
Seorang gadis sibuk merapikan lembar-lembar kertas disuatu ruangan kelas. Sebagai ketua kelas, sudah menjadi tanggung jawabnya untuk memastikan ruangan tetap bersih, mengumpulkan tugas-tugas anggota kelasnya ketika pulang sekolah.
“Yoong, kau sudah lihat pengumuman?”, tanya Sooyoung sambil memakan roti cokelat kesukaannya. Yeoja yang dipanggil Yoong itu menoleh sesaat kepada sahabatnya itu, melemparkan senyum disertai gelengan.
“belum. Nanti saja”, jawab yeoja itu santai. Bukan. Lebih tepatnya dia malas untuk melihat pengumuman yang ada di mading. Karena dirinya yakin namanya pasti ada pada urutan pertama lagi. Tentu saja, siapa yang dapat mengalahkan kepintaran seorang Im Yoona. Yeoja cantik, tinggi, pintar, kaya. Siapa yang tidak terkagum-kagum dengan kesempurnaan yeoja itu.
“mmm, kau yakin tidak ingin melihatnya?”, tanya Taeyeon , si gadis pendek namun memiliki wajah seperti anak kecil. Merasa Taeyeon seperti ingin mengatakan sesuatu dari pertanyaannya itu, Yoona memandang ketiga sahabatnya yang duduk didepannya. Mereka memperhatikan Yoona yang sedang menyusun tugas-tugas yang baru saja dikumpulkan untuk diserahkan kepada Kim songsaengnim.
“ada apa?”, tanya Yoona penasaran. Ketiganya hanya diam, tidak enak hati untuk mengungkapkan hasil pengumuman yang pastinya akan membuat Yoona murka.
“entahlah. Aku tidak yakin harus mengatakannya atau tidak. Lebih baik kau lihat saja sendiri”, jawab Yuri dengan senyum kikuk.
“dan sepertinya kita akan kedatangan siswa baru dari kelas sebelah”, tambah Taeyeon. Yoona mengerutkan kening. Ada perasaan gelisah yang dirasakan yeoja itu sekarang.
“si-siapa?”, tanya Yoona terbata. Pasalnya dia tahu, jika ada siswa yang masuk ke dalam kelas A – kelasnya sekarang – maka siswa itu adalah siswa yang pintar. Tidak sembarangan siswa yang dapat masuk ke kelas A.
SMA Kirin memang sekolah menengah atas yang memiliki kelas khusus berkumpulnya siswa-siswa yang memiliki IQ diatas rata-rata. Jadi dapat masuk ke SMA Kirin dan masuk di kelas A, maka itu adalah hal yang paling luar biasa. Terlebih lagi jika mendapat peringkat teratas di kelas A selama dua tahun berturut-turut yang artinya peringkat pertama untuk seluruh siswa yang seangkatan.
Nama Im Yoonalah yang selalu tertulis pertama kali disetiap papan pengumuman untuk peringkat siswa. Tapi mendengar ada siswa pindahan dari kelas sebelah, menandakan jika terjadi sesuatu dengan peringkatnya.
‘Jangan-jangan…’
“yak, kau mau kemana?”, teriak Sooyoung ketika Yoona berlari cepat keluar kelas, menghamburkan beberapa kertas yang tadi disusun rapi, kini terjatuh dilantai.
“hahh, padahal kita belum mangatakan siapa orangnya, tapi dia sudah seperti kesetanan seperti itu”, ujar Yuri.
“apalagi jika dia sudah tahu siapa orangnya. Maka dia akan berubah menjadi singa kelaparan yang siap menerkam siapa saja”, tambah Taeyeon.
“dan aku lebih memilih untuk menjauhinya dari pada mati diterkam”, ucap Sooyoung, bergidik ngeri membayangkan kemarahan Yoona. Mereka bertiga pun mengambil alih pekerjaan Yoona, menyusun kertas-kertas yang sudah berserakan itu.
Yoona berlari kencang menuju mading yang ada di tengah area sekolah. Di depan mading itu dipenuhi oleh siswa-siswa yang ingin melihat peringkat dan penempatan kelasnya. Karena pengumuman kali ini adalah hasil untuk kenaikan kelas ketingkat tiga, jadi ada kemungkinan pergantian kelas. Tergantung bagaimana nilai dari siswa tersebut.
“permisi. Permisi. Aku juga ingin lihat”, ucap Yoona sambil bergerak menerobos kerumunan siswa tersebut. Beberapa siswa namja yang melihat Yoona dibelakang mereka, langsung terkesima dan memberi jalan untuk yeoja cantik itu.
“gomawo”, ucap Yoona disertai senyuman.
Yoona memandangi papan itu mencari urutan pertama. Jantungnya tiba-tiba berdebar kencang bahkan telapak tangannya berkeringat dan juga gugup. Ketika pandangannya sudah mendapatkan namanya, Yoona mengalihkan pandangannya ke kanan untuk melihat peringkat. Mata Yoona membesar dan kepalanya menggeleng-geleng tidak percaya dengan apa yang terjadi. Dia ada diurutan kedua.
‘tidak. Tidak mungkin’, batin yeoja itu.
Tubuhnya gemetar, matanya mencari urutan pertama yang sudah dengan kurang ajarnya mengusik kedudukannya. Mata Yoona kali ini semakin besar. Jika tadi perasaan gugup menghinggapinya, kali ini perasaan marah dan dendamlah yang merasukinya.
‘Lee Donghae sialan’, maki Yoona pada nama siswa yang berada diurutan pertama.
Donghae adalah siswa pindahan ketika tingkat dua. Memang ada gosip yang mengatakan jika namja itu cukup pintar. Tapi karena SMA Kirin tidak dapat dengan begitu saja memasukkan Donghae ke kelas A, jadi untuk sementara namja itu dimasukkan ke kelas B. Yoona tidak menyangka jika namja itu memang sangat pintar. Bagi Yoona jika ada siswa yang berani menyainginya maka siswa itu akan menjadi musuhnya seumur hidup.
“WAHHHH…. Lee Donghae. Yak, bagaimana kau bisa melakukannya? Kau memang hebat teman”, teriak seorang namja yang tak jauh dari Yoona. Yoona memandang namja yang berteriak sambil merangkul namja lain yang hanya tersenyum polos.
Polos? Tidak bagi Yoona itu bukan senyum polos, tapi itu senyum hinaan baginya.
“ohhh, Im Yoona. Lihat kau ada diurutan kedua. Dimana kepintaran yang selalu kau agung-agungkan itu?”, teriak namja itu ketika melihat Yoona berada didekat mereka.
Yoona menatap tajam namja yang bernama Lee Eunhyuk itu. Tapi sayangnya namja itu bukannya takut, malah menyengir kuda bahkan tertawa. Yoona mengepalkan tangannya kuat-kuat. Ingin rasanya Yoona menghancurkan jejeran gigi namja itu. Yoona memandang namja polos yang ada disamping Eunhyuk. Beberapa saat manik mata mereka bertemu. Yoona dengan tatapan tajam dan tidak suka sedangkan namja itu dengan mata teduhnya. Merasa canggung Donghae malah membungkuk hormat kepada Yoona.
“a-anyeonghaseyo Yoona-ssi”, sapa Donghae ragu. Tidak begitu yakin sebenarnya untuk menyapa Yoona. Dan benar saja yeoja itu sudah pergi begitu saja bahkan menabrak bahu Donghae keras secara sengaja. Tubuh Donghae sedikit terhuyung kebelakang karena dorongan dari bahu Yoona itu.
“aish, benar-benar yeoja yang tidak sopan. Untuk apa pintar tapi tidak memiliki sopan santun”, ucap Eunhyuk tidak terima dengan tindakan Yoona.
“sudahlah Hyuk, dia mungkin marah padaku karena peringkatnya turun”, ucap Donghae.
“itu hukuman karena dia terlalu tinggi hati. Lihatkan sekarang kau yang ada diurutan pertama. Selamat ya…”, ucap Eunhyuk.
“Ne, gomawo”, balas Donghae.
“tapi bagaimana nanti kau menghadapi yeoja itu. Kau kan akan dipindahkan ke kelas A. Kau harus berhati-hati mulai sekarang”, ucap Eunhyuk.
“tidak. Yoona-ssi tidak akan melakukan itu”, sangkal Donghae.
“aish inilah yang selalu membuatku selalu kesal terhadapmu. Kau itu terlalu polos dan lugu. Kau selalu menganggap semua orang itu baik”, kesal Eunhyuk dibalas kekehan dari Donghae.
“sudahlah. Ayo kita pulang. Aku akan meminta omma memberikan makanan gratis untuk mu”, Donghae segera menarik Eunhyuk dari kerumunan siswa itu.
“sungguh? Aku bisa makan gratis dikedai ibu mu?”, tanya Eunhyuk senang.
“Iya. Ayo, aku sudah lapar”, balas Donghae. Kedua namja itu berjalan sambil saling merangkul menuju gerbang sekolah. Tidak menyadari seseorang yang menatap tajam mereka dari lantai dua gedung SMA Kirin.
“aku tidak akan memaafkanmu Lee Donghae”, gumam orang itu.
)))))(((((
“omma… tidak perlu di antar sampai ke dalam sekolah. Sampai sini saja”, ucap Donghae pada wanita paruh baya yang memaksa ingin mengantarkan putra satu-satunya itu ke sekolah.
Kemarin ketika mengetahui putranya mendapat peringkat pertama, dipindahkan ke kelas A, ditambah mendapatkan beasiswa, wanita paruh baya itu merasa sangat bahagia. Rasa lelah seharian mengurusi pelanggan yang datang ke kedainya, langsung menghilang setelah mendengar berita bahagia itu. Bahkan karena bahagianya, wanita itu memberikan semua pelanggan yang sedang makan pada hari itu mendapatkan makanan gratis.
“tidak. Omma ingin masuk sebentar, setidaknya omma harus memberi salam kepada wali kelas mu yang baru dan memberi sedikit makanan ini”, ucap wanita itu.
“omma”, seru Donghae. Dia harus menghentikan sikap memalukan ibunya itu. Karena banyak siswa yang melihat tingkah ibunya itu dan terlihat berbisik-bisik seperti menghina.
Donghae tidak malu jika memang orang-orang mengatakan dirinya miskin dan hanya bermodal beasiswa masuk ke SMA Kirin. Donghae tidak mempermasalahkan itu. Tapi sekarang yang menjadi bahan bisikan mereka adalah ibunya. Donghae tidak suka jika ada orang yang berani menjelek-jelakkan ibunya. Jadi Donghae harus segera menghentikan niat ibunya itu dan segera pulang ke rumah.
“sebentar saja Donghae”, pinta wanita itu. Donghae menggeleng.
“tidak omma. Biar aku saja yang memberikannya pada Kim songsaengnim. Omma pulang saja. Appa pasti mengalami kesulitan membuka kedai seorang diri”, ucap Donghae. Wanita itu menghela napas berat. Merasa apa yang Donghae ucapkan benar. Suaminya pasti kesulitan sendirian menyiapkan kedai untuk dibuka kembali.
“baiklah kalau begitu. Sampaikan salam omma pada wali kelas mu itu”, wanita itu menyerah. Lalu dipeluknya Donghae erat. Merasa begitu bangga pada putranya itu. Donghae membalas pelukan itu.
“belajarlah yang baik”, ucap wanita itu.
“Ne omma. Hati-hati dijalan”, balas Donghae. Setelah menyerahkan tas berisi makanan yang ingin diberikan untuk Kim songsaengnim kepada Donghae, barulah wanita itu pulang.
Donghae masih memandang ibunya itu sampai tidak terlihat lagi. Donghae tersenyum sambil berbalik memasuki gerbang sekolah. Namun senyum itu tak bertahan lama ketika matanya secara tidak sengaja bertemu dengan mata tajam Yoona yang juga baru datang. Yeoja itu memandang Donghae sangat tajam, sampai-sampai Donghae kesulitan untuk melangkahkan kalinya. Ketika Yoona sudah berlalu darinya barulah Donghae dapat melangkahkan kakinya kembali.
“hahh, sepertinya ini akan sulit”, gumam Donghae.
Donghae berjalan memasuki kelas barunya. Perasaan canggung langsung melingkupinya ketika baru saja selangkah memasuki kelas itu, semua siswa yang ada dikelas itu langsung memandangnya seperti menilai.
Donghae terdiam di depan kelas itu, bingung harus berbuat apa. Tiba-tiba sebuah tepukan dipunggungnya mengagetkannya. Donghae dengan cepat berbalik melihat siapa yang melakukan itu.
“Kau Lee Donghae kan?”, tanya yeoja yang kini berdiri di depan Donghae dengan senyum.
“selamat datang di kelas kami. Aku Kwon Yuri. Ini Choi Sooyoung dan si kecil ini, Kim Taeyeon”, ucap Yuri memperkenalkan diri dan juga dua yeoja yang juga berdiri disampingnya. Donghae membungkuk hormat.
“a-anyeonghaseyo”, sapa Donghae. Dibalas senyuman bahkan kekehan dari Sooyoung karena merasa lucu. Untuk apa Donghae harus membungkuk hormat seperti itu untuk orang seumuran dengannya.
“Ne, semoga kau dapat bersosialisasi dikelas ini”, balas Taeyeon.
“Ne, kamsahamnida. Tapi… apa aku boleh bertanya?”, tanya Donghae ragu.
“mmm, tentu saja”, jawab Yuri.
“di-dimana meja yang kosong?”, tanya Donghae.
“mmm, kurasa yang dibelakang itu kosong”, jawab Sooyong menunjuk meja yang ada dipojok kiri paling belakang.
“Yoona, meja sebelahmu kosong bukan?”, seru Sooyoung pada Yoona yang duduk dibelakang asyik membaca buku. Merasa tidak ada tanggapan dari yeoja yang namanya dipanggil, Sooyoung berteriak memanggil lagi.
“IM YOONA APA KAU MENDENGARKU?”, teriak Sooyoung. Mendengar teriakan itu Yoona langsung mengarahkan pandangannya kearah sahabatnya itu dengan tajam sambil menutup bukunya dengan kasar. Sooyoung menelan ludah susah payah.
“sepertinya aku bertanya pada orang yang salah”, gumam Sooyoung, dibalas kekehan dari Yuri dan Taeyeon.
“dasarnya kau juga yang bodoh. Ini kelasmu tapi kau tidak tahu mana meja yang kosong”, seru Yuri.
“meja yang dibelakang itu memang kosong. Kau bisa duduk disana Donghae”, ucap Taeyeon.
“ne, kamsahamnida”, Donghae beranjang ke meja belakang. Donghae mendudukkan diri sejenak, lalu meletakkan tasnya di keranjang tas dibawah kursinya. Entah perasaannya saja atau tidak, tapi namja itu seperti merasakan aura hitam disekitarnya, seperti ada yang memperhatikannya terus. Dengan ragu, Donghae memutar kepalanya kesebelah kiri dan matanya langsung bertemu dengan mata Yoona yang menatapnya tajam. Donghae dengan cepat meluruskan kembali pandangannya ke depan.
‘lebih baik aku dikelas yang lama dari pada di kelas elit ini. Aku merasa hidupku terancam di kelas ini’, batin namja itu. Sedangkan Yoona masih tetap menatap tajam kearahnya.
Untuk menutupi perasaan tidak nyamannya, Donghae membersihkan mejanya dengan sapu tangannya. Lalu ketika membersihkan laci mejanya, Donghae merasa seperti ada yang menggelitik tangannya. Dengan cepat Donghae mengeluarkan tangannya dari dalam laci itu beserta tumbukan sampah dan juga… kecoa.
“AHHHKKK”, teriak Donghae, kaget dan langsung melempar sampah yang ada ditangannya ke lantai. Siswa yang ada dikelas itu langsung menoleh kebelakang menjadikan Donghae pusat pandangan mereka. Sadar dengan teriakannya yang terlalu kencang, Donghae langsung membungkuk meminta maaf karena teriakannya sudah mengganggu. Dan seketika itu juga siswa yang ada disana melanjutkan kegiatannya yang sempat tertunda.
Donghae merutuki sikapnya yang bodoh. Tiba-tiba Donghae mendengar kekehan dari seberangnya. Donghae menoleh kesamping, terlihat Yoona yang sedang membaca buku tapi telapak tangannya membekap mulutnya yang mengeluarkan tawa. Donghae mendesah berat. Donghae tahu pasti yeoja itu sudah memulai aksinya.
‘kuatkan aku Tuhan’, doa Donghae.
)))))(((((
Sudah dua minggu berlalu sejak Donghae memasuki kelas A. Bukannya merasa senang menjadi salah satu siswa yang ada dikelas elit itu, yang ada namja itu selalu mengalami hal-hal sial dan juga memalukan.
Diminggu pertama, dimulai dengan tumpukan sampah dan juga kecoa dilaci mejanya, lalu dilanjut dengan celananya yang robek karena tiba-tiba terpeleset ketika berjalan menuju mejanya. Entah dari mana tiba-tiba ada minyak dilantai dekat mejanya. Donghae menahan mati-matian rasa malunya sambil berlari keluar menuju loker untuk mengambil celana olahraga sebagai pengganti celananya yang robek.
Lalu diminggu kedua, ketika pelajaran bahasa inggris - mata pelajaran yang dibawakan oleh Kim songsaengnim, wali kelas mereka. Ketika Donghae membuka tasnya tiba-tiba keluar beberapa tikus dan membuat semua siswa yang ada dikelas itu ketakutan dan berhamburan keluar kelas dan tentu saja hal itu membuat Kim songsaengnim marah dan memberi hukuman membersihkan toilet selama dua minggu penuh.
Pagi ini entah apa yang akan terjadi lagi menimpa Donghae. Namja itu berjalan dengan hati-hati menuju anak-anak tangga yang akan membawanya menuju lantai dua, kelasnya. Donghae berusaha untuk datang pagi-pagi ke sekolah agar dirinya dapat mencegah hal-hal buruk lagi. Karena jika dia lebih dulu datang, sekolah pasti masih sepi dan tidak akan ada yang mengusili dia lagi.
Ketika Donghae sedang berjalan menyusuri kelas dilantai bawah, tiba-tiba tubuhnya diguyur air yang berasal dari lantai dua. Seketika Donghae langsung basah kuyup, padahal saat itu masih pagi. Donghae dalam keadaan rapi berangkat dari rumah, tetapi sesampainya disekolah yang didapat malah dirinya yang bau. Bau yang berasal dari air yang sepertinya bekas air untuk mengepel lantai.
“ahhh, sial. Ternyata aku masih kurang lebih cepat datang”
“apa sih salah ku?”, Donghae bergumam sendiri merutuki kesialannya. Donghae berjalan ke lokernya dan lagi-lagi dengan terpaksa Donghae harus memakai baju olahraga lagi hari ini. Tapi yang pasti Donghae tahu siapa dalang dibalik semua kesialannya itu.
Dari semua kejadian yang menimpanya, ada satu orang yang selalu ada ditempat kejadian dia mengalami kesialan itu.
IM YOONA.
Hanya nama itu yang ada dikepala Donghae saat ini. Semua sangat jelas bagi Donghae untuk dapat mencap Yoona sebagai tersangka dari semua ini.
Ketika insiden kecoa, Yoona tertawa senang saat itu. Lalu ketika terpeleset hingga celana Donghae robek, juga tikus yang keluar dari tasnya, Yoona juga ada dikelas itu dan dengan santainya tersenyum sinis, mengejeknya. Lalu kejadian air bekas kain pel tadi, Donghae yakin yeoja itu jugalah pelakunya, karena tadi dia masih sempat melihat ada seseorang diatas yang dengan cepat menghindar dari pandangannya.
Selesai ganti baju, Donghae menuju ke kelasnya. Sampai dikelas dugaannya benar, lagi-lagi ada Im Yoona. Hanya ada Im Yoona dikelas saat ini. Sepertinya yeoja itu datang pagi-pagi sekali ke sekolah untuk mengerjainya lagi.
Donghae berjalan berlahan menuju mejanya sambil melirik Yoona yang asyik membaca, tidak, lebih tepatnya berpura-pura membaca. Tapi walaupun tahu semuanya itu ulah dari Yoona, Donghae tidak ingin membalasnya. Namja itu memilih diam saja.
Yoona yang melihat Donghae yang tidak ada niat untuk membalas atau menunjukkan amarahnya sedikitpun, semakin membuat yeoja itu geram dan marah.
‘aish sialan. Kenapa dia terlihat santai saja? Sepertinya air tadi masih belum cukup untuk membuatnya menyerah’, Yoona membatin sambil meremas pinggiran buku yang sedang pura-pura dibacanya.
Yoona terus memutar otak untuk dapat membuat Donghae menyerah, sampai yeoja itu tidak menyadari kelas sudah mulai rame. Sedangkan Donghae memilih keluar, lebih baik bertemu dengan Eunhyuk dari pada harus setiap hari di sekitar orang yang penuh dengan aura permusuhan.
)))))(((((
“nah karena saat ini materi yang sedang kita bahas tentang perilaku konsumen, saem akan membagi kalian dalam bentuk kelompok. Setiap kelompok terdiri dari empat orang. Tapi karena jumlah kalian hanya 34 orang saja, jadi bapak membentuk 9 kelompok dan ada satu kelompok yang terdiri dari dua orang”, jelas Nam songsaengnim, guru mata pelajaran ekonomi.
Perlu diketahui kelas A di SMA Kirin akan mendapatkan semua mata pelajaran, tidak ada penjurusan. Baik ilmu sains maupun sosial, kelas A akan mendapatkan semuanya itu.
“nah, karena Saem ingin kalian semua bekerja di setiap kelompok masing-masing, ada baiknya jika yang unggul dipisahkan bukan?”, ucap Nam songsaengnim dan langsung dibalas dengan seruan tidak setuju dari siswa yang ada dikelas itu. Mereka tahu maksud dari Nam songsaengnim. Peringkat atas akan dipisahkan dari mereka.
“menurut saem ini cukup baik untuk kalian. Jangan selalu mengandalkan orang lain. Kalian bisa melakukannya juga, kalian hanya malas saja”, nasehat Nam songsaengnim.
“nah, jadi saem tetapkan Im Yoona dan Lee Donghae menjadi kelompok yang terakhir. Dan selebihnya akan saem acak menurut daftar absensi”, ujar Nam songsaengnim lagi.
“ya, ada apa Im Yoona?”, tanya Nam songsaengnim ketika melihat Yoona mengulurkan tangannya keatas.
“saem, apa tidak bisa aku bergabung dengan yang lain saja. Saya berjanji tidak akan mengerjakannya sendirian. Saya akan membagi tugas dengan merata”, bujuk Yoona. Dia tidak mau menjadi satu kelompok dengan musuhnya.
“tidak bisa nona Im. Ini sudah menjadi keputusan saem. Lagi pula…”, Nam songsaengnim menjeda ucapannya. Memandang Yoona lalu ke Donghae, begitu seterusnya. Nam songsaengnim merasakan ada aura permusuhan diantara kedua siswanya itu, tapi yang terlihat paling jelas adalah ada pada Yoona. Yeoja itu seperti orang yang siap berperang sampai titik darah penghabisan.
“Nona Im, bukankah ada baiknya jika kita ada disekitar musuh kita agar kita tahu apa titik kelemahan musuh kita? Menurut saem itu strategi yang cukup baik. Kau pasti mengerti apa yang saem maksud”, jelas Nam songsaengnim dengan senyum lebarnya. Yoona langsung menunduk, menyerah. Sepertinya tidak ada cara lain, selain menerima. Melihat Yoona langsung menunduk Nam songsaengnim tersenyum sangat lebar, entah apa yang dipikirkan oleh guru muda itu.
“nah untuk kelompak pertama…”, Nam songsaengnim mulai membagi untuk kelompok yang lain. Yoona tidak memperdulikan lagi apa yang dikatakan oleh Nam songsaengnim. Yeoja itu sibuk dengan gerutuannya karena merasa sial, sekelompok dengan musuhnya.
Yoona menoleh kesamping kiri, Donghae sedang memandangnya.
“mwo?”, ucap Yoona galak dengan suara pelan. Donghae langsung menggeleng dan kembali memperhatikan Nam songsaengnim yang sekarang menjelaskan apa yang akan mereka kerjakan dalam kelompok masing-masing.
)))))(((((