
Asher membawa Dita ke ruangan direktur rumah sakit itu di mana pak tua dan nenek tua sedang bertaruh siapa yang akan menang dalam pertempuran kali ini.
" Aku akan menang, kau siap siap saja menyerahkan semuanya padaku pak tua!!" seru nyonya Kiara sambil menggerakkan benteng di papan catur ya.
" Hah...menang!? kau sedang bermimpi!? aku atlet nasional bidang catur, kau mana bisa mengalahkan ku yang sudah ahli ini!!" balas tuan Luther.
Keduanya sedang asik bertarung di atas papan catur, mempertaruhkan sepotong black forest terakhir dari toko kue kesukaan mereka.
Seolah hidup mereka tak ada beban sama sekali, sangat santai, hanya bercatur dan saling mengejek satu sama lain.
Sampai tak sadar kalau Asher sudah masuk ke dalam ruangan itu bersama Regard dan Dita.
" A.. Asher kenapa kita ke sini!?" bisik Dita sambil menatap si Bapak tua yang asik main catur tanpa tahu anak perempuan nya ada di sana.
" Bapak!? Bapak itu sama siapa!? " Dita terkejut melihat Bapaknya begitu akrab dengan seorang perempuan. Ini pemandangan langka di matanya.
" Baaaaa...Paaakk!!!" teriak Dita dengan suara melengking.
" Sshhh dit, suaramu, Regard terkejut bodoh!!' kesal Asher sambil menyentil kening gadis itu.
" Aduhh maaf maaf, maafin Mama sayang, salah Bapak kamu itu!" celetuk Dita menuduh Asher sambil mengecup pipi putranya.
" Loh anak onta kenapa kau ke sini, sudah selesai masalah kau!? kenapa baru ingat bapak sekarang hah!?" tuan Luther dan nyonya Kiara mengehentikan permainan mereka.
Melihat ada kesempatan, nyonya Kiara dengan jahilnya mengambil sisa potongan kue itu.
" Aku dapat duluan, wlek!!' ucap nyonya Kiara langsung memakan semuanya.
" Kiara!! itu punyaku!!!' kesal tuan Luther.
.
" Hahah... siapa cepat dia dapat, dasar akik akik bau tanah!!" ucap nyonya Kiara sambil mengunyah kue itu depan tuan Luther.
" Kiara, arrkhh kau curang, dasar nenek lampir menyebalkan!!!" kesal tuan Luther.
" Ekhmm!!" Asher berdecak, sontak keduanya tersenyum.kikuk lalu menatap anak mereka masing-masing.
" Mom? sejak kapan jadi seperti anak anak?" ucap Asher sambil menatap perempuan yang sangat dia sayangi.
" Mom?? Ibu kamu!? Tante.. Kiara!?" mata Dita membulat. Ini pertama kalinya dia melihat nyonya Kiara secara langsung!
"Namboru(Bibi/Tante) Kiara!?" Dita terkejut. Dia tidak berpikir kalau perempuan yang terlihat muda itu adalah Ibu dari pria menyebalkan di depannya.
" Halo menantuku sayang, kita bertemu lagi!!" Nyonya Kiara langsung menghampiri Dita dan memeluk gadis itu dengan erat.
" Aarrkhh akhirnya aku melihatmu dengan jelas, gadis cantik ini sudah sangat besar sekarang " ucap nyonya Kiara dengan wajah berseri melihat Dita ada di sana.
Dita tersenyum dan membalas pelukan wanita cantik itu.
" Wahh... Kupikir siapa tadi. ternyata Namboru, lama tidak berjumpa, aku sampai tak kenal!" ucap Dita sambil menatap wanita itu.
" Haihh... anakku, kau benar benar membuatku merindukanmu, " ucap Nyonya Kiara sambil menatap Dita dengan tatapan belas kasihan.
Sedih sekali hatinya setiap mengingat bagaimana kehidupan Dita dan Johan yang sangat keras di masa kecil mereka.
" ada apa kalian ke sini!?" tanya Tuan Luther sambil bersedekap dada menatap keduanya dan bayi mungil di pangkuan Asher.
" Berhubung Mama dan Om ada di sini, " Asher melepaskan gendongan Regard.
" Kami minta tolong jaga Regard untuk beberapa jam, ada yang harus kami bicarakan terkait Aruna!" jelas Asher.
" Menjaga bayi? bayi tampan ini!?" tanya Nyonya Kiara.
" Cucunya Mama dan nggak lama lagi resmi jadi cucunya Om, karena kami akan menikah, ada yang harus kami lakukan, ini juga.." Asher berhenti bicara saat tuan Luther langsung mengambil si kecil Regard dari pangkuannya.
Hap!!
"Sudah sana pergi!" usir tuan Luther.
" Bapak!? Bapak mengusir kami!?" tanya Dita dengan mata bulatnya yang besar.
" Ho oh... sana kalian pergi. selesaikan semua masalah itu, biar cucuku yang ganteng ini sama kakek dan neneknya malam ini. Kalian mau berhari hari juga tak apa!!!" ucap Tuan Luther yang langsung membawa si kecil Regard berkeliling ruangannya.
" Iya benar sana kalian pergi. nggak butuh sekarang, kami butuhnya Dedek ganteng, hahahaha adududududhhh cucunya nenek, ganteng sekali kamu sayang!!!" Nyonya Kiara langsung bergabung dengan tuan Luther, bermain bersama bocah kecil itu.
" Bababababba.... bababababba..."
" Ahahhaha... bilang Oppung dong cucuku!!" celetuk mereka berdua sambil bermain seperti anak kecil.
" Pak... Ba.. Bapak, anakmu mau pergi loh!!" panggil Dita.
Tapi keduanya tak diacuhkan sama sekali. Kedua orangtua itu hanya asik bermain dengan bayi kecil mungil yang akan segera genap satu tahun itu.
"Dasar orangtua!" gumam Asher.
pria itu menarik tangan Dita dan membawa gadis itu pergi dari sana setelah menitipkan Regard ke tempat paling aman dan paling tidak terjangkau semua orang jahat yang ingin mengusik mereka.
" Kita mau ke mana, ini sudah malam!" tanya Dita.
Asher hanya diam, dia membawa gadis itu ke dalam mobilnya.
Mereka pergi dari lingkungan rumah sakit itu dengan menggunakan mobil Asher .
Sepanjang perjalanan tak ada yang bicara, tampaknya mobil itu melaju menuju rumah Asher, kediaman utama di mana Asher dan keluarganya tinggal sejak lama.
" Ini di mana!?" tanya Dita saat melihat rumah besar nan mewah yang selama ini ditinggali Asher dan Ibunya juga bersama Samuel.
" Rumah," ucap pria itu.
Dia membawa Dita masuk, berjalan terus sambil menggenggam tangan gadis itu.
" Selamat malam tuan, nona," Sambut para pelayan yang ada di rumah itu.
" Di mana Sam!?" tanya Asher.
" Tuan Samuel tidak pulang ke rumah tuan," jawab kepala pelayan Kim.
" Jika ada kabar, segera beritahu aku Kim!" ucap Asher.
" Baik tuan!" balas pria itu dengan hormat.
Mereka berdua masuk lebih jauh ke dalam rumah besar itu. Dita menatap tempat itu, sangat tidak berwarna, suram dan menyedihkan. Tak ada cahaya, hanya sebagian besar barang ditutupi dengan rapi agar tak terkena debu.
Asher membawa Dita ke ruangan kerjanya.
Ruangan kerja di mana dia merencanakan seluruh aksi balas dendam nya .
" Apa yang mau kau lakukan?" tanya Dita.
Asher mengunci pintu, dia membawa Dita duduk di ruangan itu.
" Aku ingin membuat kesepakatan denganmu!" tukas Asher.
" Kesepakatan!? Untuk apa? Masalahku sudah terlalu rumit, sekarang kau datang menawarkan kesepakatan, memangnya kau pikir semua masalhku bisa selesai hanya dengan cara..." Dita berhenti bicara saat Asher menaruh jarinya d bibir Dita.
" Kau bisa diam tidak!? menyebalkan sekali! aku serius! aku sedang tidak ada tenaga untuk berdebat hari ini Dita!!" kesal Asher.
" Kau masih demam!" ucap Dita terkejut.
"Diamlah, aku sedang sakit, tapi ini sangat penting!" ucap Asher.
" Aku ingin menawarkan kerjasama!" ucap Asher.
" Kerja sama apa? apa yang kau inginkan!?" tanya Dita.
" Mari kita menikah, bantu aku maka aku akan membantumu!!" ucap Asher dengan serius.
" Membantumu? apa yang kau inginkan dariku!?" tanya Dita.
" Aku akan membantuku membalaskan dendammu pada Benny, Caca atau siapapun itu asalkan kau mau membantuku membalas dendam, aku punya kekuatan untuk menjatuhkan Benny dan Caca, tapi aku butuh bantuanmu untuk menghancurkan seseorang!" ucap Asher.
"Lalu bantuan seperti apa yang kau inginkan!? apakah masih tentang pernikahan itu!? bukannya aku sudah setuju?" tanya Dita.
"Ke depannya akan sangat sulit Dita, pernikahan antara kita akan menjadi penentu kemunculan pembunuh ayahku!!" ucap Asher.
" Pe.. Pembunuh!? A.. ayahmu?? Om... Roth!??" Dita terkejut bukan main.
Asher mengangguk,' Iya, Papa meninggal karena dibunuh!"
.
.
.
.
Like, vote dan komen 🤗