Loco

Loco
Chapter 5



Hari ini kembali kelas A bertemu dengan Nam Songsaengnim. Setelah proses belajar mengajar berlangsung sejam lebih, kembali guru muda itu mengingatkan tugas kelompok yang diberikannya minggu lalu.


“saem harap tugas kelompok kalian dikerjakan semaksimal mungkin dan tidak ada toleransi untuk keterlambatan


pengumpulan tugas. Waktu kalian tinggal dua minggu lagi”, ucap Nam songsaengnim.


“Ne”, jawab seisi kelas itu dengan nada malas.


Nam songsaengnim tersenyum miring melihat murid-muridnya uring-uringan. Ada perasaan bangga dalam dirinya ketika anak didiknya terlihat kesulitan mengerjakan tugas yang diberikannya. Guru yang aneh memang.


Ting tong ting tong


“sekian pelajaran hari ini. Ingat tidak ada keterlambatan”, sebelum keluar kelas lagi-lagi pria yang terlihat sedikit urakan itu, mengingatkan lagi.


Setelah Nam songsaengnim keluar, Yoona beranjak dari duduknya, berdiri didepan kelas. Dia harus membagikan buku tugas harian mereka.


“Kim Hanso”


“Baek Ma Ri”


“Kim Taeyeon”


Yoona memanggil satu persatu nama yang tertera disetiap buku yang digenggamnya.


“Lee Donghae”


Donghae pun beranjak dari duduknya, menuju depan kelas. Ketika sudah berhadapan dengan Yoona, kening Donghae mengerut karena Yoona menatapnya tajam namun sorot matanya seolah ingin mengatakan sesuatu. Dengan ragu Donghae menerima buku tugasnya. Yoona melirik pria itu yang kembali ke mejanya.


“Kwon Yuri”, panggil Yoona lagi.


“gomawo”, ucap Yuri dengan senyum khasnya, Yoona hanya membalasnya dengan anggukan saja. Yoona kembali menunduk untuk membaca siapa pemilik buku yang berikutnnya.


“Choi Sooyoung”, panggil Yoona sambil menegakkan kepalanya dan tiba-tiba pandangannya jatuh pada sepasang manusia yang asyik bercengkrama di meja belakang. Yuri dan Donghae.


Sebelah alis Yoona naik ketika melihat kedekatan Yuri dan Donghae.


‘Sejak kapan Yuri dekat dengan si cupu itu?’


“kau cemburu?”, bisik seseorang tiba-tiba membuat Yoona kembali sadar. Yoona hanya menatap gadis jangkung itu dengan kening mengerut.


“kau cemburu melihat Yuri dengan Donghae kan”, ucap Sooyoung lagi.


“dalam mimpi mu”, balas Yoona ketus dan langsung menyerahkan buku tugas Sooyoung dengan kasar, sedangkan Sooyoung menanggapinya dengan kekehan. Menggoda Yoona adalah hobi barunya sekarang.


“ku rasa mereka cukup serasi”, ujar Sooyoung lagi.


“kembalilah ke tempat duduk mu Choi Sooyoung”, balas Yoona dingin, sebisanya mengabaikan perkataan sahabatnya itu. Yoona tahu Sooyoung sedang ingin bermain-main dengannya – menggodanya. Sooyoung pun hanya bisa menaikkan kedua bahunya, lalu melaksanakan perintah ketua kelasnya itu.


‘sialan’, maki Yoona dalam hati.


)))))(((((


Donghae sedang merapikan mejanya dan memasukkan semua buku dan alat tulisnya ke dalam tasnya. Jam pelajaran telah usai. Waktunya untuk mengikuti ekskul. Donghae mengikuti ekskul olahraga football bersama Eunhyuk.


Donghae meraba laci mejanya dan menemukan buku tugasnya yang Yoona bagikan tadi.


“hampir saja ketinggalan”, gumam Donghae. Ketika ingin memasukkan buku itu ke dalam tasnya, matanya tidak sengaja menemukan ujung kertas berwarna pink yang sedikit mencuat, keluar dari buku itu. Donghae membuka buku itu dan menemukan selembar note berwarna pink.



Donghae menyernyit tidak mengerti dengan isi note itu dan siapa pengirimnya.


“under sky?”, ucap Donghae masih menatap note itu tidak mengerti. Tapi Donghae kemudian menemukan sebaris kalimat yang ditulis sangat kecil di bagian paling bawah note itu.


“aku tidak suka menunggu?”, Donghae masih tidak mengerti dengan isi note itu.


“apa sebelumnya aku membuat janji dengan seseorang?”, pikir Donghae sambil mengingat-ingat janjinya dengan orang lain. Pria itu pun memutuskan untuk keluar kelas sambil menggenggam note itu.


Donghae menatap sekitarnya yang terlihat ramai dengan murid-murid yang berhamburan menuju tempat masing-masing mereka mengikuti ekskul. Beberapa ada yang sudah mengganti seragam sekolahnya dengan pakaian biasa, mungkin juga karena merasa gerah seharian mengenakan seragam dan berkeringat.


Matahari hari ini sangat terik. Namun langit terlihat sangat bersih dan indah. Donghae mendongak menatap langit biru itu dengan senyum. Hari ini sepertinya latihan footballnya akan berlangsung lama, karena cuaca sangat mendukung untuk melakukan latihan full.


“under sky”, tiba-tiba Donghae teringat lagi dengan dua kata yang tertulis di note itu.


“under sky”, ulang Donghae lagi sambil menatap langit. Tapi tiba-tiba dia tersadar akan sesuatu.


Segera dia berlari menuju suatu tempat. Tempat yang dimaksud dengan under sky itu.


Donghae terengah-engah ketika sampai di atap gedung auditorium. Donghae mengartikan under sky itu adalah suatu tempat terbuka yang bisa dengan leluasa menatap indahnya langit. Dan satu-satunya gedung di SMA Kirin yang atapnya terbuka adalah gedung kesenian.


Awalnya Donghae ragu tempat yang ditujunya benar, mengingat jarang ada orang yang naik ke atap gedung itu dikarenakan gosip-gosip yang tidak menyenangkan tentang atap gedung kesenian itu. Tapi setelah memikirkan kembali, Donghae yakin hanya gedung itu yang atapnya benar-benar terbuka.


“ternyata perkataan orang-orang tentang otak jenius mu itu tidaklah benar”, sindir seorang gadis yang sudah sedari tadi ada disana.


Sambil mengatur napasnya, Donghae menatap Yoona yang sedang duduk disalah satu kursi, dengan gaya angkuhnya sambil menatap Donghae dengan tatapan merendahkan. Walaupun Donghae sedikit kesal dengan perkataan Yoona, tapi dia tetap memilih untuk tidak membalas.


“aku tidak tahu jika kau yang menulis note ini”, ucap Donghae sambil memperlihatkan note yang sedari tadi digenggamnya.


“aku kan sudah menulis di bagian bawah”, balas Yoona kini sudah bangkit mendekati Donghae. Seolah terintimidasi dengan tatapan tajam itu, Donghae mundur selangkah. Bukan karena tidak berani, hanya saja ada aura yang tidak menyenangkan jika terlalu dekat dengan Yoona, yang sebenarnya dia pun tidak mengerti itu apa.


“tidak ada nama mu tertulis disini. Hanya ada kalimat ‘aku tidak suka menunggu’ saja”


“ah sudah lah. Kau memang bodoh, mengartikan kalimat itu saja tidak bisa”, balas Yoona masih dengan tatapan merendahnya, tidak ingin merasa disalahkan sedikitpun.


“jadi sebenarnya apa yang ingin kau katakan?”, tanya Donghae mengalihkan kekesalan Yoona.


“kita akan memulainya hari ini”, balas Yoona.


“apa?”, tanya Donghae bingung. Mendengar itu Yoona mendengus kesal. Yoona terkadang heran dengan jalan pikiran Donghae yang seperti orang idiot di depannya.


“tentu saja training mencari kekasih untuk mu”, balas Yoona malas.


“HAHH?”


“kau tidak perlu menanggapi ucapan Kangin berlebihan seperti itu. Aku bisa menghadapi mereka nanti. Kau tidak perlu seperti ini. Aku hargai niat baik mu untuk membantuku, tapi a-”


“apa? Aku membantumu? Ckkk… yang benar saja. Aku tidak melakukan ini untuk mu”, balas Yoona memotong ucapan Donghae.


“jadi…”


“tentu saja untuk diriku sendiri”, balas Yoona. Donghae mengerutkan kening tidak mengerti.


“aku tidak mengerti”, balas Donghae polos.


“hah… dasar cupu. Ini soal harga diri Lee Donghae cupu”, balas Yoona.


“aku tidak mau di cap sebagai pembohong oleh Kangin dan komplotannya karena sudah terlanjur mengatakan kau sudah memiliki kekasih. Jadi kau harus memiliki kekasih secepatnya”, lanjut Yoona tegas diakhir kalimatnya.


“tapi aku memang tidak memiliki kekasih”


“oleh karena itu, kau harus punya”, balas Yoona.


“tapi bagaimana caranya?”


Yoona menghela napas, menggelengkan kepalanya menatap Donghae yang benar-benar seperti pria yang tidak bisa diandalkan.


‘Hah…ini sepertinya akan sulit’, batin Yoona.


“pertama yang harus kau lakukan adalah menentukan siapa gadis yang ingin kau jadikan kekasih mu”, ujar Yoona.


“tapi aku tidak tahu”


“kau harus menentukan. Katakan saja siapa gadis yang kau sukai atau sedang dekat denganmu”


“gadis yang ku sukai?”, Donghae tampak berpikir. Yoona menunggu dengan tidak sabar.


“tidak perlu banyak berpikir, katakan saja siapa namanya. Apa sulitnya sih”, ucap Yoona dengan nada kesal. Baginya Donghae terlalu lama berpikir. Herannya bagaimana pria itu di semester ini bisa mengalahnya dengan jalan pikiran selambat itu.


“K-Kwon Yu-ri?”, ucap Donghae dengan nada tidak yakin.


“kau menyukai Yuri?”, tanya Yoona kaget.


“ahh… bukan”, balas Donghae dengan raut wajah malu-malu.


“lalu?”, Yoona menatap Donghae dengan serius. Entah kenapa dia merasa tidak suka ketika nama Yuri yang disebutkan Donghae.


“Im Yoona?”


Yoona terdasar dari perang batinnya.


“apa?”, tanya Yoona bingung.


“kau tidak mendengarku?”


“memangnya apa yang kau katakan tadi?”


“aku bilang akhir-akhir ini aku hanya dekat dengan Yuri bukan karena aku menyukai Yuri. Tapi kalau dipikir-pikir, Yuri gadis yang baik, cantik dan suka memban-”


“STOP”, potong Yoona cepat.


“kau terlalu banyak bicara dan aku tidak butuh dan tidak ingin tahu bagaimana perasaanmu terhadap Yuri. Yang ku perlukan hanya kau menentukan siapa yang ingin kau jadikan kekasihmu di depan Kangin nanti”, balas Yoona dengan acuh. Donghae pun langsung terdiam.


‘tadi dia yang bertanya apa yang ku katakan ketika dia melamun. Dasar aneh’, batin Donghae dan juga pastinya bisa Yoona dengar. Yoona mendengus kesal mendengar itu.


Namun tiba-tiba Yoona tersadar dirinya bisa mendengar suara batin Donghae dalam jarak dekat.


‘Sebelumnya tidak bisa, tapi kenapa sekarang bisa terdengar? Apa yang terjadi?’, batin Yoona sambil menatap Donghae lekat-lekat.


“Im Yoona”, panggil Donghae, Yoona pun langsung tersadar.


“mulai besok aku akan mengatur beberapa kali pertemuanmu dengan Yuri yang pastinya diluar jam sekolah. Dan perlu ku beritahu satu hal, Yuri adalah gadis dengan selera yang sangat high. Jadi kau harus berjuang keras untuk mendekatinya. Kau mengerti?”, jelas Yoona yang sangat meragukan pria didepannya itu mampu mencuri hati Yuri.


“Ne”


“Ok. Hari ini kita mulai dari penampilanmu”, ujar Yoona sambil menatap Donghae dari atas ke bawah berulang kali, seolah dia sedang menilai penampilan Donghae. Merasa dirinya ditatap seperti itu membuat Donghae tidak nyaman.


“lepaskan dasimu”, perintah Yoona.


“apa?”


“dasi Donghae. Dasi…”, ulang Yoona dengan kesal.


Dengan berat hati Donghae melepas dasinya, melipatnya dengan rapi dan memasukkannya ke dalam tasnya. Yoona terus menatap setiap gerak-gerik Donghae.


“buka satu kancing paling atas seragammu”, lagi-lagi Yoona memerintah.


“tapi..”


“sekarang Donghae”, ujar Yoona cepat, mengintimidasi. Lagi-lagi Donghae terpaksa membuka satu kancing seragamnya.


“jauhkan tanganmu”, ucap Yoona kesal ketika Donghae menggenggam bagian kerah seragamnya yang tadi dibuka kancingnya. Donghae tidak nyaman dengan penampilannya sekarang.


Karena kesal, Yoona dengan cepat melangkah mendekati pria itu, menjauhkan tangan Donghae dari kerahnya, lalu menarik paksa kemeja Donghae keluar dari blus celananya.


Donghae sempat kaget dengan tindakan Yoona, tapi dia tidak ingin melawan. Biarlah sesuka gadis pemaksa itu.


Yoona mundur beberapa langkah untuk bisa melihat penampilan Donghae secara keseluruhan.


‘ternyata dia lumayan juga’


Tersadar dari pikirannya, Yoona langsung menggeleng tidak percaya dengan apa yang dipikirkannya


tadi.


“mulai besok kau harus berpakaian seperti ini”


“aku tidak bisa. Ini melanggar aturan sekolah, tidak boleh mengeluarkan pakaian dari blus celana”, bantah Donghae dengan berani. Pria itu memang terkenal dengan sikap disiplinnya.


Selama masuk di SMA Kirin, Donghae tidak pernah mendapat surat pelanggaran, cukup yang kemarin saja itu pun tidak sampai mendapat surat pelanggaran. Hal itu juga terjadi karena ulah gadis didepannya itu.


“Aish… sesekali melanggar tidak ada salahnya Lee Donghae, itu tidak akan mengurangi nilaimu”, ujar Yoona santai. Tapi sebenarnya dia cukup tahu surat pelanggaran cukup berpengaruh untuk beberapa guru tertentu.


“tidak bisa”, ujar Donghae tegas.


“harus”, balas Yoona tidak ingin kalah.


“kau memaksa?”, tanya Donghae dengan polosnya dan Yoona langsung mengangguk.


‘tidak janji’, batin Donghae.


“jika kau tidak melakukannya besok, aku yang akan melakukannya untuk mu didepan orang-orang”, ancam Yoona, membalas perkataan batin pria itu. Sedangkan Donghae cukup kaget dengan ucapan Yoona karena gadis itu seperti tahu dirinya tidak akan melakukan apa yang Yoona inginkan.


“ne”, balas Donghae dengan lemah. Ingin rasanya pria itu menentang, tapi Donghae cukup tahu Yoona adalah gadis yang tidak suka ditentang dan bisa melakukan apapun untuk mewujudkan keinginannya. Contohnya menjahili pria itu beberapa minggu terakhir ini.


“ku rasa cukup untuk hari ini. Kau bisa pergi. Aku sudah tidak tahan melihat wajah cupu mu itu”, balas Yoona mengusir Donghae.


Donghae pun langsung berbalik untuk pergi, tapi kemudian dia kembali menghadap Yoona.


“apa?”, tanya Yoona yang ternyata sedari tadi masih menatap kepergian Donghae.


“bagaimana dengan tugas kelompok?”, tanya Donghae.


“kau tenang saja, aku yang akan mengerjakannya. Kau cukup fokus untuk mendekati Yuri saja”, jawab Yoona.


“tidak bisa. Aku harus ikut mengerjakannya. Itu tugas kelompok bukan individu”, tolak Donghae.


“kau meragukan kepintaranku?”, tanya Yoona yang terdengar seperti gadis itu sedang tersinggung.


“bu-bukan. Bukan begitu”, Donghae terbata.


“aku… aku hanya ingin berpartisipasi untuk mengerjakannya”, lanjut Donghae.


“ya terserah kau saja. Yang jelas besok di jam istirahat aku akan mengerjakannya di perpustakan. Terserah jika kau ingin datang atau tidak”, balas Yoona acuh, kemudian berbalik, kembali duduk kursi yang sebelumnya didudukinya sambil meraih sebuah buku yang terletak diatas tembok pembatas atap gedung itu. Gadis itu kembali fokus membaca.


Melihat tingkah Yoona yang seolah tidak ingin diganggu lagi, Donghae hanya bisa menghembuskan napas berat. Donghae pun beranjak dari posisinya.


‘kenapa kau sangat lemah didepan gadis rubah itu Donghae bodoh’


Trap~


Ketika pintu menuju atap gedung itu tertutup, Yoona menutup buku yang dibacanya. Kemudian menghembuskan napasnya kasar.


“hah… sebenarnya apa yang sedang ku lakukan sekarang?”


“kau menambah kerjaan saja Im Yoona”


“dan tadi apa katanya… gadis rubah? SIALAN”


Yoona mengerang kesal dengan jalan pikiran dan tindakan yang dilakukannya akhir-akhir ini. Tapi ini dimulai sejak dia dapat mendengar suara batin Donghae. Ya semuanya memang karena pria cupu itu. Dan Yoona sangat kesal.


)))))(((((


Ketika Donghae menggerutu sambil menuruni anak-anak tangga itu tiba-tiba dia berpapasan dengan seseorang. Seseorang yang akhir-akhir ini cukup aneh terhadapnya. Terlihat sangat jelas sekarang ketika gadis dihadapannya itu tersenyum lebar kepadanya. Membuat Donghae merinding seketika.


“kau baru dari atap gedung?”, tanya gadis itu.


“Ne. Kau ingin kesana?”, tanya Donghae. Gadis itu pun langsung menggeleng cepat, bahkan sangat cepat sampai-sampai Donghae takut kepala gadis itu lepas dari lehernya.


“kau baru bertemu dengan Yoona kan?”, tanya gadis itu lagi.


“da-dari mana kau tahu?”, tanya Donghae terbata, cukup terkejut dengan pertanyaan atau mungkin pernyataan yang memang sudah diketahui jawabannya oleh gadis itu.


“Yoona suka menyendiri diatap gedung. Hanya dia seorang yang suka disana seorang diri”, balas gadis itu santai. Donghae dapat menilai jika gadis itu cukup tahu banyak tentang Yoona.


“ka-kalau begitu aku duluan, jam latihan ekskul ku sudah mulai”, ujar Donghae ingin segera pergi, tapi tiba-tiba ucapan gadis itu membuat Donghae mengurungkan niatnya.


“aku ingin bicara sesuatu dengan mu”, ujar gadis itu. Donghae menatap gadis itu dengan kening mengerut. Pria itu tampak berpikir keras tentang apa yang ingin dibicarakan gadis itu.


“tentang apa?”


“Im Yoona”


Donghae kaget dengan ucapan gadis itu. Sedang gadis didepannya hanya tersenyum lebar seperti biasa, menunjukkan aura kebahagiaannya.


Donghae tidak mengerti apa yang terjadi dengan orang-orang disekitarnya beberapa hari terakhir ini. Donghae mengerti bahwa setiap orang memiliki auranya masing-masing. Tapi entah mengapa aura yang Donghae rasakan dari Yoona dan gadis didepannya ini, membuatnya selalu merinding.


Apakah sebaiknya Donghae menghindari mereka atau tetap berada dilingkungan gadis-gadis aneh itu?


)))))(((((