
Setelah runtutan kesialannya dari siang hingga sore hari, Yoona sudah menetapkan jika hari ini adalah hari paling sial baginya. Dimulai dengan jadwal kerjanya yang tiba-tiba padat, lalu jadwal persidangan yang ditunda hingga 1 jam, berkas-berkas dimejanya yang menumpuk, hingga penyesalannya ketika memutuskan untuk tidak datang reuni alumni SMA yang dilaksanakan untuk ketiga kalinya.
Namun dari semua kesialannya itu, yang paling disesalinya adalah gagal bertemu dengan Donghae. Dia menyesal karena tidak mencek ponselnya lebih cepat, sehingga dia tahu Donghae juga datang diacara reuni itu. Tapi sayangnya semua sudah terlambat.
Begitulah pikiran Yoona pada awalnya. Hingga keputusannya untuk mendatangi tempat favorite-nya ketika SMA dulu, membuatnya kembali merasakan perasaan 7 tahun yang lalu. Berdebar-debar.
Tentunya hal itu terjadi karena kehadiran seorang pria diatap gedung laboratorium itu. Pria yang sudah ditunggunya hingga 7 tahun lamanya. Pria yang teman-temannya katakan sudah pulang. Namun tidak terduga jika pria itu berada tidak jauh darinya sekarang.
Yoona sebenarnya takut, jika yang dilihatnya saat ini tidaklah nyata. Setelah ini dia akan terbangun sedang berada di ruangan kantornya, dan semua adalah mimpi.
“Do-Donghae”, ucap Yoona terbata. Tidak ada tanggapan dari pria itu. Hingga beberapa detik kemudian pria itu berbalik, menghadapnya.
Yoona terdiam kaku, hingga berlahan dia merasakan dia melihat pria itu tersenyum padanya dan tatapan teduhnya. Yoona bisa merasakan pijakannya melemah. Yoona yakin setelah ini dia akan jatuh. Tapi Yoona berpegangan erat pada pintu atap itu. Dia harus memastikan Donghae benar-benar berada didepannya sekarang.
“kau lama sekali. Aku hampir mati kedinginan disini”, ucap pria itu sambil mengusap-usap lengannya.
“ka-kau benar-benar Donghae?”, ujar Yoona masih tidak percaya.
“tentu saja. Memangnya kau berpikir aku siapa Im Yoona?”
Mendengar pria itu menyebut namanya dengan lengkap, barulah Yoona merasa lega. Karena terlalu lega, Yoona tidak bisa menopang tubuhnya lagi. Dia langsung terduduk dilantai atap gedung itu.
“Yoona… kau baik-baik saja?”
Bukannya menjawab, Yoona justru tersenyum kecil. Dia sangat merindukan perhatian pria itu. Donghaenya yang selalu mengkhawatirkannya.
“kau baik-baik saja?”, ucap Donghae yang kini sudah berada disamping Yoona.
“ya. Aku baik-baik saja”, balas Yoona sambil memijat-mijat kakinya agar energinya kembali.
Donghae menatap pergelangan kaki dan jari-jari Yoona yang memerah.
“ada apa dengan kakimu?”
“ah ini, aku tadi berlari dan tidak menyadari aku menggunakan sepatu heels”
“bodoh. Untuk apa kau menggunakan sepatu seperti itu”, omel Donghae. Yoona pun merasa tidak terima. Memangnya siapa yang menyebabkan dirinya seperti orang gila tadi.
“ini semua kan karena mu. Kenapa kau datang ke reuni tanpa memberitahuku. Bahkan aku sampai meninggalkan pekerjaan ku dan berlari kesini, berharap bisa bertemu denganmu. Tapi sialnya aku justru tidak menemukan mu di aula”, Yoona pun meluapkan semua kekesalannya. Dia bahkan tidak sadar jika sudah mengatakannya diluar batas.
Donghae mengerjap-ngerjapkan matanya. Kaget dengan perkataan Yoona. Dia pun sadar ada yang salah.
“aku… sudah mencoba menghubungi mu tadi. Tapi nomor ponselmu tidak aktif”, jawab Donghae. Yoona mengerutkan keningnya. Dia tidak merasa Donghae menghubunginya. Tapi Yoona teringat dengan nomor tidak dikenal yang diabaikannya begitu saja.
‘sial’, maki Yoona pada dirinya sendiri karena terlalu bodoh. Seandainya tadi dia berniat menghubungi balik nomor tidak dikenal itu, pasti Yoona tidak akan terlihat seperti orang gila dan menjadi bahan tertawaan Sehun.
“yak… apa yang kau lakukan?”, panik Yoona ketika Donghae tiba-tiba membopong tubuhnya. Namun Donghae tidak menjawab.
Yoona bisa merasakan debaran jantungnya semakin menggila. Hal itu terjadi karena dia mencium wangi tubuh Donghae. Wangi yang selalu membuatnya gagal fokus dulu dan sepertinya hingga sekarang.
Donghae mendudukkan Yoona di atas kursi yang sepertinya tidak digunakan, sehingga disimpan diatap gedung. Kemudian Donghae berlutut dan meraih kaku Yoona.
Yoona bisa merasakan sengatan dari sentuhan kulit kakinya dengan kulit tangan Donghae yang dingin. Benar saja pria itu memang kedinginan.
Yoona bisa melihat Donghae yang dengan serius memeriksa kakinya. Hal itu membuat Yoona tidak bisa menyembunyikan senyumnya. Tanpa disadarinya tangannya sudah berada diatas kepala Donghae yang sedang menunduk masih memeriksa kakinya.
“ekhm”
Mendengar deheman itu, Yoona pun tersadar dengan apa yang dilakukannya. Dia bahkan kaget tangannya sedang mengusap-usap kepala Donghae.
‘ya Tuhan, apa yang sudah ku lakukan?’, panik Yoona.
“mmm… tadi dirambut mu ada debu”, ujar Yoona asal. Tapi setelah itu dia kembali merutuki dirinya. Alasannya sangat tidak masuk akal. Donghae pastinya tidak akan percaya.
“dan… tanganmu juga sangat dingin”, ujar Yoona lagi. Dia berusaha mengalihkan perhatian agar Donghae tidak menatapnya. Namun nyatanya pria itu masih tetap menatapnya.
“memangnya siapa yang membuatku menunggu sangat lama disini hingga kedinginan”, balas Donghae. Yoona pun sadar pria itu sedang membalikkan kata-katanya tadi pada pria itu. Yoona pun merasa bersalah, tidak lebih cepat datang keatap gedung.
“mianhae. Aku kan tidak tahu kau ada disini”, jawab Yoona. Donghae hanya mengangguk saja.
“sebagai permintaan maaf, aku akan memberikan pelukan hangat agar kau tidak kedinginan lagi”, ucap Yoona sambil merentangkan tangannya.
Donghae tidak langsung menerima begitu saja apa yang Yoona katakan. Pria itu justru mengerutkan keningnya. Melihat Donghae diam saja, Yoona langsung berinisiatif untuk memeluk duluan, Namun yang terjadi, Donghae menjauhkan badannya.
Yoona pun menatap pria itu kesal.
“kenapa?”, tanya Yoona dengan nada sedikit kesal.
“kau tidak sedang mencuri kesempatan kan?”, curiga Donghae. Yoona terhenyak, maksud dan tujuan terselubungnya ternyata ketahuan. Tapi seorang Yoona tidaklah dengan mudah akan mengakui semua itu.
“te-tentu saja tidak. Aku hanya kasihan saja pada mu”
“sungguh? Biasanya kau suka mencuri kesempatan dalam kesempitan”
“a-apa? Tidak. Apa yang kau katakan?”, balas Yoona pura-pura kesal agar dirinya tidak ketahuan.
‘tapi tunggu dulu. Sebenarnya kami ini sedang apa?’, jerit Yoona dalam hati, menyadari kekonyolan mereka.
Ketika mata Yoona bertemu dengan mata Donghae, tiba-tiba saja mereka tertawa. Donghae pun memikirkan hal yang sama dengan Yoona. Mereka terlihat konyol.
Yoona masih dengan tawanya ketika tiba-tiba bahunya ditarik ke depan oleh Donghae, pria itu memeluknya. Wanita itu sesaat seperti tidak bernapas, hingga beberapa detik dia mulai kembali bisa bernapas dengan benar.
Yoona sangat senang sekarang. Rasa rindunya pun tersampaikan. Dia pun tidak segan-segan lagi untuk balas memeluk Donghae. Erat-erat agar pria itu tidak pergi lagi darinya.
“kau sangat merindukan ku ya?”, goda Yoona. Dia tidak sadar dirinyalah yang lebih merindukan pria itu.
“sepertinya begitu”, balas Donghae, membuat Yoona semakin mengeratkan pelukannya. Kali ini dia bisa dengan puas mencium wangi tubuh Donghae. Wangi favorite-nya.
“oh ya, bagaimana bisa kau ada disini. Padahal beberapa hari yang lalu ibu mu memberitahuku kau masih berada di Amerika dan kontrakmu sudah mau selesai disana”, ujar Yoona berlahan dilepasnya pelukannya. Donghae pun melakukan hal yang sama.
“hehehe… sebenarnya saat aku menelepon omma, kontrak ku sudah selesai dan bahkan sedang dalam perjalanan ke bandara”, jelas Donghae. Pria itu masih setia berlutut didepan Yoona.
“kenapa kau harus berbohong?”
“aku hanya ingin memberi kejutan”
“ya kau berhasil, selamat. Kau membuat ku seperti orang gila”, omel Yoona. Donghae pun langsung terkekeh.
“maksudku, aku… aku hanya sedikit khawatir apa kau bisa beradaptasi disana. Tapi kau tidak pernah memberi kabar padaku”, jelas Yoona.
“aku tidak memiliki kontak ponsel mu”
“tapi kau mengetahu surel email ku”, balas Yoona cepat. Dan dia bisa melihat wajah terhenyak Donghae. Melihat itu Yoona pun mengerti. Pria itu melupakan jika dirinya mengetahui email Yoona.
“maaf. Aku benar-benar tidak berpikir sampai kesana. Karena disana pun aku terlalu fokus dengan kuliah dan magang diperusahaan”, jelas Donghae dengan nada menyesal.
“jadi disana kau hanya sibuk belajar dan bekerja magang?”, tanya Yoona, dia memikirkan sesuatu sekarang.
“ya”
“kau tidak berpacaran dengan wanita disana?”
“tidak. Seseorang melarang ku berpacaran dengan wanita disana”
“siapa yang melarangmu?”
Donghae menatap Yoona. Donghae sedang berpikir apa Yoona sedang mengujinya atau memang tidak mengingat katanya sendiri 7 tahun yang lalu. Tapi melihat wajah kaget wanita itu Donghae artikan memang wanita itu lupa.
“seseorang yang berjanji akan mengembalikan saputanganku”, balas Donghae.
“saputangan?”, Yoona tampak berpikir. Hingga akhirnya Donghae bisa melihat pipi wanita itu yang merona. Yoona sudah mengingatnya.
“siapa?”, Yoona mencoba memancing Donghae agar mau menyebutkan namanya.
“seseorang yang sangat menyukai ku, yang beberapa kali mencuri kesempatan dalam kesempitan. Dia bahkan mencuri ciumanku hingga dua kali. Dan itu di bibir”, Donghae memaparkan semua kelakuan Yoona selama ini.
Yoona yang mendengar perkataan Donghae, tidak bisa menutupi rasa malunya dan juga rasa kesalnya lagi. Ternyata Donghae sudah mengetahui dirinya sangat menyukai pria itu sejak dulu.
“kau sangat jahat”, seru Yoona membuat Donghae kaget karena perubahan mood Yoona yang begitu tiba-tiba. Wanita itu terlihat marah.
“kau sudah tahu perasaan ku pada mu sejak dulu, tapi kau bereaksi biasa saja selama ini. Kau benar-benar keterlaluan Lee Donghae”, ucap Yoona, dengan kuat Yoona mendorong pria itu menjauh darinya, kemudian Yoona melangkah cepat menuju pintu.
Yoona tidak mau mendengar alasan Donghae. Dia meraih sepatunya yang berada didekat pintu, memakainya dengan cepat, lalu segera pergi. Dia benar-benar sangat marah. Donghae ternyata mempermainkannya selama ini. Pria itu sangat jahat.
Yoona ingat dirinya bahkan tidak memiliki harga diri lagi didepan pria itu ketika 2 kali mencuri cium di bibir pria itu. Yoona bahkan beberapa kali terang-terangan menunjukkan perasaannya, namun Donghae selalu bersikap biasa saja seperti tidak tahu apapun. Pria itu ternyata pembohong.
“aku mencintai mu Im Yoona”
Ucapan tiba-tiba itu menghentikan langkah Yoona yang sedang menuruni tangga. Dia terdiam kaku namun dadanya berdesir hangat.
“aku tidak sekedar menyukaimu. Tapi aku mencintaimu”, ucap Donghae yang berdiri tidak jauh dari Yoona. Sedangkan Yoona berbalik untuk menatap Donghae, tapi karena tidak hati-hati melangkah Yoona hampir saja terjatuh.
Donghae menangkap tubuh Yoona yang oleng itu. Untungnya berhasil dengan Donghae yang meraih pinggang wanita itu, berputar hingga punggungnya kini bersandar pada dinding tangga.
Keduanya saling tatap dengan tubuh yang menempel tanpa jarak. Telapak tangan Yoona yang berada di dada Donghae, bisa merasakan debaran jantung pria itu. Sama sepertinya.
Tapi seolah teringat sesuatu, Yoona berujar.
“kau masih ingat kejadian itu?”, tanya Yoona. Dia teringat masa-masa SMA-nya. Donghae pun tampak berpikir sejenak.
“tentu. Kau mengatakan aku bau saat itu”
Ya Donghae mengingat perbuatan baiknya yang menolong wanita itu, justru berbuah pahit dengan lontaran hinaan dari mulut tajam Yoona.
“hehehe… sebenarnya saat itu pertama kalinya aku menyukai mu”, ujar Yoona jujur sambil tertawa malu. Moodnya sudah kembali baik. Donghae terdiam. Dia tidak menyangka saat itu Yoona sudah menyukainya.
“saranghae Im Yoona”, kata Donghae tiba-tiba.
“nado saranghae”, balas Yoona dengan menahan senyum. Kemudian senyum Yoona berlahan hilang ketika Donghae menatapnya dengan serius.
Berlahan Donghae mendekatkan bibirnya pada Yoona hingga bibir itu akhirnya menempel. Tidak ada ciuman yang tergesa-gesa ala orang dewasa. Keduanya seperti berciuman ala anak baru pubertas. Menempel dengan lembut.
Bagaimanapun itu adalah ciuman pertama mereka atas dasar sama-sama menginginkannya. Bukan seperti dua ciuman 7 tahun yang lalu.
)))))(((((
“oh iya aku teringat sesuatu”, ujar Donghae. Kini dirinya dan Yoona duduk di anak tangga dengan lengan Donghae yang merangkul bahu Yoona. Sedangkan Yoona menyandarkan kepalanya didada bidang Donghae, bermanja-manja disana.
“apa?”
“aku sedang merencanakan beberapa ide untuk mengembangkan kedai keluarga ku. Dan aku membutuhkan seseorang yang ahli tentang hukum untuk mengurus hak paten produk yang akan dibuat”, jelas Donghae sambil menatap Yoona.
“bagaimana ya, sebenarnya aku sedang sangat sibuk akhir-akhir ini”, balas Yoona tampak berpikir, tapi dia sambil menahan senyum.
“aku akan memberi imbalan yang besar”, tawar Donghae, tidak ingin menyerah.
“oh ya? Jadi apa imbalan yang ku dapat jika aku bisa membantu mu?”
“aku akan menjadi orang yang akan selalu bersama mu… selamanya”, ucap Donghae dengan nada pasti. Yoona terdiam. Dia tahu kata-kata itu. Itu adalah doanya yang pernah dikabulkan dengan kehadiran tiga penyihir yang selalu setia padanya dan menjadi sahabatnya hingga sekarang.
Yoona bisa merasakan dadanya menghangat. Emosional yang memuncah ketika Donghae menawarkan dirinya menjadi orang yang akan selalu bersamanya. Bahkan pria itu mengatakan selamanya. Kebahagiaan Yoona lengkaplah sudah.
Tanpa ragu-ragu, Yoona langsung menarik wajah Donghae dan mencium pria itu dalam. Berbeda dari ciuman sebelumnya. Kali ini ciuman mereka berlangsung lebih lembut. Bahkan Yoona sudah melumat bibir Donghae bergantian dan tentunya hal itu disambut baik oleh Donghae. Kini bahkan Donghae sudah lebih mendominasi ciuman itu.
Setelah merasa mereka membutuhkan pasokan oksigen, bibir mereka pun lepas. Keduanya terlihat terengah-engah. Yoona kembali meletakkan kepalanya didada Donghae.
“apa yang kau lakukan setelah ini?”, tanya Donghae. Yoona tersenyum kecil ketika berpikir Donghae akan mengajaknya berkencan. Yoona pun ingin sedikit menggoda pria itu.
‘oh ya Tuhan, akhirnya kencan pertamaku terjadi juga’, batin Yoona kesenangan.
“kau ingin mengajak ku berkencan?”
“tidak”
“apa?”
“tadinya jika kau tidak sibuk, aku ingin mengantarmu pulang”
“pu-pulang?”
Yoona seperti merasakan kepalanya dipukul benda keras. Bisa-bisanya Donghae lebih memilih pulang dari pada kencan. Mereka bukan remaja lagi yang harus pulang tepat waktu ke rumah. Mereka sudah dewasa dan bisa menjaga diri.
“mmm”, Donghae mengangguk dengan pertanyaan Yoona. Ingin rasanya Yoona menjambak rambut pria itu karena sangat kesal.
“Yak… kita baru saja berciuman… bagaimana bisa kau berpikir untuk mengantar ku pulang dibandingkan mengajak ku berkencan?”, kesal Yoona.
“tapi aku ingin bertemu dengan orangtuamu”
“hah? Untuk apa kau bertemu dengan orangtua ku?”, tanya Yoona tidak habis pikir. Bagaimana bisa Donghae lebih tertarik bertemu dengan orangtuanya dibandingkan berlama-lama dengannya?
“aku harus meminta izin mereka”
“hah? Untuk apa”
“untuk menikahi mu”
“hah? Kau sudah gila ya? Bagaimana bisa kau berpikir ingin menikahi ku sedangkan kita baru saja bertemu kembali, bahkan belum berpacaran?”
“untuk apa berpacaran. Kita sudah saling mengenal. Jadi lebih baik langsung menikah saja”
“tapi…”, Yoona kesulitan untuk berkata.
“kau tidak ingin menikah dengan ku?”
“hah? Bu-bukan seperti itu, aku… aku hanya…”, Yoona terlihat kebingungan harus menjawab apa.
Disatu sisi Yoona merasa masih begitu muda untuk menikah. Usia mereka masih 25 tahun. Mereka sama-sama masih baru memulai karir masing-masing. Seperti yang Donghae katakan, mereka sudah saling mengenal, memiliki perasaan yang sama. Tapi Yoona belum bisa.
Tapi sisi lain, membayangkan menikah dan hidup bersama dengan pria yang sudah dicintainya bertahun-tahun juga tidak bisa ditolaknya. Hal itu pasti sangat bahagia. Bisa memiliki Donghae seorang diri tanpa khawatir direbut wanita lain, Yoona merasa senang.
Cup
“sudahlah. Ayo kita bertemu saja dengan orangtuamu”, setelah memberi kecupan singkat dibibir Yoona, Donghae langsung menarik tangan wanitanya itu menuruni tangga.
“kau benar-benar gila Lee Donghae”, seru Yoona walaupun kini dia sudah berjalan, bergandengan dengan pria itu.
“ya… kita sama-sama sudah gila Im Yoona”, balas Donghae. Keduanya pun langsung tertawa dengan kekonyolan mereka. Walaupun begitu mereka bahagia, akhirnya mereka bisa kembali bersama-sama.
Namun satu hal yang tidak mereka ketahui, ada tiga mahkluk yang mengintip mereka sedari tadi. Ketiganya sedang menahan tawa ketika melihat kebahagiaan Yoona dan Donghae. Mereka ikut bahagia – penyihir-penyihir itu.
The End
Yeah... ending 😂
Gimana menurut kalian dengan ending cerita ini?
Apa kalian puas atau masih kurang?
Mau season 2?
Ayo tulis komentar kalian kalau mau season 2
Jangan lupa like dan komentarnya ya 😊