
Sementara itu, di apartemennya, Dita duduk berdua bersama Aruna saling berhadapan satu sama lain.
Dita menjelaskan apa yang terjadi pada nenek Aruna. Begitu tahu kebenarannya, Dita langsung menjelaskan semuanya pada Aruna agar gadis itu tahu apa penyebab neneknya meninggal.
" Nenek meninggal karena preman suruhan Benny dan Caca, mereka membongkar rumah hanya karena flashdisk yang kau berikan!?" Tanya Aruna melalui kertas tulisannya.
Gadis itu baru pulang kerja, dia mendengar berita itu dari Dita dan tentu saja dia sangat syok setelah tahu kebenaran di balik kematian sang nenek yang berharga.
" Benar Aruna, ma..maafkan aku, seharusnya aku tidak memberikan flashdisk itu, ini salahku, ini salahku..." ucap Dita sambil menangis sesenggukan.
Aruna tampak terbujur kaku. Dia menatap Dita dengan air mata yang tak kunjung berhenti mengalir.
Dada gadis itu terasa sangat sesak, tidak dia sangka kalau semua kejadian ini terjadi karena ulah Benny dan Caca. Kematian neneknya membuat dia sangat terpukul.
Aruna bangkit berdiri, dia tampak sangat kecewa mendengar seluruh penjelasan Dita tentang kematian sang nenek.
"Maafkan aku Aruna, ini salahku!!" ucap Dita sambil menangis sesenggukan. Jujur saja, Dita menyalahkan dirinya atas semua yang dialami oleh Aruna. Karena berteman dengan dia, Aruna jadi kena imbasnya.
Aruna tak menanggapi Dita, seandainya dulu flashdisk itu tak disimpan di rumah Aruna, seandainya Dita tidak memaksa, maka nenek Aruna mungkin masih hidup sampai saat ini.
Aruna berjalan ke kamarnya, dia tak membalas ucapan Dita sama sekali, menutup pintu dan mengunci dirinya di dalam kamar sambil menangis sesenggukan.
Dita juga demikian, semakin besar lah dendam di hati Dita. Yang awalnya perasaan cinta dan peduli ini berubah benci dan dendam terhadap Benny dan Caca.
Mereka adalah dalang di balik semua kejadian ini.
"Aruna... Aruna bicara padaku naaa... pliss..m Aruna... hiks hiks hiks... A... Aruna!!" Dita memanggil gadis itu sambil mengetuk-ngetuk pintu kamar Arun, dia sangat sedih karena Aruna tampak terpukul akibat kejadian itu.
Di dalam kamarnya, Aruna mengambil ponselnya dan mencari kontak Caca di ponselnya. Sambil menangis sesenggukan dia mengirim pesan pada gadis itu,
" Caca apa kau yang membunuh nenek!? kenapa kau jahat dan melakukan itu!!!!"
Sambil menangis dia mengirim pesan pada Caca. Gadis itu sangat frustasi, dia tidak tahu harus mengadu pada siapa.
Ting!!
Satu pesan masuk berbunyi dan itu dari Caca.
Perempuan itu mengirim sebuah foto, kalung milik Aruna peninggalan neneknya yang dicari selama ini oleh Aruna ternyata ada di tangan Caca.
"Kalungku, ke..kenapa ada padanya!!!" Aruna terkejut, benda itu sangat berharga baginya, satu satunya benda yang menjadi petunjuk siapa keluarga Aruna yang sebenarnya.
"Temui aku besok di pesta pernikahan ku, akan kuberikan kalung ini, jika kau tak datang jangan salahkan aku kalung ini ku buang dan Dita akan ku permalukan! kau harus datang!!!" pesan Caca.
"Jangan beritahu siapa pun jika kau ingin Dita selamat !" tulis Caca lagi.
Aruna terdiam membisu, dia menatap ponselnya. Benda berharga miliknya ada di tangan Caca dan Dita terancam jika dia tak datang.
Gadis itu mengusap air matanya, cepat-cepat dia mengambil tasnya, dia akan kembali ke rumah lamanya malam ini agar Dita tak tahu.
"Aku harus mendapatkan kalungku, aku harus membalas kematian Nenek, Caca Benny aku tidak akan memaafkan kalian!!" batin Aruna.
Aruna keluar dari dalam kamar sambil membawa pakaiannya.
" Na.. Ka..kau mau kemana!?" Dita terkejut melihat Aruna membawa barang barangnya.
Aruna hanya diam. Dia tidak ingin membebani Dita lagi. Gadis itu juga sedang banyak masalah.
Aruna berjalan begitu saja tanpa membalas pertanyaan Dita, tampak raut wajahnya datar dan dingin.
" Aruna kamu mau pergi!? jangan... tetap di sini!!!" pinta Dita sambil menangis dan menahan tangan Aruna.
Aruna menarik tangannya dari Dita, dia sangat kacau hari ini. Mengetahui penyebab kematian neneknya juga mendapat ancaman dari Caca.
Benny dan Caca sukses menghancurkan kehidupan damai Dita dan Aruna. Entah karma apa yang akan didapat oleh perempuan itu nantinya.
Aruna keluar dari apartemen Dita.
" Aruna!! tunggu dulu!!" panggil Dita tapibtak kunjung didengar.
Gadis itu keluar dari apartemen Dita dan di saat yang sama dia berpapasan dengan Jack, Samuel dan Ryan yang baru kembali ke apartemen Asher hari ini karena mendengar dari Jack kalau pria itu memasak.
" Wahhh aku tidak sabar, perutku sudah sangat lapar!!" ucap Ryan sambil mengusap usap perutnya yang sudah berbunyi keroncong saking Laparnya.
" Tumben dia memasak, ada Hari spesial apa? ini kan bukan hari peringatan kematian ayahnya?" tanya Samuel heran.
"Entahlah, mungkin moodnya sedang bagus, ayo cepat aku sudah sangat lapar!!" ucap Jack yang dengan senang hati berjalan bergegas menuju apartemen Asher.
Dita menyusul Aruna dari belakang, tanpa memakai alas kaki gadis itu berusaha memanggil Aruna.
" Aruna, ma..maafkan aku... aku tahu aku salah. tapi pliss jangan begini!" pinta Dita sambil menangis sesenggukan menggenggam tangan sahabatnya.
Aruna tampak sangat terpukul, gadis itu mengusap air matanya.
"Maaf!" Tutur gadis itu dengan bahasa isyarat lalu pergi dari sana tanpa menjelaskan apa pun pada Dita.
"Tapi di mana kau akan tidur Aruna, aku ikut!! aku ikut denganmu!!!" Dita masih berusaha keras mengejar Aruna.
" Kumohon Dita, aku butuh waktu sendiri, ku mohon padamu!!" tegas Aruna sambil menggerakkan tangannya dan menatap Dita dengan hati yang hancur.
Aruna pergi, Dita tak lagi bisa memaksa.
Dita terdiam, dia berdiri di depan apartemen sambil menatap Aruna yang pergi begitu saja.
Gadis itu menangis sesenggukan sambil menatap Aruna.
Di saat yang sama Asher keluar dari apartemennya. Dia sudah mengawasi gadis itu sejak tadi. Keputusan Dita memberitahukan Aruna tentang kebenarannya membuat Asher khawatir pada hubungan mereka.
" Asher ada apa!?" tanya Jack heran.
" Panjang ceritanya, kalian masuklah!' tukas Asher.
Pria itu berjalan mendekati Dita yang berdiri dengan tubuh lemas diterpa dinginnya angin malam ini.
" Dit.. ayo masuk, di luar dingin!" ucap Asher sambil merangkul gadis itu.
Dita gemetar, dia menangis di samping Asher. Gadis itu menatap Asher," Apa yang harus ku lakukan Asher, Aruna.. Dia.. hiks hiks... dia pergi!!!" ucap Dita sambil menangis lagi.
Asher menghela nafas. Tidak pernah dia sangka kalau dia akan melihat Dita menangis sebanyak ini.
"Apa yang harus ku lakukan, hiks hiks hiks... Asher!!!" Dita menangis sesenggukan .
Asher menarik gadis itu dan memeluknya dengan erat," Kenapa kau jadi cengeng sih!? di mana gadis bar bar kemarin!? dasar aneh, kau menangis seperti ini juga tak ada gunanya tau!!" ketus Asher.
Bukannya menenangkan dia malah mengomeli gadis itu.
" Berhenti menangis, dan jangan cengeng, Aruna butuh waktu sendiri, dia juga terluka jangan paksa dia, dasar keras kepala!! kita masuk, saat nya makan malam!!" tukas Asher sambil menyeret gadis itu masuk ke dalam rumah.
" Dasar tidak berperasaan, manusia batu, kau tidak bisa menghibur orang hah!? genderuwo, dasar kulkas seratus pintu!!!" kesal Dita.
" Jangan cerewet mak, ku cium kah tau rasa!!" celetuk Asher.
" Cium cium... coba kalau berani, dasar pembu...
Cup!!
Degh!!
" Ka..kau...
Dita terdiam membeku saat Asher mengecup pipinya lalu tertawa mengejek gadis itu.
" Wleekk...kan kau yang bilang!!" ucap Asher sambil menjulurkan lidahnya lalu berlari menjauh dari Dita.
" Asher beraninya kau !! huwaaa... aku lagi kesal, dasar
mesum!!!!" pekik Dita sambil mengejar pria itu.
" Dasar mesum, dasar kau mesum!!!" teriak Dita sambil memukuli Asher dengan tangannya.
" Hahahhaha.... rasakan itu dasar cengeng, Butet cengeng tukang nangis hahahah... idihhh cengeng banget buk dokter.... bahahahha..."
" Asherr!!!!!"
Asher tersenyum, setidaknya dia berhasil membuat Dita kesal dan melupakan masalah ya sejenak," Hahh... entah apa yang ku lakukan sekarang," batin pria itu.
.
.
.
Like, vote dan komen 🤗