Loco

Loco
94 Loco



Suara dentingan jarum jam terdengar di dalam ruangan serba putih berbau obat. Bunyi monitor detak jantung juga memenuhi ruangan itu.


Regard, berbaring lemah di atas brankar sambil menatap ke langit langit. Wajahnya merah, bibirnya terasa kering dan kepalanya sangat sakit.


Anak malang itu dilarikan ke rumah sakit setelah pingsan saat jam pelajaran kedua di sekolahnya. Regard mengalami demam tinggi membuat semua orang panik. Anak itu dirawat langsung oleh Johan. Ternyata mimpi buruk Regard membuat anak itu ketakutan sampai mempengaruhi kesehatannya.


Regard baru saja bangun dari tidurnya karena efek obat, dia menatap ke sana kemari tak ada sosok yang dia harapkan di sana.


Padahal dia sangat berharap ketika dia bangun dari tidurnya dia melihat ayah dan Ibunya duduk di sisi brankarnya menemani dia di sana.


“ Papa... Mama... di mana..” lirik anak itu sambil menangis.


Tubuhnya sangat lemah dan kepalanya terasa berat. Dia merindukan kedua orangtuanya, merindukan keluarganya. Regard tak bisa bangun, rasanya sangat sakit, dia takut dan sedih ditinggal sendiri di dalam ruangan itu.


Air matanya mengalir deras, semakin lama ingatan akan mimpi buruknya semakin menghantui dia, wajah menyeramkan itu membuat Regard tak tenang.


“mama.. Papa!!" Pekik Regard sambil menangis sesenggukan.


Dia berteriak histeris, tangan dan sekujur tubuhnya gemetar, seolah ada bayangan para penculik dalam mimpinya berkerumun di sekitarnya. Regard selain panik, dia semakin takut.


“ Papa! Mama huwaaaaa.... Papa... Mama.... di mana kalian hiks hiks hiks... paaaa.... Maaa...” Regard menangis sesenggukan.


Tidak pernah anak itu sampai seperti ini, Regard begitu ketakutan.


Dia memanggil dan terus memanggil.


Suara hentakan kaki terdengar jelas, Beberapa orang sedang berlari menuju ruangannya.


Tampak Pintu dibuka dengan kasar, Dita dan Asher baru tiba di rumah sakit itu. Mereka langsung mendarat di rumah sakit menggunakan helikopter yang menjemput mereka di bandara.


Jantung keduanya berdegup kencang. Pantas saja perasaan mereka tidak enak saat di Shanghai. Putra kesayangan mereka jatuh sakit.


Rasa takut membuat tulang tulang keduanya remuk, Dita dan Asher gemetar, rasa sedih akan kehilangan putri mereka membuat mereka takut akan kehilangan Regard.


“ Anak.. Papa dan Mama di sini Sayang!” ucap Dita yang langsung memeluk putra kecilnya sambil menangis.


Asher pun demikian, dia memeluk keduanya dan menatap wajah putranya dengan tatapan sendu.


“ Hushhh tenang sayang, maaf kami sedikit terlambat, semua baik baik saja, papa dan Mama sudah pulang!” ucap Asher.


Ini pertama kali Regard jatuh sakit sampai separah ini, ini pertama kali Regard menangis ketakutan seolah dia sedang dikejar kejar oleh pembunuh, dan ini pertama kali Regard di rawat inap di rumah sakit.


Regard memeluk mereka berdua sambil menangis sesenggukan.


“Hiks hiks hiks.. Pa... Maa..... Regard kangen... huwaa... Regard takut di sini... Regard takut..” Anak itu menangis sesenggukan sambil memeluk kedua orangtuanya.


Asher dan Dita benar benar merasa bersalah telah meninggalkan putra mereka sendirian di negeri itu. Seharusnya mereka membawanya agar Regard tak merasa kesepian.


Tak butuh waktu lama bagi anak itu untuk tenang, baginya sumber kekuatan terbesarnya adalah orangtuanya, tempat pertama dan satu satunya bagi hidupnya.


“ Dasar kalian nakal!!!” tiba tiba suasananya yang tadinya sedih berubah menjadi aneh.


Regard menarik telinga kedua orangtuanya dan menatap mereka dengan tatapan kesal. Matanya yang memerah karena menangis membulat sempurna, bibirnya mengerucut, wajahnya cemberut.


“ kenapa tidak beri kabar pada abang! Apa orang dewasa selalu seceroboh itu?” omel anak itu .


Dia menginterogasi kedua orangtuanya, membuat Asher dan Dita merasa terharu .


“ ahhh anak ku sayang, maafkan Mama Sayang , janji gak begitu lagi deh!”ucap Dita yang malah memeluk Regard semakin erat.


Dia menahan agar tangisannya tak terdengar, nyatanya air matanya malah merembes.


Dia melihat jiwa yang kuat dalam diri Regard. Anak yang selalu ceria dan selalu supportif terhadap seluruh kegiatan Dita.


“ Maafkan Mama sayang, Mama yang salah!!” ucap Dita.


Regard menggembungkan pipinya,” lain kali jangan begitu, kalian asyik honey moon sampai lupa kasih kabar ke anaknya, dasar tuan papa dan Nyonya Mama yang nakal!”celetuk Regard.


Dita mengusap air matanya, dia menepuk pucuk kepala putranya, anak yang selalu membuatnya bangga atas semua tindakan yang dilakukan bocah itu.


“ Pangeran tampan Mama, bagaimana keadaan kamu sayang? Di mana yang sakit hmm?kamu demam tinggi..” tanya Dita sambil mengusap lembut wajah putranya.


“ kepala Regard sakit ma, tadi pingsan di sekolah, sekarang masih demam tinggi,” ucap anak itu sambil menaruh tangan ibunya ke keningnya.


“ Sayang, kamu terkena campak, ini yang pertama kalinya sejak kamu bayi nak, “ ucap Dita yang melihat bercak bercak kemerahan di sekujur tubuh anak itu. Selain itu Johan juga sudah memastikan kalau Regard mendapatkan campak pertamanya.


“ Apa berbahaya sayang?”tanya Asher.


Dita menggelengkan kepalanya,” tidak berbahaya, dia sudah ditangani dengan baik,”ucap Dita.


Asher duduk sambil menggenggam tangan putranya,” Anak Papa pasti kuat, setelah sembuh nanti, Papa bawa kamu bertemu teman baru!” uap Asher .


“ teman bau?” mata Regard langsung berbinar.


Dita dan Asher mengangguk bersama,” benar nak, dia teman yang spesial, mungkin kamu akan kesulitan mendekatinya,”ucap Dita.


“ Wahh Regard suka tantangan!” seru anak itu dengan wajah gembira. Benar saja obat yang paling manjur bagi anak itu adalah kehadiran orangtuanya di sisinya. Meski bukan keluarga kandung, tetapi hubungan mereka bahkan sudah melebih hubungan keluarga sedarah.


Asher menepuk pucuk kepala jagoannya,”kalau begitu jagoan papa harus rajin minum obat supaya lekas sembuh, teman baru akan datang ke negara ini tiga hari lagi,” jelas Asher.


“ siap tuan Papa!” seru Regard dengan senyuman manis di wajahnya.


Anak itu lagi lagi menyembunyikan masalah mimpi buruknya. Dia hanya membutuhkan ayah dan ibunya di sisinya, selebihnya dia dapat menanggung semuanya sendirian.


Regard anak yang hebat, dai seorang anak yang kuat dan akan jadi pendekar bagi ayah dan ibunya.


Asher dan Dita tersenyum bahagia sekaligus terharu dengan sikap dewasa anak mereka. Keduanya tak pernah memaksa Regard, tetapi keadaan memaksa anak itu menjadi dewasa.


“ anakku sayang, selama ini pasti berat untukmu Nak, kehilangan adik yang kau sayangi membuatmu banyak berubah,”batin Dita sambil menggenggam tangan putranya.


Dia tak kuasa menahan air matanya. Dia menangis sesenggukan di samping mereka berdua.


Regard dan Asher menatap perempuan yang sangat mereka cintai itu.


“Mama..” panggil Regard dengan suara lembut. Dia menatap Dita sambil tersenyum.


Tangannya naik dan mengusap pipi ibunya dengan lembut dan penuh kasih sayang.


“ jangan menangis, abang di sini loh,” ucap Regard menghibur ibunya.


“ hahah.. maafkan mama sayang, Mama sangat bangga dan sangat bahagia karena punya kamu di hidup Mama, Mama sangat mencintai kamu Nak, maafkan Mama..” ucap Dita sambil memeluk anaknya lagi.


“ Hey nona Dita yang cengeng, kenapa jadi sering menangis sih? Abang Regard di sini, jangan khawatir!” ucap Regard bertindak seperti orang dewasa.


" Hahahaha kedepannya nona Dita yang cengeng ini hanya bergantung padamu tuan pangeran!" balas Dita sambil tertawa bahagia.


"Jangan lupakan Asher tuan pangeran, ke depannya mohon bantuan tuan pangeran!' imbuh Asher sambil tertawa.


"Emmm.. tentu saja, kalian harus patuh pada Regard!" balas anak itu dengan suara ceria.


Keluarga itu saling menguatkan satu sama lain. Mereka tidak akan pernah terpisahkan dan selamanya akan saling melengkapi satu sama lain.


.


.


.


Like, vote dan komen.