
Dita berjalan dengan langkah kaki perlahan. Dia tampak sangat serampangan, penampilannya yang buruk tak menunjukkan dirinya sebagai seseorang yang intelektual.
Bahkan tak ada kesan dokter hebat dalam diri gadis serampangan yang masuk ke rumah sakit seperti gembel itu.
Pakai celana jeans pendek yang dirobek, kaos oblong putih, tas selempang dan sepatu sneaker yang diinjak begitu saja. Terlibat seperti orang jalanan yang tak tahu tata Krama.
Semua orang memperhatikan gadis itu, jelas sekali orang orang tidak senang dengan penampilannya yang membuat sakit mata. Selain penampilannya buruk, sikapnya juga tak jauh beda dengan penampilannya.
"Wahh... jadi ini yang katanya dokter terhebat di militer, kenapa sangat jelek dan serampangan!?" suara seseorang menghentikan langkah gadis itu.
Seorang dokter cantik yang jelas berbeda dengan dirinya berdiri tepat di hadapan gadis itu sambil menatap Dita dengan tatapan sinis dan jijik.
" Ehh ngomong apa sih!? dasar mulutmu gak tau aturan!!" balas Dita dengan suara menggelegar, tidak beretika sama sekali.
Dita menatap gadis cantik yang juga seorang dokter relawan di tanah perang itu berdiri di depannya dengan wajah mengejek. Penampilan Dita jelas jauh berbeda, tata Krama Dita juga berbeda, etika Dita jauh sekali di bawah perempuan berwajah cantik, lembut dan tegas itu.
Sebaik apa pun prestasi Dita, citranya jatuh Bagai sampah tak berguna karena karakternya yang jelek dan tak disukai orang banyak.
Inilah yang menjadi beban besar di kepala tuan Luther dan Johan saudaranya. Mereka sama sekali tidak bisa mengatur gadis bar bar itu. Kekurangan kasih sayang Ibu membuat Dita tak mau belajar jadi perempuan lembut.
Sebagian besar hidupnya dihabiskan dengan pelatihan militer, sejak kecil sudah ikut latihan bela diri, berteman dengan para laki laki bahkan bertingkah seperti laki-laki .
" AUDREY!!" suara lantang tuan besar Luther berhasil membuat semua yang mendengar itu terhenyak.
" Ba.. bapak!?" Dita terkejut.. Dia melihat ayahnya berjalan dengan wajah masam bersama Johan dan Nyonya Kiara.
"Bapak!! lihat dia... dia mengejek Dita!!!" gadis itu berlari dan beralih ke mode manja.
Semua dokter residen, dokter magang, para medis dan pengunjung yang mendengar kalau Dita adalah putri tuan Luther terbelalak dengan mata membulat dan mulut menganga bahkan rahangnya hampir terjatuh.
"Bapak!?" pikir mereka.
Paramedis sampai berbisik bisik dan membandingkan cara Dita berpenampilan, cara Dita berbicara dan cara gadis itu berperilaku yang jelas berbeda jauh dengan tuan Luther dan dokter Johan.
" Bapak lihat dia!!' kesal Dita sambil menunjuk dokter cantik yang kerap disapa Dokter Bianca, dewinya para dokter!
"Diam kau anak tengik!!' kesal tuan Luther.
Dita terkejut, Ayahnya untuk pertama kali membentak dirinya setelah sekian lama.
" Pa... Pak?" Dita terkejut.
"Ikut bapak!!" kesal pria itu sambil menarik tangan Dita. Seluruh pasang mata melihat mereka, tak ada yang percaya kalau perempuan gembel barusan adalah anak perempuan pemilik kerajaan bisnis Luther Grup!
Johan, Nyonya Kiara dan Dokter Bianca mengikuti mereka dari belakang.
" Dok apa cara ini akan efektif!?" bisik Johan sambil berjalan di samping nyonya Kiara dan melirik Dita.
" Ini jalan satu satunya yang terpikirkan oleh ayahmu, jika tidak berubah maka gadis itu akan mudah dibodohi oleh orang-orang sekitarnya!" ucap nyonya Kiara.
" Dia dan Asher akan menikah, keadaan ke depannya akan sangat berbahaya, jika dia tidak memiliki sikap baik dan intelektual yang jelas, dia akan diinjak-injak oleh orang lain!" jelas Nyonya Kiara.
Dokter Bianca tersenyum," Benar ucapan Profesor Kiara, jika tidak berubah dari sekarang, maka dia akan mati diinjak injak.oleh musuh Asher!" ucap gadis itu.
Siapa pun yang melihat dokter Bianca akan berdecak kagum dengan cara gadis itu bertingkah laku. Perempuan intelektual yang disukai oleh banyak orang, perempuan baik hati, tetapi tegas dan juga memiliki kemampuan yang hebat.
" Meskipun kemampuan medis saya tidak sehebat nona muda Audrey, tetapi saya memiliki nilai intelektual dan etika yang jauh di atas level nona, oleh karena itu dengan senang hati saya akan membantu nona Audrey!" ucap Dokter Bianca dengan penuh percaya diri.
Johan melirik gadis itu sambil memutar malas kedua matanya," Jelas adikku lebih pintar, dia hanya kekurangan kasih sayang, jika tidak, bahkan dokter yang disebut sebagai dewinya para dokter ini pun sudah dilibas habis olehnya!" kritik Johan dengan ketus.
" Jika kau tetap berpegang pada situasi kekurangan kasih sayang, maka sampai kapan pun aku bisa pastikan, nona muda Audrey tidak akan berubah!" ucap Bianca sambil tersenyum dengan elegan, berbicara dengan lembut tapi sangat menusuk.
Johan hanya berdecih, baginya tak ada yang lebih baik dari adik perempuan kesayangannya.
" Akan saya lakukan dengan baik tuan muda Johan!" balas Dokter Bianca dengan elegan.
Nyonya Kiara yang ada di antara dua manusia dengan ego dan harga diri setinggi langit itu tersenyum tipis tipis mendengar perdebatan mereka.
Sejak mendengar keputusan Asher dan Dita yang akan menikah, Nyonya Kiara dan tuan Luther langsung memikirkan kehidupan mereka ke depannya.
Jelas Dita memiliki karakter keras tak beraturan. Berlebihan menjahili orang lain, berlebihan makan, berlebihan tidur, berlebihan dalam segala hal.
Satu satunya yang menyelamatkan dia adalah wajah cantik dan sifat kemanusiaannya yang tinggi itu. Ketika Dita memutuskan merawat Regard, saat itu tuan Luther dan Johan bernafas lega karena perempuan kesayangan mereka masih memiliki harapan untuk jadi gadis normal!
Dita disidang oleh tuan Luther. Gadis itu tampak sangat sedih karen ayahnya melontarkan kata kata yang menusuk hati.
" Bapak tau kalau kau nggak diperhatikan oleh Inongmu!!(Ibu)" ucap tuan Luther.
" Tapi lihat penampilanmu ini!!" teriak tuan Luther lagi sambil menatap Dita dengan wajah sedih.
" Kau seperti gembel. seperti pengemis. seperti Orang sembarangan yang tak tahu etika!!" kesal tuan Luther.
" Kejadian yang menimpa Asher dan Johan waktu itu juga sangat berlebihan Dita, kau menjahili mereka semua sesuka hatimu bahkan tak sekalipun ku dengar kata maaf yang tulus keluar dari mulutmu!!' tuan Luther marah besar.
" Kau membuat dirimu seperti gembel, menyiksa diriku, kabur dari rumah, membangkang dan sekarang kau akan menikah dan jadi ibu asuh cucuku Regard, mau jadi ibu macam apa kau hah!!" tuan Luther berteriak lagi.
Tak habis kata kata dari bibirnya keluar untuk menasehati anaknya itu. Perbuatan buruk, perilaku jelek Dita telah mencoreng nama baik gadis itu sendiri.
" Ba.. Bapak... jangan begini!!" ucap Dita sambil menangis ketakutan. Kemarahan ayahnya adalah kemarahan yang sangat dia takuti.
" DIAM!! BAPAK SANGAT KECEWA DENGAN TINGKAHMU!!" teriak tuan Luther.
" Mau sampai kapan kau hidup begini!? kau sudah mau kepala tiga, punya tanggung jawab, pekerjaanku terabaikan, percuma semua gelar yang kau dapat itu!!"
"Dita, bapak tau..."
"Bapak tau kalau bapak salah, Bapak tau kalau Bapak yang membuat kau dan kakakmu tersiksa karena tidakak bisa menjaga ibu dan kalian!! tapi.. apa yang kau lakukan ini tak lagi bisa dimaklumi!!" ucap tuan Luther dengan suara sesak dan kesedihan mendalam.
Menatap putri yang sangat dia cintai, menatap perempuan yang sangat dia lindungi, berakhir serampangan seperti ini.
Tuan Luther menangis kecewa. Untuk pertama kali, nyonya Kiara dan yang lainnya melihat pria tua itu menangis.
" Ba.. Bapak.. Dita.. Dita salah... ma.. maaf..." ucap gadis itu hendak mendekati tuan Luther. Dia mengambil tangan tuan Luther.
Tapi pria itu menepis tangan putrinya," Bapak kecewa nak, jangan temui bapak sampai kau benar benar berubah!!" ucap tuan Luther dengan nafas sesak dan suara berat.
Dia berjalan dengan pelan, semua yang melihat hanya terdiam. Ruangan direktur itu terlihat hening, tak ada yang berbicara hingga...
Bruk!!!
Tuan Luther terjatuh ke lantai, pria itu pingsan tak sadarkan diri.
" Tiidaaakk... Bapaaakk... Bapak Bagun pak!! huwaa... Bapak!!!" pekik Dita menangis sesenggukan.
Johan melirik nyonya Kiara dan Bianca, dia langsung menghampiri pria itu.
" Ini semua salahmu Dit, kau.. kau membuat kami kecewa!" ucap Johan.
.
.
.
Like, vote dan komen 🤗