Loco

Loco
Loco 101



Rumah sakit pertahanan tempat Dita dan Johan melayani kini dipenuhi dengan korban kecelakaan yang diutus dari rumah sakit lain karena kekurangan kamar.


Seluruh rumah sakit tampak sangat sibuk. Setiap langkah kaki menentukan keselamatan jiwa jiwa malang yang menjadi korban ledakan bom misterius.


"Dita fokus!" Johan menatap adiknya yang tampak linglung setelah melihat sosok anak kecil tadi.


Dita memijit pelipisnya,dia mengambil pil penenang dan langsung menenggak obat itu untuk membuatnya fokus bekerja.


" Maaf kak,aku hanya ..." Dita berhenti bicara.


"Aku paham, sudahlah, kita harus bekerja, banyak nyawa yang harus kita tolong!" ucap Johan sambil memeluk adiknya dengan erat, berharap semua halusinasi Dita tidak mengganggu pekerjaannya.


Dita kembali ke area pekerjaannya sebagai dokter militer, dokter bedah yang dipercaya oleh para pasien.


Kekacauan itu tampak membuat seluruh rumah sakit sangat sibuk. Tak ada hentinya pasien berdatangan.


Sementara itu, Asher tengah bergegas menuju gedung tempat terjadi kecelakaan dan ledakan besar. Dia bergegas bersama anak buahnya dan juga Jack.


" Tuan ledakannya terjadi sekitar satu jam yang lalu, para korban sudah dievakuasi ke rumah sakit, beberapa diantaranya dibawa ke rumah sakit militer!" jelas Jack.


"Pasti Dita sedang sibuk sekarang!" gumam Asher sambil menata gedung yang hancur itu.


Gedung yang diledakkan itu adalah salah satu gedung cabang Bank swasta yang dikelola oleh grup Roth dibawah kepemimpinan Asher.


Dia benar benar terkejut saat menerima berita itu. Banyak nasabah dan karyawan yang terluka, ledakannya juga terjadi di gedung notaris tepat di samping bank tersebut serta dari dalam mobil yang terparkir di seberang jalan gedung itu.


Korban berjatuhan, sampai saat ini tim keamanan sedang mencari tahu pelakunya.


"Tuan pelakunya bunuh diri, diduga kuat seperti bom bunuh diri!!" anak buah Asher melaporkan keadaan pada pemilik gedung tersebut.


" Baiklah, segera evakuasi semua korban, perintahkan tim untuk turun membantu paramedis!!" titah Asher.


Seluruh anak buah dikerahkan untuk evaluasi, ledakannya cukup dahsyat sampai menghancurkan seperempat sisi gedung bank tersebut.


Asher menatap kekacauan itu sambil berkancah pinggang" bagaimana bisa terjadi hal seperti ini!? bunuh diri!? selama hidupnya pasti menyusahkan orang dan mati pun dia juga menyusahkan orang lain!" kesal Asher sambil melemparkan pandangannya ke arah luar gedung itu.


Matanya menyusur area itu hingga tanpa sengaja menangkap sosok perempuan yang sudah lama tidak muncul di hadapan dia dan keluarganya.


Asher menyerngitkan keningnya saat melihat nyonya Vera tampak mengawasi gedung itu dari sudut jalan.


Nyonya Vera berada di dalam sebuah sedan silver, tengah menghubungi seseorang sambil menatap ke area ledakan tersebut.


"Wanita itu muncul!? apa maunya!!!"Asher benar benar terkejut.


Setelah sekian lama, nyonya Vera menampakkan dirinya lagi entah dengan rencana licik apa.


Asher mengambil masker," Hey kau berikan jaketmu padaku!!" ucap Asher pada anak buahnya yang lewat di depannya.


" Tapi ini kotor tuan!" ucap anak buah pria itu. Jaketnya memang sedikit kotor karena terkena debu reruntuhan.


" Tak apa, aku butuh!" ucap Asher yang langsung melepas jasnya.


Dia memakai jaket itu, mengacak acak rambutnya, bahkan mengganti sepatunya menjadi sendal jepit untuk menyamarkan dirinya.


" Jack pimpin mereka, aku ada urusan!" ucap Asher.


" baik tuan muda!" balas Jack yang sebenarnya penasaran dengan apa yang akan tuan mudanya lakukan.


Asher berjalan dengan cepat seolah dia adalah salah satu korban dari ledakan itu, padahal niatnya adalah mendekati mobil nyonya Vera.


Asher memanfaatkan kekacauan itu untuk mendekat dengan cara memarkirkan motor anak buahnya di dekat mobil nyonya Vera.


Dia tidak terlihat seperti seorang Presdir yang terkenal karena penampilannya yang acak acakan.


"Sialan, ledakan ini merusak pakaianku!!" Ucap Asher seraya mengibaskan jasnya yang kotor tepat di samping mobil nyonya Vera.


"Hey kau dasar tidak sopan!!debu pakaianmu merusak mobilku!!" pekik nyonya Vera yang tak mengenali Asher sama sekali.


" Ehh maaf nyonya, saat pikir tak ada orang tadi!" balas Asher seraya mengamati wanita itu.


" Dasar orang miskin!" ejek wanita itu dengan angkuh.


Di saat yang sama, seorang gadis berlari ke arah mobil nyonya Vera sambil membawa seorang gadis kecil dalam pangkuannya.


" Nyonya saya sudah membawa Cindy," Tiara menghampiri nyonya Vera sambil menggendong gadis kecil itu.


Melihat situasi, Asher tak ingin mencolok, dia mendorong motornya ke depan dan mengawasi mereka melalui kaca spion.


"Tiara, sudah ku bilang hati hati saat membawa bocah sialan itu, aku tak ingin rencanaku hancur karena ulahmu!!!" kesal nyonya Vera sambil membuka pintu.


" Maaf nyonya, Saat ledakan tadi, Cindy menangis histeris karena ketakutan, dia terus memanggil Mamanya," tutur Tiara sambil masuk perlahan ke dalam mobil itu.


Krangg!


Mainan anak perempuan yang dia peluk itu terjatuh.


Karena penasaran, Asher turun dari motornya dan memungut mainan itu.


" Nona, mainan anaknya jatuh!" ucap Asher sambil menatap wajah Tiara dan juga balita perempuan itu.


Degh!!!


Jantung Asher bagai dihantam batuan besar. Sorot mata yang begitu mirip dengan istrinya, wajah yang mirip dengan dirinya saat masih kecil.


Tangan Asher gemetar, tetapi dia sadar nyonya Vera menatanya curiga.


" Cepat ambil Tiara!" ketus nyonya Vera.


" Terimakasih tuan," ucap Tiara mengambil mainan anak anak itu.


Cindy yang digendong terus menatap Asher tanpa berkedip. Dia menatap pria itu dengan wajah berbinar, seolah bertemu dengan malaikat penyelamatnya.


" Papa.... itu.... Papa!!!" batin anak itu.


Asher menarik tangannya, tetapi pandangannya tak lepas dari anak perempuan itu.


Hatinya bergetar hebat, dia tahu ada yang salah, " Lili sudah meninggal, tak mungkin itu dia!" batin Asher.


Tapi di hatinya ada sebuah keraguan. Dia berdiri membeku di samping mobil itu sambil terus menatap Cindy.


"Dasar pemulung sialan!! ini untukmu, cepat pergi!!" ketus Nyonya Vera sambil melemparkan segepok uang ke wajah Asher.


" Wahh hahaha... terimakasih nyonya,anda sangat baik!! terimakasih!!" seru Asher seolah dia benar-benar senang karena uang itu.


" Jalan pak, pemulung sialan ini mengurasku!' ketus nyonya Vera.


Mobil itu melaju dengan kencang meninggalkan Asher di sana yang tengah memungut uang itu.Tanpa dia sadari kalau Asher telah mengawasinya.


" Putriku, apa kematian putriku melibatkan wanita itu!? jelas jelas anak tadi... mewarisi parasku saat masih berusia empat tahun!" batin Asher penuh curiga.


Dia menatap mobil itu dengan wajah dingin, segera dia menghubungi Samuel.


" Sam, kumpulkan anak buah di markas, Malam ini kita akan membongkar kuburan Lili" ucap Asher dengan wajah datar.


" bongkar makam!? kau tidak bercanda!? ada apa denganmu!?"tanya Samuel heran.


"Lakukan saja, aku akan mencari kebenarannya sekali lagi, kematian putriku yang janggal!"ucap Asher seraya mencengkram lembaran uang itu di tangannya.


.


.


.


Like, vote dan komen 🤗