Loco

Loco
40 Loco: Tawaran Nikah



Asher, Dita dan Regard duduk di sofa panjang dengan tuan Luther dan Johan yang duduk di hadapan mereka.


Aruna dan Jack hanya berdiri di balik dinding mengintip pertarungan sengit antar dua kubu ini.


" Katakan anak siapa itu!!!" tanya tuan Luther dengan wajah masam. Dia menatap Dita dan Asher dengan tajam.


" Bbbrabababababba.... bababababba... ahahahhehehehehe..." Tawa melengking Regard membuat tuan Luther kehilangan fokus dan membuatnya menatap bayi itu.


" Aihhhh.... tampannya parasmu sayangku, amagoyamang!!!" celetuk tuan Luther dengan wajah penuh senyum menatap si kecil Regard yang mulai aktif.


"ekhmm.. pak? Pembicaraan nya!?" Johan menyenggol lengan si bapak yang mulai tak fokus.


Dita dan Asher tertawa cekikikan melihat tingkah pria tua kesepian itu.


" Eh.. ekhmm... kalian jelaskan, ini anak siapa, dan bagaimana mahluk lemah lembut ini berakhir di pangkuan kalian anak anak nakal!? Bapak yakin ini bukan anak kalian!!" ucap Tuan Luther dengan ketus .


Asher dan Dita saling melirik," Om, Regard telah menjadi anak asuh saya sebagai wali resminya, saya yang bertanggung jawab atas dirinya, Dita putri Om tidak akan terikat apa pun selama saya menjadi wali resmi Regard, Dita boleh memilih merawat atau tidak bayi ini. Tetapi yang jelas dia adalah putra saya seperti apa pun masa lalu yang dia jalani!" tukas Asher dengan nadanya yang tegas dan penuh dengan penekanan.


Dita menatap Asher, tak dia sangka pria itu adalah sosok yang sangat bijaksana dala urusan baby Regard.


"Dia tetap anakku, karena aku yang menemukannya!!" ucap Dita sambil memeluk Regard dengan penuh kasih.


"Jangan peluk kuat kuat, sesak dia dipeluk Mak lampir!!" celetuk Asher seraya menepuk lengan gadis itu.


" Isshhh iri bilang bos!!" balas Dita dengan suara badasnya.


Tuan Luther dan Johan menatap mereka sejenak, segurat senyum tipis tergambar jelas di wajah kedua pria itu. Dita yang dulu telah berubah banyak, gadis malang yang kehilangan senyumannya dan juga punya banyak trauma itu kini telah terlihat lebih baik dibandingkan dengan masa lalu.


"Asher, Bapak senang bertemu kau lagi, sudah sangat lama, Mamak kau saja yang sering datang ke rumah, tapi kau gak mau ikut. dasar anak nakal!" celetuk tuan Luther dengan lihat Bataknya yang sangat kental, lebih kental dari susu kental manis.


Asher tersenyum,"Senang bertemu om juga, sudah sangat lama, tak ku sangka om masih mengenalku, "ucap Asher.


" Jelas saja kau di kenal Asher, Namboru ( Bibi dari marga pihak ayah) sering datang ke rumah, tapi kau tak pernah ikut, katanya kau sibuk jadi monyet, manjat pohon sana sini!" celetuk Johan yang sebelas dua belas dengan Ayahnya.


Asher terkekeh, logat mereka jelas mengingatkan dia dengan masa kecilnya yang menyenangkan ketika berlibur di kampung Batak.


"Bukan manjat pohon Bang, tapi lagi cari cuan untuk Sinamot( Mahar) Boru Sihombing ini!" celetuk Asher seraya menyenggol lengan Dita .


" Apa!? nyenggol nyenggol melulu kayak kereta mati plat!" ketus Dita.


"Dasar pemarah!" ucap Asher seraya menepuk pucuk kepala gadis itu.


Tuan Luther dan Johan menatap keduanya. Sebenarnya kedatangan mereka ke apartemen Dita setelah melacak lokasi gadis itu dari ujung benua ke ujung yang lain, adalah untuk menghibur Dita atas apa yang menimpa gadis itu.


Dita yang menangis beberapa hari lalu melalui sambungan telepon membuat mereka tak tenang dan langsung terbang ke kota itu untuk memastikan kondisi Dita.


Johan berada di New York dan tuan Luther di Singapura, meski jadwal sibuk, tapi prioritas mereka adalah Dita.


"Pak, Dita sudah dewasa ya, dia banyak berubah," bisik Johan.


Tuan Luther mengangguk," Benar nak, si Butet kecil Bapak sudah besar sekarang, dia banyak berubah," balas pria itu penuh haru.


"Ahh baiklah, karena sudah begini.." Tuan Luther memulai pembicaraan yang serius. Dita dan Asher menatap pria tua itu.


"Kalian harus menikah!" ucapnya dengan tegas.


"Me.. menikah!? aku dengan dia pak!? dengan genderuwo!? bapak mau punya menantu Genderuwo!?? yang benar aja pak!!!" Dita tampak terkejut dengan ucapan si Bapak.


" Hahaha.. yang aneh aneh aja si bapak, jangan bergurau deh pak, masa iya Dita nikah sama Gende..


Rahang gadis itu hampir saja terlepas, Asher setuju begitu saja padahal niat tuan Luther hanya bercanda.


" Hahah... Bapak hanya bercanda, kau serius sekali nak!!" ucap Tuan Luther yang juga terkejut karena Asher setuju begitu saja.


Asher menatap mereka dengan senyuman," Regard butuh orangtua yang lengkap. Saya juga tidak punya hubungan dengan siapapun, demikian dengan Dita, " ucap Asher.


" Selain itu umur kami sudah tepat untuk menikah, saya sudah 32 tahun dan gadis tengik ini 29 tahun, jelas sangat cocok untuk menikah, dan kita juga sudah mengenal sejak kecil, bukankah ini sempurna? " tutur Asher.


" Selain itu, saya yang punya hak asuh terhadap Regard, dan hal itu sudah diputuskan oleh pengadilan, saya berhak melarang Dita untuk bertemu dengan Regard!" tukas Asher seraya memberi tawaran yang tak bisa ditolak sekaligus mengancam gadis itu dengan menggunakan Regard. Licik dan penuh muslihat.


Dita terperangah, jika dipisah dari Regard yang sudah mencuri semua perhatian dan kasih sayang Dita, maka Dita tak akan bisa hidup normal.


Sedikit berlebihan, tetapi Regard bagaikan pil penyembuh bagi mereka berdua.


"Ka..Ka mengancam ku!??" Dita terkejut.


Asher tersenyum penuh kemenangan,"Tentu saja, " ucap Asher .


"Jadi kau serius!?" tanya Tuan Luther .


" Saya serius Om, itu pun jika Putri anda setuju!" ucap Asher.


"Wah hahaha..... " Johan tertawa dia menatap adiknya dan juga Asher bergantian.


Membayangkan Dita punya pawang membuat pria itu tertawa cekikikan," Wahh jika begini aku setuju, gadis nakal ini akan ada yang awasi!!!" Johan tertawa.


" Kak!! kok gitu sih!??" ketus Dita.


"Wahh.... Bapak suka gayamu nak!? jadi kapan rencana mu!!!" Ucap Tuan Luther setuju.


Dita menatap ayah dan kakaknya, tak percaya kalau mereka mau begitu saja menikahkan Dita dengan orang lain. Meski pun punya hubungan di masa lalu, bukankah ini terlalu cepat untuk setuju!?


" Kalian benar benar bikin kesal!!!" Dita Cemberut, dia menatap mereka dengan wajah kecut.


"Dita, kalau mau terus bersama Regard, maka kau harus memikirkan hal ini dengan matang," ucap Asher sambil berdiri dan menggendong Regard


"Om, Johan, Dita,aku kembali ke apartemen ku dulu, Regard sudah mengantuk!" ucap Asher .


"Hei tapi ini giliranku bersama Regard!!' ucap Dita tak terima.


" Pikirkan Dita, tawaranku tadi, toh tak ada ruginya bagimu, atau kau masih mencintai pria itu!? jika iya maka aku tak bisa berbuat apa apa selain memisahkan mu dari Regard!" ucap Asher dengan tegas


Meski kelihatannya suka bercanda, Asher adalah orang yang tegas dalam membuat keputusan. Semuanya sudah dia perhitungkan sejak Awal, bahkan membuat dirinya menjadi wali resmi Regard adalah bagian dari rencananya untuk balas dendam.


"kalau begitu saya permisi om, Bang Johan, Dita, saya tunggu keputusan mu," ucap Asher sambil melangkah keluar dari rumah itu.


" Ta..tapi Asher... aku..." Dita terdiam dalam pilihan yang sulit, jujur saja masih ada rasa yang tersisa di hatinya, segala tingkah konyolnya hanya menutupi rasa sakit di hatinya.


Dua tahun bukan waktu yang sedikit, dia memberikan hatinya sepenuhnya tapi dia dikhianati dengan cara menyakitkan, untuk sembuh akan butuh waktu dan proses, entah Dita bisa memutus atau tidak.


.


.


.


Like, vote dan komen 🤗