
Selusin pria bertubuh kekar tampak berjalan menyusuri area pemakaman umum di tengah kegelapan yang mencekam.
Angin yang berisik dan suara hewan malam mengiringi langkah kaki mereka. Anak buah Asher yang dipimpin pria itu dan Samuel memasuki area pemakaman dengan membawa alat penggali.
Beberapa dari Mereka berjalan menuju makam mengikuti bos mereka dan beberapa yang lainnya berjaga di sisi area pemakaman.
"Apa yang sebenarnya terjadi? kenapa kau ingin membongkar makam ini sekarang?" Samuel begitu mereka tiba di depan makam mendiang putri kecil Ashar dan Dita.
Asher menatap makam itu dengan hati yang berdebar. Kejadian siang tadi tak bisa dia lupakan, tatapan lugu dan sendu bocah kecil yang masuk ke dalam mobil nyonya Vera siang tadi membuatnya tak bisa menunggu waktu untuk melakukan penyelidikan.
Perasaannya aneh dan wajah gadis kecil itu begitu melekat dalam ingatannya.
" Aku meragukan kematian putriku!" ucap Asher sambil menatap Samuel dengan serius.
Sam terhenyak, dia menatap pria itu dengan wajah bingung sekaligus penasaran dengan apa yang membuat seorang Asher sampai mengalami kebingungan ini.
" Baiklah, jika memang membongkar dapat membuatmu merasa tenang, maka kita lakukan!" ucap Samuel.
"Bongkar!" titah Sam pada anak buah mereka.
Makam kecil itu dibongkar. Kecurigaan Asher akan dituntaskan setelah membawa sampel sisa tulang yang ditemukan saat terjadi kecelakaan besar itu.
" Sam, apa kau masih ingat dokter yang bertugas mengurus autopsi putriku?" tanya Asher.
" Masih, dokter pria yang bekerja di departemen forensik, hanya saja aku tidak tahu keberadaannya saat ini!" jawab Samuel.
" Kirim orang untuk mencari keberadaan pria itu, aku curiga kematian putriku hanya sebuah konspirasi untuk rencana busuk seseorang yang akan menghancurkan keluarga Ku!" ujar Asher.
"Sebenarnya apa yang kau lihat sampai kau seperti ini!?" tanya Samuel heran.
" Aku melihat wanita itu, nyonya Vera," ucap Asher.
Samuel jelas tahu siapa nyonya Vera, perempuan gila yang bahkan berusaha merusak kehidupan kedua anak kandungnya hanya demi mendapatkan harta dan tahta.
" Nyonya Vera!? kera sialan itu muncul lagi!? setelah bertahun-tahun dan malah membuatmu terusik!? dia benar benar berusaha keras!" ucap Samuel tak senang.
"Apa Dita tahu hal ini?" tanya Samuel.
Asher menggelengkan kepalanya," belum waktunya ku beritahu, dia hanya akan semakin tertekan jika mendengar ini, " ujar Asher.
Samuel mengangguk setuju, kematian Lili saja sudah membuat Dita terpukul apalagi jika sampai ada kecurigaan kalau putri mereka sebenarnya belum meninggal.
Makam itu pun dibongkar oleh anak buah Samuel.
" Ambil sampel tulangnya!" ucap Asher.
Mereka mengambil sampel tulang dari dalam tanah itu untuk di cek kebenarannya. Bukan hanya dari satu jenis tulang, tapi dari setiap bagian tulang yang ada di sana.
Setelah beres, makam itu kembali ditutup.
Asher menatap semua sampel itu dengan tatapan tajam," jika sampai kematian putriku ada hubungannya dengan wanita itu, maka jangan salahkan aku tidak membiarkan dia hidup dengan tenang!" tukas Asher.
Mereka pergi dari tempat itu dengan harapan menemukan bukti baru mengenai kematian putri Asher dan Dita.
Perjalanan malam ini tampaknya tak dinikmati oleh Asher. Pikirannya dipenuhi dengan wajah gadis kecil yang dia lihat di dalam mobil nyonya Vera tadi.
Hatinya gelisah memikirkan tatapan anak itu, perasaannya seolah dipermainkan oleh takdir yang begitu kejam menghajar keluarga mereka.
Dia menatap ke langit yang kosong, jika benar yang ada di dalam makam itu bukan putrinya, maka dia sudah di pohon bertahun-tahun oleh orang yang mencelakai putrinya.
Entah bagaimana tanggapan Dita nantinya saat dia mendengar hal ini.
"Bawa aku ke ruma sakit," ucap Asher.
Istrinya masih bekerja di ruma sakit, pasien cukup banyak dan operasi terus berlanjut bahkan Dita tak sempat untuk makan malam.
Asher tiba di lokasi rumah sakit, putranya Regard berada di tempat aman bersama tuan Luther dan Nyonya Kiara.
Dia marah, kecewa dan kesal pada dirinya sendiri yang tak bisa menjaga keluarga kecilnya dengan baik.
Siapa yang akan menyangka kalau terjadi hal seperti ini.
Pria itu melangkahkan kakinya dengan perlahan memasuki area ruma sakit pertahanan di mana istrinya bekerja.
Dia menatap rumah sakit yang masih sibuk sampai tengah malam.
Para petugas medis berlarian ke sana kemari, mengurus pasien yang terluka. Semuanya tampak kelelahan.
Asher sudah sangat dikenali oleh rekan kerja Dita di rumah sakit itu, selain karena dia adalah suami salah satu profesor bedah saraf terbaik di negeri itu, dia juga dikenal sebagai pengusaha muda berwajah tampan yang membuat siapa saja tertarik.
"Dokter Dita masih di ruang operasi tuan," ucap seorang perawat pada laki-laki itu.
Asher tersenyum tipis sambil mengangguk," terimakasih," ucapnya lalu melangkah menuju ruang tunggu operasi di mana istrinya berada.
Dia ingin menemui Dita dan memeluk wanita itu, perempuan kuat yang selalu mendukungnya.
Asher berdiri di ujung lorong ruang operasi, di sepanjang lorong itu, dia dapat melihat keluarga pasien yang menunggu pihak dokter keluar.
Pria itu bersandar pada dinding, hanya berdiri sambil menenangkan pikirannya yang kacau dan kalut.
Berharap semua ini hanya mimpi dan putrinya bisa kembali ke pelukan mereka.
" Lili masih di dunia ini tuan Papa, tuan Mama, Abang akan menemukan Lili!!" kata kata putra mereka terngiang di telinga Asher.
Entah kenapa ucapan Regard ini membuat Asher merasakan ada secercah harapan.
"Apa Regard juga merasakannya?" batin Asher.
Dia menutup matanya, menunggu istrinya keluar dari ruang operasi.
Hingga tak butuh waktu lama seseorang memeluknya dari depan," Sudah menunggu lama?" bisik Dita sambil memeluk erat suaminya.
Asher membuka kedua matanya dan membalas pelukan Dita dengan erat.
Asher meletakkan kepalanya di ceruk leher istrinya, seolah tengah menghirup aroma khas dari sang istri yang selalu membuatnya tenang.
"Apa sudah selesai?" tanya Asher dengan suara beratnya.
Mereka berpelukan di lorong itu, tak peduli orang-orang memandang mereka berdua.
" Sudah, operasi hari ini melelahkan dan tentu saja berhasil," ungkap Dita.
Asher mempererat pelukannya, dia sangat mencintai wanita itu. Apa pun akan dia lakukan untuk kebahagiaan Dita.
" Di mana tuan muda kita sayang? apa dia aman?" tanya Dita.
" Di kediaman Roth, Papa mertua juga di sana menemani tuan muda," jawab Asher.
Dita tersenyum lalu menatap wajah lelah suaminya," Lalu apa tuan muda yang di hadapanku ini sudah makan? aku sangat lapar sekarang," ucap Dita.
Asher menggelengkan kepalanya," aku juga kelaparan, ayo kita cari makan," balas Asher.
Dita mengangguk, keduanya bergandengan tangan dengan begitu mesra.
Siapapun pasti akan dibuat iri dengan pasangan yang begitu romantis ini.
.
.
.
Hai, jangan lupa berikan dukungan kalian ya,😉