Loco

Loco
Chapter 24



Beberapa menit Yoona masih terus menangis. Sooyoung dan Yuri menyalahkan Taeyeon terus. Padahal Taeyeon sudah meminta maaf. Namun setiap dia mengatakan maaf, tangis Yoona semakin keras. Penyihir dengan tubuh mungil itu pun menjadi tidak tega.


“jadi benar kalian bukan manusia?”, tanya Yoona. Gadis itu mulai meredakan tangisnya. Dengan wajah basah karena air matanya, Yoona menatap ketiga menyihir didepannya. Ketiganya pun mengangguk.


“aku masih tidak percaya”, ujar Yoona, kembali menangis. Ketiganya pun menjadi bingung bagaimana meredakan tangis Yoona. Mereka ingin mendekat tapi mereka takut Yoona kembali ketakutan. Akhirnya mereka diam saja, menunggu sampai Yoona lelah sendiri.


“hah… kenapa akhir-akhir ini aku sangat mudah menangis”, keluh Yoona yang akhirnya bisa meredakan tangisnya. Gadis itu mengusap-usap wajah dan matanya hingga penglihatannya lebih jelas.


“kalian benar-benar penyihir?”, tanya Yoona lagi. Ketiganya pun kembali mengangguk. Mau sampai kapan Yoona bisa sadar dan bisa menerima kenyataan ini.


“perlu kami memperkenalkan diri lagi?”, tanya Sooyoung. Dia bosan jika harus menjelaskan berulang-ulang sebenarnya. Tapi Yoona terlihat masih tidak bisa percaya.


“tidak perlu. Aku tahu kalian penyihir”, tolak Yoona.


“syukurlah”, ujar Sooyoung lega.


“jadi kalian benar-benar dikirim untuk menemaniku?”, tanya Yoona lagi, kembali seperti tidak percaya.


“hah… kau tidak percaya lagi”, gerutu Sooyoung. Yuri pun tersenyum mendengar gerutuan sahabatnya itu.


“intinya, percaya, tidak percaya, kami memang bukan manusia. Kami penyihir”, kali ini Yuri yang menjawab. Yoona pun akhirnya mengangguk.


“saat aku bertemu kalian pertama kalinya di gerbang sekolah, kalian sudah mulai berbohong tentang kalian satu kelas denganku. Saat itu aku tidak salah karena tidak mengenal kalian”, ucap Yoona.


Yoona tidak percaya bahwa sejak berusia 6 tahun dia sudah bertemu penyihir. Tentu saja dia tidak berpikir tiga gadis yang menyapanya saat itu adalah penyihir. Wajah mereka saja terlihat menggemaskan. Jadi mana mungkin Yoona berpikir sampai ke sana.


“saat aku pertama kali bertemu kalian, wajah kalian masih sangat muda. Apakah umur kalian sama seperti ku?”, tanya Yoona.


“tentu saja tidak. Umur penyihir berbeda dengan manusia. Jika ingin disamakan makan umur kami… menjalani 110 tahun”, jelas Yuri. Penyihir yang satu ini terlihat begitu sabar menjawab pertanyaan Yoona. Sedangkan Sooyoung sudah membaringkan tubuhnya di tempat tidur, sedangkan Taeyeon lebih banyak diam.


“hah?”


Yoona ternganga, tidak percaya jika wajah mereka masih muda namun sudah berumur hampir 110 tahun. Yoona bahkan merasa merinding membayangkan wajah manusia yang seumuran 110 tahun. Pasti tubuhnya sudah menciut, kulit dan wajahnya sudah mengeriput. Tapi Yoona ingat kembali makhluk didepannya itu adalah penyihir.


“aku… aku masih tidak ingin percaya sebenarnya. Tapi melihat kalian sekarang, aku pun tidak bisa tidak percaya lagi. Kalian nyata. Bahkan kalian sudah bertahun-tahun bersama ku”


“tadi aku sempat berpikir apa mungkin sindrom sialan itu sedang kumat? Apa aku bermimpi lagi?”, ujar Yoona dengan segala kebingungannya.


“kau tidak pernah bermimpi Yoona. Bahkan kau tidak pernah mengalami sindrom apa pun”, ujar Taeyeon. Tapi setelah itu dia memekik karena Sooyoung membekap mulutnya.


Melihat tindakan Sooyoung pada Taeyeon itu, membuat Yoona curiga. Pasti penyihir didepannya itu belum menceritakan semuanya. Masih ada yang mereka sembunyikan darinya.


“katakan… apa lagi yang kalian perbuat padaku?”, tanya Yoona. Kali ini suara sudah sedikit meninggi.


“lepaskan. Sudah kau mengaku saja”, ujar Taeyeon kesal pada Sooyoung. Sooyoung pun menatap Yoona, tapi kemudian langsung berpaling. Yoona menatapnya tajam.


“itu… aku yang mengatur semua seolah-olah kau mengalami sindrom sleeping beauty itu”, Sooyoung mengaku.


“a-apa?”


“maaf Yoong. Aku terpaksa. Karena beberapa kali kau hampir saja memergokiku. Jadi yang terpikir olehku bagaimana kau bisa berpikir yang kau lihat tidaklah nyata”, jelas Sooyoung sambil melirik-lirik Yoona ketakutan.


“Yoong… maaf”, sesal Sooyoung.


“KA-KAU… KALIAN…”


Yoona kesulitan untuk bisa meluapkan kemarahannya. Ketiga penyihir didepannya itu sangat keterlaluan padanya. Dia tidak bisa terima diperlakukan seperti itu. Dipermainkan, dibohongi, dijadikan bahan percobaan dan entah apa lagi yang telah mereka lakukan padanya. Sangat keterlaluan.


Yoona langsung berbalik menghadap mejanya kemudian menyembunyikan wajahnya disana. Yang terdengar selanjutnya adalah raungan tangis Yoona dan umpatan kebenciannya.


“aku benci pada kalian. Kalian jahat pada ku”, ujar Yoona diiringi isak tangisnya. Melihat Yoona kembali menangis membuat ketiganya langsung merasa bersalah.


“ini semua karena mu”, tuduh Sooyoung pada Taeyeon.


“kenapa kau menyalahkan ku? Jika kau tidak salah membaca mantra pasti tidak akan seperti ini”, balas Taeyeon merasa tidak terima disalahkan.


“kau yang mengusulkan untuk memantrainya”


“tapi aku tidak melakukan kesalahan. Lagi pula kesalahan mu yang paling banyak. Kau juga memantrainya hingga tertidur lama”, balas Taeyeon. Yuri yang mendengar pertengkaran itu langsung memijat keningnya, pusing. Ada yang terisak menangis dan ada yang berkelahi, perang mulut.


Dengan menahan emosi Yuri menghentakkan tangannya pada kedua sahabatnya itu. Mereka pun langsung terdiam.


“kalian ini masih sempat-sempatnya saling tuduh. Waktu kita sudah tidak banyak”, marah Yuri. Keduanya pun langsung terdiam.


Yuri pun langsung menghilang dan muncul disamping Yoona.


“Yoong… kami mengaku salah. Maafkan kami”, ujar Yuri sambil mengusap punggung Yoona.


“jangan sentuh aku. Kalian jahat”, tolak Yoona.


Sooyoung dan Taeyeon pun ikut bergabung. Dengan sedikit rasa takut, Sooyoung memeluk tubuh Yoona. Dia tersenyum kecil. Dia merindukan Yoona si tuan putri.


“kami sangat menyayangi mu. Kami tidak akan tega berbuat jahat pada mu”, ujar Sooyoung.


“kalian jahat”


“maaf kami Yoong”, Taeyeon pun ikut membujuk. Dia pengusap kepala Yoona. Yoona pun mulai luluh.


Yoona menegakkan tubuhnya, menatap mereka satu per satu. Dia masih marah, tentu saja. Hanya saja dia pun sadar jika bukan karena ketiga penyihir itu, dia tidak tahu bagaimana menjalani hidupnya. Walaupun saat ini dia sudah berdamai dengan kedua orangtuanya.


“aku penasaran tentang sesuatu?”, ujar Yoona teringat tentang apa yang Yuri sembunyikan sehingga dia berbohong tentang tujuannya masuk ke ruangan kepala sekolah.


“kenapa kau berbohong? Apa yang kau sembunyikan di ruangan kepala sekolah?”, tanya Yoona pada Yuri.


“perlu kau tahu, kami datang ke bumi melalui jalur yang berbeda-beda Yoona. Sooyoung dari atap gedung yang sering kau datangi”


“pantas saja saat itu kau berada disana”, ujar Yoona menatap Sooyoung. Sedang si kaki panjang itu menyegir kuda karena sudah berbohong pada Yoona.


“aku dari jalur pintu ruangan kepala sekolah. Kesialan yang sangat memalukan jika sampai ketahuan orang lain. Bahkan kau sampai menuduhku berhubungan dengan si perut besar itu”, ucap Yuri cemberut. Yoona pun tersenyum kecil, dia menahan tawa dan juga rasa bersalah.


“dan kau?”, tanya Yoona pada Taeyeon.


“karena aku memiliki kekuatan yang berbeda dari penyihir lainnya, aku bisa datang dan pergi dari mana saja”, jawab Taeyeon. Yoona mengangguk dan cukup terkagum dengan kemampuan Taeyeon itu.


Yoona masih tidak menyangka ternyata sahabat-sahabatnya itu bukan manusia. Tapi Yoona harus berterima kasih. Mereka yang selalu ada untuk Yoona selama ini. Sekasar atau seegois apapun Yoona selama ini, mereka tidak pernah meninggalkannya. Mereka adalah bagian berharga dalam hidupnya.


“aku tidak akan memaafkan kalian jika menjahati ku lagi”, ujar Yoona. Dia masih sesekali sesenggukan.


Tapi bukannya menjawab, Sooyoung, Yuri dan Taeyeon justru menunduk. Yoona pun mengerutkan kening. Dia bahkan berpikir jika ketiga penyihir itu berniat menjadikannya bahan percobaan lagi.


“kenapa? kalian akan melakukannya lagi?”


“tidak. Kami tidak akan melakukannya lagi. Bahkan… untuk selamanya”, jawab Taeyeon dengan nada pelan dan sedih. Yoona pun menatap mereka tidak mengerti. Hingga kemudian dia teringat dengan perkataan Donghae.


“kalian akan benar-benar pergi?”


Ketiga penyihir itu mengangguk. Yoona pun langsung tidak tenang.


“walaupun aku sudah memaafkan kalian?”


“ne”


“kenapa? Kalian tidak suka bersamaku? Apa perlu aku berdoa lagi agar kalian tetap bersamaku?”


“tidak Yoona. Semua bukan karena mu. Ini murni karena kami melanggar aturan sebagai seorang penyihir”, ujar Yuri.


“Tapi… tapi… aku masih ingin bersama kalian”, ujar Yoona dengan menahan tangis. Matanya sudah berkaca. Dia tidak ingin ketiga sahabatnya itu pergi meninggalkannya. Dia tidak ingin kehilangan mereka.


“maafkan kami. Ini sudah keputusan Dewa. Kami tidak bisa melanggarnya”


“kami juga datang sekaligus berpamitan”


“a-apa? Secepat itu?”, tanya Yoona tidak bisa menerimanya.


“Dewa sudah terlalu marah pada kami. Jadi kami harus siap menerima hukuman”


“hukuman apa?”


“musnah untuk selama-lamanya”


“hah?”


“tidak jangan pergi”, tolak Yoona. Dia bahkan dengan cepat meraih tangan ketiganya dan menyatukannya. Dia harus menahan mereka agar tidak pergi.


“kalian tidak boleh pergi”


“jangan seperti ini Yoong. Kau mempersulit kami”, ujar Taeyeon tidak suka. Tapi air matanya sudah mengalir.


“jangan pergi”, tangis Yoona. Mereka pun akhirnya berpelukan, menangisi perpisahan mereka untuk selama-lamanya.



)))))(((((



Sudah tiga bulan berlalu. Yoona sedang disibukkan dengan persiapan-persiapan ujian masuk ke universitas. Tidak ada hal yang aneh terjadi padanya. Semua berjalan seperti biasanya.


Hanya satu yang berbeda. Yoona tidak bersama sahabat-sahabatnya lagi. Sejak pengakuan itu, Yoona sempat menahan mereka dikamarnya. Mereka bermain, bercanda, saling menggoda, hingga mereka lelah dan tertidur. Namun dipagi harinya ketika Yoona terbangun, mereka sudah tidak ada lagi dikamarnya.


Hampir sebulan Yoona terus menangisi kepergian sahabat-sahabatnya itu. Hingga akhirnya memasuki bulan kedua, Yoona mulai bisa mengikhlaskan kepergian mereka. Dia pun sudah tidak menangis lagi. Hal itu digantinya dengan menulis moment-moment kebersamaannya selama bersama Sooyoung, Yuri dan Taeyeon. Karena mereka mengatakan berlahan dirinya akan lupa segalanya tentang mereka.


Yoona tidak ingin melupakan sahabat-sahabatnya itu sampai kapan pun. Karena itu dia menulis semua kenangannya di buku. Jika sewaktu-waktu ingatannya hilang, Yoona bisa membaca buku itu dan kembali mengingat mereka.


Saat ini kelas 3 SMA Kirin akan melakukan ujian nasional. Semua murid kelas 3 sudah mempersiapkan diri untuk itu. Mereka ingin melakukan yang terbaik, sebagai gambaran untuk ujian universitas yang akan diadakan 2 minggu mendatang.


Tak terkecuali dengan Yoona. Gadis itu terlihat sangat siap dan yakin bisa mendapat nilai yang bagus kali ini.


Yoona menghembuskan napasnya pelan ketika sudah mendapat lembar soal. Tapi sebelum Yoona mulai mengerjakannya. Yoona mengedarkan pandangannya.


Tidak ada satu pun yang menyadari jika mereka kehilangan 3 orang anggota kelas A. Bahkan mereka terlihat seperti tidak tahu dan mengenal ketiga sahabat Yoona itu.


Yoona menatap meja paling depan, tempat Yuri biasanya duduk. Lalu meja dibaris kedua dari kiri, tempat Sooyoung biasanya sedang menulis sesuatu dibuku. Lalu meja didepannya. Tempat Taeyeon duduk sambil memain-mainkan pulpennya. Ketiga meja itu kini sudah dihuni oleh orang lain. Dan hebatnya, tidak ada meja yang kosong disana, seolah ketiga sahabatnya memang tidak pernah ada sebelumnya dikelas A.


Untuk meja disamping kirinya, meja itu benar dihuni oleh Donghae. Pria itu pun terlihat biasa-biasa saja. Dia bahkan jarang berbicara lagi dengannya.


Yoona tidak tahu apa ingatan Donghae juga dihilangkan, sehingga Donghae terlihat seperti tidak terjadi apapun. Terakhir Yoona berbicara dengan Donghae ketika pria itu datang ke rumahnya. Yoona ingin sekali bercerita pada Donghae apa yang terjadi, tapi dia gengsi jika sekarang yang terjadi adalah Donghae yang tidak akrab dengannya. Donghae bisa-bisa mengatakannya gadis gila. Ditambah lagi, dia tidak pernah mendengar suara batin pria itu. Seperti hilangnya Sooyoung, Yuri dan Taeyeon, kemampuannya itu pun ikut menghilang.


“waktunya 1 jam 30 menit. Silahkan dimulai”, ujar Kim songsaengnim – wali kelas A. Yoona pun kembali fokus pada ujiannya.


Yoona membuka lembar soal itu, mulai membaca soal pertama dengan seksama. Hingga berlahan senyumnya terbit. Dia percaya diri untuk mengerjakan soal-soal itu.


Yoona tidak menyadari jika pria disampingnya menatapnya beberapa detik, hingga ikut kembali fokus pada ujiannya.



)))))(((((



Dua minggu berlalu, Yoona akhirnya selesai melakukan semua serangkaian ujian baik ujian nasional untuk kelulusan sekolah, juga ujian masuk universitas. Beberapa hari yang lalu pengumuman hasil ujian nasional sudah keluar. Syukurnya seluruh kelas 3 SMA Kirin lulus. Yoona pun mensyukuri dirinya mendapat nilai yang bagus walaupun tidak sesempurna nilai Donghae.


Lagi-lagi Donghae berhasil merebut posisi pertama dengan nilai yang sempurna. Kali ini Yoona tidak kesal atau marah lagi pada pria itu karena berhasil mengalahkannya. Karena Yoona tahu Donghae belajar keras untuk menghadapi semua ujian.


Hari ini adalah pengumuman kelulusan memasuki universitas. Kelas 3 yang sudah diberikan libur sejak dua hari yang lalu, kini kembali ke sekolah untuk melihat pengumuman. Dan sekolah pun mengizinkan orangtua murid untuk ikut melihat hasilnya.


Yoona bersama dengan Nyonya Im kini sedang berdiri di depan mading besar dekat halaman sekolah. Murid-murid yang lain berserta orang tuanya juga sudah ada disana saling berebut ingin cepat-cepat melihat hasilnya.


“sayang, sepertinya pengumuman kelulusan universitas luar ada disana”, ujar Nyonya Im karena sedari tadi wanita itu tidak menemukan universitas Harvad.


“sepertinya omma benar”, ujar Yoona. Mereka pun mendekati papan mading yang paling ujung. Dan benar disana khusus untuk pengumuman kelulusan dari universitas luar.


“Yoona… kau lulus sayang. Kau lulus”, Nyonya Im langsung berseru senang ketika langsung menemukan nama Yoona tertera dikolom kelulusan Universitas Harvard.


Yoona pun mendekati ibunya, melihat namanya yang ditunjuk-tunjuk oleh ibunya itu. Yoona pun tersenyum lebar.


“selamat ya sayang. Putri omma memang sangat hebat”, puji Nyonya Im, langsung memeluk Yoona erat. Yoona pun membalas pelukan itu.


Yoona senang, usahanya ternyata tidak sia-sia selama ini. Dia juga senang melihat ibunya begitu bahagia dengan kelulusannya.


Sambil masih dalam pelukan Nyonya Im, Yoona yang berhadapan dengan papan mading itu, melihat kembali namanya disana. Sesuai keputusannya kemarin, dia mengganti jurusannya dari hukum menjadi kedokteran. Walaupun jurusan medical school sangat jauh berbeda dengan law school, tapi syukurlah ternyata dia bisa lulus.


‘ternyata Donghae hebat juga bisa menembus Harvard’, batin Yoona.


Yoona ingat Donghae pernah mengatakan dia ingin sekali belajar ilmu bisnis. Walaupun pria itu tidak mengatakan ingin mendapatkannya di universitas mana, tapi pada kenyataannya sekarang pria itu mendapat jauh lebih besar dari yang mungkin pria itu harapkan selama ini.


Yoona tersenyum tipis karena Donghae bisa melanjutkan cita-cita yang diinginkannya selama ini. Sedangkan dirinya sendiri, harus merelakan cita-cita yang sangat diinginkannya.


Yoona menggelengkan kepalanya. Dia tidak boleh menyesal sekarang. Dia sudah mengambil keputusan untuk mengikuti keinginan orangtuanya. Melihat ibunya sangat bangga padanya tadi membuat Yoona harus lebih ikhlas.


“kita hubungi appa sekarang. Dia pasti senang mendapat kabar ini”, ujar Nyonya Im, akhirnya melepas pelukannya. Mereka pun beranjak menjauh untuk mencari daerah yang lebih sepi.


Selama perjalanan Nyonya Im terus berceloteh tentang ini dan itu yang harus Yoona siapkan sebelum berangkat ke Boston. Namun karena tidak ada tanggapan dari Yoona, membuat Nyonya Im menghentikan ucapannya. Dia menatap Yoona yang terus menunduk dan terlihat seperti melamun. Putrinya itu terlihat tidak bahagia dengan kelulusannya.


“Yoona”, panggil Nyonya Im. Yoona pun langsung tersadar dan tidak menemukan ibunya disampingnya. Yoona pun berbalik, ternyata ibunya berdiri dibelakangnya. Nyonya Im menatap Yoona dengan sedih.


“ada apa?”, tanya Yoona polos.


“omma yang harusnya bertanya seperti itu. Ada apa? Kau melamun dari tadi”, tanya Nyonya Im.


“tidak. Aku hanya sedikit lelah”, bohong Yoona.


“jangan berbohong pada omma. Katakan ada apa? Kau tidak senang dengan kelulusanmu?”


“maafkan aku omma”, sesal Yoona. Nyonya Im pun menghela napas. Dia pun memeluk Yoona, mengusap rambut putrinya itu dengan penuh kasih sayang. Nyonya Im tahu Yoona sudah berkorban banyak untuk bisa menyenangkannya dan suaminya.


“jika kau melepas Harvard, kau tidak akan bisa mencobanya lagi tahun ini. Tidak apa-apa jika universitas lokal?”, tanya Nyonya Im. Yoona pun langsung melepas pelukan ibunya itu. Dia terlalu kaget dengan perkataan ibunya itu.


“ma-maksud omma… aku bisa mengambil jurusan hukum?”, tanya Yoona sampai terbata karena begitu kaget.


“mmm… maafkan omma dan appa karena selama ini memaksakan kehendak pada mu”


“sungguh? Aku boleh?”


“iya sayang. Tapi universital lokal tidak apa-apa?”


“tidak apa-apa. Universitas lokal sudah cukup untukku. Terima kasih omma”, balas Yoona sangat senang, langsung memeluk ibunya itu. Nyonya Im pun tersenyum lebar. Dia sadar tidak ada gunanya melarang Yoona bercita-cita sepertinya. Jika pun sulit nantinya, Nyonya Im siap untuk membantu dan menjaga Yoona.



)))))(((((



Yoona melangkahkan kakinya menaiki satu-persatu anak tangga menuju atap gedung laboratorium. Under sky – tempat favoritnya. Yoona memanfaatkan waktunya untuk mengenang sekolahnya itu. Sambil menunggu Nyonya Im selesai dari ruangan guru. Tadi mereka bertemu dengan Kim songsaengnim – wali kelas Yoona, dan mengajak ibu Yoona untuk ke ruangannya.


Yoona sudah tidak sabar, sehingga dia mempercepat langkah kakinya. Ketika pintu terbuka pertama kali yang dilihatnya adalah punggung seorang pria yang sedang membelakanginya. Donghae.


Yoona mengerutkan keningnya, heran mengapa Donghae berada diatap gedung itu. Sejak menghilangnya sahabat-sahabat Yoona, pria itu pun seperti orang asing baginya. Jika ingatan Donghae juga hilang, mengapa pria itu tahu tempat favorite Yoona itu.


“oh… kau disini juga ternyata”, ujar Donghae, menyadarkan Yoona dari lamunannya.


“mmm”, balas Yoona menutup pintu atap itu lalu mendekati pria itu.


“bagaimana kau tahu tempat ini?”, tanya Yoona.


“kenapa kau bertanya seperti itu? Kita sering bertemu disini. Apa kau biasa menyebutnya… under sky?”, Donghae menjawab dengan tatapan heran pada Yoona.


“kau ingat tempat ini?”


“tentu saja. Ingatanku masih baik”


“ingatanmu tidak hilang?”


“ingatanku tidak hilang Yoona. Aku masih ingat tempat ini, kau yang pernah berpacaran dengan Jonghyun dan yang lainnya. Bahkan aku ingat Sooyoung, Yuri, dan Taeyeon. Para penyihir itu”


“ba-bagaimana mungkin kau masih mengingat semua itu?”


“hah… sebenarnya sebelum mereka benar-benar pergi, mereka mendatangiku dan berpamitan. Mereka juga minta maaf karena akan menghapus beberapa ingatan ku, terkhusus tentang mereka. Tapi aku memohon agar mereka tidak melakukan itu. Aku ingin mengingat mereka untuk selamanya. Bagaimanapun mereka sudah ku anggap seperti temanku sendiri”, jelas Donghae panjang lebar.


“tapi… tapi kenapa akhir-akhir ini kau menghindariku?”, tany Yoona tidak mengerti.


“aku tidak menghindarimu Yoona. Aku hanya ingin fokus untuk belajar. Kau tahu kan saat itu sudah mendekati masa-masa ujian. Aku harus mempersiapkan diri sebaik mungkin”


Mendengar penjelasan Donghae itu, Yoona sudah sangat ingin memaki pria itu. Berani-beraninya pria itu membuat dirinya dilema karena berpikir pria itu tidak mengingat kebersamaan mereka selama ini. Lalu dengan santainya mengatakan semua alasan-alasan itu.


“kenapa kau tidak memberitahu ku sebelumnya jika ingatanmu tidak hilang”, kesal Yoona.


“maaf. Aku terlalu fokus belajar. Lagi pula kau masih bisa mendengar suara batinku. Kau bisa simpulkan dari situ”


“aku sudah tidak bisa lagi mendengarnya. Kemampuan sialan itu sudah hilang juga”, ujar Yoona masih kesal. Donghae pun mengangguk, mengerti.


Keduanya pun hening beberapa saat hingga Donghae mulai membuka pembicaraan kembali.


“oh ya, selamat atas kelulusanmu. Harvard medical school? Apa itu bentuk dari kekalahanmu?”, goda Donghae. Yoona pun langsung cemberut. Dia tahu apa arti godaan pria itu. Ya dia kalah dari keinginan orangtua.


“ekhm… memangnya kenapa? Aku hanya ingin berbakti pada orangtua”, alasan Yoona. Dia gengsi harus mengakui jika dirinya kalah. Sedangkan Donghae sudah terkekeh dengan perkataan Yoona.


“jangan tertawa”, kesal Yoona karena kini tawa Donghae sudah lebih keras.


“lagi pula aku belum benar-benar kalah”, balas Yoona dengan senyum sombongnya. Donghae pun menghentikan tawanya dia menatap Yoona dengan kening mengerut.


“aku akan ujian ulang”


“maksud mu?”


“aku akan melepas Harvard dan melakukan ujian mandiri masuk Seoul Nasional Univeristy dan tentunya jurusan hukum”, bangga Yoona.


“kau gila. Kau melepas Harvard? Kau masih tidak ingin mengalah pada orangtuamu?”


Donghae tidak habis pikir dengan Yoona. Gadis itu terlalu menjunjung harga dirinya. Padahal menurut Donghae masa depan Yoona di Harvard sudah sangat menjanjikan. Namun gadis itu dengan mudahnya melepas semuanya.


“bukan seperti itu. Aku bukannya tidak ingin mengalah. Kau lihat sendiri aku lulus dengan mengikuti keinginan orangtuaku. Tapi aku merasa tidak bahagia dengan kelulusanku”


“lagi pula, ibuku yang meminta dan memberikan ku izin untuk ujian ulang”, lanjut Yoona sambil memperlihatkan senyum lebarnya.


Donghae pun tersenyum lembut melihat Yoona begitu bahagia. Dibandingkan senyum di papan mading yang tadi Donghae lihat, kali ini senyum Yoona jauh lebih lepas dan terlihat sangat bahagia.


“kalau begitu… selamat berjuang kembali”, ucap Donghae tulus. Yoona menatap Donghae tidak seperti biasanya.


Donghae akan pergi jauh darinya setelah ini, entah sampai berapa lama. Hal itu membuatnya sedih.


“kenapa kau menatapku seperti itu?”, tanya Donghae.


“tidak apa-apa. Oh ya kau juga selamat. Kau ternyata hebat juga bisa menembus Harvard”, goda Yoona sambil menepuk-nepuk pelan lengan Donghae.


“hehehe… gomawo”, balas Donghae malu.


“jadi setelah ini kita tidak akan bertemu lagi?”


“kenapa kau berbicara seperti itu. Kita masih bisa bertemu”


“ck… apa kau sedang menghinaku karena hanya bisa kuliah di dalam negeri”


“a-kau tidak bermaksud seperti itu”


“coba saja pikirkan sendiri. Kau pikir jarak Korea ke Amerika dekat?”, kesal Yoona. Namun suaranya sedikit bergetar.


“aku tahu. tapi maksudku, jika aku kembali kita masih bisa bertemu. Jangan menangis”, ujar Donghae, menatap Yoona bersalah.


“siapa yang menangis? Aku tidak menangis”, balas Yoona langsung menoleh ke arah lain. Air matanya tidak bisa diajak kompromi. Jika seperti ini Donghae akan berpikir dirinya sangat sedih dengan kepergian pria itu. Tidak. Hal itu tidak boleh terjadi.


Yoona pun merogoh sakunya dan mengambil saputangan, menghapus wajahnya. Dia tidak ingin Donghae melihatnya menangis. Pria itu terlalu sering melihatnya dalam keadan buruk. Dia harus terlihat elegan didepan Donghae.


“jadi kapan kau akan berangkat?”, tanya Yoona mengalihkan pembicaraan.


“mmm… mungkin akhir bulan ini. Banyak yang harus ku lengkapi”, jawab Donghae. Dia masih memperhatikan wajah Yoona. Hingga tatapannya jatuh pada saputangan digenggaman Yoona. Dia kenal saputangan itu.


“oh… bukankah itu saputanganku?”, ujar Donghae. Yoona pun menatap saputangan digenggamannya itu.


“kenapa kau memiliki saputanganku?”, tanya Donghae. Dia tidak mengingat pernah memberikan saputangannya pada Yoona.


“kau tidak ingat pernah memberikan saputanganmu padaku?”, tanya Yoona balik. Donghae pun menggeleng.


“apa jangan-jangan ingatanmu sebagian saja yang dihapus”, ujar Yoona. Donghae pun mencoba mengingat-ingat. Tapi dia memang tidak mengingat tentang saputangan itu.


“apa benar aku pernah memberikan saputangan itu? kau tidak sedang-”


“YAK. Kau pikir aku berbohong? Untuk apa aku mengampil saputangan kampungan seperti ini”, balas Yoona kesal. Harga dirinya sedang diolok-olok oleh Donghae.


“hahaha… aku hanya bercanda. Jangan marah-marah”, ujar Donghae sambil mengangkat lengannya, pertanda menyerah.


“tapi walaupun ini milikmu, aku tidak akan mengembalikannya padamu. Ini milikku sekarang”, balas Yoona tidak ingin kalah, mengklaim saputangan itu.


“kau simpan saja. Nanti jika kita bertemu lagi, aku akan menangihnya”, ucap Donghae. Perkataan pria itu pun membuat Yoona kembali merasakan sesak didadanya. Pikiran Donghae akan jauh darinya membuatnya kembali ingin menangis.


“Donghae”


“mmm”


“boleh aku memelukmu?”


“a-apa?”


“aku tidak bermaksud apa-apa. Aku khawatir kau akan merindukanku disana. Atau anggap saja pelukan permisahan”, ucap Yoona masih dengan gengsinya. Padahal terlihat sekali jika gadis itu yang akan sangat merindukan Donghae. Tapi Yoona tidak akan mengakui itu pada Donghae. Bisa-bisa Donghae mentertawakannya.


“baiklah”, ucap Donghae. Yoona pun menegakkan kepalanya yang sedari tadi menunduk untuk menghindari Donghae yang bisa saja melihat matanya yang kembali ingin mengeluarkan air mata.


Yoona masih menatap Donghae. Dia ingin merekam wajah tampan itu dalam ingatannya. Dia tidak akan melupakan pria itu. Pria yang membuatnya gila. Dia pun hanya bisa berharap Donghae tidak akan melupakannya.


“kau tahu kan aku hanya kasihan padamu kalau saja nanti kau merindukanmu”, Yoona kembali melontarkan alasannya meminta pelukan. Donghae mengangguk, tidak berkomentar. Melihat itu Yoona tidak tenang.


“kau tidak akan menemukan gadis seperti ku disana”, ujar Yoona. Dan lagi-lagi Donghae hanya mengangguk. Namun kali ini sudah disertai dengan senyum lembut dan mata teduhnya. Pria itu juga sudah merentangkan kedua tangannya. Melihat itu, pertahanan Yoona pun hancur seketika.


Yoona dengan cepat mendekati pria itu dan melemparkan dirinya pada dada bidang Donghae. Memeluk pria itu sangat erat seolah dia tidak ingin pria itu pergi dari sisinya. Donghae membalas pelukan Yoona. Dia harus mengakui jika perkataan gadis itu tidaklah salah, walaupun Donghae tahu Yoona hanya ingin menutupi perasaannya.


“aku harus memberitahu mu sesuatu”, ucap Yoona masih memeluk Donghae.


“apa?”


“kau belum pernah keluar negeri kan?”


“iya”


“nah kau pasti tidak tahu jika disana itu kehidupan sangat keras. Termasuk para yeoja disana. Banyak dari mereka yang agresif dan salah pergaulan. Karena itu kau jangan terlalu dekat dengan mereka”, saran Yoona.


“benarkah? Padahal aku sudah berniat untuk berpacaran ketika kuliah”


“APA?”, Yoona langsung menarik kepalanya sedikit menjauh dari Donghae, namun tangannya masih erat melingkari tubuh Donghae.


“kenapa? Tidak boleh?”


“TIDAK BOLEH”, jawab Yoona keras dan tegas. Dia tidak akan membiarkan Donghae berpacaran dengan yeoja asing atau siapapun itu.


“kenapa?”, tanya Donghae sambil menahan senyumnya.


“aku tidak bermaksud apa-apa. Hanya saja, yeoja dalam negeri itu lebih baik. Banyak gadis cantik di Korea”, balas Yoona.


“baiklah”, ucap Donghae menyerah. Yoona pun kembali memeluk erat pria itu. Sedangkan Donghae sudah tersenyum lebar.


Sesekali Yoona menghela napas. Dia pasti akan merindukan masa-masa SMA-nya dan juga pria dalam pelukannya itu. Dan tentunya sahabat-sahabatnya.



)))))(((((



bersambung...