik tembok. Namun sayangnya Sooyoung sudah terlanjut berbelok ke kiri menuju lorong alternatif ke gedung kelas mereka. Dia hanya bisa melihat kepala gadis itu yang masih dengan tawanya.


Awalnya tadi Yoona merasa Sooyoung seperti sedang bersama seseorang dilorong itu, tapi setelah mengingat kembali sahabatnya itu aneh jika seorang diri, Yoona hanya bisa mengangkat bahunya.


Yoona berpikir mungkin saja Sooyoung menemukan hal-hal menarik bagi gadis itu diatap gedung. Mungkin serangga yang aneh dan gadis itu penasaran dengan siklus serangga itu. Atau apapun itu, Yoona tidak ingin memikirkannya karena baginya itu tidak masuk akal.


Namun yang Yoona tidak ketahui adalah bahwa sebenarnya Sooyoung dengan seseorang saat itu. Yoona terlalu mengabaikan semuanya sehingga gadis itu tidak menyadarinya.


Yoona pun melanjutkan tujuannya menuju atap gedung. Sampai disana Yoona langsung merentangkan kedua lengannya lebar-lebar, menerima hembusan angin yang langsung membuatnya tenang. Itulah yang membuat Yoona sangat menyukai atap gedung itu.


Jika dia sedang banyak pikiran atau dia jenuh belajar, dia akan pergi ke atap untuk menenangkan diri. Jika bagi murid-murid SMA Kirin gedung laboratorium itu sangat menyeramkan, baginya tidak. Biasa saja.


Yoona berbalik ketika mendengar pintu atap gedung itu terbuka. Donghae sudah datang.


“ada apa?”, tanya Donghae langsung.


Yoona hanya diam. Dia terus menatap pria didepannya itu. Dia sudah begitu lama tidak berdua saja dengan Donghae diatap gedung yang sering dinamainya dengan under sky.


“Yoona”, panggil Donghae membuat Yoona kembali pada kesadarannya.


“ah, kemarin aku bertemu dengan Kangin”


Yoona tersenyum sangat tipis. Dia senang jika Donghae begitu perhatian padanya seperti sekarang. Entah mengapa dia merindukan perhatian pria itu selama beberapa minggu ini.


“dia tidak melakukan apa-apa. Dia hanya bertanya tentang Yuri lagi. Kau tidak melupakan janjimu itu kan?”


‘jelas-jelas dia sendiri yang membuat janji itu dengan Kangin. Dia sangat suka membalikkan fakta’, batin Donghae.


Tentu hal itu pun bisa Yoona ketahui. Kali ini dia tidak ingin berkomentar. Karena dia pun sedikit merindukan gerutuan pria itu yang tidak bisa diutarakan langsung padanya.


“jadi apa yang harus ku lakukan sekarang?”, tanya Donghae. Sejujurnya dia tidak mengerti dengan hal-hal yang berbau asmara. Dia terlalu fokus pada tujuannya untuk menyenangkan keluarganya.


“ckckck… tentu saja kau harus segera menyatakan perasaan mu pada Yuri. Hal seperti itu saja kau tidak mengerti. Babo[27]”, cibir Yoona. Gadis itu sudah mulai dalam mode menyebalkannya. Donghae sudah menduga itu. Sejak kapan Yoona bisa berbicara baik-baik padanya.


Yoona dengan harga dirinya yang agung.


“sekarang kau harus berlatih kata-kata yang bagus untuk menyatakan perasaan mu pada Yuri. Coba kau ulangi kata-kataku ini”, perintah Yoona, Donghae pun mengangguk patuh.


“Yuri-ya”


“Yuri-ya”, ulang Donghae.


“sebenarnya selama ini aku sudah memperhatikan mu secara diam-diam”


“aku tidak pernah memperhatikannya seperti itu”, protes Donghae.


“yak… ini untuk kebaikanmu sendiri. Kau tidak ingin Yuri menerima mu ya?”, kesal Yoona.


“tentu saja tidak. Bisa-bisa Kangin akan berbuat semena-mena lagi”, balas Donghae.


“nah karena itu, sedikit kebohongan diperlukan untuk meluluhkan hati Yuri. Pokoknya kau ikuti saja kata-kata ku”


“ne”, balas Donghae pasrah.


Donghae pun mulai mengulang-ulang kata-kata Yoona tadi.


“aku tahu ini terlalu cepat. Tapi aku sungguh-sungguh dengan perasaan ku”, ucap Yoona. Donghae pun mulai mengulang kata-kata itu.


“aku tahu ini terlalu cepat Yuri-ya. Tapi aku sungguh-sungguh dengan perasaanku ini”, ulang Donghae dengan sedikit tambahan. Yoona tidak berkomentar, dia hanya fokus dengan wajah Donghae.


“nah setelah itu katakan kau mencintainya dan minta dia untuk menjadi kekasihmu”, ujar Yoona. Donghae pun


mengangguk. Pria itu mulai memikirkan kata-kata yang tepat untuk dikatakannya pada Yuri nanti.


Yoona memperhatikan wajah serius Donghae. Sedikit senyum terukir diwajahnya melihat wajah yang begitu serius


itu. Padahal Yoona hanya menyuruhnya menyatakan perasaannya bukan mengerjakan soal-soal ujian.


“baiklah… aku akan memulainya. Kau coba dengarkan dan beri masukan jika ada yang kurang”, ucap Donghae setelah merangkai kata-katanya.


‘sudah? Tapi kenapa aku tidak mendengar apa yang sedang dipikirkannya?’, batin Yoona kaget karena tidak bisa mendengar apa yang sedang Donghae pikirkan.


“Yoona kau melamun?”, ujar Donghae.


“ah… tidak. Coba ulangi lagi”, balas Yoona.


“saranghae[28]… maukah kau menjadi kekasih ku?”


“ne”, balas Yoona spontan.


“apa?”, ujar Donghae bingung. Mengapa Yoona harus menjawab seperti itu, seolah-olah dia sedang menyatakan perasaan pada gadis itu.


“oh… maksud ku, ne, Yuri pasti akan menjawab seperti itu. Kau harus bisa meyakinkan Yuri sampai dia menerima mu”, ucap Yoona berkelit.


‘hah… michyeosseo. Kau memang bodoh Im Yoona’, batin Yoona memaki diri sendiri.


“jadi kata-kata ku tadi sudah bagus?”, tanya Donghae dengan polosnya.


“Ya… ku rasa itu sudah bagus”


“karena sudah tidak banyak waktu, besok aku akan mengatur pertemuanmu dengan Yuri di café dekat taman kota.


Pastikan kau memakai pakaian yang layak, jangan terlalu cupu dan kampungan”, tambah Yoona dengan cibiran. Donghae hanya mengganguk-angguk saja. Dia tidak ingin berdebat.


Donghae hanya ingin ini segera berakhir dan Kangin menjauh dari hidupnya. Setelah itu dia akan kembali fokus


untuk belajar.


Yoona mengeluarkan ponselnya mengetikkan sesuatu disana. Setelah itu dia kembali memasukkan benda itu ke


dalam sakunya.


“jam 2 siang setelah pulang sekolah. Di Rainbow café. Aku sudah mengirim pesan pada Yuri. Aku berpura-pura mengajaknya ke sana besok. Dan setelahnya kau yang mengatasinya”, jelas Yoona.


“setelah itu temui Kangin di taman kota, di lapangan basket. Dia akan menunggu disitu. Aku akan mengawasi dari


jauh”, tambah Yoona.


“hah? Kau tidak ikut bersama kami menemui Kangin?”, tanya Donghae heran.


“tentu saja tidak, bodoh. Bisa-bisa aku dan Kangin perang mulut dan salah bicara”, balas Yoona kesal karena Donghae tidak mengerti dengan trik yang sudah dibuatnya.


“baiklah”, balas Donghae mengalah.


“sampai bertemu besok”, ujar Yoona dan gadis itu pergi begitu saja meninggalkan Donghae.


“gadis yang aneh”, ujar Donghae setelah Yoona tidak ada lagi disana.


“ya… sama seperti mu”, ujar seseorang yang langsung membuat Donghae kaget.


“kkamjagiya[29]”, ujar Donghae sampai tubuhnya terjatuh karena begitu terkejut.


“apa yang kau lakukan disini? Dan bisakah sekali saja kau tidak datang dengan tiba-tiba?”, keluh Donghae sambil


mengelus-elus dadanya.


Gadis itu menghampiri Donghae dengan senyum lebarnya seperti biasanya. Witch itu ternyata sedari tadi mendengar semua pembicaraannya dengan Yoona. Dan bodohnya mengapa Donghae tidak menyadari jika ada orang lain diatap itu selain dirinya dan Yoona.


“aku hanya tidak sengaja mendengar”, jawab witch itu seolah mengerti apa yang Donghae pikirkan.


“apa lagi sekarang?”, ucap Donghae dengan nada malas.


“kau yakin dengan keputusanmu ini?”, tanya gadis misterius itu.


“keputusan apa?”


“berpacaran dengan Yuri”


“ah… itu. Itu satu-satunya jalan agar Kangin tidak mengganggu ku dan juga Yoona”


“Yoona? Kenapa kau harus peduli jika Kangin mengganggu Yoona? Kau sangat perhatian. Atau jangan-jangan sebenarnya kau menyukai Yoona dan tidak ingin Kangin melukai Yoona?”, goda witch itu.


“apa? Apa yang sedang kau bicarakan. Aku tidak memiliki perasaan seperti itu pada Yoona. Aku tidak memiliki waktu untuk memikirkan hal-hal seperti itu”, balas Donghae dengan tegas. Namun witch itu justru tertawa.


“aku takut”, ucap witch itu dengan nada prihatin sambil menatap Donghae.


“apa?”, ujar Donghae tidak mengerti.


“terkadang kala ucapan yang terlalu cepat bisa menjadi petaka untuk diri sendiri”, nasehat witch itu.


“aku sudah mencoba mengingatkan mu. Pikirkanlah lagi”, ucap gadis misterius itu sambil melangkah menuju pintu. Tapi seperti biasa Donghae melihat gadis itu tersenyum lebar padanya.


“ah… satu lagi”, ucap gadis itu sebelum benar-benar pergi. Donghae menatap gadis itu, menunggu apa lagi yang


akan gadis misterius itu katakan.


“kendalikan pikiran mu. Jika tidak, Yoona akan semakin menguasai mu. Ku sarankan sebaiknya ungkapkan saja apa yang sedang kau pikirkan walaupun itu seperti gumaman tidak jelas bagi orang lain, dibandingkan kau mengucapkannya dalam hati”, nasehat witch itu sebelum benar-benar pergi.


Donghae menghela napas berat. Kemudian dia bangkit berdiri, lalu menepuk-nepuk celananya, membersih debu dicelananya.


Donghae pun memikirkan kembali kata-kata witch itu. Tapi kemudian dia menggeleng. Tidak ingin terpengaruh.


)))))(((((


[25] Sayang


[26] Selamat (informal)


[27] Bodoh


[28] Aku mencintai mu


[29] Kau mengejutkanku


Bersambung...