
Witch itu menatap Donghae tidak seperti biasanya. Gadis misterius itu biasanya menyunggingkan senyum lebar yang tidak bisa Donghae artikan hingga sekarang. Apakah itu senyum ramah tamah atau senyum hinaan. Tapi sekarang witch itu menatapnya dengan wajah datar.
Awalnya juga Donghae berpikir witch itu hanya gadis pada umumnya yang usil dan diam-diam membenci Yoona. Tapi melihat apa yang witch itu lakukan kemarin, menolong mereka, Donghae pun kembali berpikir ulang.
Donghae berpikir mungkin ada sesuatu yang ingin dilakukan witch itu. Walaupun Donghae masih harus waspada ketika berdekatan dengan gadis itu. Gadis itu bukan manusia pada umumnya.
Bagaimanapun incaran witch itu adalah Yoona. Donghae harus tetap waspada. Tidak akan ada yang tahu apa yang akan witch itu lakukan selanjutnya.
“kenapa kau tidak mengatakan yang sebenarnya?”, tanya witch itu lagi.
“aku tidak tahu. Bagaimanapun sampai sekarang aku masih kaget dengan apa yang kau lakukan di rumah nenek”
“sebenarnya kau siapa?”, lanjut Donghae.
“aku tidak mempunyai kewajiban untuk memberitahukan mu siapa aku yang sebenarnya. Tugas ku hanya untuk memastikan bahwa kau orang yang tepat untuk Yoona”
“hah? Orang yang tepat untuk Yoona? Apa maksud mu?”
Donghae tidak mengerti dengan jawaban witch itu. Untuk apa dirinya dilibatkan dengan Yoona. Dia tidak memiliki hubungan apa pun dengan Yoona.
‘tapi tunggu dulu, apa Yoona bisa mendengar pikiranku sekarang?’
“tenang saja. Saat kau bersama ku, Yoona tidak akan bisa mendengar atau membaca jalan pikiranmu”, jawab witch itu yang langsung membuat Donghae terlonjak. Dia semakin yakin jika gadis itu bukanlah manusia.
Donghae mendengar witch itu tertawa keras. Entah apa yang ditertawakan.
“kau belum juga mengerti perasaan Yoona?”
“apa?”
“sudahlah. Biar Yoona saja yang mengaku pada mu. Intinya aku hanya melakukan tugas ku saja agar aku segera bisa pergi dari dunia manusia yang menyebalkan ini”
Kali ini Donghae mendengar witch itu menggerutu dan mendengus kesal. Perubahan ekspresi yang begitu cepat membuat Donghae semakin tidak mengerti tujuan witch itu.
“oh”, seru witch itu sambil menunjuk sesuatu dibelakang Donghae. Pria itu pun langsung menoleh. Dia langsung
mengerutkan keningnya. Karena tidak ada apapun dibelakangnya.
Donghae pun kembali menatap witch itu dan betapa mengejutkannya witch itu sudah tidak ada didepannya. Donghae mengedarkan pandangannya untuk mencari kemana witch itu berlari. Tapi dia tersadar witch itu bukanlah manusia. Witch itu bisa pergi sesuka hatinya.
Donghae mengusap lengannya, merinding karena selama ini dia berhadapan dengan seorang penyihir, hantu, atau apalah itu. Yang jelas gadis itu bukan manusia.
Dengan cepat Donghae berlari menuju halte. Dia harus segera pulang, hari sudah semakin gelap.
)))))(((((
Minggu-minggu ini adalah hari paling melelahkan bagi kelas tiga. SMA Kirin sudah menerapkan sistem belajar yang lebih untuk kelas tiga. Mereka pun diberi kelas tambahan untuk semakin menambah belajar murid-muridnya.
Hal itu tentu tidak akan disia-siakan murid-murid yang memang memiliki tekat kuat untuk melanjutkan studinya – kuliah. Begitupun dengan Donghae dan Yoona.
Akhir-akhir ini Yoona dan Donghae jarang berkomunikasi karena sibuk dengan belajar mereka. Tapi walaupun begitu, salah satu diantara mereka – Yoona, masih bisa mendengar suara Donghae jika dia sedikit merindukan pria itu. Hanya sedikit.
Waktu Yoona bermain atau sekedar berkumpul dengan ketiga sahabatnya pun berkurang. Yoona juga memaksa ketiganya untuk fokus belajar, dan ketiganya setuju untuk serius belajar.
Ketika jam istirahat Yoona tetap melanjutkan belajarnya di perpustakaan, dia tidak ingin membuang-buang waktu sedikit pun. Karena dari sepenglihatannya Donghae begitu keras belajar. Apa lagi, Kim songsaengnim – wali kelas mereka, mengatakan Donghae juga mengincar universitas Harvard sepertinya. Ya walaupun dengan jurusan yang berbeda. Tapi Yoona menganggap hal itu bentuk dari Donghae ingin bersaing dengannya. Tentunya, Yoona tidak akan mau dikalahkan.
Seperti saat ini, Yoona sedang berjalan menuju perpustakaan. Tapi dia melihat sesuatu yang aneh tidak jauh dari posisinya berdiri sekarang.
Yoona melihat Yuri yang masuk ke ruangan kepala sekolah. Tidak ada yang salah untuk itu. Hanya saja tingkah Yuri sangat mencurigakan. Sahabatnya itu masuk dengan cara mengendap-endap, terlihat tidak ingin diketahui oleh orang lain.
Kondisi sekitar memang sepi mengingat jam istirahat, pastinya hanya kantin yang menjadi tempat murid-murid untuk meluapkan rasa lelahnya dengan makan yang banyak untuk mengisi energi.
Seingat Yoona pun, Sooyoung mengajak Yuri dan Taeyeon makan dikantin tadi. Tapi melihat Yuri justru masuk ke ruangan kepala sekolah, membuat Yoona tidak tenang.
Tapi setelah dipikirkan lagi, mungkin saja kepala sekolah memang ada urusan dengan Yuri, mungkin menanyakan kabar nenek.
Setelah itu, Yoona kembali melangkah menuju perpustakaan. Waktunya hanya sejam untuk belajar di sana. Jadi dia harus memanfaatkan waktunya sebaik mungkin.
Namun kecurigaan Yoona tidak bisa hilang begitu saja karena hal yang sama terjadi lagi dihari berikutnya. Yuri berulang kali masuk ke ruangan kepala sekolah ketika jam istirahat. Dan setelahnya dia akan kembali ke kelas dengan keadaan lemas, kelelahan.
Banyak kemungkinan-kemungkinan yang Yoona pikirkan saat ini. Apakah Yuri mendapat masalah yang serius dan sahabatnya itu tidak menceritakannya? Apa mungkin Yuri sedang ada urusan penting dengan kepala sekolah? Dan kemungkin terakhir adalah apa mungkin Yuri memiliki hubungan khusus dengan kepala sekolah?
Yoona langsung menggelengkan kepalanya ketika pikiran terakhirnya itu terlintas dalam pikirannya. Hal itu tentu bukan tidak ada dasarnya.
Setelah berulang kali Yoona melihat Yuri mengendap-endap masuk ke ruangan kepala sekolah, gadis itu kembali ke kelas seperti orang yang kehabisan tenaga. Hingga kemarin Yuri kembali ke kelas dengan lengan yang lebam. Hal itu tentu menjadi pemicu Yoona berpikir kepala sekolah mereka yang terkenal genit pada murid-murid yeoja, pasti telah melakukan sesuatu pada Yuri.
Yoona tidak ingin mengambil kesimpulan sendiri. Tapi menanyakannya langsung pada Yuri tentu tidaklah mudah. Bagaimanapun hal itu akan sangat menyakitkan bagi Yuri.
“yak… apa benar Yuri tidak masuk sekolah karena ingin menemani nenek ke rumah sakit untuk check up?”, tanya Yoona pada Sooyoung dan juga Taeyeon.
Hari ini Yuri tidak masuk sekolah, membuat Yoona semakin curiga. Dia harus mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan Yuri.
“ya benar. Tadi aku melihat dia memposting foto bersama nenek sedang dirumah sakit”, ucap Sooyoung. Gadis tinggi itu mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkan salah satu akun SNS[37]Yuri. Dan benar Yoona melihat foto Yuri dan nenek sedang berada di rumah sakit. Tapi walaupun begitu dia masih tidak puas.
“ada apa?”, tanya Taeyeon melihat Yoona seperti berpikir keras.
“ah… tidak”, balas Yoona.
“tapi Soo, Taeng apa selama beberapa hari ini Yuri selalu bersama kalian ketika jam istirahat?”, tanya Yoona. Siapa tahu kedua sahabatnya itu tahu sesuatu.
“tentu saja, dia selalu bersama kami”, jawab Taeyeon.
‘apa selama ini aku salah melihat orang?’
“ada apa Yoong?”, tanya Taeyeon lagi. Yoona pun menatap kedua sahabatnya itu. Dia ingin menceritakan apa yang dilihatnya, tapi entah mengapa dia tidak bisa.
“tidak apa-apa. Aku hanya sedang mengingat-ingat jadwal belajarku hari ini”, jawab Yoona berbohong.
“tapi kalian berdua benar-benar akan bolos dari kelas tambahan hari ini?”, tanya Yoona langsung mengalihkan topik pembicaraan mereka.
“tentu saja. Bukan begitu Taeng?”, seru Sooyoung bersemangat. Taeyeon mengangguk.
“kau benar-benar tidak ingin ikut?”, tanya Taeyeon.
“Aku tidak bisa”, ujar Yoona.
“ibu ku sedang mengawasi ku akhir-akhir ini. Aku tidak ingin ibu ku datang lagi ke sekolah hanya karena nilai ku yang menurun atau aku membuat masalah”, lanjut Yoona. Wajahnya tampak menyesal karena tidak bisa bergabung dengan sahabat-sahabatnya itu. Keduanya pun kompak menepuk-nepuk pundak Yoona, sebagai ungkapan turut prihatin pada sahabatnya itu.
Yoona meletakkan kepalanya di meja, kemudian menghela napas. Dia juga lelah belajar, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa untuk memberontak sekarang ini. Bagaimanapun kerja kerasnya kali ini untuk bisa mencapai tujuannya dan membuktikan bahwa dia jauh lebih hebat dari pada orangtuanya.
)))))(((((
Kelas tambahan akhirnya selesai. Yoona menghembuskan napas lega. Yoona merasa otaknya akan pecah karena terlalu banyak menerima pelajaran hari ini. Yoona mengambil botol air minumnya dan meneguknya hingga habis.
“waktunya pulang”, guman Yoona ketika dia melihat jam tangannya sudah menunjukkan pukul 5 sore. Dia masih memiliki jadwal belajar berikutnya dirumah jam 7 malam. Orangtuanya membayar seorang guru private untuk membantunya belajar dirumah. Gila memang. Padahal disekolah saja Yoona sudah ekstra belajar. Namun seolah belum cukup, orangtuanya membayar seorang guru private juga.
Yoona meringis ketika dia merasa kantong kemihnya penuh. Dia harus segera ke toilet. Tanpa sempat membawa tasnya terlebih dahulu, Yoona sudah berlari keluar kelas.
Donghae yang sedang merapikan buku-bukunya ke dalam tas, melihat Yoona yang berlari terburu-buru keluar kelas. Kemudian dia menatap meja Yoona yang masih berantakan.
Donghae sudah berniat untuk segera keluar dari kelasnya, namun pandangannya kembali pada meja Yoona. Dia tidak tega meninggalkan gadis itu seorang diri dikelas. Walaupun dia tidak tahu kemana Yoona pergi, dia yakin saja gadis itu akan segera kembali. Donghae pun memutuskan untuk menunggu Yoona kembali ke kelas, barulah dia pulang.
Yoona berjalan cepat kembali ke kelasnya. Dia takut jika seorang diri di kelas yang sudah tidak berpenghuni lagi. Mengingat jam pulang sudah berlalu beberapa menit yang lalu. Dia harus bergegas mengambil buku dan tasnya.
Ketika Yoona membuka pintu kelasnya, dia terdiam terpaku. Dia begitu terpana dengan ketampanan pria yang sedang asyik membaca buku, bersandar di dekat jendela dengan telinga yang di tutup dengan earphone. Pria itu belum menyadari kehadirannya.
Deg
Lagi perasaan itu. Perasaan berdebar dan tidak terkendali, lagi-lagi Yoona rasakan. Ingin sekeras apa pun Yoona menyangkal jika dia tertarik atau lebih tepatnya menyukai Donghae, dia tetap saja berdebar-debar. Padahal akhir-akhir ini dia sudah tidak memikirkan apa-apa lagi tentang pria itu. Tapi kenapa ketika berdua saja seperti ini, perasaan itu kembali dirasakannya? Menyebalkan.
Angin yang berhembus dari jendela membuat surai-surai rambut Donghae sedikit berantakan. Namun itu tidak mengurangi ketampanan pria itu. Yoona berlahan melangkah mendekati pria itu, tanpa sekali pun mengalihkan pandangannya. Dia ingin lebih dekat memandangi wajah tampan itu.
Ketika jaraknya tinggal beberapa langkah, Yoona berhenti. Hal itu pun langsung menyadarkan Donghae akan kehadiran gadis itu.
“Im Yoona”, ujar Donghae, langsung melepas earphone-nya. Bertepatan dengan itu lagi-lagi angin berhembus lebih keras dari sebelumnya sehingga membuat gorden didekat Donghae terbang.
Perasaan Yoona semakin tidak karuan setelah pria itu menyebutkan namanya. Kini pria itu sedang menatapnya dan tersenyum. Melihat pria itu menatapnya dengan lembut dengan mata teduhnya yang menenangkan, membuat Yoona kembali melangkah mendekati pria itu.
“aku menunggu mu. Aku khawatir karena kau meninggalkan tas mu begitu saja. Lagi pula sendirian di dalam kelas pasti tidak nyaman”, ucap Donghae menjelaskan keberadaannya masih berada dikelas, tidak pulang.
“mmm”, hanya itu jawaban Yoona. Dia senang karena Donghae kembali mengkhawatirkannya. Hal itu tentu membuat gadis itu semakin tidak bisa mengendalikan dirinya. Yoona tidak mendengar apa-apa lagi. Dia fokus pada satu hal saja.
Jarak keduanya semakin dekat, hingga sangat dekat, membuat Donghae sedikit menjauhkan tubuhnya. Namun karena dirinya sedang bersandar di dekat jendela, tentunya tidak memberinya jarak dari Yoona.
Dengan jarak yang begitu dekat, dan Yoona yang menatapnya begitu serius membuat Donghae mulai gelisah.
“Yo-Yoona”, panggil Donghae dengan nada terbata. Dia merasa tidak nyaman jika tubuh mereka semakin dekat. Bagaimana pun Donghae tahu tata karma dan sopan santun.
Sedangkan Yoona, setelah puas menatap mata teduh Donghae, dia beralih pada bibir pria itu. Bibir yang pernah diciumnya diperpustakaan. Bibir yang awalnya Yoona pikir adalah pipi Donghae.
Yoona kembali mengingat kejadian yang sangat memalukan itu. Yoona pun baru sadar hingga kini Donghae tidak pernah menanyakan alasannya mengapa melakukan itu. Bahkan pria itu tidak pernah membahasnya lagi.
Kadang Yoona berpikir Donghae terlalu polos sehingga tidak mempermasalahkan hal itu atau Donghae tidak peka dan mengerti dengan perasaannya. Yoona bisa saja mengajarkan hal itu pada pria itu. Hanya saja akan terasa canggung diantara mereka nantinya.
Yoona kembali menatap mata Donghae. Yoona bisa melihat mata pria itu yang gelisah. Ingin menjauhkannya namun tidak bisa.
“Donghae”
“a-apa?”
“kenapa kau tidak bertanya?”
“tentang apa?”
“diperpustakaan itu”
Donghae terdiam. Dia tahu apa maksud Yoona. Namun dia tidak menyangka Yoona akan mengungkit kejadian itu saat ini. Saat dimana tubuh mereka hampir menempel tanpa jarak. Donghae tidak bisa berpikir dengan benar. Dia terlalu panik.
Donghae sedang memikirkan cara untuk menyadarkan Yoona dengan jarak mereka yang begitu dekat. Donghae berpikir Yoona mungkin tidak sadar jika mereka berhadapan dengan tubuh yang hampir menempel.
“a-aku… aku bingung harus bagaimana menanyakannya padamu. Lagi pula aku khawatir dengan mu. Kau juga pasti kaget. Dan saat itu kau masih berpacaran dengan Jonghyun, jadi aku tidak berani bertanya. Takut kau tersinggung”, jelas Donghae sambil berusaha untuk menggeser tubuhnya – menjauh dari Yoona.
Yoona hanya terdiam tidak mengatakan apa-apa lagi. Dia hanya memikirkan sesuatu yang mungkin akan kembali membuat harga dirinya semakin menipis di depan Donghae. Tapi sunggung Yoona tidak bisa menahannya lagi.
“aku tidak bisa berhenti”, gumam Yoona, sangat pelan tapi Donghae masih bisa mendengarnya. Namun dia sudah terlanjur kaget dengan apa yang Yoona lakukan.
Lagi. Yoona lagi-lagi mencium bibir Donghae. Kali ini terang-terangan. Kali ini berbeda dengan yang diperpustakaan. Jika diperpustakaan Yoona hanya mencium Donghae dalam hitungan detik. Kali ini entah mengapa Yoona mengecup bibir Donghae cukup lama dan dalam.
)))))(((((
[37] Social Networking Service (Line, Facebook, Instagram, etc)
bersambung..