
Pagi yang cerah menambah kebahagian Donghae untuk memulai aktivitasnya kembali yakni sekolah. Dalam perjalanannya menuju sekolah pun cukup lancar tanpa macet atau hambatan. Waktu setibanya dia di sekolah pun pas. Hari yang sempurna.
Namun kebahagiaan itu segera sirna ketika dihadapannya kini telah berdiri seorang gadis dengan segala keangkuhannya.
‘kenapa harus se-’, Donghae tidak jadi melanjutkan kata batinnya karena gadis didepannya sudah menatapnya semakin tajam. Tatapannya sudah seperti laser yang seketika bisa membuatnya mati dalam
hitungan detik.
“kau ingin menentang ku?”
“hah?”
“hah… kau ini benar-benar menguji kesabaranku ya? Sudah ku katakan berapa kali, aku ini bukan orang yang sabaran”
“ya aku tahu”
“jangan menjawab”
Donghae langsung terdiam. Dia jadi merasa semakin bodoh didepan gadis itu. Benar-benar cupu seperti perkataan gadis itu kemarin.
“lakukan seperti apa yang ku katakan kemarin”, perintah Yoona.
Dengan terpaksa Donghae mengeluarkan blushnya dari celana, membuka dasinya dan kancing
teratas kemejanya.
“ahhh… satu lagi”, ujar Yoona. Tanpa ada perhitungan terlebih dahulu Donghae langsung melangkah mundur ketika Yoona melangkah cepat ke depannya. Tapi seolah tahu tindakan pria itu, dengan cepat Yoona meraih pergelangan tangan Donghae, menarik pria itu agar tidak menghindar.
“a-apa yang kau lakukan?”, ucap Donghae terbata ketika Yoona meraih kepalanya agar menunduk dan kemudian gadis itu merusak tatanan rambut pria itu menjadi berantakan.
Merasa tindakan Yoona sudah keterlaluan, Donghae langsung menjauhkan tangan Yoona dari kepalanya.
“apa yang kau lakukan?”, Donghae bertanya dengan tegas, membuat Yoona langsung tergelak kaget, tidak menyangka Donghae bisa berbicara tegas padanya, biasanya pria itu patuh saja atas semua perintahnya. Tapi Yoona tetaplah Yoona. Princess tidak akan pernah mau kalah dari bawahannya, apa lagi seseorang seperti Donghae.
“Apa? Kau berani melawanku”, ujar Yoona dengan raut wajah datar namun matanya memancarkan kemarahan, ditambah lagi-lagi gadis itu melangkah mendekati Donghae, mengintimidasi.
“ti-tidak”, ucap Donghae. Runtuh juga akhirnya pertahanannya. Gadis didepannya itu memang benar-benar rubah. Cantik parasnya saja, tapi sifatnya jauh dari kata cantik.
“awas kalau kau sampai merusak menampilanmu lagi”, ucap Yoona dan langsung pergi meninggalkan Donghae begitu saja.
“aku? Yang benar saja. Siapa sebenarnya yang merusak penampilan ku disini”, gumam Donghae pelan, takut Yoona mendengarnya.
Donghae memasuki kelas yang ternyata masih dihuni oleh sebagian murid. Diletakkannya tasnya diatas mejanya, lalu duduk sejenak, untuk mengistirahatkan pikirannya. Dia lelah tanpa tahu apa sebabnya.
Brak
Seolah belum cukup penderitaannya pagi ini, bunyi keras menghantam mejanya. Donghae mendongak, disampingnya sudah berdiri gadis yang selalu membuatnya lemah akhir-akhir ini.
“apa lagi? Aku tidak merusak penampilan ku”, ujar Donghae dengan suara lemah.
“apa yang sedang kau bicarakan, aku tidak mengerti”, jawab Yoona polos. Donghae langsung mengerutkan kening – kesal, dan berlahan kemarahannya meningkat hingga ke ubun-ubun.
‘Sabar Lee Donghae. Sabar. Dia hanya gadis’, batin Donghae menenangkan diri sendiri
“seberapa lama lagi aku harus berdiri disini? Cepat kumpulkan buku tugasmu”, Yoona berkata dengan keras. Sampai-sampai semua anak di kelas itu menoleh ke belakang, pada Yoona dan Donghae.
Merasa tidak enak dengan yang lain, Donghae dengan cepat menyerahkan bukunya.
“kenapa dia harus marah-marah terus?”, gumam Donghae.
“karena aku tidak tahan berlama-lama didekat mu cupu”, jawab Yoona – membuat Donghae langsung menegang. Dia pikir Yoona tidak mendengar gumamannya tadi.
“Anyeong”, sapa seseorang yang langsung menghentikan ketegangan diantara Yoona dan Donghae. Yuri menatap Yoona dan Donghae bergantian.
“ada apa? Kenapa wajah kalian tegang seperti itu?”, tanya Yuri.
“tidak ada”, balas Yoona acuh dan langsung pergi tapi sebelumnya merampas buku tugas Donghae dengan kasar, lalu menggabungkan dengan buku tugas murid yang lain.
“maaf… dia memang terkadang sedikit kasar”, ucap Yuri merasa tidak enak pada Donghae karena kelakuan sahabatnya yang terlalu kasar pada pria itu.
“ahh… tidak apa-apa. Kau tidak perlu minta maaf. Bukan salahmu”, balas Donghae dengan senyum.
“ngomong-ngomong…”, Yuri menggantung kata-katanya. Dia menatap penampilan Donghae yang sangat jauh
berbeda dari biasanya.
“apa?”, tanya Donghae, walaupun sebenarnya dia tahu apa yang sedang ingin Yuri dikatakan.
“kau berbeda hari ini”, lanjut Yuri akhirnya setelah menatap langsung wajah Donghae.
“kau tidak suka?”, tanya Donghae dengan lugunya. Yuri langsung tertawa membuat Donghae tersadar dari apa yang sudah dilontarkan dari mulutnya tadi.
“aku suka, tapi aku lebih suka Lee Donghae yang seperti biasanya”, ujar Yuri masih dengan tawanya.
“ah… benarkah?”, tanya Donghae malu-malu. Entah mengapa Donghae suka mendengar Yuri menyukai penampilannya yang sederhana, bukan seperti saat ini.
“jadi aku lebih baik seperti ini?”, tanya Donghae setelah merapikan pakaiannya seperti semula. Donghae memperbaiki tatanan rambutnya menjadi klimis.
“ya ini jauh lebih baik. Lee Donghae yang tampan”, puji Yuri membuat Donghae semakin malu.
Tak jauh dari mereka, tepatnya disamping mereka, ada gadis lain yang mendengar percakapan Yuri dan Donghae sedari tadi, sambil mendengus.
‘apanya yang tampan. Dia semakin terlihat cupu. Sepertinya mata Yuri sedang bermasalah’, batin gadis itu – Yoona.
Yoona memasang earphonenya ke telinga. Tidak ingin mendengar percakapan pasangan di sebelahnya. Entah mengapa dia sedikit tidak suka dengan kedekatan mereka. Apa karena Donghae terlihat bahagia bersama Yuri atau karena Yuri yang mengabaikannya sedari tadi. Tapi Yoona yakin dia kesal karena Yuri mengabaikannya. Ya pasti.
)))))(((((
“Yoona ayo kita ke kantin”, ajak Yuri ketika jam istirahat tiba.
“mmm… aku malas. Kalian saja”, balas Yoona dengan malas. Diletakkannya kepalanya diatas meja. Entah mengapa moodnya sangat buruk hari ini. Padahal tidak ada yang sedang membuatnya kesal selain tentu saja si pria cupu yang selalu membangkang.
“kau tidak lapar?”, tanya Sooyoung heran Yoona tidak ingin mengisi perutnya. Hal yang tidak pernah di abaikan oleh Yoona adalah mengisi perutnya.
“mmm”, balas Yoona seadanya.
“Kau yakin?”, tanya Taeyeon yang khawatir dengan Yoona. Taeyeon memang sosok yang paling dewasa dan penyayang diantara mereka.
“kau baik-baik saja?”, tanya Taeyeon lagi sambil mengelus-elus kepala Yoona.
“ne”, balas Yoona.
“baiklah kau begitu. Kami ke kantin dulu”, putus Taeyeon setelah yakin Yoona baik-baik saja. Mendengar itu Yoona memejamkan matanya. Dia ingin menenangkan diri entah untuk apa.
“Donghae kau ingin ke kantin?”
“ne. Aku sangat lapar”
“kalau begitu ayo ke kantin bersama”
Sayup-sayup Yoona mendengar percakapan antara dua orang yang sejak tadi membuat moodnya rusak. Dengan cepat matanya terbuka dan bangkit dari duduknya.
“aku lapar”, teriaknya tiba-tiba dan setelahnya dia menyesal.
Tentu saja semua orang sedang menatapnya dengan heran. Yang lebih memalukan lagi adalah dia mengatakan dia lapar dengan sangat kencang, merusak harga dirinya.
“ke-kenapa kalian menatapku seperti itu? Kalian tidak suka aku bergabung dengan kalian ke kantin?”, ujar Yoona sedikit terbata tapi kemudian dia menekan rasa malunya dan menampilkan watak kerasnya.
“mmm… tentu saja kami tidak keberatan. Bukan begitu teman-teman?”, ujar Sooyoung sambil menghampiri Yoona lalu merangkul bahu sahabatnya itu.
“ya sudah ayo”, ajak Yuri. Mereka pun melangkah menuju kantin.
“kenapa kau tiba-tiba jadi lapar? Apa karena ada Donghae?”, goda Sooyoung berbisik ditelinga Yoona.
“Tidak. Jangan asal bicara”, balas Yoona dan langsung menyingkirkan lengan Sooyoung dari bahunya.
“owww… kau tidak perlu malu. Kita kan teman. Aku sangat mengenalmu tuan putri”, balas Sooyoung masih menggoda.
“jika kau tidak segera menutup mulut menyebalkan mu itu, aku tidak akan membayar makanan mu kali ini”, ujar Yoona merusaha menghentikan Sooyoung.
“apa? Kau berencana membayar makanan ku kali ini?”, tanya Sooyoung tidak percaya sampai-sampai dia menghentikan langkahnya dan tangannya menutup mulutnya yang ternganga karena tidak percaya dengan kebaikan Yoona.
“tadinya. Tapi sekarang tidak jadi. Kau menyebalkan”, balas Yoona santai. Sooyoung langsung menggeleng.
“jangan begitu. Aku janji akan bersikap baik dan akan mengabdi padamu seharian penuh”, ujar Sooyoung langsung mengejar Yoona yang meninggalkannya.
“untuk apa. Aku tidak butuh”, balas Yoona acuh.
“suatu saat kau akan membutuhkanku. Percayalah”, balas Sooyoung percaya diri. Yoona menatap sahabatnya itu – meremehkan.
“ya sudah. Hanya hari ini saja”, Yoona mengalah.
“YES”, seru Sooyoung senang.
Sooyoung kembali merangkul Yoona – lebih tepatnya membawa Yoona agar lebih cepat sampai di kantin. Gadis itu sudah tidak sabar untuk mengisi perutnya.
Dikantin mereka sudah duduk didepan meja yang sama. Yoona duduk diantara Taeyeon dan Sooyoung sedangkan diseberang mereka ada Yuri dan Donghae. Sedari tadi pasangan itu terlihat asyik dengan dunia mereka saja. Dan itu sedikit membuat Yoona kesal. Ya, kesal karena Yuri lagi-lagi mengabaikannya. Ya tentu saja karena Yuri.
“kau tidak suka makanan western?”, tanya Donghae heran menatap menu makan siang Yuri. Sangat jauh berbeda dengan apa yang Yoona katakan padanya.
“tidak. Aku lebih suka makanan tradisional. Contohnya kimbab[18]ini”, balas Yuri kemudian memasukkan sepotong kimbab ke mulutnya.
Donghae menoleh, menatap Yoona yang ternyata juga sedang menatapnya. Seolah mengerti dengan tatapan Donghae, Yoona hanya berpura-pura tidak peduli, kembali memakan jjajangmyeon[19]-nya.
‘sial. Kenapa semua yang ku katakan pada Donghae tentang Yuri salah’, batin Yoona.
)))))(((((
“selamat pagi”, sapa seorang guru yang dua minggu terakhir ini tidak masuk dikarena sakit. Seminggu sebelum itu juga sialnya Yoona tidak masuk sekolah karena sakit. Dia terjatuh dari tangga dan hingga saat ini dia tidak ingat bagaimana kronologisnya dia terjatuh.
“selamat pagi saem”, balas seluruh murid sambil meletakkan satu persatu buku mereka diatas meja.
“ah bukunya tidak perlu dikeluarkan”, ujar Oh songsaengnim. Wanita mungil yang wajahnya masih pucat itu tersenyum lembut pada muridnya yang menatapnya dengan horor. Mereka seperti melihat hantu saat ini.
“karena kondisi saem belum benar-benar baik. Jadi kita tidak belajar dulu hari ini”, ujar wanita itu dan langsung mendengar seruan kebahagiaan dari semua murid. Dia sampai menggelengkan kepala karena tingkah murid-muridnya tersebut.
“tolong diam dulu”, ujar wanita itu menghentikan keributan dikelas, tapi sayangnya tidak ada yang mendengar sebelum teriakan seseorang menghentikan keributan itu.
“DIAM”, ujar gadis yang duduk dibarisan paling belakang. Dan tanpa menoleh pun seluruh murid tahu itu teriakan siapa. Tentu saja seorang Im Yoona.
Oh Songsaengnim langsung tersenyum melihat sifat keras Yoona. Gadis itu tidak pernah berubah sejak kecil. Oh songsaengnim dulu adalah guru les private Yoona ketika masih duduk disekolah dasar. Tap
walaupun keras, Oh songsaengnim tetap menyayangi Yoona.
“kamsahamnida Yoona”, ujar wanita itu tersenyum pada Yoona, dan gadis itu hanya membalas dengan anggukan.
“tadi saem belum selesai bicara. Karena kita tidak belajar, maka kita kuis saja hari ini”, setelah mengatakan itu langsung terdengar rengekan dari murid-murid kelas A itu.
“saem… jangan tiba-tiba seperti itu”, bujuk salah satu murid yang duduk didepan.
“benar saem. Kami sedang banyak tugas akhir-akhir ini. Jadi tidak sempat mengulang pelajaran dirumah”, tambah anak yang lain.
“lagi pula wajah saem masih pucat. Lebih baik saem istirahat di ruang guru”
“kecantikan Oh saem menjadi berkurang karena pucat”
Rayuan tiada henti dilontarkan para murid, agar kuis dibatalkan. Oh songsaengnim terkekeh dengan semua rayuan dari muridnya itu. Ada saja alasan.
Mendengar tawaran itu membuat murid-murid langsung tergiur. Pasalnya soal ujian tengah semester bisa dipastikan lebih sulit dari pada kuis mingguan. Karena yang membuat soal ujian tengah semester adalah tim yang dibentuk oleh sekolah, bukan guru yang mengajar dimasing-masing kelas.
“baiklah saem”, murid-murid memutuskan untuk setuju.
Namun ada salah seorang murid yang terlihat gelisah sedari tadi. Donghae pun menyadari kegelisahan itu.
“kau baik-baik saja?”, tanya Donghae dengan nada pelan.
“urus saja dirimu sendiri”, balas Yoona. Donghae pun langsung terdiam dan kembali fokus pada Oh songsaengnim.
Yoona dengan cepat membaca materi pelajaran yang dilewatkannya ketika tidak masuk sekolah tiga minggu yang lalu. Yoona melupakan bab yang belum dipelajarinya. Firasatnya pun mengatakan Oh songsaengnim akan memberikan soal dari bab yang belum dipelajarinya.
Dengan cepat dibacanya teori dan menghapal beberapa rumus. Tapi sayangnya tidak ada yang melekat di ingatannya.
‘sial… sial… sial’, batin Yoona merutuki kesialannya hari ini.
“ok silahkan sediakan kertas kalian masing-masing. Waktunya hanya 25 menit untuk tiga soal, yang terdiri dari satu teori dan dua hitungan. Silahkan dikerjakan, dimulai dari sekarang”, ujar Oh songsaengnim setelah membagikan masing-masing soal untuk setiap murid.
Yoona menatap dengan horor soal yang tertera di kertas itu. Dugaannya benar seratus persen. Soal kuis itu berasal dari bab yang tidak dipelajarinya.
Yoona mencoba mengerjakan soal itu tapi selalu buntu. Untuk mencontek pun tidak bisa, karena Yoona tidak ahli untuk melakukan hal seperti itu. Sooyounglah yang paling ahli untuk masalah contek mencontek seperti itu.
‘seandainya ada Sooyoung disamping ku’, angan Yoona.
‘diketahui A sama dengan lima vektor…’
Tiba-tiba Yoona mendengar suara seseorang, dengan cepat gadis itu menoleh kesampingnya. Tapi pria disampingnya sedang serius dengan soal-soalnya, tidak mengeluarkan suara sedikitpun. Tapi Yoona sangat yakin suara itu milik Donghae. Berlahan sudut bibir Yoona tertarik keatas. Ternyata ada juga keuntungan yang didapatnya dari kesialannya dapat mendengar suara batin Donghae.
Yoona pun menjadi pendengar yang saat baik. Dia mendengar semuanya lalu menulisnya dengan rapi dilembar jawabannya.
“waktunya habis. Silahkan dikumpulkan ke depan”, ujar Oh songsaengnim. Tidak terasa 25 menit sudah berlalu dan Yoona tidak merasa terbebani dengan waktu yang singkat itu. Gadis itu pun yakin hasil kuisnya akan baik-baik saja. Tentu saja.
)))))(((((
Donghae duduk berhadapan dengan seorang gadis yang sedari tadi diam saja, tidak mengatakan apapun. Padahal mereka sedang mengerjakan tugas kelompok bukan individu.
Saat ini mereka sedang berada disebuah kafe dengan maksud awal Yoona mengajaknya untuk kerja kelompok. Tapi yang Donghae dapatkan saat ini adalah dia yang tidak melakukan apapun. Yoona sibuk sendiri.
‘sebenarnya untuk apa aku disini’, batin Donghae.
“kerjakan apa yang bisa kau kerjakan cupu”, ujar Yoona tiba-tiba. Donghae langsung kaget dengan ucapan Yoona. Bukan karena gadis itu berbicara tiba-tiba atau mengatakannya cupu. Tapi perkataan gadis itu yang seperti menjawab kata hatinya.
Donghae menatap lekat-lekat gadis yang sudah kembali serius dengan buku-bukunya. Donghae tampak berpikir keras, untuk satu dua hal dia ingin percaya pada perkataan seseorang kemarin. Tapi logikanya selalu mengatakan itu tidak mungkin terjadi.
“ini pesananmu”, ujar gadis itu.
“gomawo”, balas Donghae sambil menerima minumannya.
Donghae memuntuskan menerima ajakan gadis didepannya itu. Gadis aneh yang tiba-tiba muncul di anak tangga dan memintanya untuk mengikutinya. Donghae penasaran dengan apa yang akan dikatakan oleh gadis aneh atau mungkin ‘witch’ – penyihir itu.
Senyum gadis itu seperti memiliki pengaruh yang sangat kuat untuk membuat lawannya patuh padanya dan sialnya Donghae salah satu yang terpengaruh.
“bisa kita mulai bicara sekarang?”, ujar gadis itu. Donghae pun mengangguk.
“sudah ku katakan ini tentang Im Yoona kan”, ujarnya lagi dan Donghae lagi-lagi mengangguk sambil menyesap
minumannya.
“apa kau merasa Yoona terlihat aneh akhir-akhir ini terutama padamu?”
“mmm… ya sedikit”, jawab Donghae ragu.
“dia menghindarimu?”
“awalnya… tapi akhir-akhir ini tidak”
“ku sarankan jangan terlalu dekat dengannya”
“kenapa?”, tanya Donghae heran. Apa yang ditakutkan dari seorang Im Yoona. Donghae selalu mengalah pada Yoona karena Donghae tidak ingin membuat masalah dengan gadis keras kepala, tidak mau mengalah seperti Yoona – bukan karena takut.
“dia berbahaya”, jawab gadis itu dengan tegas.
“aku tidak mengerti”, Donghae mengerutkan kening.
“bagian mana yang tidak kau mengerti?”
“semuanya. Tentang menghindari Yoona, bahaya bersama Yoona dan juga kau”
“aku?”
“ya. Sebenarnya kau ini siapa dan apa tujuanmu sebenarnya?”, tanya Donghae beruntun. Gadis itu lagi-lagi tersenyum lebar tapi hanya sesaat karena kemudian yang terlihat adalah senyum simpul namun mematikan.
“siapa aku ini tidaklah penting. Karena yang terpenting adalah hubunganmu dengan Yoona. Kau harus berhati-hati
padanya”, jelas gadis itu.
“aku masih tidak mengerti. Kenapa dengan Yoona?”
“dia bisa mendengar suara hatimu”, jawab gadis itu.
Hening. Tidak ada yang bicara diantara mereka setelah itu, namun mereka saling bertatapan. Kemudian Donghae
dengan cepat beranjak dari duduknya, meraih tasnya untuk pergi. Dia merasa seperti dipermainkan saat ini.
“kau mau kemana?”, tanya gadis itu polos.
“pulang”, balas Donghae dengan kesal.
“aku belum selesai bicara”
“aku tidak ingin mendengar omong kosong seperti itu. Aku bukan orang bodoh”, balas Donghae kembali melangkahkan kakinya tapi lagi-lagi gadis itu menahannya.
“duduklah dulu. Kita bicara baik-baik”, pinta gadis itu, menatap Donghae penuh harap.
Donghae pun kembali duduk, menatap gadis itu dengan perasaan kesal.
“seperti ini saja. Aku akan menanyakan beberapa hal, dan kau harus menjawabnya dengan jujur”, solusi dari gadis itu.
“tergantung apa pertanyaannya”, balas Donghae tidak langsung menyanggupi keinginan gadis itu.
“baiklah. Akhir-akhir ini kau bersama Yoona?”
“beberapa kali”
“apa dia sering mengatakan hal tiba-tiba diluar topik pembicaraan?”
“mmm… ku rasa tidak. Hanya saja…”, Donghae menggantung ucapannya, tidak begitu yakin dengan apa yang akan diucapkannya.
“hanya apa?”, tanya gadis itu penasaran.
“aku tidak begitu yakin tentang ini. Tapi beberapa kali Yoona mengetahui apa yang sedang ku pikirkan dan tiba-tiba mengatakannya. Dia berkata seperti membalas apa yang sedang ku bicarakan dalam hati”, lanjut Donghae.
Gadis itu langsung menepuk tangannya, membuat Donghae kaget.
“itu yang ingin ku bicarakan tadi. Dia memang bisa mendengar suara hati mu”, balas gadis itu sedang Donghae
menyadari apa yang sedang Yoona lakukan akhir-akhir ini.
“tapi bagaimana bisa?”, Donghae masih tidak bisa percaya.
“aku pun tidak tahu bagaimana itu bisa terjadi. Tapi aku mendengarnya langsung Yoona mengatakan dia memiliki
kemampuan itu, dan satu lagi… itu hanya berlaku padamu saja”
“hanya aku?”
“ya, hanya kau”
Setelahnya Donghae terdiam, tampak berpikir keras. Gadis itu masih diam menunggu reaksi Donghae.
“kau belum bisa percaya?”
“ya, tapi aku akan memikirkannya nanti. Yang ingin ku ketahui adalah kau ini sebenarnya siapa dan apa hubunganmu dengan Yoona?”, Donghae sudah sedari tadi penasaran dengan gadis itu.
Donghae tidak habis pikir bagaimana gadis itu sangat jauh berbeda dari yang biasa Donghae lihat disekolah. Gadis ini biasanya tipe periang, penyayang dan sosok yang disukai banyak orang. Tapi saat ini Donghae harus sadar tidak selamanya yang terlihat sesuai dengan kenyataannya.
Mata gadis itu sewaktu-waktu seperti menggelap dan tajam, ditambah senyumnya yang mengintimidasi.
“siapa aku dan apa hubunganku dengan Yoona tidaklah penting. Yang terpenting saat ini adalah kau harus hati-hati padanya. Kau harus menahan diri untuk tidak berbicara dalam hati. Jika tidak, Yoona akan semakin mudah membaca jalan pikiranmu. Yang lebih ditakutkan adalah dia yang memanfaatkan kemampuannya itu pada hal yang tidak baik”, peringat gadis itu.
“apa kau bisa dipercaya?”, tanya Donghae.
“itu terserah padamu”, balas gadis itu dengan senyum lebarnya.
)))))(((((
“Donghae”
“cupu”
“Lee Donghae”, teriak Yoona karena sedari tadi Donghae melamun.
“N-Ne”, jawab Donghae tersadar dari lamunannya. Dia terlalu banyak berpikir sepertinya.
“kau ini ingin kerja kelompok atau ingin melamun. Kalau kau tidak ingin mengerjakan tugas ini, kau bisa pulang sekarang. Aku bisa mengerjakannya sendiri”, ujar Yoona kesal.
“mi-mianhae[20]”, balas Donghae menyesal.
‘sepertinya aku kehilangan titik fokusku lagi’, batin Donghae.
“sebenarnya apa yang sedang kau pikirkan. Fokus Donghae, fokus”, ujar Yoona. Donghae langsung menatap Yoona serius. Lagi-lagi Yoona seperti menjawab suara hatinya.
“apa?”, tanya Yoona kerena Donghae menatapnya dengan serius.
“tidak. Tidak apa-apa”, balas Donghae berbohong.
Donghae harus mencari bukti lebih banyak untuk bisa mempercayai sepenuhnya perkataan witch itu kemarin. Yang terpenting harus dapat mengontrol diri didepan Yoona.
“sepertinya kita harus membuat beberapa pilihan tempat untuk disurvei”, ujar Yoona.
“memangnya kau ingin tempat seperti apa?”
“restoran atau rumah makan yang memiliki menu khas dan disukai orang-orang”
Donghae mengangguk dengan perkataan Yoona. Dia juga tertarik dengan sistem pemasaran dari restoran atau rumah makan terkenal. Bagaimanapun dia bisa belajar dari sana, dimana kelak bisa diterapkannya untuk mengembangkan kedai keluarganya.
Sebuah cita-cita yang mulia dimana Donghae tidak menginginkan menjadi orang yang berprofesi hebat. Dia hanya ingin mengembangkan kedai keluarganya. Setelah lulus dari SMA dia akan mencari universitas yang dapat memberinya ilmu pengetahuan bisnis, tentunya dengan bantuan beasiswa juga.
)))))(((((
[18] Nasi gulung berisi sayuran atau daging yang dibungkus dengan rumput laut.
[19] Mie yang ditaburi saus pasta kacang kedelai hitam.
[20] Maaf