
Seperti yang telah direncanakan, Dita dan keluarganya tiba di kediaman tuan Smith.
Mereka disambut dengan penuh sukacita oleh tuan dan nyonya Smith yang sudah menunggu kedatangan mereka.
" Halo Om, Tante!! senang bertemu dengan kalian, aku Regard Roth!!" seru Regard memberi salam pada tuan Smith dan istrinya dengan senyuman sumringah di wajahnya.
Tuan Smith dan Lyra saling menatap sejenak dengan wajah speechless saat mendengar suara Regard yang begitu ceria.
" Wah ahhahahah..... Anak tampan yang ceria, senang bertemu denganmu nak!!" balas tuan Smith seraya menepuk pucuk kepala Regard dengan lembut.
Regard tersenyum dengan gummy smilenya yang membuat hati siapapun meleleh .
" Anak kalian benar benar berbeda dengan apa yang kubayangkan!' ucap Tuan Smith takjub.
" Jangan terlalu memuji tuan, telinganya bisa naik setinggi langit nanti!" ucap Asher sambil menggoda putranya.
" Papa, Regard nggak begitu, Papa kali yang naik telinganya sampai ke langit ke tujuh hahahaha...." balas Regard sambil tertawa.
" Hahahah.... iya deh iya, Papa salah," balas Asher sambil menepuk kepala Regard dengan lembut.
" Silahkan masuk, kami sudah menunggu kalian," ucap Lyra sambil menggandeng tangan Dita dengan lembut.
Mereka masuk ke dalam rumah mewah yang tampak suram itu. Padahal jelas di sana ada anak yang tinggal, tetapi suasananya seolah tak ada anak-anak, suram dan gelap.
" Kenapa gelap sekali? di mana anak kalian?" tanya Dita heran.
Lyra tersenyum getir," ini permintaan putra kami Dita, dia membenci warna terang, seluruh furniture harus diubah menjadi gelap, jika diberi yang terang dia akan marah dan mengurung diri," ucap Lyra dengan wajah sedih.
" Wahh, tidak boleh dibiarkan kalau begitu!!" celetuk Regard.
" Om, Tante boleh Regard menemui dia?" tanya Regard.
" Biar Om antarkan, Tapi om gak yakin dia akan menerima kita Regard," ucap tuan Smith.
Regard memicingkan matanya," Siapa yang tahu om? kan belum dicoba!" celetuk Regard.
" Nak jangan sombong begitu, nanti ditolak, kamunya nangis," celetuk Asher.
Regard menyikut kaki ayahnya," Tuan Papa, ayolah apa Tuan Papa ragu dengan kemampuan anak sendiri? " celetuk Regard.
" Nyonya Mama tolong ya suaminya diajari untuk percaya pada putranya sendiri, Saya sebagai putra kalian sedikit tersinggung!" celetuk Regard seraya menatap Asher dengan kedua tangannya di depan dada.
"Pffthh bhwhahahhahaha....." Gelak tawa pecah di ruangan tamu itu. Dita, Asher, tuan Smith dan Lyra tertawa terbahak-bahak mendengar celetukan Regard yang diluar perkiraan.
" Baiklah Pangeran, mohon laksanakan tugasnya dengan baik agar tuan Papa ini percaya!" ucap Asher.
" Siap tuan Papa!" seru Regard seraya memberi hormat ala militer.
Mereka tertawa melihat tingkah Regard yang menggemaskan.
Tuan Smith benar benar iri dengan hubungan baik keluarga itu. Dita dan Asher tampak sangat dekat dengan anak mereka, sedangkan dirinya dan Lyra bahkan tak bisa berkomunikasi dengan baik bersama putra tunggal mereka.
" Ahh seandainya Nick seperti Regard kami pasti bisa tersenyum setiap hari," ucap Smith dengan nada lirih.
" pa jangan bicara begitu, Nick bisa dengar nanti!" tegur Lyra.
" Apa Nick memang pendiam sejak awal?" tanya Dita.
Tuan Smith menggelengkan kepalanya," Dia menjadi pendiam sejak dia mengalami kecelakaan yang merenggut kemampuan berjalannya, Nick lumpuh!" jelas tuan Smith dengan suara sendu.
" Maaf tuan Smith, saya tak bermaksud," ucap Dita tak enak hati.
" Tak apa-apa nyonya, Nick ditabrak sebuah mobil satu tahun lalu, sejak saat itu kedua kakinya tak bisa bergerak, dia menolak pengobatan dan berubah jadi pemurung, padahal dokter mengatakan dia bisa berjalan jika mengikuti terapi!" jelas tuan Smith.
"Tapi Nick menolak semua pengobatan setelah dia menerima bully dari teman teman dan keluarga kami," jelas Lyra.
Asher, Dita bahkan Regard cukup terkejut dengan kenyataan itu.
" Kalau begitu tugas Regard semakin berat, Regard harus bisa buat Abang Nick ikut terapi!" celetuk Regard.
" Sungguh mulia dirimu nak, tapi kami sudah menyerah, entah dia akan mendengar atau tidak," ucap tuan Smith.
Regard menatap kedua orangtuanya," Pa, Ma Abang tertantang!" ucap anak itu.
Dita dan Asher menepuk pucuk kepala putra mereka," Cobalah sayang, kami percaya padamu!" ucap keduanya.
Tuan Smith dan Lyra tertegun melihat hubungan keluarga mereka yang sangat dekat satu sama lain. Dita dan Asher menaruh kepercayaan pada Regard yang memberikan efek positif terhadap pertumbuhan mental Regard.
Anak itu menjadi seseorang yang penuh dengan energi positif dan percaya dengan dirinya sendiri.
"Om antarkan Regard ke kamar Abang Nick!" ucap anak itu penuh semangat.
Regard diantarkan menuju kamar Nick yang terletak di lantai satu rumah itu. Sebuah kamar dengan pintu hitam dan penuh dengan coretan tak beraturan.
" Apa ini..." Regard terkejut melihat kondisi pintu kamar itu.
" Nick yang merusaknya," ucap tuan Smith.
" Ini bukan merusak om, ini namanya seni! Om gimana sih? " celetuk Regard sambil menatap ke arah pintu yang terlihat seperti dicoret coret itu.
" Jelas jelas itu coretan nak," ucap tuan Smith.
" Bukan, nanti Regard tunjukkan, Regard pernah lihat yang seperti ini, tinta yang dipakai bukan sembarang tinta!" ucap Regard sambil tersenyum.
" Kak Nick orangnya pasti unik!" gumam Regard.
Tuan Smith menatap heran pada Regard. Dia sama sekali tidak tahu apa yang dipikirkan oleh Regard.
Dia membuka kamar Nick " Nick Papa bawa teman!!" ucapnya sambil mendorong pintu itu.
Syuutt...
Tak!!
Sebuah pensil warna melayang ke arah mereka.
" Nick apa apaan kau!!" senggak tuan Smith tak senang dengan perilaku putranya.
" KELUAR!! KELUAR!!! KELUAR!!!" pekik Nick sambil menatap penuh kebencian pada ayahnya.
Regard tampak sangat terkejut," wahh lemparannya kuat sekali!!" celetuk Regard .
" Nick bersikaplah dewasa! kau membuat Papa malu! dia tamu kita!!" senggak tuan Smith sambil menatap kesal pada Nick yang duduk di atas kursi roda di depan komputer gaming nya.
Nick mengeraskan rahangnya dan mengepalkan kedua tangannya dengan wajah geram.
" Arkhhh!!!! pergi!!! pergi!!!" pekik Nick lagi.
" Nick!!" senggak tuan Smith sampai Nick terdiam membisu.
Regard menatap tuan Smith dan Nick dengan wajah masam.
" Tuan Smith ini tidak sabaran ya, kenapa menyuruh anak kecil seperti kami jadi dewasa!? kau sama seperti kakek, menyebalkan, sudah sana keluar!!orang dewasa sangat membosankan!!" ketus Regard sambil mendorong tuan Smith dari kamar itu.
" Regard..." Tuan Smith terkejut.
Regard mendorong pria itu tetapi dia mengedipkan sebelah matanya," Tuan biar Regard mengurus ini!" bisiknya pelan.
" Sana keluar, dasar orangtua kolot yang menyebalkan, kenapa kalian selalu memaksa kami untuk dewasa, padahal kalian sendiri tidak dewasa, menyebalkan!!!' Omel Regard sambil mendorong tuan Smith dari kamar itu ..
bam!!
Regard menutup pintu kamar itu dan menguncinya dari dalam.
" Fiuhhh... satu gangguan sudah pergi!" ucap Regard sambil menghela nafas seolah dia terganggu dengan kehadiran tuan Smith.
Syuut... Ctalk!!!
Sebuah pensil warna kembali melesat ke arahnya, tetapi dengan cepat dia menghindar.
" Eits! gak kena wleekkk!!!" balas Regard sambil menjulurkan lidahnya.
" Keluar dari kamarku, kau orang asing sialan!!!" pekik Nick tak senang.
" Wehh... orang asing?mana orang asingnya!? aku !?" Regard menunjuk dirinya.
" Siapa lagi kalau bukan kau!!" kesal Nick.
Regard berjalan ke arah cermin di lemari Nick dan bercermin di sana," Hmmm... tampan!!! hhahaha... orang asing dari mananya, aku ini orang lokal bang Nick, masih original!! justru kau yang orang asing!!" celetuk Regard.
Nick berdecak kesal, dia membalikkan tubuhnya dan menatap komputernya dengan wajah kesal.
" Hihihi... berhasil membuatnya kesal!" Regard terkikik geli sambil melirik Nick yang berkali kali mendengus kesal di depan komputer nya.
.
.
.
Like, vote dan komen 🤗