
Yoona mempersiapkan segala perlengkapannya ke dalam tas. Satu yang jelas harus ada adalah sun block. Dia tidak ingin kulitnya terbakar karena sinar matahari. Dia juga sudah menyiapkan pakaian lengan panjang dan lotions anti serangga.
“ok… waktunya berangkat”, ujar Yoona ketika perlengkapannya sudah siap.
Pagi-pagi sekali dia sudah bangun untuk merapikan isi tasnya yang akan dibawa untuk memenuhi undangan nenek Yuri. Panen sayuran.
Seharusnya kemarin malam dia menyiapkan itu semua. Tapi Yoona terlalu sibuk membuat kue dengan bantuan pelayan rumahnya. Tentunya kue ulang tahun untuk ibunya.
Ketika Yoona sudah keluar dari kamarnya, dia bisa melihat kondisi rumahnya seperti biasa. Besar dan sangat
sepi seperti tidak berpenghuni.
Yoona menghembuskan napas berat. Orangtuanya masih belum pulang. Pekerjaan sebagai pengacara para pejabat negara memang sangat menyita waktu kedua orangtuanya. Bahkan sampai mengurus anak pun mereka tidak punya waktu. Miris memang. Tapi Yoona sudah terbiasa.
Yoona menatap kue yang dibuatnya semalam dengan tatapan kecewa. Dia yakin kue itu tidak akan pernah dicicipi oleh ibunya. Tapi Yoona masih ingin berharap. Walaupun kali ini dirinya tidak berada dirumah ketika hari ulang tahun ibunya, dia tetap berdoa semoga ibunya tetap sehat dan bahagia hari ini.
“agassi akan berangkat?”, tanya pelayan rumah.
“ne”
“baiklah. Hati-hati agassi”
Yoona hanya mengangguk, kemudian kembali melanjutkan langkahnya. Tapi baru beberapa langkah Yoona berhenti kembali. Ditatapnya kue diatas meja itu, kemudian mendesah berat.
“jika sampai jam 8 malam omma tidak juga pulang, bawa saja kue itu. Berikan pada anak-anak imo[33]”,
ujar Yoona sambil menatap wanita disampingnya yang masih setia melayani keluarganya sejak Yoona masih kecil.
“ne… agassi”, balas pelayan itu.
Yoona pun melanjutkan langkahnya. Jika dia tidak segera pergi dia bisa-bisa ditinggal oleh sahabat-sahabatnya. Dengan menggunakan taksi, Yoona menuju halte dekat sekolah, tempat titik kumpul mereka.
Yoona langsung mengerutkan kening ketika baru hanya Donghae yang ada di halte itu. Sedangkan kesepakatan awal jam 7 pagi mereka harus sudah berangkat. Namun nyatanya ketiga sahabatnya itu dan bahkan Jonghyun belum tiba disana.
Dengan perasaan canggung, Yoona berjalan kecil menuju halte itu. Ketika dirinya sudah hampir mendekati halte, ternyata Donghae langsung menyadari kehadirannya. Pria itu langsung terlihat canggung. Yoona pun langsung ikut-ikutan canggung. Padahal tadi dia sudah melupakan kejadian diperpustakaan itu.
Tanpa memandang Donghae lagi, Yoona tetap melanjutkan langkahnya. Dia harus bersikap biasa-biasa saja agar Donghae tidak berpikir aneh-aneh.
Yoona duduk di kursi paling ujung, jauh dari Donghae. Dia tidak sadar justru sikapnya itu yang membuat Donghae semakin tidak tenang.
‘kenapa mereka sangat lama’, batin Yoona. Menggerutu karena tidak ada yang segera datang untuk memecah keheningan mereka.
“Yoona… aku-”
“oh chagiya”
Jonghyun tiba-tiba datang membuat Donghae tidak bisa menyelesaikan ucapannya. Dia pun langsung terdiam kikuk. Sedangkan Yoona diam-diam menghembuskan napas lega. Meskipun sebenarnya bukan Jonghyun yang diharapkannya segera tiba, tapi setidaknya Yoona memiliki teman bicara. Walaupun dia ingin sekali memaki pria itu karena memanggilnya chagiya.
Yoona tadi sempat mendengar Donghae ingin mengatakan sesuatu. Yoona rasa dia tidak akan siap jika pria itu ingin bertanya masalah ciuman itu. Jadi baguslah Donghae tidak jadi melanjutkan perkataannya.
Jonghyun pun langsung duduk disamping Yoona. Lalu dengan santainya memeluk Yoona. Yoona beberapa detik terlonjak kaget, tapi dengan cepat dia melepas pelukan kekasihnya itu.
“kau sudah sarapan?”
“sudah”
“ini ku bawakan sarapan special untukmu”
Seolah tuli, Jonghyun tetap dengan semangat menyodorkan roti dan sekotak susu. Entah dari sisi mana roti dan susu itu terlihat special. Di mini market juga banyak roti dan susu seperti itu.
Dengan telaten Jonghyun langsung membukakan plastik roti dan juga menancapkan sedotan pada susu itu.
Diberikannya pada Yoona dengan senyum lebar. Yoona menerimanya dengan senyum dipaksakan.
Ketika Jonghyun sibuk dengan isi tasnya, Yoona mencuri kesempatan untuk melirik Donghae disudut lain kursi halte itu. Pria itu terlihat biasa saja sambil menatap jalan didepan mereka.
“teman-teman”, seru Sooyoung tiba-tiba disusul Yuri dan Taeyeon dibelakang gadis tinggi itu. Yoona langsung
melayangkan tatapan tajam pada mereka. Agar sahabat-sahabatnya itu tahu jika mereka sudah membuatnya menunggu.
“princess maafkan hamba mu ini yang dengan kurang ajarnya membuat princess menunggu”, ujar Sooyoung dengan wajah berpura-pura bersalah, lengkap acting buruknya.
“sudahlah, aku tidak ingin mendengar alasan kalian”, balas Yoona langsung membuang muka.
“tadaa…”, seru Sooyoung dengan riang sambil memperlihatkan bungkusan-bungkusan daging mentah yang siap untuk diolah. Mata Yoona pun langsung berbinar.
“kita akan BBQ juga?”, tanya Yoona tiba-tiba bersemangat.
“tentu saja”, balas Yuri. Dia pun membantu Taeyeon yang terlihat kesulitan membawa belanjaan mereka.
Nenek Yuri meminta mereka untuk membeli beberapa bungkus daging mentah dan beberapa cemilan. Itulah alasan mereka terlambat.
“ok. Ayo kita berangkat. Aku sudah tidak sabar”, ujar Yoona langsung berdiri, mencari busway tujuan mereka. Yoona menyipitkan matanya agar bisa melihat lebih fokus dalam jarak jauh. Dia bisa melihat busway biru yang mereka tunggu-tunggu.
“busway-nya sudah datang”, ujar Yoona. Mereka pun langsung bersiap-siap.
Ketika busway berhenti dihalte, dengan cepat Yoona yang masuk terlebih dahulu dengan mentap kartu pada mesin pembayaran disusul oleh Sooyoung, Yuri, Taeyeon, kemudian Jonghyun. Yang terakhir masuk adalah Donghae yang sedari tadi tidak banyak bicara. Tiba-tiba pria itu menjadi pendiam.
Ketika Donghae masuk, dia bisa melihat Yoona yang duduk berdampingan dengan Jonghyun. Tatapannya pun bertemu dengan Yoona, lalu Jonghyun pun ikut menatap Donghae karena pria itu tiba-tiba berhenti di samping kursi mereka.
“ada apa?”, tanya Jonghyun tidak bersahabat.
“tidak”, balas Donghae dengan senyum. Donghae pun mencari kursi untuknya.
“Donghae… disini”, ujar Yuri. Yoona yang mendengar suara Yuri, otomatis langsung menoleh ke belakang. Dia tidak suka setiap Yuri menyebut nama Donghae.
“kenapa?”, tanya Jonghyun.
“hah?”, Yoona bingung dengan pertanyaan Jonghyun. Tapi kemudian dia langsung tersadar dari tindakannya.
“tidak ada. Leherku hanya sedikit pegal”, alasan Yoona dengan berpura-pura meregangkan lehernya.
“lehermu sakit. Yang mana. Biar aku memijatnya”, ujar Jonghyun panik. Yoona pun langsung dilanda kekesalan.
“sudah. Tidak perlu. Sudah tidak sakit lagi”, balas Yoona dan langsung mengatur duduknya agar bisa tidur sebentar. Dia pusing dan kesal. Pusing karena Donghae terlalu banyak mempengaruhinya. Kesal juga karena pria disampingnya saat ini.
Dia sebenarnya sudah muak dengan Jonghyun. Pria itu terlalu banyak maunya dan terlalu berlebihan di depan orang-orang. Yoona menjadi risih.
)))))(((((
“halmeoni[34]”, seru Sooyoung setibanya mereka di rumah nenek Yuri. Nenek Yuri pun langsung keluar rumah dan tersenyum menatap cucu dan teman-teman cucunya itu. Sooyoung memeluk nenek Yuri erat.
Melihat keakraban Sooyoung dan nenek Yuri pun mengundang senyum diantara mereka semua. Wanita paruh baya itu menatap teman-teman Yuri, dengan senyumnya.
“sepertinya halmeoni belum pernah melihat kedua anak muda ini”, ujar nenek Yuri.
“ah… ne. Mereka teman baru kami”, jelas Taeyeon sambil menyambut pelukan nenek Yuri.
“yang ini Donghae dan ini Jonghyun”, Yuri memperkenalkan Donghae dan Jonghyun. Nenek Yuri pun tersenyum ketika Donghae dan Jonghyun menunduk hormat padanya.
“mmm… coba ku lihat. Sepertinya ada yang sudah sangat lama tidak ku lihat disini”, nenek Yuri menyipitkan matanya agar fokus menatap Yoona. Menyadari nenek sedang membicarakannya, Yoona pun langsung tersenyum malu. Dia menghampiri wanita tua itu, dan memeluknya.
“halmeoni… bogosipeo[35]”, ucap Yoona.
Nenek pun langsung membalas pelukan Yoona sambil mengelus-elus punggung anak gadis itu. Gadis yang menurut nenek paling lemah diantara teman-teman cucunya yang lain.
“ayo kita masuk”, ajak nenek. Mereka pun semua masuk ke dalam rumah. Para gadis langsung sibuk mengganti pakaian sedangkan Donghae dan Jonghyun membantu nenek memasukkan daging dan beberapa cemilan ke dalam kulkas.
“halmeoni akan ke kebun terlebih dahulu. Kalian menyusul saja”, ujar nenek pada kedua pria itu. Wanita paruh baya itu sudah siap dengan pakaian berkebunnya lengkap dengan topi besarnya. Donghae dan Jonghyun pun mengangguk.
Tinggallah keduanya di dapur itu. Tidak ada yang bicara diantara mereka hingga akhirnya Jonghyun yang terlebih dahulu bicara.
“kau ikut bukan karena Yoona ikut juga kan?”, tanya Jonghyun. Donghae tahu itu bukan pertanyaan. Tapi lebih pada tuduhan padanya. Donghae menghela napas pelan. Dia paling malas sebenarnya dengan orang-orang angkuh sekelas dengan Jonghyun, termasuk Yoona juga. Orang-orang kaya yang selalu berpikir merekalah yang berkuasa dan harus dituruti.
“maaf saja. Yang mengajakku adalah Yuri dan teman-temannya. Dan asal kau tahu saja, awalnya Yoona tidak ikut. Tapi ketika aku menyetujui untuk ikut, tiba-tiba Yoona berubah pikiran dan tiba-tiba mengatakan ingin ikut. Jadi coba pikirkan siapa sebenarnya yang mengikuti disini”, ujar Donghae dan pria itu langsung pergi sambil menahan kekesalannya. Dia tidak memperdulikan wajah kesal Jonghyun.
Ketika Donghae keluar dari dapur dia berpapasan dengan Sooyung. Anehnya gadis itu mengacungkan kedua ibu jarinya pada Donghae. Pria itu pun menyerngit tidak mengerti. Pria itu tidak tahu jika Sooyoung mencuri dengar apa yang Donghae dan Jonghyun perdebatkan.
“dimana halmeoni?”, tanya Yuri ketika keluar dari kamar.
“halmeoni sudah terlebih dahulu ke kebun”, jawab Donghae.
“kalau begitu ayo kita ke kebun”, ajak Yuri. Mereka berenam pun berangkat menuju kebun yang tidak jauh dari rumah nenek.
Sepanjang jalan setapak yang mereka lalui, Donghae melihat berbagai tamanan holtikultura, yang siap dipanen dalam jangka waktu cepat.
“halmeoni”, panggil Sooyoung. Nenek yang sudah mulai memanen sayuran pun langsung menegakkan tubuhnya. Dia melambai-lampaikan tangannya, memanggil mereka.
Ketika mereka sudah menghampiri nenek, wanita paruh baya itu langsung berdecak tidak suka. Dia memperhatikan pakaian Yoona. Gadis itu mengenakan kaus lengan panjang, namun celana panjang yang dikenakan adalah celana legging tipis.
“kau ingin serangga menggigiti kakimu ya”, ujar nenek sambil menunjuk celana Yoona. Yoona pun menunduk menatap celananya. Menurutnya tidak ada yang salah sampai tiba-tiba dia merasakan sengatan kecil dikakinya. Dia langsung menggarut kakinya karena gatal.
Nenek pun dengan cepat melepas celananya, meninggalkan wanita paruh baya itu mengenakan celana pendek yang tadi dipakainya dirumah. Wanita tua itu menyerahkan celananya pada Yoona.
“pakai ini”, ujar nenek. Yoona menatap celana dengan motif loreng itu dengan wajah ngeri. Dia paling tidak suka celana seperti ajumma-ajumma itu.
“Yoona”, peringat nenek. Yoona pun menerima dengan berat hati. Dengan ditatap oleh semua orang dia mengenakan celana itu dengan malu. Rasa malunya semakin bertambah ketika panjang celana itu terlihat menggantung. Yoona semakin terlihat menyedihkan.
Sedangkan sahabat-sahabatnya sudah tidak menahan tawanya melihat penampilan Yoona. Yoona juga menemukan Donghae yang menahan senyumnya. Sedangkan Jonghyun langsung merangkul Yoona dan mencoba
menghibur.
“kau terlihat tetap cantik dan menggemaskan sayang”, ujar Jonghyun yang langsung membuat sahabat Yoona dan juga Donghae jengah. Ucapan Jonghyun terdengar menjijikkan dipendengaran mereka.
Nenek Yuri memutuskan untuk kembali pulang, mengambil celana ganti dan juga beberapa makanan dan minuman untuk mereka.
Berjam-jam mereka berada dikebun itu. Rasa lelah dan haus pun mulai melanda. Karena terik matahari yang sangat tidak bersahabat membuat mereka pun mudah tersulut emosi. Terkhususnya Taeyeon dan Sooyoung. Kedua gadis itu beberapa kali saling meneriakkan kemarahan mereka jika salah satu dari mereka salah mencabut sayurnya, membuat akar sayuran itu patah dan tertinggal ditanah. Dimana yang seharurnya jika memetik sayuran harus lengkap dengan akarnya agar sayuran tidak cepat layu dan busuk.
“YAK… CHOI SOOYOUNG. TIDAK BISAKAH KAU MELAKUKANNYA DENGAN LEBIH BAIK”, teriak Taeyeon.
“KENAPA KAU HARUS BERTERIAK. KAU JUGA TADI MELAKUKAN KESALAHAN”, balas Sooyoung. Mereka bahkan sudah bersiap saling melempar gundukan tanah basah yang mereka buat dengan kepalan tangan mereka.
Taeyeon langsung melempar tanah ditangannya pada Sooyoung dan gadis itu dengan cepat menghindar. Kini giliran Sooyoung yang menyerang. Tidak memiliki waktu untuk membuat gumpalan tanah lagi, Taeyeon pun bersiap-siap untuk menghindar. Bertepatan dengan Sooyoung yang sudah melayangkan tanah ditangannya, Taeyeon yang berlari tiba-tiba terpeleset karena ada genangan air yang membuat tanah sangat licin.
“aww”, keluh Taeyeon merasakan sakit di pantat dan juga kakinya.
“YAK”, marah Yoona ketika lemparan Sooyoung justru mengenai punggung Yoona. Gadis itu langsung menatap Sooyoung yang terlihat langsung panik.
“Yo-Yoong… mianhae”, sesal Sooyoung. Dia tidak sengaja. Sasarannya tadi sudah pas pada Taeyeon, namun karena gadis mungil itu terjatuh, membuat gundukan tanah itu melewati Taeyeon dan berujung pada punggung Yoona yang sedang meregangkan otot-ototnya yang kaku.
“Taeng… kau tidak apa-apa?”, ujar Yuri tiba-tiba. Yoona yang awalnya ingin melampiaskan kemarahannya pada Sooyoung pun langsung mengurungkan niatnya. Dia langsung menoleh pada Yuri yang dengan cepat berlari menghampiri Taeyeon yang masih mengaduh sakit. Donghae pun terlihat menyusul Yuri.
“se-sepertinya kakiku terkilir”, ujar Taeyeon sambil menahan sakit pada kakinya. Donghae yang cukup berpengalaman dengan kaki terkilir, langsung mendekati Taeyeon.
“biar ku lihat”, ujar Donghae. Dengan telaten pria itu melepas sepatu Taeyeon dan melipat sedikit ujung celana gadis itu. Dia mengamati kaki Taeyeon, lalu mencoba mencari letak kesalahan dikaki itu.
Yoona mengamati ekspresi Donghae yang begitu serius. Tanpa disadarinya bibirnya mengerucut. Sebelumnya dia membayangkan kejadian seperti ini akan terjadi pada Yuri sehingga sedari tadi dia terus memperhatikan Yuri agar tidak sampai melakukan hal yang berbahaya. Namun sialnya Taeyeon yang terpeleset, dan mendapat perhatian dari Donghae. Ternyata dirinya salah sasaran dari tadi.
Ternyata Yoona harus tetap memperhatikan semua orang sekitarnya yang mencoba mencuri perhatian Donghae.
‘apa yang ku pikirkan. Aku seperti kekasih yang cemburu saja’, batin Yoona.
“aku akan memutarnya dengan cepat. Kau bisa berteriak atau menggigit lenganku”, ujar Donghae ketika sudah menemukan letak kesalahan ditulang kaki Taeyeon. Pria itu juga menawarkan lengannya untuk Taeyeon gigit.
Malu jika harus berteriak, dengan tidak enak hati Taeyeon sudah bersiap menggigit lengan Donghae. Namun Yoona
langsung bertindak cepat. Dia tidak akan membiarkan lengan Donghae terluka karena gigitan Taeyeon.
“gigit ini saja”, ucap Yoona sambil menyerahkan kain yang menutupi kepalanya. Gadis itu menggulung kain itu dan mendekatkannya ke mulut Taeyeon.
Taeyeon menatap Yoona dengan salah satu alisnya yang naik. Merasa ditatap, Yoona pun langsung berpura-pura berdehem untuk mengalihkan kecurigaan Taeyeon.
Taeyeon menggigit kain itu dengan erat ketika Donghae memberi aba-aba. Setelah itu terdengar jeritan yang teredam dari mulut Taeyeon. Sooyoung, Yuri, Yoona langsung menyerngit ngeri seperti ikut merasakan sakit yang Taeyeon rasakan.
“sudah”, ucap Donghae. Taeyeon pun langsung membuka matanya. Menatap kakinya dan mulai menggerak-gerakkan kakinya lagi. Masih sakit tapi sudah lebih leluasa digerakkan.
“wah… kau sangat hebat Donghae”, puji Yuri. Pria itu pun langsung tersenyum malu.
“iya… kau sangat hebat. Tapi dari mana kau mempelajari itu?”, tanya Sooyoung.
“dari guru karate ku”
“kau bisa karate?”, tanya Yoona tidak percaya. Karena selama ini Donghae di bully oleh Kangin, pria itu tidak pernah melakukan perlawanan. Justru yang terlihat pria itu seperti pria lemah.
“ya ketika baru pindah SMA, aku mengikuti kelas karate tidak jauh dari rumah ku”, jelas Donghae. Dia bisa mengerti dengan kekagetan Yoona. Gadis itu pasti berpikir selama ini dia hanya pria lemah yang tidak bisa melakukan perlawanan pada orang yang mengganggunya.
“sebaiknya kau istirahat saja agar kakimu cepat pulih”, ujar Donghae. Taeyeon pun mengangguk.
“ayo”, ajak Donghae sambil berjongkok di depan Taeyeon.
“tidak perlu. Aku masih bisa berjalan Donghae”, tolak Taeyeon.
“sudahlah tidak apa-apa Taeng”, ujar Sooyoung. Gadis mungil itu pun tampak ragu-ragu meletakkan tubuhnya dipundak Donghae. Dengan mudahnya Donghae menggendong gadis mungil itu. Sooyoung menemani Donghae membawa Taeyeon pulang. Dia merasa bersalah pada sahabatnya itu.
Tinggallah Yoona, Yuri dan Jonghyun di kebun itu.
“sebaiknya kita cepat menyelesaikan ini agar kita juga pulang”, ujar Yoona yang sudah mulai mencabuti sayuran lagi. Gadis itu terlihat sangat bersemangat di penglihatan Yuri dan Jonghyun. Namun pada kenyataannya gadis itu hanya ingin cepat pulang dan memastikan Taeyeon tidak mencuri kesempatan bermanja-manja dengan Donghae. Yoona tidak akan membiarkan itu terjadi.
Tersisa satu jalur lagi yang harus mereka panen. Napas ketiganya sudah terengah-engah. Yoona pun mendudukkan pantatnya begitu saja ditanah. Jonghyun yang melihat Yoona kelelahan langsung mengambil minuman dan memberikannya pada gadis itu.
“ini”, ujar Jonghyun. Yoona pun menerima botol air minum itu. Setelah itu Yoona kembali meregangkan
otot-ototnya. Tidak menyadari bajunya tertarik ke atas ketika Yoona mengangkat tangannya ke atas. Sehingga memperlihatkan sedikit perut rata gadis itu.
Pemandangan itu tentu menjadi tontonan indah pagi Jonghyun. Matanya bahkan tanpa berkedip memperhatikan perut datar Yoona yang kadang terlihat, kadang tertutup baju Yoona kembali.
“ekhm”, deheman orang disampingnya, membuat Jonghyun langsung tersadar dari pikiran kotornya. Dia menoleh, ternyata Yuri sudah berada didepan mereka. Sesaat Jonghyun melihat Yuri menatapnya tajam dan itu sangat menyeramkan. Sepertinya Yuri melihat apa yang sedang dilakukannya tadi. Karena itu Jonghyun langsung beranjak dan mulai mencabuti sayuran lagi.
“kau lelah?”, tanya Yuri. Yoona pun menggeleng dan bangkit dan mulai mencabuti sayuran lagi.
“Yoong”
“mmm”
Dengan mereka saling berhadapan, dengan dipisahkan sayuran saja, keduanya mulai berbincang-bincang.
“kau benar-benar menyukai Jonghyun?”, tanya Yuri. Yoona pun menghentikan gerakan tangannya. Dia menatap Jonghyun di ujung barisan sayuran itu. Yoona setidaknya harus memastikan pria itu tidak mendengar pertanyaan Yuri.
Setelah Yoona merasa aman, dia pun menatap Yuri. Lalu dia melanjutkan mencabut sayur di depannya.
“kenapa kau bertanya begitu?”, tanya Yoona balik.
“entahlah. Aku hanya merasa kalian tidak cocok. Maksudku, Jonghyun yang lebih terlihat menyukaimu sedangkan kau...”, Yuri menggantung ucapannya ketika Yoona menatapnya. Bukan karena takut, Yuri hanya ingin menjaga privasi Yoona. Bagaimanapun walaupun mereka sudah berteman lama, hubungan asmara terlalu privasi dibahas.
“sangat terlihat ya”, ujar Yoona dengan senyum dipaksakan. Yuri pun hanya meringis sedih menatap sahabatnya itu.
“lalu kenapa kau menerima pria itu”, ujar Yuri. Dia sudah menyimpulkan Yoona tidak memiliki perasaan apapun pada Jonghyun.
Kali ini Yoona tidak menjawab. Lebih tepatnya dia tidak bisa menjawab kalau dia sebenarnya saat itu sedang menutupi perasaannya pada Donghae. Dia tidak ingin Donghae salah paham dengan kejadian di UKS, dimana dia berpikir Donghae akan menciumnya.
Tapi sayangnya ternyata Yoona tidak bisa menceritakan semua itu. Dia terlalu malu dan dia masih memiliki harga diri. Walaupun yang tersisa sekarang hanya tinggal secuil karena harga dirinya sudah hampir habis dikikis oleh Donghae.
Melihat Yoona tidak ingin menjawab, Yuri pun tidak bertanya lagi. Dia kembali fokus pada sayuran-sayuran
didepannya.
“lalu bagaimana dengan mu?”, tanya Yoona tiba-tiba. Yuri pun menunda pekerjaannya. Dia menatap Yoona dengan kening mengerut.
“aku?”
“iya… bagaimana perasaanmu pada Donghae. Ya walaupun aku tahu kalian berpacaran, tapi aku tidak tahu jika kau selama ini juga menyukai Donghae”, ujar Yoona dengan nada suara yang diatur agar tidak terlihat seperti orang yang marah.
Lama Yuri menatap Yoona. Lebih tepatnya mata Yoona yang sedikit bergetar. Hingga berlahan dia tersenyum lebar.
“kenapa kau tersenyum seperti itu? Oh… kau sangat menyukai Donghae ya”, simpul Yoona dari senyum Yuri.
“Yoong… Yoong”, ujar Yuri sambil menggelengkan kepala, tidak habis pikir dengan kesimpulan sahabatnya itu.
“dasar aneh”, ujar Yoona.
“kau cemburu ya?”, goda Yuri.
“a-apa? Aku? Tentu saja tidak. Untuk apa”, balas Yoona dengan panik namun dia mencoba menyembunyikannya. Namun sayangnya Yuri sudah sangat mengenal Yoona.
“kau tenang saja. Aku tidak memiliki hubungan apa pun dengan Donghae”
“a-apa? Tapi… tapi kalian… berpegangan tangan dan selalu bersama”, kaget Yoona.
“memangnya kalau berpegangan tangan dan sering bersama bisa langsung dikatakan berpacaran?”
Mendengar perkataan Yuri membuat Yoona ingin segera memaki sahabatnya itu. Tapi lebih dari itu entah mengapa dia merasa lega dan bisa dikatakan dia ingin berteriak sekarang karena terlalu senang.
Ternyata apa yang dipikirkannya selama ini salah besar. Dia terlalu percaya pada yang dilihatnya. Karena tidak berani bertanya langsung pada Donghae maupun Yuri membuatnya seperti orang gila selama beberapa minggu ini.
Terkadang dia merasa bersalah pada Yuri jika sedang memikirkan Donghae. Terkhusus sejak kejadian di perpustakaan itu. Yoona juga turut memikirkan bagaimana perasaan Yuri jika tahu dirinya mencium Donghae. Dia bahkan sudah berjanji akan merahasiakan itu seumur hidupnya.
Fakta yang paling membuat Yoona bahagia adalah ternyata Donghae masih single, belum memiliki kekasih. Jadi Yoona masih bisa berkuasa atas Donghae.
“kau benar-benar sangat bahagia ya tahu aku dan Donghae tidak berpacaran?”, ujar Yuri. Yoona pun tersadar dari pikirannya.
“ti-tidak. Aku tidak sedang bahagia”, balas Yoona.
“jadi kau sedang sedih karena sudah menerima Jonghyun bukannya mendekati Donghae?”, goda Yuri lagi.
“yak… aku tidak seperti itu”, kesal Yoona namun pipinya semakin bersemu merah.
“aku… aku tidak menyukai Donghae”, ucap Yoona dengan nada pelan dan terdengar tidak meyakinkan.
“benarkah? Kalau begitu aku boleh berpacaran dengan Donghae?”, tanya Yuri dengan wajah polos. Mendengar itu Yoona pun langsung panik.
“TENTU SAJA TIDAK BOLEH”, teriak Yoona tanpa bisa dikontrolnya. Yuri bahkan Jonghyun diujung sana terlonjak kaget.
Setelah menyadari tatapan Yuri padanya, membuat Yoona langsung cemberut dan langsung mencabuti sayuran didepannya lagi. Dia kesal, marah namun juga sedih kerena tidak mengerti dengan keinginannya sendiri.
Yoona tidak ingin mengakui jika dirinya tertarik pada Donghae. Tapi memikirkan Donghae bersama gadis lain juga tidak disukainya. Jadi sebenarnya dia maunya apa?
)))))(((((
[33] Bibi
[34] Nenek
[35] Aku merindukanmu
bersambung...