
Kedua kaki kecil yang menggemaskan itu berjalan mondar mandir di depan sekolah sambil terus menatap ke arah gerbang dan jam tangannya secara bergantian.
Cahaya matahari yang terik, menerobos melewati ranting pohon dan dedaunan. Aroma bunga melati yang menyegarkan dari taman bunga di sepanjang jalan masuk sekolah itu tercium jelas.
Angin sepoi-sepoi menyapu lembut rambut ikal Regard Roth yang sejak satu jam yang lalu sudah berdiri di depan gazebo taman sekolah menunggu kedatangan ayah dan ibunya.
Regard menatap jam tangannya lagi," haihh.. Papa dan Mama pasti sedang sibuk, makanya jangan buat janji kalau jadwal sendiri susah diatur!" gumam anak itu sambil geleng-geleng kepala.
Regard sudah menunggu sejak satu jam yang lalu, dan tak ada satu pun yang menjemputnya.
Anak itu sudah mengirim pesan tapi tak kunjung di balas.
Masih banyak orang di sekolah karena jadwal pulang yang berbeda, tetapi Regard satu-satunya ana kelas 3 SD yang belum pulang ke rumah.
Meski usianya masih tujuh tahun, kecerdasan Regard berada di atas rata-rata. Dan bukan keinginan orangtuanya mengikutsertakan anak itu dalam program lompat kelas, dia sendiri yang mengajukan diri karena pelajarannya terlalu mudah.
Regard duduk di bawah gazebo sambil mengeluarkan buku gambarnya. Ketika waktunya luang, dia memanfaatkan waktunya dengan belajar bahasa baru, belajar menggambar dan kegiatan produktif lainnya.
Anak ini adalah definisi dari anak sempurna berhati malaikat. Dia sangat cerdas dan hebat.
Regard mulai menggambar, dia sangat fokus, menggambar lingkungan sekolahnya dengan kemampuannya yang terasah.
Keluarganya sampai dibuat terkagum-kagum dengan kecerdasannya, tetapi di satu sisi Dita dan Asher selalu merasa takut jika Regard terlalu pintar.
Alasannya karena Asher juga pernah ada di posisi itu. Asher mampu melakukan segalanya, tetapi dia menyimpan luka dan dendam selama belasan tahun sampai mempengaruhi mental dan kesehatannya.
Itu sebabnya Dita dan Asher tidak bersikap ketat atas jadwal mereka. Mereka bersikap santai dan membuat Regard merasa nyaman dan tidak tertekan.
Mereka terkadang sengaja berbuat ceroboh untuk menunjukan pada putra mereka bahwa tidak apa apa melakukan kesalahan, tidak masalah jika ada yang tidak sempurna. Mereka tidak menuntut Regard menjadi anak super, yang mereka inginkan adalah anak itu tumbuh sebagaimana anak normal lainnya, ceria dan bahagia.
Regard senang dengan kehidupannya, dia bahagia memiliki ayah dan Ibu yang sangat mendukung semua kegiatannya.
"Regard sayang!!"
Suara Dita berhasil membuat anak kecil itu menoleh dengan senyuman sumringah di wajahnya sambil memasukkan semua peralatannya kembali ke dalam tas.
“ Mama!!” seru Regard sambil melambaikan tangannya dengan wajah dan mata berbinar binar.
“ Papa!!” seru anak itu lagi saat melihat Asher menyusul Dita.
Dita berlari menghampiri putranya, jika pagi tadi dia terkesan tomboy maka siang ini, Dita mengenakan pakaian yang sangat cantik. Gaun bertali spaghetti yang panjangnya sampai mata kaki dengan renda dan bunga bunga cantik menghiasi. Rambutnya dia kepang dan topi bundar dia pakai sebagai pelengkap penampilannya.
Asher juga berpakaian santai dengan warna yang senada dengan gaun istrinya, tampak sangat segar dan indah dipandang.
Regard berlari dengan kedua kaki kecilnya, menyambut ayah dan Ibunya sambil tersenyum ceria.
“ Wohoooo anak ganteng Mama, selamat Siang sayang!” seru Dita sambil menangkap tubuh putranya dan menggendong anak itu sambil memeluknya dengan erat.
Asher langsung menghampiri mereka dan.. Hap!
Dia mengangkat istri dan anaknya dalam sekali hentakan, membawa mereka berputar putar di tengah taman itu sambil tertawa bahagia.
“ Wahahahahaa... Papa punya kekuatan super, seru sekali!!” teriak Regard sambil tertawa bahagia dalam pelukan kedua orangtuanya.
Mereka bertiga bertemu seolah sudah tak bersama selama bertahun tahun. Ha ini membuat semua mata tertuju pada mereka. Orang orang hanya bisa berdecak iri akan kedekatan keluarga itu.
Siapa yang tidak iri dengan keharmonisan keluarga mereka sekalipun mereka menghadapi badai terberat di hidup mereka. Cinta keluarga itu setiap hari semakin bertambah dan semakin besar satu sama lain.
“Ready Daddy!!” seru Dita dan Regard dengan penuh semangat.
Seperti yang telah direncanakan sebelumnya, hari ini Dita dan Asher akan membawa putra mereka bertemu dengan teman barunya sekaligus memenuhi undangan makan malam dari keluarga Smith yang telah tiba di negara itu sejak dua hari yang lalu .
“ Sayang bagaimana sekolah kamu? Apa ada yang baru?” tanya Asher sambil memasang seat belt putranya yang duduk di kursi penumpang bagian belakang.
Regard menatap kedua orangtuanya bergantian,” Sekolah baik baik saja, masalahnya pelajarannya terlalu mudah, apa boleh Regard lompat kelas lagi?” tanya anak itu dengan wajah penasaran.
Asher dan Dita saling menatap satu sama lain. Anak yang terlalu pintar juga membuat merkea khawatir, mereka takut terjadi sesuatu pada putra mereka jika terlalu berlebihan seperti ini.
Bagaimana bisa anak tujuh tahun sudah duduk di kelas tiga dan malah minta naik tingkat lagi. Jika begini terus, mereka khawatir Regard tak akan punya teman di sekolah karena dia terlalu berbeda dari anak-anak normal pada umumnya.
“ Nak,” Dita menggenggam tangan putranya sambil menatapnya dengan tatapan lembut.
“ kali ini Mama nggak bisa setuju sayang, Mama Ingin kamu jalani sekolah normal saja, gak perlu terburu-buru, Mama ingin kamu menikmati masa kecil kamu anak,” ucap Dita dengan suara bergetar. Dia takut akan kehilangan anaknya lagi.
“Benar sayang, Papa dan Mama bukannya tidak senang, tapi kami ingin Regard bahagia, tidak perlu belajar terlalu keras sayang, “ tambah Asher seraya menepuk pucuk kepala putranya.
Regard menatap merkea berdua sambil tersenyum,” tapi Regard sedikit bosan, apa tidak boleh?” tanya anak itu lagi dengan tatapan memelas.
Dita dan Asher saling menatap satu sama lain.
“ begini saja,” Asher menggenggam tangan putranya.
“ Di kelas apa abang punya teman dekat?” tanya pria itu.
Regard menggelengkan kepalanya,” Regard malas berteman, mereka semua sangat nakal, bicara kasar dan bodoh!” celetuk Regard.
Dita dan Asher mengulum senyum,” nah kalau begitu, Papa dan Mama tantang Abang untuk berteman dengan seisi kelas dan membantu mereka jadi anak yang pintar seperti abang!” usul Asher.
“ Kalau memang Abang Regard benar benar pintar, Papa tantang kamu membuat teman teman kamu juga jadi pintar sekaligus menambah teman, kalau kamu bisa, Papa dan Mama akan pertimbangkan untuk program lompat kelas berikutnya!” ucap Asher dengan tujuan agar anak mereka berbaur dengan anak anak lain.
Regard yang sangat suka tantangan tampaknya benar benar tertarik dengan tawaran ayahnya. Belum lagi dia memang hanya memiliki sedikit teman, itu pun hanya sekedar teman biasa.
“ Bagaimana sayang, kalau mama setuju dengan usul Papa!” balas Dita dengan harapan putranya setuju.
“ baiklah! Regard setuju!” ucap anak itu sambil tersenyum dengan wajah gembira.
Dita dan Asher bernafas lega. Mereka akhirnya mendapatkan cara agar putra mereka mau berteman dan berbaur dengan anak anak lain. Mereka berharap besar agar Regard tumbuh menjadi anak yang mau berbaur dengan orang lain.
“ Baiklah kalau begitu kita berangkat mencari hadiah untuk teman baru!” seru Asher.
“ Setuju!” balas Dita dan Regard serentak sambil tertawa bahagia.
Kebahagiaan yang mereka nikmati selain membuat orang lain senang dan iri di saat yang bersamaan juga membuat kehidupan nyonya vera tidak tenang. Dia menatap keluarga itu dari dalam mobilnya yang terparkir tak jauh dari bangunan sekolah.
“ Nikmati kebahagiaan kalian sekarang, karena setelah ini yang kalian dapatkan hanyalah bencana, tunggu saja !” gumam wanita itu.
.
.
.
Like, vote dan komen