Loco

Loco
Chapter 17



Beberapa hari telah berlalu setelah kejadian pencurian itu. Donghae, Yoona dan juga ketiga sabahatnya sudah masuk sekolah kembali. Dan mengejutkan, ketika berbaris di aula, polisi datang dan memberi penghargaan pada Donghae, Yoona, Sooyoung, Yuri dan Taeyeon.


Polisi menganggap keberanian mereka walaupun sebagai korban patut diberi penghargaan. Didepan semua murid SMA Kirin, mereka menerima penghargaan itu dan juga sebuah piagam.


“kenapa aku merasa malu ya? Padahal ini pertama kalinya aku mendapat penghargaan”, ucap Sooyoung dengan nada sangat pelan ketika kepala sekolah mereka sedang memberi sepatah dua patah kata dan ucapan terima kasih kepada polisi yang memberikan penghargaan kepada murid SMA-nya itu.


“aku juga. Mungkin karena kita tidak melakukan apa pun namun tiba-tiba mendapat penghargaan seperti ini”, balas Yuri. Yang lain pun ikut mengangguk setuju.


Terdengar tepuk tangan yang keras membuat mereka kembali memperhatikan ke depan. Setelah itu mereka dipersilahkan untuk kembali kebarisan kelasnya. Banyak murid yang memberi ucapan selamat kepada mereka. Dan yang paling banyak mendapat selamat adalah Donghae, tentunya yang didominasi oleh para gadis-gadis.


Ketika barisan sudah dibubarkan Yoona masih diam ditempatnya menatap Donghae yang masih dikerumuni para gadis. Sesekali bibir Yoona mencibir kelakuan para gadis itu yang berlebihan. Lagi pula Donghae tidak melakukan banyak hal saat itu. Tapi kenapa gadis-gadis itu perpikir seperti Donghae adalah pahlawan.


“kau tidak ingin menyingkirkan gadis-gadis itu?”, tanya Sooyoung yang sudah berada disampingnya, dengan Yuri dan Taeyeon juga.


“hah?”


“kau tidak cemburu?”


“hah? Apa yang kau katakan? Aku tidak cemburu. Untuk apa?”, balas Yoona acuh dan langsung pergi. Ketiga sahabat Yoona itu hanya bisa menggelengkan kepala.


“dia tidak juga mau jujur ya”


“namanya juga princess dan harga dirinya itu”


“sampai kapan dia akan mempermalukan dirinya sendiri didepan Donghae?”


“dia tidak akan sadar atau mungkin dia sadar tapi tidak mau mengakuinya”


Ketiganya pun langsung tertawa dengan jawaban yang Taeyeon lontarkan. Tiba-tiba tubuh Taeyeon sedikit oleng. Kepalanya masih sedikit pusing. Dengan sigap Sooyoung menahan tubuh mungil itu.


“kau tidak apa-apa?”, tanya Sooyoung.


“sepertinya kondisi mu belum membaik”, ujar Yuri. Taeyeon menyangguk membenarkan. Kedua gadis itu membantu Taeyeon berjalan menuju kelas mereka.


Berbeda dengan ketiga sahabatnya, Yoona sekarang justru terjebak dengan Jonghyun. Mereka tadi berpapasan di depan pintu aula. Dan entah mengapa Yoona menyetujui ajakan pria itu untuk berbicara sebentar.


“kau baik-baik saja?”, tanya Jonghyun.


“seperti yang kau lihat, aku baik-baik saja”


“tapi wajahmu…”


“oh… ini hanya luka kecil. Sebentar lagi juga sembuh”


Yoona beraba bibir dan dagunya. Sebenarnya sudah tidak parah. Cukup sering-sering dioleskan salep saja agar lukanya cepat kering.


Yoona mendengar Jonghyun berdecak kesal.


“sebenarnya apa yang dilakukan Donghae sampai kau terluka dan dalam bahaya seperti ini? Dasar tidak berguna”, maki pria itu. Mendengar makian Jonghyun membuat emosi Yoona tersulut. Dia merasa perkataan mantan kekasihnya itu tidaklah pantas.


“kau tidak pantas mengatakan seperti itu pada Donghae. Kau tidak tahu apa yang dilakukannya waktu itu”, Yoona marah.


“kau masih saja membelanya. Kau terlalu terlihat menyukainya Im Yoona”, balas Jonghyun.


“ini bukan karena aku membela atau tidak. Tapi tidakkah kau sebaiknya introspeksi diri. Jika kau tidak pergi hanya karena keegoisanmu, Donghae tidak akan seorang diri pelawan pria brengsek itu”, ujar Yoona dengan nada marah. Dia sudah terlanjur sangat kesal. Yoona pikir Jonghyun akan merasa bersalah karena kepergian pria itu yang tiba-tiba. Tapi ternyata, pria itu justru mencibir Donghae.


“ku harap kau lebih sadar diri”, ucap Yoona dan langsung beranjak pergi. Tapi baru dua langkah, dia kembali berhenti. Dia menatap Jonghyun yang masih terdiam.


“dan satu lagi, ku harap setelah ini jangan pernah berbicara lagi dengan ku. Aku muak dengan pria pengecut sepertimu”, ucap Yoona tajam langsung membuat Jonghyun menunduk malu. Setelah itu Yoona melanjutkan jalannya menuju kelas.


Dengan perasaan kesal Yoona melemparkan map yang berisi piagam itu ke atas meja. Hal itu pun mengundang perhatian Donghae. Merasa diperhatikan Yoona menoleh ke samping dan langsung menatap Donghae garang.


“apa?”, tanya Yoona ketus. Donghae pun langsung menggeleng. Dia tidak ingin berurusan dengan Yoona yang sedang dalam mood yang jelek.


Yoona pun melipat lengannya dan menyembunyikan wajahnya disana. Dia sedang mengendalikan emosinya. Karena saat ini dia ingin berteriak pada siapa saja yang bisa dijadikan korbannya.


‘dia kenapa lagi? Sepertinya ada yang membuatnya kesal. Apa dia kesal karena aku lagi?’, batin Donghae. Mendengar itu, berlahan Yoona tersenyum.


Yoona merasa gemas karena Donghae selalu merasa dirinya yang membuatnya marah. Ya walaupun Yoona akui pria itu memang mudah sekali membuatnya kesal. Tapi kali ini memang bukan karena Donghae.


Dengan gerakan pelan, Yoona mengintip dari celah-celah rambutnya yang menutupi wajahnya. Dia ingin menatap Donghae. Entahlah. Dia hanya ingin melakukannya saja. Melihat Donghae membuat rasa kesalnya sedikit berkurang.


)))))(((((


Ketika pulang sekolah, Donghae menatap Yoona yang berlari keluar dari gerbang sekolah. Gadis itu tersenyum lebar, sangat bahagia. Donghae bisa simpulkan perasaan gadis itu sudah membaik.


Donghae pun kembali melanjutkan langkahnya menuju halte. Namun langkahnya langsung berhenti. Dia melihat Yoona dan seorang wanita yang wajahnya mirip dengan Yoona. Donghae pikir wanita itu adalah ibu Yoona yang orang-orang katakan adalah seorang pengacara terkenal.


Donghae hanya terdiam saja menatap Yoona dan ibunya berdebat. Beberapa murid SMA Kirin yang juga pulang diam-diam mencuri dengar apa yang Yoona dan ibunya perdebatkan. Sedangkan keduanya sepertinya tampak tidak menyadarinya.


“wali kelas mu menelepon omma dan mengatakan progress belajarmu akhir-akhir ini turun. Ada apa?”, tanya ibu Yoona dengan nada marah.


Sedangkan Yoona yang awalnya berpikir ibunya menelepon tadi karena memang ingin bertemu dengannya dan menjemputnya pulang, setelah berminggu-minggu tidak pulang ke rumah, nyatanya hanya ingin membahas masalah nilai sekolahnya.


“kau pikir omma tidak tahu jika akhir-akhir ini kau pulang tidak tepat waktu? Kau terlalu banyak bermain Im Yoona. Bagaimana kau bisa lulus tes kedokteran jika cara belajarmu begini”


Mendengar ucapan ibunya itu, emosi Yoona langsung tersulut. Dia langsung menatap ibunya dengan benci. Dia paling tidak suka jika ibunya kembali mengatur-ngatur hidupnya dengan cara obsesi yang berlebihan.


“aku sudah berulang kali katakan aku tidak ingin menjadi dokter”, balas Yoona marah.


“yak… jangan menentang omma. Omma dan appa sudah mempertimbangkan semuanya. Kami memiliki teman di sebuah universitas yang bisa membantumu nanti”


“sudah ku katakan aku tidak mau”


“Yoona… dengarkan omma sekali ini saja”


“sekali ini saja? Omma katakan sekali ini saja? Hah… Selama ini aku selalu diam jika omma dan appa mengatur hidupku dan aku menuruti kemauan kalian. Tapi tidak dengan yang satu ini. Aku akan tetap dengan keputusan awalku”


“profesi itu tidak baik untuk mu”


“tidak baik? Lalu kenapa omma menjalani profesi itu sekarang?”


“sudahlah. Omma tidak punya banyak waktu untuk berdebat. Klien omma sudah menunggu dikantor. Intinya, kembali fokus belajar agar nilai mu bisa memenuhi syarat”


Melihat ibunya sangat menyepelekannya, Yoona tidak bisa menahan kemarahannya.


“SUDAH KU KATAKAN AKU TIDAK MAU. JANGAN PERNAH MENGATUR-ATUR HIDUPKU LAGI. BAHKAN JIKA AKU MEMILIH MENJADI PELACUR ITU ADALAH HAK KU. PERGI DAN URU-”


Plak


Yoona merasakan panas dipipi kirinya. Yoona pun mendongak menatap ibunya yang terlihat juga kaget dengan apa yang dilakukannya tadi. Dia menampar pipi putrinya itu untuk pertama kalinya. Orang-orang disekitar mereka pun tercengang dengan apa yang terjadi, tidak terkecuali dengan Donghae.


“Yoona… omma tidak bermaksud-”, namun belum sempat Nyonya Im mengatakan maksud dan maafnya, Yoona sudah berlari. Wanita itu bahkan sempat melihat putrinya itu menangis.


Tangannya begitu reflex ketika Yoona mengatakan akan menjadi pelacur. Itu terdengar sangat menyakitkan baginya. Karena itu dia menampar Yoona agar putrinya itu sadar dengan perkataannya. Tapi Nyonya Im benar-benar menyesali perbuatannya.


Nyonya Im menatap perginya Yoona yang sudah semakin menjauh. Kemudian mata Nyonya Im bertemu dengan mata Donghae. Pria itu pun langsung menunduk hormat. Ny Im hanya membalasnya dengan senyum tipis. Setelah itu Nyonya Im melihat Donghae yang berlari menyusul Yoona.


Tiba-tiba ponsel Nyonya Im berdering. Wanita itu pun langsung menempelkan ponselnya di telinganya. Panggilan dari sekretarisnya.


“ne… aku akan kembali ke kantor”


Hanya mengatakan itu saja, Nyonya Im kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku blazernya. Dia kembali menatap arah perginya Yoona. Wanita itu terdengar menghembuskan napas berat. Setelah itu dia kembali masuk ke dalam mobilnya.


)))))(((((


Donghae merasa kakinya akan patah sekarang. Dia berniat untuk menyusul Yoona tadi karena khawatir gadis itu akan berbuat yang tidak-tidak karena terlalu emosi. Namun kenyataannya gadis justru pergi ke mall dan asyik berbelanja banyak barang.


Donghae memperhatikan dari jarak jauh, tapi Donghae dapat melihat apa-apa saja yang Yoona beli sedari tadi. Sudah sangat banyak toko yang Yoona masuki dan tentunya ketika keluar dari toko itu semakin bertambah pula bawaan gadis itu. Donghae bahkan khawatir bagaimana Yoona akan membawa semua paper bag ditangannya itu.


Donghae melihat Yoona sedang memasuki sebuah toko kue. Setelah memastikan Yoona benar ada didalam toko itu, Donghae mencari tempat duduk untuk istirahat. Kakinya benar-benar sangat pegal. Sudah berjam-jam berlalu tapi Yoona terlihat tidak kelelahan sedikit pun.


Donghae mengusap-usap perutnya yang bergemuruh minta di isi. Karena fokus mengikuti Yoona, Donghae sampai melupakan rencananya ketika pulang, dia harus segera makan sesampainya dirumah. Tapi karena gadis itu, Donghae sampai melupakannya.


Donghae terlonjak kaget ketika tiba-tiba dihadapannya disuguhkan sekantong paper bag. Donghae mendongak dan menemukan Yoona yang menatapnya datar. Pria itu pun tersenyum canggung. Ternyata Yoona sudah menyadari dirinya sedari tadi diikuti.


Donghae pun menerima pemberian Yoona. Dia menilik isinya yang ternyata cupcake dan juga minuman dingin. Donghae kembali tersenyum pada Yoona. Kali ini lebih tulus.


“gomawo”, ujar Donghae. Yoona tidak membalas. Gadis itu sedang meletakkan semua belanjaannya didepan Donghae.


“itu tidak gratis”


“hah?”


“sebagai gantinya, bawakan belanjaan ku”


Setelah mengatakan maksudnya – lebih tepatnya perintahnya, Yoona langsung pergi begitu saja meninggalkan Donghae yang masih terdiam karena kaget. Dia pun menatap semua belanjaan Yoona, kemudian menggeleng.


Donghae menatap Yoona yang sudah semakin jauh darinya. Dengan cepat dia pun meraih semua belanjaan Yoona, lalu mengejar gadis itu.


“kau lamban sekali seperti siput”, cibir Yoona ketika Donghae kini sudah berada disampingnya. Donghae hanya bisa menghela napas, mencoba bersabar. Bagaimanapun gadis disampingnya itu dalam mood yang buruk, tadi sebaiknya dia tidak banyak bertingkah yang bisa membuat mood gadis itu semakin buruk.


“kau masih ingin belanja?”, tanya Donghae. Ternyata dia tidak bisa menahan kesabarannya. Melihat Yoona akan memasuki toko yang lain, Donghae langsung panik, tidak tahu akan bagaimana membawa belanjaan Yoona lagi jika gadis itu berniat untuk menambahnya lagi.


“wae?”


“ti-tidak. Hanya saja…”


Donghae menggantung perkataannya. Dia hanya mengangkat kedua lengannya dimana sudah penuh dengan belanjaan gadis itu.


Yoona manatap semua belanjaannya pada genggaman Donghae. Dia pun mengerti maksud Donghae.


Tanpa mengatakan apa-apa, Yoona pun kembali melangkah. Menyadari gadis itu menuju lift, Donghae sedikit merasa lega. Gadis itu tidak melanjutkan kegiatannya menghambur-hamburkan uang.


Ketika mereka sudah dilobby, Donghae masih setia disamping Yoona. Walaupun dia terlihat seperti asistem gadis itu, Donghae tidak bisa berkomentar. Disampingnya adalah gadis angkuh dan suka mengatur.


Donghae melirik Yoona yang tanpa seperti berpikir.


“kau belum ingin pulang?”, tanya Donghae akhirnya.


Yoona menoleh, menatap Donghae dengan mata yang tiba-tiba berubah sendu. Donghae pun menjadi salah tingkah.


“bagaimana kalau kita ke suatu tempat?”, ajak Donghae. Dengan cepat tatapan Yoona pun langsung berubah


berbinar-binar dan bersemangat. Gadis itu pun mengangguk cepat.


“sebenarnya kita mau kemana?”


“lihat saja nanti. Kau pasti suka”


Yoona pun tidak bertanya lagi karena busway yang mereka sudah tunggu sudah datang. Mereka pun naik busway itu. Mereka duduk bersisian.


Donghae melirik Yoona sesekali, melihat gadis itu mencoba mencari petunjuk kemana mereka akan pergi.


Yoona menyipitkan matanya ketika melihat papan penunjuk arah. Dia mulai mengerti kemana Donghae akan membawanya.


“Sangsu-dong? Hangang[36]?”, ujar Yoona mulai bertanya-tanya lagi. Donghae hanya melemparkan senyum untuk membenarkan.


“ayo. Kita sudah sampai”, ujar Donghae. Mereka pun turun dari busway itu.


Donghae menuntun jalan menuju sungai Han. Waktu sudah menjelang sore hari, namun suasana di sekitar sungai Han masih ramai. Donghae pun mengajak Yoona duduk ditempat yang teduh.


Yoona tersenyum dengan mata terpejam. Dia menikmati angin yang berhembus, wangi bunga yang segar dan suasana bersih yang langsung membuatnya merasa nyaman dan tenang. Keputusan Donghae untuk membawanya ke tempat itu sangatlah tepat.


Tidak ada yang berbicara diantara mereka hingga beberapa menit. Mereka hanya menikmati suasana disana dan juga orang-orang yang silih berganti lewat dari depan mereka.


“Donghae”


“mmm”


“kenapa kau mengikutiku?”


“ah… itu. Aku sedikit khawatir padamu”


‘sedikit? Sial’, batin Yoona tidak terima jika pria itu hanya sedikit saja mengkhawatirkannya. Tapi setelah itu dia langsung menggeleng dengan pikiran anehnya.


“kau tidak perlu mengkhawatirkanku. Hal seperti itu sudah biasa terjadi”, jelas Yoona.


“jadi hubungan mu selalu seperti itu dengan ibumu?”


“mmm… lebih tepatnya dengan keluargaku”


Donghae pun terdiam sesaat mendengar jawaban Yoona.


“menyedihkan ya”, ucap Yoona dengan sedikit tersenyum. Namun Donghae tahu itu senyum yang dipaksakan.


“kenapa?”


Yoona menatap Donghae setelah pria itu bertanya. Suatu progress yang luar biasa Donghae tertarik dengan kehidupannya. Biasanya pria itu selalu mengabaikan kisah hidupnya.


Mungkin gambaran yang Donghae ketahui dari orang berada dan sangat berkecukupan adalah selalu baik-baik saja. Namun pada kenyataannya tidaklah seperti itu.


“kenapa kau tidak menuruti keinginan orangtua mu?”, tanya Donghae lagi karena Yoona tidak juga menjawab pertanyaannya.


“karena aku tidak suka mereka mengatur ku. Mereka selalu mengatur ku tanpa bertanya apakah aku menyukai piilihan mereka atau tidak. Mereka hanya ingin apa yang mereka suka saja, bukan berdasarkan apa yang ku suka”


“jadi kau benar-benar tidak ingin menjadi dokter?”


“mmm… bahkan tidak tertarik sama sekali”, ucap Yoona dengan nada suara yang sedikit bergetar. Donghae tahu gadis itu sedang menahan tangisnya.


“bukan karena alasan lain?”


Ucapan Donghae itu langsung membuat Yoona menatap Donghae. Donghae tahu jika ada alasan lain dirinya selalu menentang keinginan orangtuanya. Dia cukup kaget ketika Donghae cepat peka dengan situasinya. Biasanya tidak.


“aku ingin melakukan apa yang ku suka dan membuktikan kepada orangtua ku, pilihanku nanti tidak akan mengurangi waktu ku untuk berkumpul dengan keluarga ku kelak”


“apa itu bentuk pembenaran diri atau balas dendam?”, ujar Donghae dengan polosnya. Yoona pun terkekeh karena Donghae mengerti jalan pikirannya.


“ya begitulah”, balas Yoona tidak jelas. Tapi Donghae mengerti jawaban gadis itu. Yoona memilih keduanya.


Yoona ingin membenarkan dirinya bahwa dirinya tidak salah selama ini. Dan juga Yoona ingin balas dendam pada orangtuanya. Seperti orangtunya yang tidak pernah peduli dengannya, maka Yoona pun tidak ingin peduli lagi. Karena itu dia selalu menentang orangtuanya, terkhusus ibunya.


‘apa orangtuanya tidak peduli padanya? Ah tidak mungkin. Mana ada orangtua yang tidak peduli pada anaknya sendiri’, batin Donghae.


“pada kenyataannya memang ada orangtua yang tidak peduli pada anaknya sendiri”, jawab Yoona langsung. Yoona tidak segan-segan menunjukkan kemampuannya itu lagi. Donghae sudah mengetahui semua, jadi tidak perlu ada yang ditutupi lagi.


“mungkin aku adalah salah satu dari ratusan anak yang kurang perhatian dari keluarganya. Karena pekerjaan, mereka mengabaikanku. Mereka hanya memantau dengan bantuan wali kelas ku di sekolah atau dari pelayan dirumah. Namun secara nyata, mereka tidak melihatnya. Karena itu aku sangat membenci mereka. Sejak kecil, aku selalu merasa iri dengan teman-teman sekolahku ketika orangtua mereka menjemput dari sekolah. Sedangkan aku dijemput oleh supir. Jangankan menjemput, makan bersama dirumah pun mereka tidak pernah”, ucap Yoona panjang lebar. Menyadari air matanya sudah jatuh, Yoona langsung menghapusnya cepat. Namun Donghae sudah


terlanjur  melihatnya.


“jangan menatapku seperti itu”


“memangnya aku menatapmu seperti apa?”


“kau kasihan padaku”


“tidak. Aku tidak menatapmu seperti itu. Justru aku kagum”


“kagum?”


“mmm. Aku kagum kau bukan gadis yang lemah dan putus asa. Kau sangat kuat hingga sanggup menghadapi semua itu hingga sekarang”


“me-menurutmu aku seperti itu?”


“mmm”


Yoona tersenyum tipis. Entah mengapa dia merona hanya kerena Donghae menganggapnya sebagai gadis yang kuat.


“Yoona… boleh aku bertanya sesuatu?”


“apa?”


“jika kau tidak ingin menjadi dokter, lalu apa yang ingin kau lakukan untuk membuktikan kepada orangtuamu jika kau lebih baik dari mereka?”


Mendengar pertanyaan panjang itu, Yoona penatap lurus sejenak. Angin yang berhembus dari depan mengenai wajahnya, membuat Yoona merasa sejuk. Setelah itu dia menatap Donghae.


Yoona menyipitkan matanya, seperti orang yang mencurigai. Melihat ekspresi Yoona, Donghae langsung mengerutkan keningnya.


“sebenarnya aku tidak ingin memberitahu ini. Karena kau adalah sainganku dikelas. Tapi karena kau sudah mengetahui semua keburukan dan kelemahanku, baiklah. Sebenarnya aku ingin menjadi pengacara”, jujur Yoona.


“hah? Pengacara? Seperti orangtuamu?”


“ya. Kenapa? Aku tidak cocok?”


‘Tentu saja cocok. Banyak bicara, mampu mengintimidasi lawan bicaranya dan tidak mudah dikalahkan’, batin Donghae.


“aku tahu apa yang kau pikirkan Donghae”, ujar Yoona memperingatkan. Donghae pun langsung menipiskan bibirnya. Dia sempat melupakan kemampuan gadis disampingnya itu.


“aku ingin membuktikan kepada mereka, aku akan menjadi pengacara yang tidak melupakan tanggungjawab dan selalu memiliki waktu dengan keluarga”, ucap Yoona.


Donghae menatap Yoona sesaat. Tapi kemudian menatap lurus ke depan.


“sebenarnya orangtua ku juga seperti itu. Mereka menginginkan aku menjadi orang yang jauh lebih baik dari mereka. Aku mengerti, semua orangtua menginginkan anaknya menjadi orang yang lebih sukses dari mereka. Tapi mungkin cara penyampaian orangtua kita yang berbeda”


“orangtua ku selalu menceritakan kehidupan sulit yang mereka jalani selama mereka menjalankan bisnis keluarga. Jadi mereka tidak ingin aku merasakan hal yang sama. Sedangkan orangtua mu mungkin lebih terkesan memaksa. Tapi ketahuilah, cara kita sebagai anak ketika menolaknya juga perlu dipertimbangkan. Aku selalu mengatakan kepada orangtua ku, aku akan belajar dengan giat, hingga kelak aku bisa membantu mereka dan membuat mereka bangga. Setelah itu mereka tidak pernah memaksa lagi”


Yoona mendengar semua perkataan Donghae. Dilubuk hatinya yang terdalam dia juga ingin melakukan seperti apa yang Donghae lakukan. Tapi dia tidak yakin bisa melakukannya. Setiap orangtuanya sudah memaksa, emosinya mudah tersulut, sehingga yang terjadi adalah perang mulut antara dirinya dan ibunya. Seperti tadi.


Setelah itu kembali hening diantara mereka. Walaupun tidak ada tanggapan dari Yoona tentang perkataannya, dia tahu gadis itu sedang memikirkan perkataannya itu.


“sejak kapan kau tahu?”


“apa?”


“tentang aku yang bisa mengetahui apa yang sedang kau pikirkan”


“ah… itu. Awalnya seseorang mengatakannya padaku. Namun aku tidak langsung percaya. Tapi setelah berulang kali kau seperti menjawab apa yang sedang ku pikirkan, membuatku mulai mempercayainya”, jelas Donghae.


“seseorang? Siapa?”, tanya Yoona dengan kening mengerut. Seingatnya hanya ada 3 orang yang mengetahui kemampuannya itu dan itu adalah sahabatnya. Dia tidak akan langsung percaya jika Donghae akan menyebut salah satu dari mereka.


Yoona sudah berteman dengan mereka sejak kecil. Dia tahu ketiga sahabatnya itu tidak akan pernah menghianatinya. Lalu siapa sebenarnya yang memberitahu Donghae jika bukan ketiganya?


Melihat reaksi Yoona, Donghae menjadi ragu untuk memberitahu nama orangnya. Bagaimanapun jika dia mengatakannya, akan ada orang terluka karena sebuah penghianatan secara tidak langsung.


“maaf… sepertinya aku tidak bisa memberitahu mu. Aku akan membiarkan dirinya sendiri yang langsung mengakuinya padamu”, jawab Donghae. Pria itu bisa melihat wajah tidak puas dari Yoona. Tapi mau bagaimana lagi. Itu sudah keputusannya.


“baiklah jika memang kau tidak mau memberitahu. Tapi perlu ku beritahu jika aku memiliki sifat yang mudah penasaran”, peringat Yoona. Donghae tersenyum dan menganguk. Tentu dia juga tahu sifat Yoona yang satu itu.


)))))(((((


Setelah merasa jauh lebih baik, Yoona pun memutuskan untuk pulang. Donghae sudah memanggilkan taksi untuk mengantarkan Yoona pulang.


“kau yakin bisa pulang sendiri?”, tanya Donghae untuk yang kesekian kalinya. Yoona bahkan sampai mendengus kesal. Menyadari itu Donghae tersenyum kikuk.


“aku bukan anak kecil Lee Donghae”


“tapi di rumah mu…”


“mereka tidak akan ada di rumah. Kau tenang saja. Tidak akan ada pertengkaran lagi untuk hari ini”, ujar Yoona cepat, mengerti apa yang sedang Donghae khawatirkan. Pria itu pun mengangguk.


Donghae mempersilahkan Yoona untuk masuk ke dalam taksi itu beserta barang belanjaannya yang banyak.


Ketika merasa sudah tidak ada yang tertinggal lagi, Donghae pikir taksi itu akan segera melaju. Namun nyatanya Yoona masih menurunkan kaca jendela mobil itu.


“gomawo untuk hari ini”


Setelah mengatakan itu, Yoona langsung meminta supir taksi itu untuk segera menjalankan taksinya. Sambil memandang perginya taksi itu, Donghae tersenyum lebar.


Donghae merasa ini kali pertama Yoona berterima kasih dengan tulus padanya. Donghae akhirnya mengerti mengapa Yoona yang terkesan angkuh, dan sulit didekati selama ini itu adalah karakter yang tanpa disadari dibentuk oleh orangtua gadis itu. Pada kenyataannya Yoona hanya gadis yang kesepian, seperti yang Yuri katakan sebelumnya.


“kenapa kau tidak memberitahu Yoona tentang identitas asliku?”


Pertanyaan tiba-tiba itu langsung membuat Donghae berbalik. Dia kaget witch itu tiba-tiba berdiri dibelakangnya.


)))))(((((


[36] Han River (sungai Han)


bersambung...